Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terbelah
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis di kamar tamu lantai satu, membiaskan garis-garis cahaya ke emas pucat di atas lantai parket. Namun, hangatnya pagi tak mampu mengikis hawa dingin yang mengendap di dalam ruangan itu.
Clara terbangun dengan kepala berat dan sensasi berdenyut di lutut kanannya. Saat ia mencoba bergeser, balutan elastic bandage yang melilit rapi dari pertengahan betis hingga paha bawahnya mengingatkan dirinya secara brutal pada kekalahan telak semalam. Ia tak lagi berada di atas garis finis sirkuit malam, melainkan terperangkap dalam batas-batas yang ditentukan oleh Arka Samudra.
Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu terdengar tiga kali teratur, tenang, dan efisien. Pintu kayu jati itu terbuka pelan, mengungkapkan sosok wanita berusia awal tiga puluhan dengan rambut tersanggul rapi dan seragam medis berwarna abu-abu terang. Ia membawa tas perlengkapan terapi yang cukup besar dan clipboard kayu.
"Selamat pagi, Mbak Clara. Saya Siska, fisioterapis yang ditugaskan oleh Dokter Arka untuk mendampingi pemulihan Anda," sapa wanita itu ramah namun profesional, tanpa senyum berlebihan.
Clara mendengkus pelan, menarik selimut hingga menutupi dadanya. "Arka benar-benar nggak main-main, ya? Mengirim pengawal berkedok tenaga medis."
Siska tidak terprovokasi. Ia meletakkan tasnya di atas meja samping tempat tidur dan menarik kursi kerja berroda. "Tugas saya murni medis, Mbak Clara. Dokter Arka memberikan instruksi klinis yang sangat rinci mengenai kondisi ligamen dan patela Anda. Target kita dalam dua minggu ke depan adalah meredakan edema, mencegah arthrofibrosis atau kaku sendi, serta melatih rekrutmen otot quadriceps tanpa memberi beban axial berlebih pada sendi."
Siska membalik lembaran di clipboard-nya. "Dokter Arka sudah memblokir semua gerakan range of motion melebihi 30 derajat untuk tiga hari pertama. Hari ini kita fokus pada tes ketahanan sensorik dan latihan isometric contraction."
"Gue nggak butuh semua ini," potong Clara tajam, mencoba menegakkan punggungnya meski rasa nyeri di lututnya membuat napasnya tertahan. "Kaki gue cuma terkilir biasa. Nanti sore juga gue udah bisa jalan."
"Berdasarkan hasil pemindaian radiologi darurat dan evaluasi palpasi semalam, ada micro-tear pada ligamen anterior dan efusi sendi yang lumayan signifikan," balas Siska dengan nada tenang yang mengingatkan Clara pada gaya bicara Arka. "Jika Anda memaksa menumpu beban hari ini, risikonya adalah dislokasi ulang atau ruptur total. Dan jika itu terjadi, operasi rekonstruksi adalah satu-satunya jalan keluar."
Clara mengetatkan rahangnya. Kata-kata Siska persis seperti gema ucapan Arka semalam. Mengapa semua orang di rumah ini bicara seolah-olah dirinya adalah pasien yang tak berdaya?
"Kita mulai pengerjaan lymphatic drainage dulu untuk mengurangi pembengkakan," ucap Siska seraya mengenakan sarung tangan latex.
Proses terapi dimulai. Siska melakukan pemijatan ringan dengan teknik khusus di sekitar paha dan betis Clara, menghindari area patela yang membengkak kebiruan. Rasa hangat dari gel antiinflamasi bertemu dengan tekanan jemari Siska yang terlatih membuat Clara menahan napas beberapa kali. Ada rasa tidak nyaman yang menusuk, namun perlahan-lahan tegangan otot di sekitar lututnya yang meradang mulai sedikit mengendur.
Di tengah proses itu, pintu kamar kembali terbuka.
Arka melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan pakaian kasual kemeja rajut berwarna abu-abu gelap dengan lengan digulung hingga siku dan celana kain hitam. Wajahnya tampak segar meski ada sedikit lingkaran hitam tipis di bawah matanya, sisa kelelahan setelah operasi marathon dan drama tengah malam semalam.
Siska menghentikan gerakannya sejenak dan mengangguk hormat. "Dokter Arka."
"Bagaimana evaluasi awal, Siska?" tanya Arka tanpa menatap Clara secara langsung. Matanya tertuju pada area pembengkakan di lutut istrinya.
"Suhu lokal di sekitar patela masih tinggi, menandakan proses inflamasi aktif. Nyeri tekan berada di skala 6 dari 10. Namun tidak ditemukan ketidakstabilan pasif yang mengarah pada ruptur total," lapor Siska lugas.
Arka mendekat, melipat tangannya di dada. "Lanjutkan dengan latihan straight leg raise dengan bantuan isometric sling kalau edemanya sudah sedikit berkurang. Jangan izinkan fleksi aktif melebihi batas."
"Baik, Dokter."
Clara menatap Arka dengan pandangan menyalang. "Kamu nggak perlu berdiri di sana seolah-olah lagi bikin rondaan di bangsal rumah sakit. Ini kamar, dan gue istri kamu, bukan spesimen uji coba!"
Arka akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap tepat pada manik mata Clara. Tatapannya tetap dingin, tenang, dan sulit dibaca.
"Di dalam rumah ini, kamu adalah istri saya. Tapi terkait kondisi fisikmu saat ini, kamu adalah seseorang yang butuh penanganan medis serius karena kecerobohanmu sendiri," jawab Arka datar. Ia melangkah menuju meja kecil di sudut kamar, mengambil cangkir berisi teh hangat dan piring kecil berisi sup krim yang disiapkan oleh pelayan rumah.
Arka meletakkannya di atas meja lipat tempat tidur di hadapan Clara.
"Makan," perintah Arka singkat. "Ada antibiotik dan antiinflamasi dosis tinggi yang harus kamu konsumsi dalam waktu tiga puluh menit."
"Gue nggak lapar," cetus Clara sambil memalingkan wajah.
"Saya tidak bertanya apakah kamu lapar atau tidak, Clara," suara Arka terdengar lebih dalam, memberikan tekanan yang tak terbantahkan. "Tubuhmu butuh asupan nutrisi untuk proses perbaikan jaringan. Kalau kamu memilih memprotes dengan cara menolak makan, saya bisa dengan mudah memasang selang infus di tanganmu sekarang juga."
Clara menoleh cepat, matanya melebar marah. "Kamu sengaja manfaatin status dokter kamu buat mengintimidasi gue, kan?!"
"Saya memanfaatkan akal sehat yang sepertinya sedang hilang dari kepalamu," balur Arka tanpa menaikkan nada bicaranya sedikit pun. Ia menoleh pada Siska. "Siska, berikan jeda lima belas menit agar dia bisa makan dan minum obat."
"Baik, Dokter Arka," jawab Siska seraya mengundurkan diri sejenak ke luar kamar untuk memberi ruang bagi pasangan suami istri itu.
Begitu pintu tertutup meninggalkan mereka berdua, suasana kamar kembali hening mencekam. Clara mengepalkan jemarinya di atas selimut. Kebencian, kejengkelan, dan rasa tidak berdaya bercampur aduk di dalam dadanya.
"Kenapa sih kamu nggak biarin gue busuk aja di sirkuit semalam?" bisik Clara, suaranya bergetar menahan amarah dan emosi yang makin tak terkendali. "Kenapa kamu harus sok pahlawan? Kamu cuma jalanin perjodohan konyol yang disepakati Papa sama Ayah kamu, kan? Kalian berdua cuma anggap gue objek penurut yang bisa diatur sesuka hati!"
Arka tidak langsung membalas. Pria itu menarik kursi yang sebelumnya diduduki Siska, duduk di samping tempat tidur Clara. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Clara bisa mencium aroma samar mint dan antiseptik khas yang selalu melekat pada tubuh Arka.
"Kalau saya bertindak semalam hanya sekadar menjalankan perjodohan ini," Arka mulai berbicara, suaranya teratur dan pelan namun meresap ke tiap sudut ruangan, "saya cukup menelepon Papamu saat itu juga. Membiarkan Papamu tahu putrinya nyaris cacat di sirkuit ilegal, dan membiarkan beliau sendiri yang menyeretmu pulang dengan pasukannya. Saya tidak perlu menyembunyikan kecelakaan ini dari Papamu, membatalkan jadwal konsultasi pasca-operasi saya pagi ini, hanya untuk memastikan perbanmu terpasang dengan benar."
Clara tersentak kecil. Ia menatap Arka, mencari kebohongan di mata suaminya, namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang melelahkan.
"Kamu tahu persis bagaimana kerasnya Papamu kalau tahu kamu balapan lagi," lanjut Arka, jemarinya meraih sendok di atas piring sup. Ia menyendok sup krim yang masih berasap tipis itu, lalu mengarahkannya mendekati bibir Clara. "Papamu membentuk hidupmu dengan aturan kaku karena dia ingin melindungimu, meski caranya salah. Kamu menganggap rumah ini penjara, Clara. Tapi kamu lupa, pintu penjara ini adalah satu-satunya benteng yang menahan Papamu agar tidak mengunci kehidupanmu sepenuhnya."
"Gue bisa makan sendiri," potong Clara kaku, mencoba merebut sendok itu.
Namun Arka menjauhkan tangannya sedikit, menatap Clara dengan pandangan menuntut yang membuat dorongan memberontak Clara melunak secara perlahan.
"Makan," ulang Arka pelan.
Dengan bibir bergetar dan rasa tegang yang memenuhi dadanya, Clara akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan sup itu. Rasa gurih hangat membasahi kerongkongannya, terasa asing di tengah gejolak emosi yang berkecamuk.
Satu suapan. Dua suapan. Arka menyuapinya dengan kesabaran yang luar biasa—sebuah ketenangan yang justru melumpuhkan semua benteng emosi yang dibangun Clara selama seminggu terakhir. Pria yang biasanya tampak acuh tak acuh dan tenggelam dalam tumpukan berkas medis itu kini memfokuskan seluruh perhatiannya hanya pada setiap tegukan sup yang diterima Clara.
"Kenapa..." suara Clara tercekat di pertengahan suapan kelima. Air mata yang sejak semalam ditahannya akhirnya lolos, menetes melewati pipinya dan jatuh tepat di atas selimut. "Kenapa kamu harus sebegininya? Gue bukan cewek manis yang bakal nurut sama semua aturan kamu dan Papa. Gue liar. Gue benci dijodoh-jodohin seolah gue nggak punya hak atas hidup gue sendiri!"
Arka meletakkan mangkuk sup yang telah berkurang separuh di atas meja. Jemarinya yang panjang dan hangat terulur, menyapu usapan air mata di pipi Clara dengan sangat lembut sebuah sentuhan yang berbanding terbalik dengan ketegasannya beberapa menit lalu.
"Saya tahu siapa kamu, Clara," ucap Arka lirih, tatapannya melembut untuk pertama kalinya. "Saya menyetujui pernikahan ini bukan karena menganggapmu cewek penurut. Tapi keliaran tanpa kendali ini bukan kebebasan... ini cuma cara kamu memberontak dari tekanan dan ekspektasi Papamu."
Ucapan Arka seperti belati yang menusuk titik paling rapuh di hati Clara. Tekanan tinggi dari sang ayah yang menuntut kesempurnaan serta rasa takut dikendalikan bagai boneka atas nama kesepakatan keluarga, semuanya dibongkar tanpa sisa oleh pria di hadapannya. Ia tak tahu dan Arka dengan rapat menyembunyikan kenyataan bahwa perjodohan ini sebenarnya lahir dari utang nyawa masa lalu antara Hendra dan Nathan, rahasia yang disimpan rapat-rapat agar Clara tak merasa terbeban atau menyesal.
Clara menunduk dalam-dalam, bahunya terguncang oleh isak tangis pelan yang tak lagi mampu ditahannya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan dan pernikahan perjodohan ini, Clara menangis di hadapan Arka tanpa mencoba melawan.
Arka tidak memeluknya, tidak pula membombardir dengan kata-kata penenang yang klise. Pria itu hanya tetap duduk di sana, membiarkan tangannya mengusap puncak kepala Clara dengan gerakan tenang yang konsisten, menjadi jangkar di tengah badai emosi yang sedang melanda istrinya.
"Selesaikan obatmu," kata Arka beberapa saat kemudian, ketika tangis Clara mulai mereda menjadi hembusan napas yang tidak teratur. Arka menyodorkan dua butir kapsul dan segelas air putih. "Siska akan melanjutkan terapi selama satu jam. Setelah itu kamu harus istirahat total."
Clara menerima obat itu tanpa bantahan, menelannya bersama tegukan air hangat.
Arka berdiri dari kursinya, merapikan kembali pakaiannya. Saat ia melangkah menuju pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Saya ada rapat dewan medis jam satu siang," ucap Arka. "Ponselmu ada di meja kerja saya. Kamu bisa memintanya kembali setelah kamu menunjukkan kemajuan pada sesi terapi sore nanti."
"Arka," panggil Clara pelan sebelum suaminya sempat membuka pintu.
Arka membalikkan badan, mengangkat sebelah alisnya. "Ya?"
Clara menatap lututnya yang terbebat rapat, lalu mengalihkan pandangannya pada Arka dengan sisa-sisa keberaniannya. "Motor gue... Rio bilang motor itu lecet parah. Papa... beliau belum tahu, kan?"
Arka menatapnya sejenak, lalu embusan napas halus keluar dari hidungnya. "Motor itu sudah berada di bengkel resmi pagi ini. Saya yang mengurus pengirimannya agar tidak melintasi radar pengawal Papamu. Dan soal Papamu... beliau hanya tahu kamu sedang kelelahan dan istirahat di rumah. Tapi sampai kamu bisa berjalan lurus tanpa menahan sakit... kuncinya tetap ada di dalam brankas saya."
Pintu kamar terbuka dan Arka melangkah keluar, menyisakan keheningan yang tak lagi terasa sesak seperti semalam.
Clara menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur, menatap perban di kakinya. Rasa nyeri fisik masih ada, namun ketakutan akan ruang terkunci itu perlahan bergeser. Di balik pernikahan perjodohan yang dikiranya sepihak, serta sifat dingin dan kontrol ketat Arka Samudra, ada sebuah garis perlindungan yang tak pernah ia sangka akan membuatnya merasa seaman ini.