NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26 : Makhluk Penjaga Mata

Terlalu fokus dengan apa yang dikerjakan Elina dan Maira, Bima dan Gilang nggak sadar kalau

tangan akar Bhayavedin udah di depan muka Gilang.

Jaraknya cuma sejengkal. Ujung jari akar itu gerak-gerak, kayak cacing nyari lubang. Netes cairan hitam kental. Bau tanah kuburan.

Mencium bau busuk itu seketika keduanya sadar. Bima dan Gilang membeku. Napasnya ditahan, matanya gak berkedip, liat tangan itu. Kalau dia teriak lagi, tangan itu langsung masuk mulut.

Bima langsung memberi kode pada Gilang dengan bibirnya." Ssttt, diam."

Di semak belakang, Arga cuma sisa kepala sama satu tangan yang nahan akar di lehernya. Akar-akar sebesar lengan udah melilit dia sampai dagu. Napas Arga makin ngos-ngosan. Akar-akar kecil ikut nimbrung,udah mulai masuk ke kupingnya. Dia masih bekap mulutnya sendiri pakai tangan satunya, masih taat aturan jangan bersuara sampai bibirnya berdarah digigit.

Bhayavedin itu gak butuh mata buat liat. Mata di jidatnya yang putih itu fungsinya denger. Selama ada suara, dia tau posisi.

Dan sekarang satu hutan lagi ngeliat Gilang. Puluhan mata pohon gede, urat merahnya nyala, semua pupilnya ngarah ke Gilang.

Bima yang berada disisi Gilang,otaknya muter cepet. Kalau Bhayavedin nyentuh Gilang, Gilang yang bakal diseret gantiin Arga.

Bima lihat lagi kearah Elina yang masih menyorot mata-mata dengan senter di tangannya yang gemetar.

Elina masih jongkok di bawah Pohon Induk, tangannya gemeteran megang senter kecil yang batrenya udah kedip-kedip lowbat. Bima inget tadi pas dia sorot mata di atas, mata itu silau dan nutup.

Maira yang sekarang berada di sampingnya berbisik pelan.

" Mereka nggak bisa kena cahaya Bim."

Bima langsung menoleh dan seketika dapat ide. Tapi saat matanya bertemu dengan Maira ia langsung cemberut. Seolah-olah tatapan Maira bilang,"Lo telat. Gue udah tau duluan."

Cahaya putih nyala, nyorot langsung ke mata Bhayavedin yang putih di jidat.

SSSHHH—

Efeknya instan.

Mata Bhayavedin yang putih itu langsung kedutan, kelopak kayu di jidatnya nutup paksa.

GDEBUK!

Kayu ketemu kayu. Kepalanya dongak ke atas, kayak orang kesilauan parah. Tangan akarnya yang udah di depan Gilang, ketarik mundur, nutupin mata di jidatnya sendiri.

Elina gak berhenti. Dia puter senternya cepet, nyorot ke puluhan mata pohon di sekeliling mereka.

CRING! CRING! CRING!

Satu-satu mata gede itu kesorot, silau, langsung merem. Spontan. Pupil hitamnya ngecilin terus ketutup kelopak kayu.

PLETEK PLETEK PLETEK!

Satu hutan yang tadinya melek semua, dalam 5 detik jadi merem semua. Gelap lagi, tapi gelap yang nutup mata, bukan gelap malam.

Hening.

Hanya suara napas Elina yang ngos-ngosan karena muter-muter senter.

Bhayavedin masih nutupin mata jidatnya pakai dua tangan akar, mundur selangkah masuk lagi ke retakan Pohon Induk. Dia kesakitan kena cahaya.

Kesempatan.

Maira yang tadinya dibekap selendang leher Bima, langsung narik selendang itu turun dari lehernya. Dia liat tangan Arga yang hampir hilang di semak.

"El, tahan senternya jangan mati!" bisiknya, suaranya kecil banget, hampir gak ada tapi Elina langsung paham.

Maira sama Bima langsung gerak.

Maira lompat ke semak akar, tangannya langsung narik tangan Arga yang masih nongol. Tanah hitamnya lengket banget, kayak lem. Akar yang ngelilit kaki Arga nariknya kenceng, kayak mau narik ke bawah bumi.

Bima nyusul, dia ambil selendang di leher Maira yang tampak kepayahan menarik Arga, langsung lilitin selendang itu ke pergelangan tangan Arga biar gak licin kena lendir. Selendang leher itu yang tadi nutupin cacing, sekarang jadi tali.

"Tarikk... pelan... jangan bunyi..." Bima bisik di kuping Maira, bibirnya hampir nempel kuping Maira biar suaranya gak bocor.

Mereka tarik barengan. Pelan. Gak boleh kenceng.

Srek... srek...

Tanah hitam nahan. Akar di bawah ngelawan. Arga mukanya udah ungu, tapi dia tetep bekap mulutnya sendiri. Dia gak teriak. Dia kuat.

Sedikit... sedikit... dada Arga keangkat lagi dari tanah. Akar yang tadi melilit lehernya kendor dikit.

Tapi di depan sana..

Senter yang dipegang Elina kedip lagi.

Lowbat.

Cahaya yang tadinya bikin semua mata merem, sekarang redup.

Mata pertama yang kesorot tadi, di atas kepala Gilang, kelopaknya geter. Mau buka lagi.

Krek...

Elina panik, dia pukul-pukul senternya.

Tok tok tok.

Cahaya nyala lagi terang, tapi cuma 2 detik.

Mata-mata itu udah mulai buka lagi pelan-pelan. Satu, dua, pupilnya ngintip dari sela kelopak.

Tapi itu gak akan berlangsung lama.

Bima yang lagi narik Arga liat itu. Dia merhatiin sekitar sambil narik.

Dia sadar sesuatu.

Mata-mata itu nutup kalau silau. Tapi mereka juga nutup kalau... gak ada yang dilihat? Enggak ada yang dilihat.

Bima lihat tanah hitam di bawahnya. Di tanah itu ada lumpur hitam kental, bekas tetesan Pohon Induk.

Otak Bima nyambung.

Mata pohon itu kan basah, berlendir. Kalau silau dia nutup. Kalau lendirnya ketutup lumpur hitam, dia gak bisa buka lagi. Kayak mata kelilipan tanah.

Bima langsung ambil lumpur hitam di tanah pakai tangan kosong, gak peduli jijik. Lumpur itu dingin, bau bangkai.

Dia colek, terus dia lempar pelan ke mata pohon yang paling deket yang udah setengah buka di samping Elina.

PLOP..

Lumpur nempel di bola mata kuning itu.

Mata itu kedutan, mau kedip, tapi lumpurnya nutupin pupil. Dia merem, tapi pas mau buka lagi, lumpurnya ngeganjel di kelopak. Jadi ketutup terus. Pupilnya gerak-gerak di balik lumpur, marah, tapi gak bisa buka.

Bima kasih kode ke Elina sama Gilang pakai isyarat,"Tutup matanya pakai lumpur!"

Elina ngerti. Dia matiin senternya buat hemat batre terakhir, terus jongkok, ambil lumpur hitam pakai dua tangan.

Gilang juga, tangannya masih gemetaran habis hampir disentuh Bhayavedin, ikut ambil lumpur.

Mereka bertiga, Bima, Elina, Gilang, gerak diam-diam, jinjit, tanpa suara, mendekat ke setiap batang pohon yang matanya mau buka lagi.

PLOP. PLOP. PLOP.

Satu-satu mata mereka tutup pakai lumpur. Pelan. Gak boleh bunyi kecipak.

Mata yang ketutup lumpur itu bunyi krek pelan, kayak nangis ketahan.

Di tengah, Maira masih sendirian narik Arga. Tarikannya berat. Arga udah hampir hilang lagi, tinggal kepala doang. Akar di bawah makin kenceng narik karena Bhayavedin di Pohon Induk udah mulai buka lagi mata jidatnya, senternya mati.

Maira bisik, nangis tanpa suara: "Arga... bertahan... sedikit lagi..."

Bima liat dari jauh, masih 3 pohon lagi matanya belum ketutup lumpur. Kalau 3 mata itu kebuka full, mereka bakal liat Maira sama Arga dan teriak lagi manggil Bhayavedin.

Bima harus milih: nutup 3 mata itu dulu baru selametin Arga, atau langsung lari ke Arga yang hampir hilang di semak akar sekarang, tapi resiko semua mata liat dan Bhayavedin bangun lagi.

Lumpur di tangannya netes...

****

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!