NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tak Seharusnya

Suasana balkon sekolah masih terasa menegangkan. Angin sore berembus melewati pagar besi, sementara Keiran berdiri dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. Wajah laki-laki itu terlihat kesal setelah Fio membawanya pergi dari koridor, meninggalkan Hikari dan Arsen yang masih berada di sana.

"Lo kenapa sih, Fio?!" bentak Keiran sambil menarik lengannya dari genggaman gadis itu.

Fio berbalik dengan wajah penuh amarah. Sejak tadi dia berusaha menahan emosinya, tetapi mengingat bagaimana Keiran mempermalukan Hikari di hadapan Arsen membuat kesabarannya benar-benar habis.

"Gue yang harusnya nanya begitu! Lo kenapa, Kei?!"

Keiran mengembuskan napas kasar. Dia mengalihkan pandangan ke halaman sekolah, berusaha menghindari tatapan Fio yang terus mengarah kepadanya.

"Gue lagi nggak mau ribut."

"Nggak mau ribut?" Fio tertawa pendek tanpa sedikit pun terlihat senang. "Terus yang lo lakuin ke Hikari tadi apa?!"

Keiran terdiam sesaat.

"Gue cuma bilang supaya dia nggak terus-terusan ngikutin gue."

"Dan menurut lo itu cara yang bener buat ngomong sama dia?"

Keiran mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya terasa penuh, sementara pertanyaan Fio membuat kekesalannya semakin bertambah.

"Lo nggak ngerti, Fio."

"Ya, gue emang nggak ngerti!" balas Fio dengan suara meninggi. "Gue nggak ngerti kenapa lo harus ngebentak orang yang cuma mau perhatian sama lo!"

Keiran menoleh dengan tatapan tajam, tetapi Fio sama sekali tidak gentar.

"Kalau lo mau nyakitin hati orang untuk kedua kalinya, jangan ke Hikari!"

Perkataan itu membuat Keiran langsung terdiam.

Fio melangkah mendekat. Wajahnya memerah menahan amarah, sementara kedua matanya menatap Keiran dengan penuh kekecewaan.

"Dia nggak tahu apa-apa tentang lo! Dia cuma mau deket sama lo. Apa susahnya, sih, buat lo ngomong baik-baik? Kenapa lo harus ngebentak Hikari?!"

"Gue nggak pernah nyuruh dia deket sama gue!"

"Terus kenapa lo selalu perhatian sama dia?!"

Keiran membeku.

"Lo pikir gue nggak lihat selama ini?" lanjut Fio. "Lo selalu sadar kalau Hikari belum makan, kalau dia lagi capek, bahkan kalau dia lagi ada masalah. Tapi sekarang lo malah bersikap seolah kehadiran dia ganggu hidup lo!"

Keiran membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Fio menggeleng dengan kesal. Dia sudah cukup lama mengenal Keiran untuk memahami bahwa laki-laki itu bukan seseorang yang mudah menunjukkan perhatian. Justru karena itulah, sikap Keiran terhadap Hikari selama ini terasa berbeda.

Namun, Fio tidak pernah menyangka bahwa laki-laki itu akan memperlakukan Hikari dengan begitu kasar.

"Dan satu lagi," ucap Fio kembali. "Kenapa lo ngurusin Hikari sama Arsen? Lo nggak mau dia deket sama Arsen? Lo cemburu atau gimana?"

Keiran langsung mengerutkan kening.

"Gue nggak cemburu."

"Terus kenapa lo bawa-bawa nama Arsen tadi?!"

Keiran terdiam.

"Lo nggak punya hak buat ngelarang Hikari deket sama siapa pun, Kei. Dia bebas berteman sama siapa aja. Kalau Arsen bikin dia senang, terus masalahnya buat lo apa?"

Keiran membuang muka. Rahangnya mengeras, sementara tangannya kembali mengepal. Dia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak peduli kepada siapa Hikari berteman, tetapi perkataan itu terasa sulit keluar dari mulutnya.

Fio memperhatikan perubahan ekspresinya.

"Kalau lo udah punya perasaan sama Hikari, ungkapin itu sebelum lo nyesel untuk kedua kalinya."

Keiran langsung menoleh.

"Tapi kalau lo cuma mau nyakitin dia seperti sebelumnya, mending biarin Hikari deket sama siapa pun yang bisa bikin dia bahagia."

Keheningan mendadak menyelimuti balkon.

Keiran tidak lagi membantah. Tatapannya yang sebelumnya dipenuhi kekesalan perlahan berubah kosong. Wajahnya kembali memucat, sementara napasnya terasa sedikit berat.

Perkataan Fio mengenai penyesalan untuk kedua kalinya seolah menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha disimpannya jauh dalam ingatan.

Dia menundukkan wajah.

Fio masih menatapnya dengan kecewa. Dia sebenarnya ingin kembali memarahinya, tetapi melihat keadaan Keiran membuatnya mengurungkan niat.

Selama beberapa saat, keduanya hanya terdiam.

Kemudian, tanpa sengaja, Fio kembali teringat pada panggilan telepon yang diterima Keiran beberapa hari lalu.

Saat itu, laki-laki tersebut terlihat sedikit senang ketika melihat nama penelepon di layar ponselnya. Bahkan Fio sempat melihat senyuman kecil yang sudah lama tidak muncul di wajah Keiran.

Namun, setelah menerima panggilan itu, semuanya berubah.

Keiran menjadi lebih pendiam, mudah tersinggung, dan beberapa kali terlihat seperti tidak tidur semalaman. Fio sempat mengira laki-laki itu sedang menghadapi persoalan keluarga, tetapi sekarang sebuah kemungkinan lain tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Apa mungkin orang itu yang menelponnya?

Fio terdiam lebih lama.

Ada seseorang yang selama ini masih ditunggu Keiran. Seseorang yang pernah membuat laki-laki itu kehilangan ketenangannya, bahkan setelah waktu berlalu begitu lama.

Fio mengetahui betapa besar pengaruh orang tersebut dalam kehidupan Keiran. Karena itulah, dia mulai mencurigai bahwa perubahan sikap sahabatnya mungkin berhubungan dengan seseorang dari masa lalunya.

Namun, Fio tidak memiliki bukti apa pun.

Dia juga tidak ingin menyebutkan dugaannya sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Fio kembali memperhatikan Keiran.

Laki-laki itu masih berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Tidak ada lagi kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. Sebaliknya, ekspresinya tampak begitu lelah, seolah seluruh tenaga yang dimilikinya telah habis hanya untuk menahan sesuatu yang tidak mampu diungkapkan.

"Lo nggak ngerti apa yang gue rasain, Fio," ucap Keiran akhirnya dengan suara rendah.

Fio menatapnya tajam.

"Terus Hikari harus ngerti? Dia bahkan nggak tahu apa-apa tentang masalah lo!"

Keiran kembali terdiam.

"Lo boleh marah, lo boleh kecewa sama keadaan. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya nyakitin orang yang nggak salah apa-apa."

Keiran ingin membantah. Namun, setiap kali hendak membuka mulut, dia justru tidak menemukan alasan yang mampu membenarkan tindakannya.

Dia tahu Fio benar.

Hikari memang tidak melakukan kesalahan apa pun.

Gadis itu hanya menghampirinya, menanyakan keadaannya, dan memberikan perhatian yang selama ini selalu diterimanya tanpa pernah benar-benar dipikirkan.

Namun, ketika melihat Hikari bersama Arsen tadi, Keiran justru merasa kesal. Perasaan itu muncul begitu saja, bercampur dengan kemarahan dan kekecewaan yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.

Dan tanpa berpikir panjang, dia melampiaskan semuanya kepada Hikari.

Keiran mengusap wajahnya perlahan.

Bayangan ekspresi Hikari ketika mendengar perkataannya kembali muncul dalam ingatan. Gadis itu terlihat begitu terkejut sampai tidak mampu langsung menjawab.

Keiran masih mengingat bagaimana senyuman Hikari menghilang dalam sekejap.

Dia bahkan tidak sempat meminta maaf.

Fio memperhatikan Keiran yang semakin diam. Kemarahannya memang mulai mereda, tetapi rasa kecewanya tidak berkurang sedikit pun.

Selama ini, dia selalu berusaha memahami Keiran. Dia tahu laki-laki itu memiliki banyak hal yang tidak mudah diceritakan kepada orang lain. Namun, Fio tidak ingin terus membenarkan setiap kesalahan sahabatnya hanya karena mengetahui bahwa Keiran pernah terluka.

Terlebih ketika sekarang ada Hikari yang ikut merasakan akibatnya.

Fio mengembuskan napas panjang.

Dia menatap Keiran untuk terakhir kalinya. Ada begitu banyak hal yang sebenarnya ingin dikatakannya, tetapi Fio merasa semuanya sudah cukup jelas.

Keiran sudah mendengar apa yang perlu didengarnya.

Kini, keputusan untuk memperbaiki keadaan berada di tangan laki-laki itu sendiri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Fio berbalik dan berjalan menuju pintu balkon.

Keiran sempat mengangkat wajah ketika mendengar langkah kakinya menjauh.

"..."

Fio membuka pintu dan meninggalkan balkon tanpa menoleh kembali.

Keiran hanya mampu memperhatikan kepergiannya.

Setelah pintu tertutup, balkon kembali sunyi.

Laki-laki itu perlahan menyandarkan punggungnya pada dinding. Dia mendongakkan kepala, menatap langit sore yang mulai berubah warna.

Perkataan Fio terus terngiang dalam pikirannya.

Kalau lo udah punya perasaan sama Hikari, ungkapin itu sebelum lo nyesel untuk kedua kalinya.

Keiran memejamkan mata.

Dia tidak tahu sejak kapan kehadiran Hikari mulai memengaruhi perasaannya. Awalnya, gadis itu hanyalah seseorang yang terus menghampirinya dengan berbagai pertanyaan. Seseorang yang tidak mudah menyerah meskipun berkali-kali mendapat jawaban dingin darinya.

Namun, perlahan, Keiran mulai terbiasa mendengar suaranya.

Terbiasa melihat senyumannya.

Bahkan tanpa disadari, dia mulai mencari keberadaan Hikari ketika gadis itu tidak terlihat di tempat biasanya.

Keiran mengembuskan napas panjang.

Dia tidak ingin mengakui sesuatu yang bahkan belum benar-benar dipahaminya sendiri.

Terlebih setelah panggilan telepon beberapa hari lalu membuat segala sesuatu yang selama ini diyakininya mendadak berubah.

Keiran menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya, dia merasa takut menghadapi perasaannya sendiri.

Bukan hanya karena sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya, melainkan juga karena kemungkinan bahwa dia telah menyakiti seseorang yang perlahan mulai berarti baginya.

Dan kali ini, Hikari mungkin tidak akan kembali menghampirinya seperti biasanya.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!