Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Tunangan di Dinner Keluarga
Hari ke-20. Penthouse Virel.
Baru dua hari pulang dari Bali dan dari Tebet, Rafael dan Alya sudah kembali ke rutinitas. Rafael WFH dari ruang kerjanya, Alya sibuk skripsi di sofa dengan laptop.
Jam 3 sore, Mama Olivia tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, membawa dua paperbag besar.
"Alya sayang! Rafael!" serunya masuk dengan heboh.
Rafael yang lagi meeting Zoom langsung mute. "Ma, ngapain kesini?"
"Ngapain lagi? Ngasih kado bulan madu kedua!" Mama meletakkan paperbag di meja. Di dalamnya ada dua set baju couple mahal dan voucher hotel.
Alya bingung. "Bulan madu kedua, Ma?"
"Iya! Kalian kan kemarin di Bali tapi belum dinner keluarga resmi sebagai suami istri yang beneran. Ayah Alya sudah restui, kan? Sekarang giliran Mama dan Papa yang kasih restu resmi. Malam ini Mama booking private room di Hotel Langham. Dinner keluarga besar. Papa, Mama, kalian, dan..."
Mama berhenti sebentar, melirik Rafael.
"Dan satu tamu spesial."
Rafael mengernyit. "Tamu siapa?"
"Nanti malam tau. Pokoknya pakai baju yang Mama bawain ini. Jam 7, jangan telat!"
Mama pergi secepat datangnya, meninggalkan Alya dan Rafael yang saling pandang.
Alya membuka paperbag. Isinya gaun malam warna navy elegant yang harganya pasti puluhan juta, dan setelan jas navy untuk Rafael. Couple.
"Mantan tunangan kamu ya?" tanya Alya tiba-tiba, instingnya tajam.
Rafael terdiam. "Kok kamu tau?"
"Dari muka Mama tadi. Sama... dari muka kamu yang langsung tegang."
Rafael menghela napas dan duduk di sebelah Alya. "Mantan tunangan saya, namanya Clarissa. Anak teman Papa. Dulu kita dijodohin waktu saya umur 24. Tapi putus karena saya tidak mau diatur."
Alya diam, tangannya mengepal di atas gaun navy itu.
"Cemburu?" goda Rafael.
"Enggak!" jawab Alya cepat, padahal jelas cemburu. "Buat apa cemburu? Kan kamu sudah suami saya. Suami sah."
Rafael tersenyum dan menarik Alya ke pangkuannya. "Iya, suami sah kamu. Sepenuhnya. Clarissa itu masa lalu. Kamu masa depan dan sekarang."
Tapi Alya tetap tidak tenang.
---
Jam 7 malam. Hotel Langham, Private Room.
Alya keluar dari mobil dengan gaun navy pemberian Mama. Rambutnya di-curly, makeup flawless, cantik banget seperti putri. Rafael dengan jas navy yang matching, gantengnya kebangetan, menggandeng Alya erat.
Di dalam private room, sudah ada Papa Virel, Mama Olivia, dan seorang wanita.
Wanita itu berdiri saat mereka masuk.
Tinggi, putih, rambut panjang pirang, pakai gaun merah menyala yang belahannya tinggi, cantik seperti model. Clarissa.
"Rafael! Lama tidak ketemu!" Clarissa langsung memeluk Rafael, pelukan yang terlalu lama dan terlalu nempel.
Alya yang melihat langsung menusuk kuku ke telapak tangannya sendiri.
Rafael dengan sopan melepas pelukan Clarissa cepat. "Clarissa."
Clarissa lalu melirik Alya dari atas sampai bawah dengan senyum manis tapi sinis. "Ini pasti Alya ya? Istri barunya Rafael. Hi, aku Clarissa, mantan tunangannya Rafael. Kita hampir nikah dulu lho."
Alya mencoba tersenyum profesional. "Hi, saya Alya. Istrinya Rafael."
Papa Virel yang melihat suasana mulai tidak enak langsung menyela. "Ayo duduk semua. Makan dulu."
Dinner dimulai. Awalnya normal, ngobrol bisnis, ngobrol keluarga.
Tapi Clarissa tidak berhenti.
"Rafael, kamu masih suka steak medium rare kan? Aku pesenin ya, aku masih hafal kesukaan kamu," katanya sambil memanggil waiter.
Rafael menjawab dingin, "Tidak usah, istri saya sudah pesenin."
"Oh ya? Alya tahu ya kesukaan Rafael?" tanya Clarissa dengan nada meremehkan. "Rafael itu paling tidak suka cewek yang terlalu sederhana lho, Alya. Dia dulu suka aku pakai barang branded."
Alya yang pakai gaun pemberian Mama, jadi merasa kecil. Ia memang bukan anak konglomerat seperti Clarissa.
Mama Olivia yang dengar mulai tidak nyaman. "Clarissa, Alya itu—"
Rafael tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan keras. Brak.
Semua meja diam.
"Clarissa," kata Rafael dengan suara dinginnya yang dulu, suara CEO yang menakutkan. "Cukup."
Clarissa kaget.
"Saya ajak kamu kesini karena Papa bilang kamu baru pulang dari London dan mau minta maaf. Tapi kalau kamu kesini mau meremehkan istri saya, kamu salah tempat."
Rafael lalu berdiri, menarik kursi Alya, dan menggenggam tangan Alya di depan semua orang.
"Alya memang sederhana. Dia dari Tebet, pakai baju 100 ribuan, makan di warung kopi. Tapi dia yang temenin saya waktu saya hampir mati dirawat di rumah sakit. Dia yang doain Ayahnya pakai air mata, bukan pakai tas Hermes. Dia yang bikin saya mau jadi manusia lagi, bukan jadi robot."
Alya yang mendengar itu langsung berkaca-kaca.
Clarissa terdiam, wajahnya merah karena malu.
"Dan soal selera," lanjut Rafael, menatap Alya dengan lembut, beda 180 derajat dari tatapannya ke Clarissa. "Selera saya sekarang cuma satu. Istri saya. Mau dia pakai daster, mau dia pakai gaun navy, dia tetap paling cantik di mata saya."
Papa Virel mengangguk puas. Mama Olivia sampai mau tepuk tangan.
Rafael lalu menatap Papa dan Mama. "Pa, Ma, maaf, kami pulang duluan. Alya capek."
Ia menuntun Alya keluar dari private room, meninggalkan Clarissa yang terdiam membeku.
Di lift Hotel Langham, Alya masih diam, menahan tangis.
Rafael langsung memeluknya erat di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
"Kamu kenapa diam? Cemburu?" bisiknya.
Alya memukul dadanya pelan. "Kamu! Kenapa kamu tidak bilang kalau mantannya secantik itu! Gaunnya merah, aku navy! Kalah cantik aku!"
Rafael tertawa dan mengangkat dagu Alya.
"Denger ya, Alya Virel. Di mata saya, gaun merah itu cuma lampu merah. Kamu gaun navy ini? Kamu itu langit malam. Jauh lebih cantik, jauh lebih tenang. Saya tidak mau lampu merah yang berisik, saya mau langit malam yang bikin saya pulang."
Alya yang mendengar gombalan mahal Rafael itu langsung nangis terharu di dalam lift.
"Rafael gombal!"
"Bukan gombal, ini pasal baru."
"Pasal apa lagi?"
"Pasal: Suami dilarang melirik mantan, seumur hidup. Kalau melanggar, istri boleh cium sepuasnya sebagai hukuman."
Alya tertawa di tengah tangisnya, lalu benar-benar mencium Rafael di dalam lift.
Di luar lift, Mama Olivia yang mengintip dari jauh bersama Papa, langsung menutup mata Papa.
"Jangan lihat Pa! Anak kita lagi bucin!"
Papa Virel tertawa, "Biarin, Ma. Akhirnya anak kita yang dingin itu jadi manusia."
Malam itu, mereka pulang ke penthouse bukan dengan marah, tapi dengan Alya yang duduk di pangkuan Rafael di mobil, dengan gaun navy yang sedikit kusut karena pelukan, dengan hati yang semakin yakin bahwa ia adalah satu-satunya langit malam untuk Rafael Virel.
Bersambung...