NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

****

Malam Selasa Kliwon menyelimuti Desa Lemah Wungu dalam kegelapan pekat. Angin dingin bertiup kencang dari arah perbukitan, membawa serta kepulan kabut tebal yang menyapu atap-atap rumah warga. Di saat seluruh desa masih berbisik-bisik ketakutan membicarakan nasib Sekar yang mengerikan dan kelumpuhan ajaib Mbah Suro, keheningan yang jauh lebih agung tercipta di dalam kamar utama rumah joglo milik Bagas.

Bagas terbaring tegap di atas peraduan kayu jatinya. Tepat saat tengah malam berganti, Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kirinya memancarkan pendar hijau keemasan yang amat terang. Gelombang energi magis yang hangat dan tebal seketika membalut seluruh raganya, menarik kesadaran dan jiwanya menembus tirai dimensi.

SZZZT!

Dalam sekejap mata, aroma wangi dupa cendana bercampur ronce melati segar menyergap indra penciumannya. Bagas tak lagi berada di kamarnya yang sederhana, melainkan berdiri tegak di tengah-tengah Balairung Utama Istana Sendang Manten.

Pemandangan di sekelilingnya sungguh luar biasa. Ribuan prajurit berbadan manusia berkepala ular berdiri tegap berjejer memegang tombak berlapis emas. Di sepanjang lorong marmer zamrud, para dayang cantik bertubuh separuh ular meliuk anggun membawa nampan berisi sesajen dan minyak sakral. Suara genta emas dan alunan gamelan gaib bergema merdu, menciptakan atmosfer yang amat sakral dan megah.

"Selamat datang kembali, Pangeranku... Suami Agung Kerajaan Sendang Manten," bisik sebuah suara halus yang menggetarkan sukma.

Dari atas tahta pualam berlapis emas murni, Nyai Ratu Ular melangkah turun—meliuk anggun dengan keagungan yang tiada tandingannya. Malam ini, Sang Ratu tampil luar biasa menawan. Mahkota emas bertatahkan batu zamrud menjulang di kepalanya, membiaskan cahaya keemasan yang hangat. Kemben sutra hijau tua yang dikenakannya berhias sulaman benang emas, mempertegas kecantikan parasnya yang bersih bagai porselen.

Nyai Ratu mendekati Bagas, membelitkan bagian bawah tubuh ularnya yang besar dan berkilat zamrud mengelilingi pinggul Bagas secara posesif. Tangan halusnya merengkuh leher Bagas, mendaratkan kecupan hangat di dahi suami manusianya itu.

"Aku merindukanmu, Bagas..." bisik Nyai Ratu dengan pendar mata emas yang memancarkan rasa kasih sayang yang teramat dalam sekaligus kepemilikan mutlak. "Laporan dari para pengawas ghaibku membuat hatiku teramat bangga padamu. Kamu tidak sedikit pun tergiur oleh godaan wanita manusia dungu itu. Keteguhan hatimu membuktikan bahwa jiwamu sepenuhnya milikku."

Bagas menyunggingkan senyuman tegap, merangkul pinggul mulus Sang Ratu dengan penuh keyakinan. "Di dalam hatiku, tidak pernah ada ruang untuk wanita lain, Nyai. Bagiku, kaulah satu-satunya Permaisuri dan Ratu hidupku."

Nyai Ratu terkekeh merdu, tawa cantiknya bagaikan denting genta emas yang menentramkan jiwa. "Jawaban yang sangat manis, Suamiku... Dan atas kesetiaanmu yang tanpa cela, serta benih kehidupan yang kini berakar kuat di rahim gaibku, malam ini aku akan memberikan keagungan yang belum pernah diberikan kepada manusia fana mana pun."

Bagas tersentak pelan. "Keagungan, Nyai?"

Nyai Ratu membimbing tangan Bagas, meletakkannya tepat di atas perut ratunya yang dibalut kain sutra. Di bawah telapak tangan besar Bagas, terasa denyutan energi supranatural yang amat dahsyat dan hangat—sebuah getaran kehidupan baru yang memancarkan aura keemasan.

Nyai Ratu menaikkan telunjuk kanannya. Ujung kuku indahnya yang tajam menggores pelan telapak tangannya sendiri, meneteskan sebutir darah sakral berwarna hijau keemasan yang memancarkan aroma melati yang teramat pekat.

Dengan penuh kelembutan, Nyai Ratu mengusapkan tetesan darah sakral itu tepat di tengah-tengah kening Bagas, di antara kedua alisnya.

SZTSZZZTTT!

Seketika itu pula, rasa panas yang amat dahsyat menyengat kening Bagas. Penglihatannya mendadak gelap gulita selama beberapa detik, diiringi suara gemuruh seperti deru ribuan naga ghaib yang bergema di dalam kepalanya. Jantung Bagas berdegup kencang saat matanya dipaksa terbuka kembali.

Mata Bagas membelalak sempurna. Pandangannya terhadap dunia ghaib berubah total seutuhnya!

Kini, Bagas tidak hanya melihat bayangan fisik istana, melainkan mampu menyaksikan helai-helai energi supranatural yang mengalir di udara. Ia bisa melihat dengan jelas jutaan bangsa ular ghaib yang melayang di langit-langit istana, aura magis para prajurit yang menyala-nyala, hingga tabir dimensi antara dunia nyata dan dunia ghaib yang kini tampak tembus pandang baginya.

"Mata Batin Indra Ular telah menyatu dengan sukmamu, Bagas," puji Nyai Ratu seraya mengelus kening Bagas yang kini terukir pendar sisik emas samar. "Mulai detik ini, di dunia nyata mana pun kamu berpijak, tidak ada makhluk halus, taksaka, maupun ilmu hitam yang bisa bersembunyi dari pandanganmu. Kamu bisa berkomunikasi dengan seluruh bangsa ular di jagat raya ini dan memerintah mereka sesuai kehendakmu."

Bagas menggenggam kedua tangannya yang kini dialiri energi magis luar biasa. "Luar biasa... Aku bisa merasakan dan melihat segalanya dengan jelas, Nyai."

"Ini baru permulaan, Suamiku," lanjut Nyai Ratu dengan tatapan yang memikat jiwa. "Malam ini, marilah kita satukan aura spiritual kita seutuhnya untuk menyempurnakan ikatan pangeranmu."

Nyai Ratu membimbing langkah tegap Bagas melangkah menuju Altar Utama Sendang Manten. Di atas altar batu pualam melingkar yang dikelilingi pendar air danau gaib yang berkilat keemasan, Sang Ratu melepaskan seluruh perhiasan, selendang sutra, dan mahkota megahnya.

Sang Ratu berbaring pasrah di atas altar pualam yang hangat, menatap Bagas dengan pendar mata hijau keemasan yang berkilat pekat oleh gairah pemujaan dan harapan yang amat mendalam.

"Mendekatlah, Suamiku... Pangeranku..." bisik Sang Ratu dengan suara merdu yang bergema di seluruh penjuru danau. "Di atas altar sakral ini, mari kita satukan sukma dan benih kita. Tumpahkan seluruh kehangatan rasamu di dalam rahim gaibku... Aku ingin segera mengandung dan melahirkan keturunan berdarah murni dari benihmu untuk bangsa ular!"

Dada Bagas berdesir dahsyat, napasnya tersengal berat oleh gairah dan keharuan yang luar biasa. Pemuda tegap itu tidak merasakan ragu sedikit pun. Batinnya diliputi kebanggaan tiada tara mengetahui dirinya akan menjadi ayah dari calon penguasa dua alam.

"Aku pun teramat merindukan kehadiran buah hati kita, Nyai..." balur Bagas tegap dan berwibawa, menyusupkan jemari besarnya di jemari halus Sang Ratu. "Malam ini, aku akan mencurahkan seluruh benih cinta dan cintaku ke dalam rahimmu. Jadilah ibu dari anak-anakku!"

Bagas merangkak naik ke atas altar pualam, menaungi raga molek Sang Ratu. Pria tegap itu membungkuk, mendaratkan cumbuan yang teramat dalam, hangat, dan membakar di atas bibir manis Permaisurinya. Tangan besar Bagas merayap lembut menyusuri paha mulus bersisik keemasan Sang Ratu, membimbing penyatuan intim mereka di atas altar sakral secara perlahan, mantap, dan meresap seutuhnya.

Saat penyatuan gaib itu terjadi secara sempurna di mana raga tegap Bagas terbenam seutuhnya di dalam kehangatan rahim gaib Sang Ratu, sebuah erangan nikmat yang teramat dahsyat, melengking, dan memabukkan lolos dari tenggorokan mereka berdua.

"NGGGHHHH! Mmmm... Bagas!" jerit Sang Ratu menggeram panjang, matanya terpejam rapat, badannya melengkung anggun di atas pualam saat raganya terbenam seutuhnya menyatu dengan kenikmatan raga suaminya. "Nikmat sekali, Pangeranku... luar biasa hangat, dalam, dan meresap..."

"AHHH! Nyai... Nggghhh...!" rintih Bagas melengking merdu, matanya terpejam meresapi rasa penuh, rapat, dan kehangatan aura mistis yang meresap hingga ke pembuluh darahnya. "Nikmat sekali, Nyai... rahimmu begitu hangat dan memeluk erat..."

Bagas mulai mengayunkan pinggul tegapnya dari atas dengan tempo yang berat, teratur, namun begitu dalam meresap. Penyatuan di atas Altar Utama menyalurkan gelombang energi sakral yang tiada tandingannya, melapisi Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas dengan kekuatan pencerahan yang amat dahsyat.

Tangan besar Bagas memegang erat pinggul mulus Sang Ratu, membimbing setiap dorongan intimnya agar meresap seutuhnya ke dalam rahim gaib istrinya.

"Ahhh... hhh... Bagas... tumpahkan benihmu di dalam sini, Tampan... nggghhh... rasakan betapa rahimku haus akan benihmu... ahhh!" desah Sang Ratu makin melengking merdu, ronce melati di dadanya bergoyang membiaskan aroma harum yang memenuhi seluruh selasar altar.

"Nggghhh... Nyai... permaisuriku... rasakan kehangatan benih suamimu malam ini, Nyai... hhh!" erang Bagas parau, mempercepat tempo dorongan pinggulnya yang kian intens, berat, dan sarat pemujaan.

"Teruslah bergerak seperti itu, Bagas! Buat aku hamil malam ini, Suamiku!" jerit Sang Ratu penuh gairah seraya meremas erat bahu berotot Bagas.

"Aku akan memberikan seluruh kehidupan dan benih terbaikku untukmu, Nyai!" jerit Bagas, mengayunkan pinggulnya makin dalam, mantap, dan meresap seutuhnya.

Di bawah pendar pencerahan hijau keemasan Altar Utama, desahan nikmat keduanya mengalun merdu bersahutan dengan nyanyian air danau gaib. Bagas mempercepat ayunan pinggulnya dari atas dengan penuh gairah dan kepasrahan utuh, memanjakan Sang Ratu dalam ritual penyatuan benih yang panjang dan memabukkan.

"Bagas... Bagas! Aku mau sampai... Rahimku sudah siap menerima benihmu! Ahhh... nggghhh... tumpahkan di dalam, Suamiku!" jerit Sang Ratu melengking manis, seluruh raganya bergetar hebat di bawah dada bidang Bagas.

"Nggghhh! Bersama, Nyai... Bersama!" jerit Bagas menggeram dahsyat.

Bagas menarik pinggul Sang Ratu rapat-rapat ke atas, memperdalam dorongan pungkasan secara mantap sebelum akhirnya menumpahkan seluruh benih cinta, kehangatan energi sakral, dan gairah puncaknya di bagian terdalam rahim gaib Sang Ratu.

"NGGGHHHHHHHH! BAGAS!"

"AHHHHH! NYAI!"

Jeritan nikmat puncak keduanya berpadu sempurna dalam pendar pencerahan yang memenuhi Altar Utama. Sang Ratu seketika terkulai lemas, merebahkan raga cantiknya tepat di atas pualam hangat. Bagas seketika merengkuh raga Sang Ratu rapat-rapat dalam dekapannya, merapatkan dadanya pada dada istrinya seraya bersama-sama menghirup napas tersengal-sengal pendek.

Kehangatan mutlak menyatukan sukma mereka berdua sebagai pasangan abadi. Gelombang kenikmatan dan kedamaian spiritual merayap memenuhi seluruh pembuluh darah Bagas. Tidak ada rasa takut, tidak ada ragu.

Dalam buaian keagungan dan cinta posesif Sang Ratu, Bagas merasa jiwanya telah bertransformasi seutuhnya. Kehidupan fana di dunia manusia yang penuh kecemburuan, kepalsuan, dan keangkuhan seperti yang ditunjukkan Sekar terasa begitu kerdil dan tak berarti dibanding keagungan takdirnya di istana ini.

Bagas memeluk erat tubuh anggun Sang Ratu di atas altar gaib, menyandarkan dagunya di bahu wangi melati permaisurinya.

"Aku makin enggan untuk kembali ke dunia fana, Nyai..." bisik Bagas tulus dari dasar hatinya. "Dunia di sini jauh lebih jujur dan agung bagiku."

Nyai Ratu tersenyum sangat puas, mengelus kepala suaminya dengan penuh kasih sayang. "Sabar, Pangeranku... Benihmu telah tertanam hangat di rahimku. Dunia nyata masih membutuhkan kehadiranmu untuk menjaga ibumu dan menegakkan kejayaanmu. Namun ingatlah, kapan pun kamu memanggilku, seluruh Kerajaan Sendang Manten siap tunduk pada perintahmu."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!