NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - SEGARA DEMAM

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Kerajaan Langit, Kaisar Segara El-Bhumi sakit.

Bukan sakit karena diracun. Bukan sakit karena diserang musuh di medan perang. Tapi sakit demam biasa. Demam tinggi karena kehujanan.

Kejadiannya tiga hari yang lalu. Hari itu hujan deras turun lagi, lebih deras dari hujan pertama di Paviliun Mawar. Selokan di gerbang utama istana tersumbat lagi karena sampah daun yang dibawa angin. Air menggenang setinggi lutut di halaman depan Balairung Langit, membuat para menteri tidak bisa masuk untuk rapat pagi.

Segara yang melihat itu dari jendela kamarnya, tanpa memakai payung, tanpa memakai jubah hujan, langsung turun dan ikut menggali selokan bersama para pengawal di tengah hujan deras. Padahal dia adalah kaisar. Seharusnya dia hanya perlu memerintah.

Kata pengawal yang ikut menggali bersamanya, "Gusti Kaisar menggali paling dalam, Gusti Permaisuri. Sampai lumpur masuk ke dalam sepatu botnya. Beliau bilang, kalau pemimpin tidak mau kotor, rakyatnya tidak akan mau percaya."

Kalimat itu... kalimat itu adalah kalimat yang pernah aku ucapkan padanya saat hujan pertama di Paviliun Mawar. Dia mengingatnya. Dan dia melakukannya.

Setelah selokan itu selesai dan air mengalir, dia kembali ke kamarnya dengan baju basah kuyup, rambut meneteskan air, dan sepatu penuh lumpur. Dia tidak langsung mandi air hangat. Dia langsung membaca laporan desa yang kebanjiran itu sampai tengah malam dengan baju yang masih lembab.

Besok paginya, dia demam.

Demamnya tinggi sekali. 39,5 derajat. Wajahnya yang biasanya pucat dingin, sekarang merah padam. Bibirnya kering. Matanya yang sedalam samudra itu sayu dan tidak fokus.

Seluruh istana panik.

Tabib Ageng dan semua tabib muda berkumpul di depan kamar Kaisar dengan membawa berbagai macam ramuan. Ada ramuan akar pahit yang harus diminum tiga kali sehari, ada ramuan daun tumbuk yang harus ditempel di dahi, ada asap dupa penolak demam yang harus dibakar di dalam kamar.

Ibu Suri datang dengan wajah cemas, membawa sup ayam kampung yang dia buat sendiri. Selir Jelita datang dengan membawa selimut tebal dari bulu angsa dan air mata buaya.

Tapi Segara menolak semua.

"Tidak usah," katanya dengan suara serak dan pelan dari dalam kamarnya yang pintunya hanya terbuka sedikit. "Aku tidak apa-apa. Kalian semua keluar. Aku ingin sendiri."

Suara itu dingin, tapi semua orang tahu itu bukan dingin karena marah. Itu dingin karena dia sedang menahan sakit yang sangat.

Ibu Suri mencoba masuk, tapi pintu kamar ditahan oleh pengawal pribadi Segara.

"Gusti Kaisar butuh istirahat, Ibu Suri. Gusti Kaisar tidak ingin bertemu siapa pun," kata pengawal itu dengan wajah takut.

Ibu Suri menghela napas dan pergi dengan kesal. Selir Jelita juga pergi sambil pura-pura menangis.

Hanya aku yang masih berdiri di depan pintu kamar itu. Aku membawa nampan kecil. Di atas nampan itu tidak ada ramuan akar pahit atau dupa. Hanya ada satu gelas air putih hangat, satu termometer digital dari Kotak P3K ku, dan dua butir tablet paracetamol putih kecil yang aku sembunyikan di balik tisu.

Mbok menarik lengan bajuku pelan. "Gusti, jangan, Gusti. Gusti Kaisar sedang marah karena sakit. Nanti Gusti dimarahi."

Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Mbok. Aku yang memberinya obat kemarin saat hujan, jadi aku yang harus tanggung jawab."

Aku mengetuk pintu kamar itu pelan.

"Gusti Kaisar? Ini saya, Kahiyang," panggilku pelan.

Hening sejenak dari dalam.

Lalu terdengar suara serak, "Masuk."

Aku membuka pintu dan masuk. Kamar Kaisar yang biasanya rapi dan harum cendana, sekarang agak berantakan. Jubah-jubah basah kemarin masih tergeletak di kursi. Di atas meja ada tumpukan laporan yang belum dibaca. Dan di atas ranjang besar berukir naga itu, Segara terbaring dengan selimut tebal menutupi sampai dada. Wajahnya merah, rambut hitamnya berantakan menempel di dahi karena keringat.

Melihatku masuk dengan nampan, dia mencoba duduk, tapi kepalanya pusing dan dia kembali berbaring.

"Kau ngapain di sini?" tanyanya dengan suara serak. "Aku sudah bilang tidak ingin bertemu siapa pun."

Aku berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja samping ranjangnya.

"Saya dengar Gusti Kaisar demam karena kemarin hujan-hujanan menggali selokan. Saya bawakan air hangat, Gusti," jawabku pelan, dengan suara yang paling lembut yang bisa aku buat.

Aku mengambil termometer digital itu dan menyalakannya. Bip.

"Gusti, boleh saya cek suhu Gusti sebentar? Seperti kemarin saat saya cek suhu Mbok," tanyaku sambil menunjukkan termometer itu.

Segara menatap termometer itu dengan malas, tapi akhirnya mengangguk pelan. "Terserah."

Aku dengan hati-hati menyelipkan termometer itu di bawah ketiaknya yang panas. Tanganku tidak sengaja menyentuh kulitnya yang panas sekali.

39,5 derajat. Pantas saja dia tidak bisa bangun.

Aku mengambil satu butir paracetamol dan air hangat.

"Gusti Kaisar, minum ini ya. Ini bukan ramuan pahit. Ini hanya obat penurun panas dari keluarga Adiningrat. Tidak pahit, kecil saja," bisikku sambil membantu dia duduk bersandar di bantal.

Dia menatap tablet kecil putih itu dengan curiga. "Apa itu? Tidak ada di buku tabib istana."

"Ini permen penurun panas, Gusti. Rasa tawar, tidak pahit. Percaya sama saya," bohongku sedikit, karena jika aku bilang obat dari abad 21, dia pasti tidak mau minum.

Dengan susah payah, dia meminum tablet itu dengan air hangat. Wajahnya masih meringis sedikit karena tenggorokannya sakit.

Setelah minum obat, aku mengambil handuk kecil yang sudah aku rendam air hangat dan memerasnya. Aku duduk di tepi ranjangnya.

"Boleh saya kompres dahi Gusti sebentar? Biar panasnya turun," tanyaku.

Dia tidak menjawab, hanya memejamkan mata. Tanda mengizinkan.

Aku dengan sangat hati-hati meletakkan handuk hangat itu di dahinya yang merah dan panas. Tanganku gemetar sedikit karena ini pertama kalinya aku menyentuh dahinya sedekat ini.

Saat handuk itu menyentuh dahinya, Segara menghela napas panjang. Napas lega karena kompres hangat itu terasa nyaman.

"Kahiyang," panggilnya pelan dengan mata masih terpejam.

"Ya, Gusti Kaisar?"

"Kalau aku mati demam seperti ini, kau akan senang?" tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar dengan suara serak dan pelan, seperti anak kecil yang sedang merajuk karena sakit.

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Kalau aku mati, kau jadi bebas. Kau bisa pulang ke keluarga Adiningrat mu. Atau kau bisa menikah dengan Pangeran Tirta dengan 100 peti emasnya itu. Kau tidak perlu lagi menjadi Permaisuri Mawar yang gaunnya selalu kotor karena lumpur," lanjutnya, masih dengan mata terpejam, tapi suaranya terdengar sangat sedih.

Rupanya, demam tinggi membuat Kaisar Tanpa Hati ini jadi ceng dan berpikir yang tidak-tidak.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil. Aku mencubit pelan pipinya yang panas dan merah itu.

"Ngaco, Gusti Kaisar. Kalau Gusti mati, siapa yang akan membuatkan saya teh mawar yang aman setiap pagi? Siapa yang akan marah-marah kalau tulisan saya jelek seperti cakar ayam? Pangeran Tirta tidak bisa melakukan itu. Pangeran Tirta hanya bisa memberi 100 peti emas, tapi tidak bisa memberi teh mawar yang tidak beracun," jawabku santai, tapi ngena.

Mendengar jawabanku, Segara membuka matanya. Matanya yang sayu itu menatapku lama. Tatapannya tidak lagi dingin. Tatapannya hangat dan sedikit berkaca-kaca karena demam.

"Kahiyang Gayatri Ayuningtyas, kau ini... kalau sedang demam begini, kau malah mencubit pipi Kaisar. Tidak ada yang berani melakukan itu di Kerajaan Langit ini," bisiknya pelan.

Aku tersenyum dan mengganti kompres di dahinya dengan handuk yang baru.

"Tidak ada yang berani karena mereka takut, Gusti. Saya tidak takut karena saya tahu Gusti Kaisar kalau sedang demam itu bukan Kaisar Tanpa Hati. Gusti Kaisar kalau sedang demam itu hanya Segara yang butuh dikompres dahinya," jawabku pelan.

Kata-kata itu membuat Segara terdiam. Dia menatapku yang sedang sibuk memeras handuk.

Lalu, dia mengulurkan tangannya yang panas itu dan menggenggam tanganku yang sedang memegang handuk.

Genggamannya lemah karena sakit, tapi hangat sekali.

"Jangan lepaskan," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. "Tetap di sini sampai demamku turun. Jangan pergi ke mana-mana."

Aku mengangguk. "Ya, Gusti Kaisar. Saya di sini."

Aku duduk di samping ranjangnya, membiarkan tanganku digenggam oleh tangannya yang panas. Aku mengganti kompres dahinya setiap setengah jam. Aku memberinya minum air hangat setiap satu jam.

Di luar, langit sudah gelap. Mbok datang membawakan selimut tambahan dan bubur, tapi aku menyuruh Mbok pulang karena aku yang akan menjaga.

Tengah malam, demamnya perlahan turun. 39,5 menjadi 38,5, lalu menjadi 37,8. Napasnya mulai teratur. Dia tertidur pulas dengan tangan masih menggenggam tanganku.

Aku menyandarkan kepalaku di tepi ranjangnya, dengan tangan masih digenggam, dan ikut tertidur karena lelah.

Pagi harinya, aku terbangun karena sinar matahari masuk dari jendela. Aku masih duduk di tepi ranjang, tangan masih digenggam. Demamnya sudah turun total. Wajahnya sudah tidak merah lagi.

Dia sudah bangun dan sedang menatapku yang tertidur dengan posisi tidak nyaman di tepi ranjangnya, dengan tatapan yang sangat lembut.

Saat aku membuka mata dan menatapnya, dia cepat-cepat melepaskan genggaman tangannya dan pura-pura batuk, wajahnya kembali dingin seperti biasa, tapi telinganya merah padam.

"Kau... kau tertidur di sini semalaman?" tanyanya dengan suara masih sedikit serak, tapi sudah tidak panas.

Aku menguap dan tersenyum. "Ya, Gusti Kaisar. Kan Gusti yang menyuruh jangan lepaskan."

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengambil jubah hitamnya dan menyampirkannya ke bahuku yang kedinginan karena semalaman duduk di lantai.

Di kepalaku, Sistem berbunyi pelan dengan suara yang hangat.

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI +15% - TOTAL 135%]

[STATUS BARU: KETERGANTUNGAN EMOSIONAL - KAISAR TIDAK BISA TIDUR TANPA MEMASTIKAN HOST ADA DI PAVILIUN MAWAR]

Hari itu, alurnya memang sangat santai. Hanya demam, kompres, dan genggaman tangan semalaman.

Tapi rasanya ngena sekali. Karena untuk pertama kalinya, aku menjaga Segara, bukan Segara yang menjagaku. Dan untuk pertama kalinya, Kaisar Tanpa Hati itu tertidur pulas bukan karena obat tidur, tapi karena ada tangan permaisurinya yang dia genggam semalaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!