NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
​Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Jangan memalukan harga diri marga keluarga ini!

HAPPY READING! YANG SUKA ALUNA ANGKAT TANGAN PARA READERS KESAYANGAN VERA 😛

Air mata tak pernah habis jatuh, kedua kakinya gemetaran—genggaman ia kencangkan erat, ia menahan suaranya agar tidak terdengar memberontak. Selama perjalanan mereka berdua diam-diaman, tak ada yang mau membuka suara. Bahkan Arkan seolah menganggap wanita yang duduk dibelakangnya terlalu lebay.

'Ayah... Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa kau jahat padaku... Andai saja kamu tidak berhutang, pasti aku akan tetap menjalankan pekerjaan dengan tenang, '

Karena terus menangis hingga mata sembap, pria eksekutif bermental superior itu akhirnya memberikan tisu didalam glove box. "Seka air matamu, saya jijik melihatnya, "

Aluna terdiam seketika, bibirnya membungkam. Tangannya yang gemetar hebat terpaksa menyeka air matanya sendirian.

...****************...

Kaki telanjang Aluna menapak di lantai Onyx, memantulkan cahaya bahkan rupa wajahnya saat ini. Melihat ada beberapa koper di sampingnya, Aluna terkesiap—bagaimana bisa semua barang-barang pribadi didalam kamarnya sudah diangkut sampai sini? Seingatnya ia belum membereskan apapun.

Saat ia akan bertanya, pria itu menyuruh asistennya yang memiliki langkah ringan—bahkan tak ada suara sama sekali, untuk membawakan semua barang bawaan Aluna.

"Bawa barang-barang wanita itu ke kamar. "

"Siap Tuan. " patuh seorang asisten, bahunya yang lurus dengan dagu sedikit turun. Aluna melihat asisten itu tanpa memakan waktu lama menggeret dua koper di kedua tangannya sekaligus tanpa memakan waktu lama.

"Mari saya antarkan. " ucap si asisten pada Aluna, nada intonasi pria itu sangat dingin—wanita itu berpikir bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang robot. Arkan memalingkan wajah geram, "kenapa diam saja? Ikuti! "

"Ah iya! "

Map masih didalam genggamannya, selama perjalanan masuk ke dalam mansion—lobi yang sangat luas, tangga megah berlekuk-lekuk, saat Aluna mendongak ia meneguk ludah seolah kedua matanya tertimpa oleh lampu kristal (chandelier) raksasa di atas kepalanya.

'Ini benar-benar seperti istana... ' pikirnya tak berhenti terperangah, sampai suatu ketika dagu Aluna ditutup oleh urat tangan samar terlihat dari milik Arkan.

Ia berkata tanpa beban, "Jangan terlena dengan semua kekayaan ini, nanti mati muda. "

"Maaf. Rumah ini dua kali lebih besar dari rumahku, " jawab Aluna memberikan alasan, dirinya canggung sekali bila harus menatap manik mata emas milik pria itu. Arkan berdecak, alasannya membuat pria itu muak sendiri mendengarnya. "Dua kali? Tidak salah? Ini 100× lebih mahal daripada gubuk kandang milikmu itu. "

'Gubuk kandang?! ' kaget wanita itu, sampai ia menempelkan tangan didadanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Tiga orang tersebut akhirnya sampai didepan ruang yang mereka tuju, Aluna mengira bahwa pintu kayu solid berukir ini adalah ruang tamu atau semacamnya, tapi setelah itu apa yang calon suaminya katakan membuat wanita itu kembali menganga lebar.

"Ini akan jadi kamarmu, tepat disebelah kamarku. " ucapnya tanpa menunjuk sama sekali. Sang asisten membuka pelan dahan pintu didepan mereka berdua, kedua mata Aluna seolah tak siap dengan tempat tidur king-size berheadboard empuk—yang menurutnya terlalu kebesaran.

"Ini... Besar sekali... "

"Dasar norak, rapikan barangmu sendiri. " seru Arkan ketus, dia menyuruh asistennya menaruh dua koper disebelah lemari. Aluna meneguk ludah pelan, ia sudah makan kenyang semua kemewahan yang tersajikan disini—jujur saja ia tak nyaman.

Ia sedikit komplain, "tak perlu repot-repot, seperti katamu aku tinggal di kandang... Biarkan aku tinggal ditempat yang sama. "

Sontak pria itu menatap datar, "sebagai seorang calon istri keluarga Seo. Tak sepantasnya kau berbicara seperti itu, walau hanya kontrak ingat ini—Lihat posisimu dan jangan merendahkan diri apalagi sampai merasa tak pantas, kalau kontrak ini sudah selesai, terserahmu lakukan apapun.

Saya tak mau nama marga keluarga ini tercoreng karena sifat kekanak-kanakanmu itu. "

Bum! Seolah bom meledak seketika, Aluna kembali akan menangis tapi kali ini dia tahan di balik pelupuk mata. Setelahnya ia ditinggal keduanya pergi, akhirnya ia merasa bebas—Aluna jatuh duduk tak berdaya meremas pahanya.

...****************...

Wajah sedih Aluna tertampil jelas di Shower kaca frameless, setelah ia membasuh badan—ia mengusap uap di cermin besar tanpa noda sama sekali. Kedua matanya yang sembap tak bisa dibohongi, ia menatap kosong dirinya—ia merasa sangat kotor.

'Kenapa hidupku seperti ini, hanya karena uang seolah aku adalah wanita murahan sedunia... Aku lelah... ' batinnya tersakiti, ia berjongkok bermandikan air shower sekali lagi kembali menangis kencang—kali ini tak ia tahan. Ia tumpahkan semuanya.

'Hiks... Hiks... '

'Aku tak mau disini... Aku tak tahan, '

Pikirnya pelan, ia meratapi nasibnya yang tak pernah beruntung sejak kecil. Tangannya kedinginan, karena terus diguyur air ia terpaksa keluar hanya berbalut handuk—ia menurunkan kedua alisnya pelan tak mempunyai baju tidur sama sekali. Saat ia akan memilih pakaian biasa yang akan dikenakan sehari-hari untuk beristirahat, pintu diketok dari luar.

Cepat-cepat ia memilih baju, "Sebentar! "

Koper jatuh, isinya berantakan semua. Aluna akan membereskan, namun orang yang mengetuk pintu masuk tanpa menunggu dibukakan. Wanita itu berteriak, ia melempar barangnya ke wajah simetris Arkan yang tentunya pria itu langsung meremas celana dalam wanita itu didepan wajahnya.

"Kau! "

"Jangan masuk dulu, aku belum ganti baju! "

"Kenapa malu? Tidak melanggar aturan juga, " ucap pria itu tajam. Wanita itu malu sendiri, ia bahkan menutup dadanya yang hanya terbalut handuk—tak peduli seberapa basah rambutnya sekarang.

Arkan melihat penampilan calon istrinya dari atas rambut sampai bawah paha, setelah melihatnya seolah ia tak puas. "Apa tingkah lakumu di rumah juga begini? Memamerkan tubuh didepan banyak pria? "

Aluna terhenyak, ia mengepal tangan erat. "Aku bukan seperti yang kamu kira... " lirihnya tak berani angkat mata. Seolah mereka hidup dalam dua dunia berbeda, nampak pria didepannya jauh lebih rapi cocok dengan undercut yang mulai jatuh.

if you want know, undercut mean...

Tak dikontrol sama sekali, ia malah meneguk ludah melihat ketampanan pria didepannya—segera ia menepuk kedua pipi cepat. 'Apa yang kau pikirkan Aluna... Dia itu monster!!!'

"Hah, dasar merepotkan. Puaskan dirimu esok, pakai ini... "

"Hah! " kedua tangan Aluna langsung tersentak, dia melihat sebiji black card sudah didalam kedua genggamannya. Matanya melotot kedepan, "ini... untuk siapa? "

"Hah?! Masih tanya? Jelas untuk siapa lagi, "

Mahal bos! 😝

'Ini sungguh untukku? Bagaimana cara pakainya... Berapa uang didalamnya... Ah pasti kalau buat beli semangkok bakso bisa sampai 5? 2? 100? 1000? ' dipikir-pikir malah bingung sendiri. Kepala Aluna pening rasanya, ia meneguk ludah.

"Besok beli kebutuhanmu, jangan memalukan saya dengan pakaian murahan itu. " ucapnya setajam belati, tanpa menunjuk Aluna tau dimana matanya mengarah.

Ia geleng kepala, memberikan kembali black card yang diberikan untuknya. Wanita itu seolah tak pantas mendapatkan banyak uang dengan cara seperti ini, ia serasa tidak dihargai sama sekali. "Aku tidak mau, tolong ambil kembali! "

Pria itu menaikkan sebelah alis mata, wanita mana yang menolak uang? Orang yang ada didepannya adalah wanita langka, 1/1000 orang di dunia.

"Apa katamu?! "

"Kau menolak pemberian saya! "

"Iya! Aku menolak! Saya masih punya uang di rekening bank saya—"

"Berapa? " tatap pria itu memutus pembelaannya, memastikan bahwa wanita itu tak akan memiliki simpanan uang lebih.

Mata Aluna langsung turun seketika, "5... Juta... " cicitnya seperti tikus penakut. Pria itu melototinya, jelas siapa yang tak takut? Arkan sampai mengusap wajah keras-keras, kehabisannya sudah habis hanya didepan Aluna.

"5 juta kamu bilang? Untuk saya itu cukup untuk memesan satu menu restoran! "

"Tidak! 5 Juta lebih dari itu, aku... Aku bisa beli sayur seharga 10 ribu seikat... Beli bedak 20 ribu, lalu beras 45 ribu... "

Thap! Tepuk Arkan diatas sprai king-size, suara spontannya membuat kedua matanya terpaku untuk sebentar. "JANGAN GILA!!! DASAR MEMALUKAN SAJA! SUDAH MEMBANTAH, TAK MENERIMA PEMBERIAN ORANG LAGI! KAU ITU BIKIN SAYA KESAL SAJA!! "

Kini ia terdiam seribu bahasa, seakan bibirnya dibungkam dengan selotip. "Masih mau membantah?! "

"Tap—tapi aku tidak lihat itu didalam kontrak, jadi gak ap—"

"Diam! Atau sekali lagi bicara ku lempar kau ke kolam renang, mengerti? Saya tidak main-main dengan ucapan saya. "

Gluk—

Aluna mengangguk kepala kaku, ia tak berani melawan karena posisi mereka jauh berbeda sekarang—mungkin benar kalau ia berani sedetik saja melangkah pasti akan diterkam.

"Maaf... " lirihnya menunduk menyesal. Arkan hanya melihat penyesalan wanita itu hanya dengan sebelah mata, "Satu yang jelas sampai kapanpun tak boleh terjadi, jangan sampai saya tau kalau kau mencoba jatuh cinta pada saya. Karena saya sungguh benci dengan orang seperti itu, mengerti? Ck, "

"Iya... "

"Dan satu lagi, jangan masuk ruang kerja saya seenaknya... Kalau saya tau dari orang sekitar bahwa kau diam-diam masuk ke dalam, tak segan akan saya lempar kau ke danau buaya, "

"Ah—" belum menjawab seolah pikirannya sudah ditebak dahuluan. "Kamu berpikir kalau tak akan ada kolam buaya? Sayang sekali, dibelakang taman saya memelihara semua jenis hewan buas—mereka kekurangan daging, mau donasi? "

Brrr—

Mendengarnya saja ia sudah geleng-geleng kepala sendiri, Aluna melambaikan tangan menolak. Tanpa izin pria itu mendekatkan batang hidung mancungnya ke telinga wanita itu, Arkan membisikkan sesuatu.

Napas hangatnya berhembus didekat telinga, "sandiwara terbaik didepan Kakek, kita akan membuatnya bahagia—seakan kita adalah pasangan saling membutuhkan, "

"Saling membutuhkan—apa maksudmu... "

Pria itu tersenyum miring, satu sudut bibir terangkat. "Tidak mungkin kontrak ini tak ada tujuan, jadilah seolah kau adalah istri penyayang... Lalu saya adalah suami idaman, dengan begitu ini bisa berjalan tanpa halangan... "

Deg—

'Suami idaman? Sosok istri penyayang? '

'Jangan bercanda... Ini bukan pernikahan sungguhan, kenapa aku harus... Menurut? Kenapa aku tak bisa menolak... '

Arkan menaikkan sebelah alis, pria itu tau bagaimana tanggapan wanita itu hanya dengan melihat ekspresinya—melihat alis tipis Aluna saling bertaut, ia menarik dahi kulitnya sampai membekas merah.

"Akh—"

"Apa yang kau pikirkan? Awas saja. "

'Kenapa dia pemarah sekali sih... Aku diam saja tak boleh?! ' protesnya dalam hati, tak berani diungkapkan.

Jauh dari lubuk hatinya ia bertanya-tanya, kenapa Arkan mau menjadikan dirinya seorang istri? Padahal diluar sana ada yang lebih mapan dan memiliki karir yang pasti, akan lebih bahagia kalau saling mencintai.

Ia bertanya pelan, dengan napas tersendat-sendat. "Ke—napa... ka—mu me—milih—ku? A—ku hanya perempuan biasa saja... " ucapnya pecah diujung kata. Mendengar hal itu, dalam hati pria itu berpikir. 'Jelas itu karena perintah kakek, kalau saja bukan karena kakek ku pasti ku tak mau menikah dengan wanita miskin sepertimu... Menyebalkan, '

Pria itu memberikan alasannya mengikat kontrak bersamanya, sampai-sampai kini dua kali jidatnya kena sasaran. Jentikan jari panjang Arkan berhasil menyadarkan lamunan wanita itu. "Karena kau sangat miskin, dan hanya saya saja yang bisa membayar hutang gunungmu itu. Selain saya siapa lagi? Juga dirimu mudah sekali diinjak, jadi saya sangat suka... "

Mendengar kata 'Injak' seketika bulu kuduk Aluna meremang semua, ia perlahan mundur sendiri—was-was tak terduga. Pria itu memutar bola mata malas, mengambil salah satu pakaian yang berceceran dan dilempar ke tubuh Aluna yang hanya berbalut handuk.

"Jangan diam saja, kau mau mata keranjang milik pria menatap aset penuh lemak itu? "

"A—"

Aluna langsung mendekap pakaian didepan dadanya, wajahnya bersemu memerah—entah mengapa melihatnya malu-malu kucing langsung membuatnya lekas berdiri, berjalan keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa. Sebelum menutup pintu, matanya memincing dari atas sampai bawah.

Brak!

Pintu ditutup kencang.

Wanita itu sampai melompat saking terkejutnya.

'Suami idaman... Hah, omong kosong dia saja bersikap kasar padaku... '

'Aku lelah... '

...****************...

Diluar Pria itu memegang dadanya, napasnya naik turun—rongga dadanya mengembang lembut setiap tarikan nafas. "Huh—bangsat... "

"Lumayan, tidak buruk juga. Awas saja kalau dia banyak tingkah, "

"Sifat menurutnya bisa ku kondisikan. "

Setelah berganti pakaian, ia merebahkan dirinya diatas ranjang. Dirinya menatap plafon gypsum polos, ia memejamkan mata namun sebelum itu dia berdiri dan akan mengunci pintu kamar.

Setelah itu dia kembali ke ranjang, diam selama beberapa menit. Ia menunduk melihat sekitar, 'aku masih mengira ini semua mimpi... Apa yang aku pikirkan, aku harus tidur... Aku tidak tau apa yang akan terjadi besok—semoga hal baik... '

Ia sedikit menguap, merebahkan kepalanya diatas bantal lateks premium. "Enaknya... Berbeda dengan kamarku, bantalnya sudah kopong... Ini berbeda, sungguh—"

Tak terduga ia kembali membuka mata, telinganya seolah mendengar suara dengungan kecil yang sangat halus. Ia ke jendela dan melihat pria itu dengan mobilnya entah akan kemana pergi larut malam.

Entah mengapa jiwa Aluna serasa kesepian, padahal disini ia tak perlu memikirkan pria itu—karena hidupnya sudah enak.

"Mau kemana dia... "

"Semalam ini... "

- + -

Bersambung...

*Kalau author sih mending tidur ya soalnya enak dalam semalam udah tiba-tiba jadi kaya, ga peduli tuh... 😝😜

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!