NovelToon NovelToon
Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Di Tolak Ustadz Di Lamar Berondong Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.

Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.

Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.

Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.

Mari mengikuti ceritanya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 Kejahilan Ezra.

Refisha terdiam di dalam pelukan suaminya itu, dia membiarkan dirinya untuk menjadi penenang, tangan Refisha memegang lengan suami yang berada di bawah lehernya.

"Saya kesal kepada kamu Refisha!" ucapnya.

Refisha mengerutkan dahi, membalikan tubuh dan melihat ekspresi suaminya.

"Saya!" Refisha menunjuk dirinya.

Ezra menganggukan kepala.

"Kenapa? Apa kamu marah karena aku terlalu mendesak kamu untuk pergi ke kantor?" tanya Refisha.

"Bukan itu," jawab Ezra.

"Lalu?" tanya Refisha .

"Pokoknya sesuatu hal yang membuatku kesal karena kamu tidak mengatakannya kepadaku, entahlah aku tidak tahu apa alasan kamu, tapi aku hanya berharap jika semuanya tidak seperti itu," ucap Ezra.

Dia ternyata lebih suka membuat istrinya kepikiran daripada mengatakan secara langsung, Refisha kebingungan dan terlihat dari ekspresi wajah cantiknya itu.

Ezra mendekatkan diri dan kemudian memegang lembut pipi Refisha, sembari jari-jarinya mengusap-usap menggunakan jempolnya.

"Semua orang punya masa lalu, sama seperti aku yang juga memiliki masa lalu, tetapi masalahnya kita berdua sudah menikah dan alangkah baiknya masa lalu itu dikubur dan tidak dicampur dalam pernikahan kita," ucap Ezra.

"Refisha, aku tidak tahu bagaimana cara meyakinkan kamu jika aku benar-benar serius dalam pernikahan ini dan bukan hanya sekadar penasaran atau merasa tertantang berhubungan dengan kamu dan entahlah bagaimana tanggapan kamu kepadaku," ucap Ezra.

"Ezra aku tidak pernah berpikiran seperti itu, aku juga tidak tahu apa yang membuat kamu tiba-tiba bersikap dingin kepadaku semenjak pulang dari rumah orang tuaku," ucap Refisha.

"Jadi kamu menyadari bahwa ada sesuatu yang aku pikirkan semenjak pulang dari sana?" tanyanya Refisha menganggukkan kepala.

"Kalau kamu menyadari apa yang terjadi, lalu kenapa tidak bertanya, kenapa hanya diam saja seolah-olah aku baik-baik saja?" tanya Ezra.

Dia benar-benar tipe laki-laki yang harus diberikan perhatian yang besar.

"Sudahlah lupakan saja tentang itu, aku hanya berharap kita saling mempercayai satu sama lain," ucap Ezra menghela nafas.

"Refisha karena aku terbawa suasana dan akhirnya aku membentak kamu, jujur Refisha aku tidak suka dengan pekerjaan ini, aku tidak suka didesak," ucap Ezra.

"Maaf, bukannya aku ingin ikut campur dengan urusan pekerjaan kamu, tetapi masalahnya kamu sudah menjadi harapan dari kedua orang tua kamu dan juga ada tanggung jawab besar yang kamu tinggalkan," ucap Refisha.

"Aku sudah pernah mengatakan kepada kamu, para petinggi di perusahaan itu tidak pernah menghargaiku, mereka mengolok-olok aku karena aku putra tunggal satu-satunya dan mau aku bisa mengembangkan perusahaan atau tidak, bagi mereka hasilnya akan tetap sama karena tetap saja aku akan diangkat sebagai pemimpin tanpa mereka melihat bagaimana usahaku!" tegas Ezra.

"Dan dengan kamu masih tetap keras kepala, tidak profesional, mereka akan semakin mengolok-olok kamu. Ezra yang harus dilakukan itu bukan memikirkan perkataan mereka, tetapi membuktikan bahwa kamu layak dan pantas, bukan karena kamu sebagai pewaris, tetapi karena usaha kamu, kamu harus benar-benar membuktikan bahwa kamu mampu dan lebih baik dari mereka!" Refisha berusaha untuk memberi pengertian kepada suaminya.

Ezra hanya diam. Refisha kemudian berlalu Ezra dan ternyata dia mengambil jas suaminya dan kemudian memakaikannya.

"Bukan aku ingin memaksa kamu untuk pergi, tetapi aku ingin suamiku duduk di meja rapat, memperlihatkan kemampuannya, menutup mulut orang-orang yang meremehkannya dan membuktikan bahwa dia bisa, kamu tidak perlu membuktikan pada orang lain cukup membuktikan pada orang tua kamu jika kamu mampu dan maka itu sudah mengalahkan semuanya,"

"Maaf!" ucap Refisha mencoba memberi pengertian pada suaminya.

Ezra menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.

"Baiklah aku akan pergi ke kantor, menghadiri rapat dan bertemu dengan orang-orang sombong itu," ucap Ezra.

Refisha tersenyum melihat keyakinan pada suaminya itu.

Tiba-tiba saja Ezra menepuk pipinya menggunakan jarinya membuat Refisha mengerutkan dahi.

"1 kecupan untuk memberi semangat!" ucapnya dengan tengil.

Refisha menghela nafas, lebih baik menuruti. Ezra sudah memalingkan wajahnya agar pipinya dikecup. Refisha kemudian sedikit berjinjit untuk mengecup pipi suaminya dan betapa nakalnya Ezra yang memalingkan wajahnya dan akhirnya bibir istrinya bukan menempel pada pipinya menempel pada bibirnya.

Refisha benar-benar kaget dengan mata melotot atas keusilan dari suaminya itu, lihatlah kalau sudah bibir menempel, sudah pasti bagi Ezra itu bukan hanya kecupan biasa dan harus dimulai dengan rumah lembut membuat Refisha memejamkan matanya perlahan.

Ezra juga mengarahkan tangan Refisha untuk dikalungkan di lehernya dan sementara tangan Ezra mengusap-usap punggung sang istri, untuk memberikan semangat Ezra harus ada adegan romantis dulu, meski itu hanya sebuah lumatan bibir, tetapi bagi Ezra hal seperti itu sangat jarang dia dapatkan dan kapan lagi mendapatkan semangat dari istrinya.

******

Ezra sudah berada di ruang rapat, sang ayah juga berada di sana dan sahabatnya Yogi yang juga memiliki jabatan di perusahaan itu juga mengikuti rapat tersebut bersama dengan petinggi-petinggi perusahaan dan para pemegang saham yang sangat Ezra karena kesombongan mereka dalam berbicara.

"Jadi menurut saya proyek ini akan berjalan sempurna jika dana akan ditambahkan lagi!" salah satu pria berkepala botak itu memberikan tanggapannya.

"Saya tidak setuju!" Ezra menyangkal dengan mengambil suara.

Biasanya jika ada rapat, Ezra akan memilih diam dan mengumpat di dalam hatinya.

"Ezra bisa kamu narasikan alasan kamu untuk tidak setuju? Lagi pula tahu apa kamu soal proyek ini, mungkin lokasinya saja kamu juga tidak tahu," pria itu justru terkesan merendahkan.

Beberapa penghuni rapat itu sempat tertawa kecil yang berusaha menutup mulut mereka agar tidak terlalu terlihat bahwa mereka menghina putra dari pemimpin perusahaan itu. Dellon tidak memiliki hak untuk menegur, karena bagaimanapun dia harus tegas sebagai pemimpin.

Ezra dengan santai menyikapinya, kemudian menggeserkan dokumen tepat pada pria tersebut dengan cara tidak sopan.

"Anda tidak perlu meragukan saya bagaimana pengetahuan saya tentang proyek itu, sebaiknya Anda belajar terlebih dahulu tentang proyek itu baru memberikan pendapat!" tegas Ezra.

"Maksud kamu?"

"Bukankah sudah jelas-jelas data-data tersebut mengakumulasikan biaya yang dikeluarkan, lalu untuk apa lagi ada tambahan biaya, untuk ke kantong?" ucapnya.

Sahabatnya Yogi tampak tersenyum Ezra yang berani menghadapi pria angkuh di depan mereka.

"Apa maksud kamu? Kamu menuduh saya?"

"Kalian semua yang ada di meja rapat ini orang-orang yang sangat terhormat dan memiliki pengalaman dalam bisnis, saya sudah kopi kembali file dalam proyek ini, jadi dipelajari masing-masing, jika sudah mampu mempelajarinya baru melakukan rapat seperti ini, jangan membuang waktu saya untuk rapat tidak berguna yang hanya membahas tentang dana, persiapan proyek yang matang bukan tentang dana, tetapi tentang keterlibatan dan daya pikir pada proyek itu!" tegas Ezra dengan tegas.

Yogi berdiri dari tempat duduknya dan kemudian membagikan dokumen tersebut kepada para penghuni rapat. Dellon juga melihat hasil pekerjaan putranya membuatnya mengangguk-anggukkan kepala dan sepertinya ada kebanggaan sedikit.

"Mungkin kita semua memang harus mempelajari proyek ini kembali, jangan sampai kita malu di depan investor yang mempertaruhkan nama perusahaan ini," sahut Dellon setuju dengan aku yang dikatakan putranya.

Mereka semua seketika terdiam, betapa malunya mereka dan kesombongan yang tiba-tiba saja hilang dengan kalimat yang diucapkan Ezra.

Bersambung.....

1
Dew666
Belah durenya di cut nanggung nih
Yasinta Niken
saya suka dengan cerita2nya tapi kenapa selalu putus 2
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!