NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Kecil dan Luka Masa Lalu

​Pagi ini, kediaman Aira mendadak ramah oleh riuh suara Trio Serangkai geng persahabatan yang beranggotakan Bayu, Zara, dan Panji. Ketiganya datang berbondong-bondong untuk melakukan interogasi terbuka pada Aira.

​Sejak berita kaburnya Aira mendadak menjadi topik hangat di grup percakapan yang baru mereka bentuk usai kumpul-kumpul di rumah Arkan waktu itu, ketiganya dibuat kelimpungan. Bahkan, Bayu dan Panji sempat berinisiatif menyebarkan pengumuman pencarian di media sosial.

​"Jadi bagaimana, Saudari Aira? Enak tidak kabur dari rumah?" selidik Zara berpangku tangan.

​Aira yang sedang mengunyah keripik kentang menatap Zara sembari menggelengkan kepala polos.

​"Untuk apa coba aku capek-capek bikin pengumuman heboh di medsos? Tahu-tahu kaburnya cuma sehari! Ini mah bukan kabur, cuma numpang menginap semalam!" omel Panji, menatap Aira sengit.

​"Betul! Aku bahkan sampai mencetak foto Aira sepuluh lembar di studio fotoku, lalu menempelkannya di tiap sudut kota!" timpal Bayu tak mau kalah.

​Aira hanya menunduk dalam-dalam. Rasa bersalah merayapi dadanya karena telah memicu kepanikan berantai. Padahal niat awalnya nekat pergi hanya untuk menuntut sedikit ruang agar Reyhan mau mendengarkan pilihannya. Ia tak menyangka dampaknya bakal seheboh ini.

​"Lalu, kenapa kamu mendadak pulang lagi?" tanya Zara kemudian.

​"Iya! Padahal kalau mau kabur, minimal seminggu gitu lho, biar kita sempat pura-pura panik dan merasa kehilangan!" kata Panji santai.

​"Setuju! Mending kau kabur lagi seminggu, biar kita bisa merasakan kedalaman rasa kehilangan. Kalau cuma sehari tidak ada seru-serunya," selutuk Bayu.

​Aira menatap ketiga sahabatnya bergantian dengan dahi berkerut. Tampaknya ia keliru menilai mereka bukannya panik emosional, melainkan justru gemas karena aksi kabur tersebut dinilai kurang dramatis.

​"Jadi kalian tidak senang aku pulang?! Kalau aku benar-benar hilang, kalian pasti bakal meratap tujuh hari tujuh malam! Apalagi kamu, Zara! Kamu pasti meratapi kepergianku karena tidak ada lagi teman begadang nonton drama!" cibir Aira melipat tangan.

​"Bukan tidak senang, cuma kami belum sempat mengeluarkan air mata drama, kamu sudah keburu nongol lagi," sahut Zara cuek. "Lagipula, sewaktu kamu menghilang, aku ditemani Panji nonton drama pakai Wi-Fi gratisan di studio foto Bayu."

​"Serius? Lalu Bayu tidak ikut nonton?" tanya Aira terheran-heran.

​"Tidaklah! Waktu kami asyik nonton sambil menjaga sesajen serta lilin biar koneksinya tidak mati, Bayu sedang keliling dari rumah ke rumah dan toko ke toko cari pundi-pundi rupiah," celetuk Panji yang langsung diganjar tampolan hangat dari Bayu.

​"Kau kira aku babi ngepet keliling malam-malam!" sungut Bayu kesal.

​Gelak tawa Aira dan Zara pecah seketika. Kendati bertingkah konyol dan penuh seloroh, Aira tahu betul betapa ketiganya amat menyayangi dan mengkhawatirkannya. Kepanikan mereka luntur begitu Arkan mengabarkan keberadaannya di rumah Nenek kemarin malam.

◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸​

​Usai ketiga sahabatnya pamit pulang, Aira bergegas bersiap-siap. Siang ini, ia dijadwalkan melakukan pendaftaran langsung ke universitas pilihannya dengan diantar oleh Reyhan.

​Aira tampil segar berbalut kemeja denim warna navy berkerah yang berpotongan oversized dengan lengan yang digulung, dan Aksesori sweter hitam kecil yang diikat santai di leher menyerupai dasi. Dipadukan dengan celana panjang ivory berpotongan longgar. Sepatu sneakers kanvas bertali warna hitam dengan sol putih berukuran medium melengkapi penampilannya. Tidak lupa tas punggung warna hitam.

​Aira keluar kamar sembari menatap layar ponselnya yang belum menunjukkan balasan dari Reyhan.

​"Sayang, sudah siap, kamu pergi sama siapa?" tanya Bu Windy yang tengah merapikan meja.

​"Sama Bang Reyhan, Ma. Kemarin kan sudah janji mau menemani Aira ke kampus untuk pendaftaran," jawab Aira.

​Bu Windy menepuk jidatnya pelan. "Lho, Abangmu kan pergi ke Surabaya sejak kemarin malam. Dia sudah mengabari Mama."

​"Ke Surabaya? Ada keperluan apa ke sana?" tanya Aira membelalak.

​"Tidak tahu, Abangmu tidak cerita banyak. Setelah pamitan terburu-buru, dia langsung berangkat," jelas Bu Windy.

​Aira langsung cemberut. "Kok Bang Reyhan tidak mengabari Aira dulu? Terus Aira ke kampusnya naik apa dong sekarang?"

​"Kata siapa pergi sendiri? Itu Arkan sudah menunggu di luar sejak tadi," tutur Bu Windy santai.

​"Ha? Kak Arkan?" Aira terperanjat.

​"Iya, Abangmu minta tolong Arkan menggantikannya untuk menemani kamu daftar. Ya sudah, sana berangkat, kasihan Arkan sudah menunggu di teras," seru Bu Windy mendesak.

​Aira bergegas melangkah ke pintu depan, namun mendadak berbalik lagi begitu menyadari kelalaiannya.

​"Astaga, Aira lupa pamit! Aira pergi dulu ya, Ma!" pamit Aira menyalami ibunya.

​"Ingat! Setelah selesai pendaftaran langsung pulang, jangan keluyuran! Pusing Mama kalau lihat kamu pulang terlambat terus," ceramah Bu Windy meperingatkan.

​"Iya, Ma, siap! Janji tidak akan khilaf!" sahut Aira cengengesan lalu berlari kecil ke luar.

​Bu Windy menggeleng-gelengkan kepala menatap punggung anak bungsunya. Sejak insiden kabur sehari itu, kecemasannya memang membubung tinggi terlebih Aira adalah tipe gadis yang terlalu ramah dan gampang akrab dengan siapa saja.

◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸

​Sepanjang perjalanan menuju kampus, kabin mobil diselimuti kesunyian yang pekat. Aira memilih menyibukkan diri membaca e-book psikologi di layar ponselnya, sementara Arkan fokus mengemudi, sesekali mencuri pandang pada raut serius gadis di sampingnya.

​Setibanya di pelataran universitas yang megah, Arkan mematikan mesin mobil. Namun saat Aira hendak turun, pria berkacamata itu justru menolak ikut.

​"Saya sudah mengantar kamu sampai sini dan akan menunggu di tempat parkir. Kamu masuk sendiri ke gedung pendaftaran, ya," ujar Arkan tenang.

​Aira mengangguk pelan, lantas turun membawa map persyaratannya. Arkan melangkah menuju area duduk terbuka tak jauh dari sana, mengawasi sosok Aira yang mulai berbaur di tengah kerumunan calon mahasiswa baru.

​Di area antrean yang cukup padat, Aira mengedarkan pandangan dengan sedikit gugup. Namun, saat matanya menyapu koridor luar, ia menangkap siluet gadis yang teramat familiar.

​"Tia?!" panggil Aira spontan.

​Gadis yang dipanggil berbalik dan terbelalak mendapati teman lamanya dari sekolah terdahulu. "Ya ampun... Aira?!" seru Tia, langsung berhambur memeluk Aira erat.

​Keduanya berseru gembira, tak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar.

​"Kamu mau daftar kuliah di sini juga?" tanya Tia antusias usai melepaskan pelukan.

​"Iya! Aku mau ambil jurusan Psikologi. Kalau kamu?"

​"Aku mengambil Ilmu Komunikasi," jawab Tia tersenyum. "Kamu sudah menyerahkan berkas?"

​"Belum, ini baru mau mengantre. Baguslah, kita bisa mengantre bareng!" seru Aira riang.

​Namun, saat mereka melangkah mendekati loket administrasi yang baru saja kosong, seorang pemuda bertopi hitam mendadak menyerobot antrean tepat di depan Aira. Aira yang terperanjat dengan tindakan tak sopan itu langsung menepuk bahu sang pemuda.

​"Maaf, Mas... Tolong mengantre yang tertib, ya," tegur Aira tegas.

​Pemuda bertopi hitam itu berbalik, mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan angkuh dari ujung rambut hingga ujung kaki Aira. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik cuek dan tetap berdiri di posisinya.

​Kekesalan Aira membubung tinggi. Ia meraih lengan jaket pemuda itu dan menariknya agak kencang. "Saya datang lebih dulu! Tolong hargai antrean!"

​"Kau jadi cewek bisa sopan sedikit tidak?! Jangan asal main tarik! Lagipula terserah aku mau berdiri di mana!" cetus pemuda itu ketus.

​Aira membelalakkan mata, tangannya sudah gatal ingin memasang kuda-kuda.

​"Sudah, Aira... Tidak apa-apa, kita mengalah saja," bisik Tia panik, menahan lengan Aira.

​Dengan dada bergemuruh, Aira terpaksa mengalah. Tak lama kemudian, pemuda itu selesai mengurus berkasnya. Ia berbalik dan melempar senyum mengejek ke arah Aira.

​Merasa sangat gemas, Aira secara diam-diam menjulurkan ujung kakinya tepat saat pemuda itu melangkah melewati mereka.

​GUBRAK!!!

​Pemuda tinggi itu tersandung hebat dan tersungkur di lantai, hingga topinya terlempar beberapa meter. Gelak tawa samar dari orang-orang di sekitar antrean langsung pecah. Tia menutupi mulutnya menahan tawa, sementara Aira tersenyum puas menyaksikan pemuda itu meringis menahan malu.

​Namun, di tengah rasa kemenangannya, Aira tak menyadari bahwa dari kejauhan, Arkan menyaksikan seluruh kejadian itu dengan raut wajah yang menggelap.

​Selesai menyerahkan berkas, Aira dan Tia berjalan beriringan menuju pintu keluar gedung.

​"Aira, bagaimana kalau kita ke kafe baru sebentar? Sudah lama sekali kita tidak mengobrol bersama," usul Tia.

​"Boleh! Tapi aku pamit dulu sama yang mengantarku, ya," jawab Aira.

​Aira menghampiri Arkan yang masih menunggu di tempat semula, sementara Tia menunggu di agak kejauhan.

​"Kak Arkan, pendaftaranku sudah selesai," kata Aira.

​Arkan mendongak, menatap Aira dengan sorot mata dingin yang menghujam. "Kamu baru mau mendaftar kuliah, tapi sudah membuat keributan."

​Mata Aira membelalak. Ia baru sadar kalau Arkan melihat insiden tadi. "Tapi Aira tidak sengaja! Lagipula cowok itu yang salah duluan karena menyerobot antrean Aira!"

​"Bukan berarti kamu berhak melakukan hal kekanak-kanakan seperti menjahilinya," tegur Arkan datar. "Itu berbahaya. Bagaimana kalau orang itu cedera atau terluka parah?"

​Merasa selalu disalahkan dan tak dibela sedikit pun, dada Aira terasa panas. "Terserah Kak Arkan saja!" cetusnya emosional, lalu berbalik pergi.

​"Mau ke mana, Aira?" panggil Arkan.

​"Aira mau kemana bukan urusan Kak Arkan! Lebih baik Kak Arkan ke rumah sakit saja, bukannya hari ini ada jadwal jaga?" seru Aira tanpa menoleh lagi, melangkah cepat menghampiri Tia.

​Arkan terpaku di tempatnya. Ini kali pertama ia melihat Aira menunjukkan kemarahan yang begitu kentara padanya. Biasanya, gadis itu selalu penurut atau setidaknya merespons tegurannya dengan cemberut manja.

​Aira benar-benar jengkel. Ia menaiki sepeda motor Tia dengan raut ketus. "Ayo, Tia, kita ke kafe baru itu!"

​Tia yang menyadari perubahan mood sahabatnya memilih diam dan memacu motornya. Di belakang mereka, tanpa disadari, mobil Arkan perlahan mengekor dari jarak aman, memastikan keselamatan Aira hingga ke tujuan.

◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸◂▸

​Sesampainya di Kafe Pelangi sebuah kafe berkonsep aesthetic yang hangat mereka memilih area indoor di dekat jendela. Kebetulan jam sudah menunjukkan waktu makan siang.

​Aira memesan nasi ayam katsu, chicken sandswich dan es teh leci, sementara Tia memilih nasi sapi teriyaki dan strawberry smoothie.

​Rasa kesal membuat Aira melampiaskan emosinya lewat makanan. Ia mengunyah katsunya dengan ketenangan yang dibuat-buat namun bernafsu besar. Tia hanya bisa menggelengkan kepala terkekeh sudah jadi rahasia umum sejak sekolah dulu bahwa cara terbaik Aira meredakan amarah adalah dengan makan banyak.

​Di luar kafe, ponsel Arkan berdering nyaring. Panggilan darurat dari rumah sakit mengharuskan sang dokter segera bertugas. Tak punya pilihan, usai mengirimkan pesan laporan lokasi Aira kepada Reyhan, Arkan terpaksa memacu mobilnya menuju rumah sakit.

​Sementara itu di dalam kafe, suasana hati Aira perlahan membaik usai menyantap porsi makanannya. Mereka kini menikmati camilan kue cookies, kentang goreng dan cumi tepung.

​"Aira..." panggil Tia pelan.

​"Hmm?" sahut Aira sembari menggeser layar ponselnya.

​"Pria yang mengantarmu tadi... sepertinya aku pernah lihat," tutur Tia penasaran.

​Aira menghentikan aktivitas ponselnya. "Oh, itu Dokter Arkan. Dia tim medis yang pernah datang ke sekolah kita dulu sebelum aku pindah."

​"Pantas saja rasanya tidak asing!" seru Tia. "Lalu, kenapa kamu kelihatan kesal sekali padanya tadi?"

​"Dia menghakimiku menilai aku salah tanpa tahu duduk perkaranya," gerutu Aira. "Jadi untuk apa aku pulang bersamanya? Lebih baik aku bersamamu."

​Tia tersenyum tipis, lalu menatap Aira lekat. "Bagaimana kabarmu setelah aku pindah sekolah waktu itu? Apa Vina dan gengnya sempat mengganggumu?" tanya Aira.

​Raut wajah Tia mendadak lesu saat mengenang masa-masa itu. "Sebenarnya... Vina sempat menggangguku. Tapi aku membiarkannya, Aira. Bukan karena aku takut, tapi aku mencari momen tepat untuk membalas dendam atas perbuatan mamanya yang merebut papaku."

​Aira menyimak serius, menghentikan santapannya.

​"Suatu hari, aku sengaja memprovokasinya di area yang kupastikan terjangkau CCTV," lanjut Tia dengan suara bergetar namun penuh ketegasan. "Ketika dia dan gengnya meluapkan emosi dan memukuliku hingga memar, aku langsung meminta salinan rekaman CCTV itu ke pihak sekolah. Aku membawa seluruh bukti kekerasan itu ke jalur hukum."

​Aira menahan napas, terkejut.

​"Saat papaku tahu, Vina sempat mengelak. Tapi bukti rekaman dan visum terlalu kuat. Papaku akhirnya sadar, memutuskan hubungan dengan mama Vina, dan membiarkan proses hukum berjalan. Vina dan gengnya divonis 5 tahun penjara. Dan mamanya... masuk rumah sakit jiwa karena tidak sanggup menerima kenyataan anak kesayangannya mendekam di penjara," tutup Tia dengan helaan napas panjang.

​Aira terperanjat hebat, tak menyangka sahabatnya yang tampak lembut itu menyimpan keberanian dan luka seluar biasa itu. "Tia... Aku tidak menyangka kamu melewati hal seberat itu. Tapi kenapa kamu kelihatan sangat sedih sekarang?"

​Mata Tia berkaca-kaca. "Papaku... belum lama ini meninggal karena kanker."

​"Ya Tuhan... Kenapa bisa?" tanya Aira prihatin.

​"Kankernya baru terdeteksi stadium lanjut. Sebelum meninggal, Papa sempat meminta maaf atas semua kesalahannya pada Mama dan aku," bisik Tia menyapu air mata yang menetes. "Mamaku sekarang sudah menikah lagi dan tinggal di Surabaya. Beliau menyuruhku menyusul ke sana."

​Aira bergeser duduk dan langsung merengkuh tubuh sahabatnya itu hangat. "Aku turut berdua cita yaa kamu tidak sendiri, Tia... Ada aku di sini."

​"Terima kasih, Aira... Papa dan Mama ingin aku melanjutkan kuliah di Surabaya agar ada yang menjaga. Tapi aku menolak kesana karena nyaman disini, ntahlah jika aku berubah pikiran dan menyusul Mama ke sana," ujar Tia tersenyum tulus dalam dekapan Aira.

​Keduanya larut dalam kebersamaan hangat yang saling menguatkan, merayakan reuni singkat mereka hingga senja perlahan merayapi langit kota.

​Bersambung__

_____

Outfitnya Aira saat pendaftaran📚 Gimana sudah cocok enggak style Aira untuk kuliah??😊🌈

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!