Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Belajar Hidup Dari Abah
Tit tit
Kang Adang menghentikan kegiatannya menyapu daun-daun kering seputaran taman begitu mendengar suara klakson motor. Sesaat dirinya memusatkan konsentrasi.
Itu suara klakson ke sini apa ke tetangga ya
Klakson kedua kembali berbunyi. Kang Adang meninggalkan sapu lidinya menuju pintu gerbang.
Ia menghampiri pengendara motor ber helm fullpace yang dari tampilan pakaiannya menandakan seorang perempuan.
"Teteh, mbak, bisa dibuka dulu helm nya? Ini bagian dari protokol keamanan di rumah ini." Kang Adang berdiri tegak di depan motor, berusaha menatap wajah di balik kaca helm.
Pengendara motor hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Wah kalau nggak mau buka helm, nggak bisa masuk sampai jamuran juga. Saya Adang SH, security tiada duanya di komplek ini menyuruh teteh atau mbak pulang lagi--" Kang Adang merentangkan satu tangannya. Isyarat agar pemotor itu pergi.
Akhirnya, perempuan pengendara motor itu membuka helmnya, perlahan....
"Ba--"
Safa menjulurkan lidahnya, berhasil mengerjai Kang Adang yang sudah lama dikenalnya sebagai tetangga Andina.
"Gusti. Neng Safa geuningan....bisa-bisanya ngerjain saya si eneng mah." Kang Adang geleng-geleng kepala setelah mengetahui siapa wajah dibalik helm itu. Ia lalu membukakan sebelah pintu gerbang.
Safa terkekeh sambil memasukkan motornya ke dalam halaman.
"Kang Adang, gimana betah kerja di sini?" tanya Safa sambil membuka helm dan menyimpannya di atas jok.
"Oh iya atuh betah, Neng. Kerjanya santai, mau ngopi tinggal seduh, mau makan bebas berapa kali pun asal muat di perut. Mau nonton pilem tinggal colok, ada TV di pos. Ah, pokoknya mah betah." Kang Adang nampak berbinar menceritakan pengalaman kerjanya.
"Film kang, bukan pilem."
"Ah susah Neng, orang sunda mah nggak bisa ngomong F."
Safa hanya tertawa menanggapinya. Ia kemudian pamit masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum--"
Safa memasuki rumah yang terlihat sepi. Ia menuju ruang keluarga, melihat Athaya ada di sana. Dua asisten rumah tangga sedang berbagi tugas bersih-bersih rumah.
"Kumcalam...Onti--" Athaya berdiri girang, menyongsong kedatangan Safa, melakukan salim yang sudah menjadi kebiasaannya terhadap yang lebih tua, atas didikan Mama Andin.
Safa mencium pipi gembul Athaya, gemas dengan tingkahnya yang lucu.
"Onti bawa apa?" Athaya penasaran dengan paper bag yang ditenteng Onti Safa.
"Onti bawa puding coklat buat Kakak sama Mama Andin." Safa membuka kotak, nampak ada 10 puding coklat yang menggiurkan dalam wadah-wadah kecil dengan saus vla yang meleleh di atasnya.
"Kaka mau--" Athaya mengambil satu cup beserta sendok kecil. Mulut mungilnya bergerak-gerak seirama dengan suap demi suap puding yang dikunyahnya. Sudut bibir merahnya belepotan dengan lelehan saus vla.
Safa mentertawakan penampilan Athaya yang wajahnya belepotan karena tangannya mengelap. Bukannya bersih, saus coklat malah melebar ke pipinya.
"Beb, kapan datang?" Andina menghampiri, ikut duduk di karpet yang berantakan dengan berbagai mainan milik Athaya.
"Baru aja. Nih aku buatin puding buat busui." Safa mendekatkan kotak ke depan Andina.
"Hm, puding Onti Safa memang the best." Andina ikut mencicipi. Ia membiarkan dulu Athaya yang belepotan, malah bocah itu nambah mengambil 1 cup lagi.
"Beb, sudah baca di grup SMP belum? Bulan depan mau ada reunian satu angkatan kita katanya." Safa membuka hp, mengecek kembali informasi yang dilihatnya di grup SMP.
"Iya, aku baru cek. Kita ikut yuk! Aku kangen teman-teman SMP, terutama kelas kita." Andina menerawang akan masa-masa SMP yang banyak kenangan manis. Apalagi dirinya dan Safa termasuk populer, incaran tembakan para cowok.
"Moga ya suami-suami kita ngijinin." Safa tak kalah antusias untuk ikutan reuni.
****
Seorang pria tampan yang mengayuh sepeda berhenti di trotoar. Ia sengaja memilih bersepeda dari apartemen menuju penjual serabi sekalian olahraga.
Ia menghampiri sepasang suami istri yang sudah berumur. Mereka adalah penjual serabi yang biasa mangkal setiap hari, dari subuh sampai jam 7 pagi. Enaknya serabi ini karena dimasak menggunakan arang dan resep rahasia sehingga rasanya istimewa, lain dari yang lain. Kadang sebelum jam 7 dagangannya sudah habis.
Willi berjongkok di dekat tungku, setelah dua orang pembeli pergi menenteng kresek putih berisi serabi panas.
"Mak, istri saya lagi ngidam pingin serabi, pakai oncom 4, polos 3. Tapi oncomnya harus ditabur di pinggirannya jangan di tengah. Begitu Mak, pesan istri saya."
Emak penjual serabi terkekeh memperlihatkan gigi depannya yang ompong, mendengar permintaan pembelinya.
"Aden harus banyak-banyak sabar menghadapi keinginan istri yang lagi hamil. Kadang suka ngidam yang aneh-aneh." Sambil menuangkan adonan serabi ke dalam katel kecil, si Emak berkata memberikan nasehat.
"Iya Mak. Beruntung mintanya pagi, kalau tengah malam haduh repot saya Mak, harus nyari ke mana." Willi ikut membantu menuangkan adonan ke katel ke 3 dan 4. Ada 4 tungku berjajar, dengan gesit tangan yang keriput itu menaburkan oncom sesuai permintaan Willi.
Sambil menunggu matang, Willk asyik berbincang dengan Abah dan Emak, yang rumahnya dekat dengan lokasi jualan, tinggal masuk ke dalam gang.
Serabi oncom sudah matang, menunggu serabi polos yang baru dituang adonannya. "Abah dan Emak kan sudah tua, kenapa masih mau jualan?" Rasa penasaran memggelitik hati Willi. Sepantasnya usia 70an itu duduk manis menikmati hari tua.
"Ah, Abah sama Emak mah nggak betah duduk diam. Mumpung sehat dan ada umur, daripada berleha-leha mengharap belas kasihan orang, mendingan jualan begini, lumayan buat menyambung makan." Abah yang menjawab pertanyaan Willi.
"Lah emang anak-anak Abah nggak menjamin biaya hidup Abah sama Emak?"
"Ah, Aden, keluarga Abah mah bukan orang berada. Abah punya dua orang anak, semuanya perempuan. Semuanya ikut suami yang kerjanya buruh bangunan, rumah mereka ngontrak. Bersyukur anak dan cucu bisa makan dan bayar kontrakan juga. Orang miskin mah keinginannya tidak muluk-muluk, cukup bisa makan dan sehat saja, Alhamdulillah."
Kata-kata Abah membuat Willi speechless, disaat banyak orang berlomba mengejar gaya hidup sampai segala cara ditempuh, tapi seorang Abah keinginannya begitu sederhana. Pantas saja dua orang tua itu tampak sehat karena memiliki hati yang lapang, pandai bersyukur.
"Jadi berapa, Mak?" Willi menerima kantong kresek yang disodorkan Emak.
"Serabi 7, jadi 21 ribu, Den."
Willi mengeluarkan dompetnya. Ia menyerahkan uang kepada Emak.
"Ini kebanyakan atuh Aden, 21 ribu. Bukan 500 ribu." Emak terkaget, dan berniat mengembalikan lagi uang itu.
"Terima aja Mak, itu rejeki buat Abah sama Emak karena sudah memberi saya pelajaran tentang hidup. Semoga Abah dan Emak sehat selalu dan panjang umur."
Willi segera pergi tanpa menunggu jawaban keduanya.
Abah dan Emak saling pandang dengan mata berkaca-kaca, haru. Doa tulus mereka panjatkan untuk pemuda baik hati yang telah memberinya rejeki yang tak disangka-sangka.