Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 KEPUTUSAN YANG MENGUBAH SEGALANYA
Sore itu, halaman belakang sekolah tiba-tiba menjadi ramai. Zain Arvendra Atmaja berdiri di sana, napasnya memburu, tangannya terkepal erat. Di hadapannya, seorang siswa lain sedang memegangi lengannya yang memar. Beberapa teman sekelas berkerumun di kejauhan, ada yang berbisik cemas, ada juga yang hanya diam menonton dengan wajah terkejut. Belum sempat keributan itu mereda, guru pembimbing sudah datang menghampiri dengan langkah cepat dan wajah yang tidak senang.
"Zain! Masuk ke ruang kepala sekolah sekarang!" Tegur guru itu dengan suara tegas.
Zain tidak menjawab, ia hanya menurunkan pelan tangannya yang masih mengepal lalu berjalan mengikuti guru itu meninggalkan halaman belakang. Langkahnya terasa berat, seolah setiap langkah menuju ruang kepala sekolah adalah langkah yang menjauh dari kehidupan yang ia kenal selama ini.
Sesampainya di ruangan itu, udara terasa sejuk namun justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Kepala sekolah duduk di kursinya, menatapnya lama dalam diam, seolah sedang menunggu Zain yang pertama kali berbicara.
"Kamu tahu kenapa kamu ada di sini, Zain ?" Tanya kepala sekolah akhirnya, suaranya pelan namun terdengar sangat berat.
Zain mengangguk pelan, matanya menatap lantai
"Saya tahu, pak. Saya minta maaf" Jawab Zain
"Maaf saja tidak cukup kali ini, siswa yang kamu pukul harus dibawa ke rumah sakit. Ini sudah peringatan yang ketiga kalinya, dan sekolah tidak bisa lagi memaklumi kelakuanmu. Besok pagi, tolong sampaikan pada ayahmu untuk datang ke sekolah. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan serius" Ujar Kepala sekolah
*****
Zain pulang ke rumah dengan perasaan yang berkecamuk, sepanjang jalan pulang pikirannya terus berputar tak menentu. Ia tahu ia salah, tapi ada rasa sesak yang sulit ia jelaskan, sesampainya di rumah ia tidak menceritakan apa-apa. Ia hanya mengunci diri di kamar, duduk di tepi jendela sambil menatap langit yang perlahan berubah gelap. Malam itu ia sulit terlelap, pikirannya terus terbayang wajah ayah dan apa yang akan terjadi keesokan harinya.
Keesokan harinya, ayah berangkat ke sekolah tepat setelah matahari naik. Zain menunggunya di rumah, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya, setiap suara langkah kaki di luar rumah membuat jantungnya berdebar kencang.
Beberapa jam berlalu hingga akhirnya suara pintu terbuka terdengar, ayah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terlihat lelah, matanya terlihat sedih sekaligus berat. Ia duduk di kursi ruang tengah, lalu menatap Zain yang berdiri cemas di hadapannya.
"Ayah baru saja selesai berbicara panjang lebar dengan kepala sekolah, Zain" Ucap Danuel, ayah Zain dengan suaranya terdengar bergetar.
"Keputusan sudah bulat, kamu resmi dikeluarkan dari sekolah itu" Lanjut Danuel
Zain tertegun sejenak, rasanya seolah dunia baru saja berhenti berputar.
"Dikeluarkan pa ?, Tidak ada cara lain ?" Tanya Zain
"Papa sudah mencoba segalanya, papa sudah bertanya ke sekolah-sekolah lain di sekitar sini tapi tidak ada satu pun yang mau menerima siswa dengan catatan seperti kamu. Papa tidak ingin kamu putus sekolah, jadi ada satu hal yang harus kita lakukan" Jawab Danuel
"Apa itu, pa ?" Tanya Zain cemas.
"Papa sudah mendaftarkanmu ke sebuah SMA berbasis asrama di pinggiran kota, masih di kawasan yang sama, tidak terlalu jauh dari sini. Di sana ada aturan yang tegas dan pendampingan yang lebih baik, dan kamu akan tinggal di sana untuk sementara waktu" Jawab Danuel
Zain tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Asrama pa ?, aku janji aku akan berubah, tapi tolong jangan kirim aku ke sana" Ucap Zain tidak ingin di masukkan ke asrama
"Papa tahu kamu berusaha, Zain. Tapi ini satu-satunya jalan yang tersisa, dan keputusan sudah diambil. Besok pagi kita akan berangkat ke sana" Jawab Danuel
Malam itu Zain tidak tidur, dia duduk di dekat jendela sambil menatap lampu-lampu kota yang masih ia kenal. Ia tidak akan pergi jauh, ia masih berada di kotanya namun dunianya baru saja berubah sepenuhnya.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...