Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya Ampun, Bu Ayara!
Beberapa saat kemudian, Ayara pun selesai mandi dan ia segera mengganti pakaiannya dengan kemeja kain lengan panjang berwarna biru muda yang tampak rapi, dipadu rok bahan hitam. Ayara mengambil dompet kecilnya yang berisi uang tabungan darurat, hasil keringatnya membanting tulang di pabrik selama ini, ditambah uang dua juta pemberian Arlan tadi. Meskipun ia tahu jumlah itu mungkin tidak seberapa dibandingkan tarif asli, setidaknya itu bisa menjadi niat baik awal untuk pembayaran pertama.
Sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit, Ayara keluar rumah dan berjalan kaki menuju mulut gang untuk mencegat angkutan umum.
Perjalanan dari pemukiman padat penduduk tempat tinggal Ayara menuju kawasan perkantoran elit di pusat kota Bandung memakan waktu hampir satu jam. Ayara harus dua kali berganti angkutan kota, berdesakan dengan penumpang lain di bawah terik matahari menjelang siang, hingga akhirnya angkutan umum yang ditumpanginya berhenti tepat di seberang sebuah gedung berlantai sembilan yang berdiri megah dengan dinding kaca berkilau.
Ayara turun dari angkutan, merapikan letak tasnya, lalu mendongakkan kepala menatap gedung tinggi tersebut. Tenggorokannya mendadak terasa kering, jantungnya berdegup berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Gedung-gedung megah seperti ini biasanya hanya ia lihat dari layar televisi atau dari kejauhan.
Dengan langkah ragu-ragu namun dipenuhi tekad yang kuat, Ayara menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan, lalu melangkah memasuki area lobi utama gedung Hardian & Partners Law Firm.
Kemegahan interior lobi langsung menyambut indra penglihatannya. Lantai marmer putih mengkilap bagai cermin, pilar-pilar besar berbalut panel kayu gelap, serta aroma parfum ruangan yang mewah berpadu sempurna menciptakan suasana dingin dan berkelas. Di sebelah kanan, sebuah meja resepsionis besar berbentuk setengah lingkaran dijaga oleh dua orang wanita berpenampilan sangat profesional dengan balutan blazer rapi dan riasan wajah sempurna.
Ayara menarik napas dalam-dalam dan menetralkan degup jantungnya, lalu melangkah mendekati meja resepsionis dengan postur tubuh yang sedikit kaku.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa salah seorang resepsionis dengan senyuman ramah, menatap Ayara dari atas sampai bawah, menilai sekilas penampilan Ayara yang tampak sangat sederhana di tengah lingkungan kantor elit tersebut.
"Selamat pagi... Maaf, saya ingin... saya ingin bertemu dengan Bapak Althaf," ucap Ayara dengan nada suara yang sedikit tertahan akibat rasa gugup.
Resepsionis itu mengerjap sejenak, lalu membuka sistem komputer di hadapannya. "Maaf, apakah Ibu sudah membuat janji temu sebelumnya dengan Bapak Althaf?" tanyanya sopan.
Ayara menggeleng pelan, "Belum, Mbak... Saya tadi coba menghubungi Bapak Althaf, tapi nomornya tidak aktif. Jadi, saya langsung datang ke sini karena ada urusan penting yang harus diselesaikan."
Resepsionis wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan keraguan. "Mohon maaf sekali, Ibu... jadwal beliau hari ini sangat padat, mulai dari rapat internal pagi hingga sidang arbitrase siang nanti. Beliau tidak bisa menerima tamu tanpa jadwal temu yang jelas dan jika ingin bertemu Bapak Althaf, Ibu harus ada janji temu dahulu."
Mendengar jawaban itu, Ayara merasakan secercah kekecewaan merayap di dadanya. Namun ia tidak ingin menyerah begitu saja setelah menempuh perjalanan jauh ke tempat ini.
"Tolong... sampaikan saja sedikit pada beliau, Mbak. Nama saya Ayara. Saya ini... temannya Bapak Althaf," bujuk Ayara dengan tatapan memohon.
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa membantu," jawab resepsionis, merasa serba salah.
"Tapi, Mbak...,"
"Sekali lagi maaf, Bu. Atau begini saja, biasanya saat jam istirahat Bapak Althaf keluar untuk makan siang. Bagaimana kalau Ibu tunggu di kursi tunggu," saran resepsionis.
"Boleh, Mbak. Tapi, jam berapa istirahatnya?" tanya Ayara.
"Sekitar jam 12, Mbak," jawab resepsionis.
"Kalau begitu saya tunggu," ujar Ayara, lalu duduk di kursi yang ada di lobby.
Waktu terus berjalan lambat, jarum jam besar yang menempel di dinding lobi utama Hardian & Partners Law Firm kini telah menunjukkan pukul satu siang lewat sepuluh menit.
Ayara masih setia duduk di atas sofa empuk bergaya modern di sudut lobi, .atanya sesekali melirik ke arah lift yang terus-menerus berdengung naik turun membawa para karyawan berjas rapi yang sibuk berlalu-lalang. Namun, sosok yang sejak tadi ia nantikan tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Kedua tangan Ayara meremas erat tali tas kainnya. Rasa lelah mulai merayap di sekujur tubuhnya, ditambah rasa lapar karena pagi tadi ia hanya makan sedikit.
Resepsionis wanita yang tadi sempat berbicara dengannya melirik sekilas ke arah Ayara dengan tatapan iba, wanita itu lantas berjalan mendekat menghampiri sofa tempat Ayara duduk.
"Maaf, Bu Ayara. Sepertinya Bapak Althaf tidak turun, tadi saya dengar ob yang membeli makan untuk Bapak Althaf," ucap resepsionis.
"Mbak, apa bisa Mbak kabari Bapak Althaf terlebih dahulu," pinta Ayara.
"Maaf, Bu Ayara. Saya tidak berani, karena pagi tadi Pak Rendy sudah mengingatkan untuk tidak mengganggu Bapak Althaf," balas resepsionis.
Ayara menghela napas berat, bahunya merosot lemas, ia merasa jalannya sudah buntu. Namun, di tengah kepasrahannya itu, pintu lift di ujung lobi terbuka dengan dentingan lembut.
Seorang pria berjas rapi dengan membawa beberapa map dokumen di tangannya melangkah keluar dari lift. Pria itu adalah Rendy, ia berniat turun sebentar ke lantai bawah untuk menyerahkan beberapa dokumen pada tim resepsionis.
Melihat ada kesempatan, Ayara langsung bangkit berdiri dari sofa. Dengan langkah cepat namun tetap sopan, ia berjalan mencegat arah langkah Rendy.
"Permisi... Maaf, Pak Rendy?" panggil Ayara dengan suara ragu.
Rendy menghentikan langkahnya, ia menoleh dan mengerutkan kening menatap wanita berpenampilan sederhana yang berdiri di hadapannya. Rendy merasa wajah itu tidak asing, namun ia lupa di mana pernah melihatnya karena hari-hari kerjanya yang begitu padat.
"Iya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rendy dengan ramah namun tetap profesional.
"Saya... saya Ayara, Pak. Kakaknya Arlan," jawab Ayara cepat.
Seketika, bola mata Rendy membelalak lebar. Otaknya langsung berputar mengingat kejadian sebelumnya. Beberapa hari lalu, Althaf secara khusus meminta seluruh timnya untuk memprioritaskan penanganan kasus pemuda bernama Arlan, bahkan Althaf memperlakukan keluarga pemuda itu dengan perhatian yang luar biasa, sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan oleh Althaf kepada siapa pun sebelumnya.
Rendy langsung paham bahwa wanita di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Di mata Althaf, wanita ini adalah seseorang yang sangat spesial. Sikap Rendy yang tadinya kaku dan formal langsung berubah drastis menjadi sangat hormat dan segan.
"Ya ampun, Bu Ayara! Maaf sekali, saya tidak langsung mengenali Ibu. Ada apa ya, Bu? Kenapa Ibu bisa ada di sini? Apa ada masalah lagi?" tanya Rendy bertubi-tubi dengan nada panik bercampur tidak enak hati.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita