Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Allex King
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤
Herman membalik kamera. Menunjukkan Lucas yang lain? Bukan. Menunjukkan Marco yang sedang di ikat di gudang yang sama, mulut nya di lakban, wajah nya babak belur beneran.
📞"Marco bilang dia tidak mau kasih tahu di mana kamu. Jadi aku pukul dia. Sekarang giliran mu. Pulang, bawa buku nya. Atau Marco mati." Ucap Tuan Herman, Video call mati.
Deg///
Queen jatuh terduduk di tanah kotor. Buku di pelukan nya terasa berat seperti batu nisan.
Lucas memeluk Queen. "Queen, jangan pulang! Itu jebakan lagi! Kita bawa buku itu ke polisi sekarang!"
Queen menggeleng, air mata nya akhirnya jatuh deras, bukan satu tetes akting, tapi banjir.
"Kalau aku ke polisi, Marco mati. Kalau aku pulang, bukti ini hilang. Herman menang." Ucap Queen.
Carla yang dari tadi diam, tiba-tiba berkata, "Nona... Ada satu lagi yang belum Nona lihat. Di dalam kotak itu, di bawah buku besar, ada USB emas. Itu bukan punya Tuan Herman. Itu punya Nyonya Amanda. Saya tidak tahu isi nya. Tapi Nyonya bilang, 'Kalau buku besar tidak cukup, USB emas itu akan bunuh Herman'."
Queen merogoh kotak kardus yang masih basah. Di dalam nya, terbungkus plastik, ada USB emas yang sama dengan yang Queen temukan di kamar pagi ini. Berarti ibu nya simpan dua. Satu di kamar, satu di yayasan.
Dua USB emas. Apa isi nya?
Queen menatap jalanan menuju vila Tuan Herman. Menatap jalanan menuju kantor polisi. Dua pilihan. Dua kematian.
Malam ini, Queen harus pilih. Jadi boneka yang pulang, atau jadi ratu yang membakar semua nya.
Hujan di Genoa turun seperti paku. Dingin nya menembus sampai tulang, tapi tidak sedingin suara di seberang telepon Tuan Herman tadi. Marco babak belur. Di ikat.
Queen masih duduk di tanah belakang pabrik yayasan. Baju nya penuh lumpur selokan, rambut nya basah, tangan nya memeluk buku besar hitam yang baru saja hampir merenggut nyawa nya. Di tangan kiri nya, USB emas milik ibu nya, yang di bungkus plastik.
"Queen, kita harus ke kantor polisi sekarang. Ini bukti kuat. Herman tidak akan bisa lari," kata Lucas, suara nya gemetar bukan karena takut, tapi karena marah. "Marco... kita bisa lapor penculikan juga." Lanjut Lucas.
Carla, sekretaris tua yang setia pada Nyonya Amanda, menggeleng. "Tidak bisa, Nak Lucas. Kantor polisi pelabuhan itu sudah di beli Tuan Herman. Tahun lalu ada anak magang yayasan yang coba lapor soal kotak beras yang berat nya tidak wajar, besok nya dia di temukan tenggelam di pelabuhan. Polisi bilang bunuh diri. Padahal anak itu juara renang." Ucap Carla.
Queen menutup mata. Jadi ke polisi sama saja dengan mengantar buku itu langsung ke tangan Tuan Herman.
Pilihan kedua: pulang ke vila, serahkan buku, selamatkan Marco. Tapi kalau buku ini hilang, apa yang tersisa? Ibu nya mati sia-sia. Yayasan atas nama ibu nya akan terus di pakai untuk mengirim senjata yang membunuh anak-anak lain di Kota ini, di kota lain, entah di mana lagi.
Dua jalan, dua neraka. Saat itulah sebuah mobil van putih tua berhenti mendadak di depan gang belakang pabrik. Pintu nya berdecit di buka. Seorang pria bertubuh tinggi besar keluar, memakai jaket kulit hitam yang basah kuyup, topi nya di tarik rendah menutupi wajah.
"Jangan bergerak! Siapa kau?!" Ucap Lucas langsung berdiri di depan Queen, melindungi Queen dengan tubuh nya.
Pria itu tidak menjawab. Dia berjalan pelan mendekati Queen. Langkah nya pincang di kaki kiri. Queen melihat kaki itu dan jantung nya berhenti berdetak.
Cara berjalan pincang itu. Cara berjalan karena lutut kiri pernah patah dan tidak sembuh sempurna. Itu cara berjalan kakak kandung nya.
"King?" suara Queen hampir tidak keluar. Seperti bisikan hantu.
Pria itu berhenti. Dia membuka topi nya perlahan. Wajah di bawah topi itu... Wajah yang seharusnya sudah hangus 15 tahun lalu.
Rambut hitam sedikit gondrong, ada bekas luka bakar besar di sisi kanan leher sampai ke rahang, mata coklat yang sama persis dengan mata Queen, mata milik Alessandro. Tapi mata itu kosong. Bingung.
"Maaf... Apakah kalian kenal saya?" Tanya pria itu, suara nya berat, serak, seperti orang yang lama tidak bicara. Bahasa nya dengan aksen khas yang kental. "Saya... saya menemukan foto ini di saku jaket saya. Saya tidak tahu siapa saya. Tapi di belakang foto ini ada tulisan... 'Queen dan King - Vila Alessandro 2020'." Ucap pria itu.
Dia memberikan sebuah foto polaroid yang sudah luntur dan basah. Foto dua anak kecil. Seorang gadis 7 tahun dengan gaun putih, memeluk seorang anak laki-laki 10 tahun yang tertawa lebar sambil memegang bola. Di belakang foto, tulisan tangan anak kecil: "KING JAGA QUEEN SELAMA NYA!"
Itu tulisan Queen. Waktu umur 7 tahun. Untuk kakak nya.
Queen merangkak mendekati pria itu, tangan nya gemetar menyentuh bekas luka bakar di leher nya.
"King... Allex King Alessandro? Kakak?" air mata Queen yang tadi sudah kering, pecah lagi. "Kau masih hidup? Mereka bilang kau mati di kebakaran! Mereka bilang kau dan Daddy Mommy mati terbakar di lantai dua!" Ucap Queen.
Pria yang di panggil King itu masih bingung. "Kebakaran? Saya... Saya ingat api. Besar sekali. Saya ingat saya menggendong seseorang. Kecil. Seorang gadis kecil. Saya lari ke jendela. Lalu... Ada yang memukul kepala saya dari belakang. Setelah itu gelap. Saya bangun di rumah sakit nelayan di Palermo. Mereka bilang saya di temukan mengambang di laut, dengan luka bakar. Saya tidak ingat nama saya. Nelayan itu memanggil saya ' Ken ' karena kalung di leher saya berinisial K. " Jelas King.
Lucas dan Carla terpaku. Lucas yang pertama sadar. "Tunggu, jadi... Kalau kau King, kau kakak kandung Queen? Anak pertama Tuan Steven Alessandro?" Ucap Lucas.
Carla menutup mulut nya. "Ya Tuhan... Tuan Muda King... Nyonya Amanda Dewi selalu bilang, Tuan Muda King yang paling mirip Tuan Steven Alessandro. Dia seharus nya pewaris tahta! Bukan Tuan Herman!" Ujar Carla.
Queen memeluk King erat-erat, tidak peduli lumpur di baju nya mengotori jaket King. "Kau hidup... kau hidup... selama ini aku kira aku sendirian..." Ucap Queen.
King masih kaku di peluk. Dia tidak ingat. Dia kehilangan ingatan. Tapi tubuh nya mengingat. Tangan nya perlahan, secara refleks, mengelus kepala Queen seperti dulu waktu Queen menangis karena jatuh dari sepeda.
"Kau... Wangi seperti... Seperti ibu?" bisik King pelan. Queen melepaskan pelukan, menunjukkan USB emas.
"King, Mommy meninggalkan ini. Untuk kita. Mommy bilang USB ini bisa bunuh Tuan Herman." Ucap Queen.
Mendengar nama Tuan Herman, mata King yang tadi nya kosong tiba-tiba berubah merah. Tangan nya mengepal sampai buku-buku nya memutih.
" Herman..." nama itu keluar dari mulut King seperti racun. "Paman Herman... dia... dia yang memukul kepala saya malam itu. Saya ingat. Saya sudah bawa Queen kecil keluar lewat jendela belakang, saya turun pakai pipa. Queen sudah di semak-semak. Saya mau balik untuk Ibu... tapi Herman ada di taman belakang. Dia bawa tong bensin. Dia lihat saya. Dia bilang, 'Kau seharus nya mati juga, anak manja'. Lalu dia pukul saya dengan linggis." Ucap King.
***********
Happy Reading Guys. 🥰🤗