Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
. MENJEMPUT AYAH NAYA
Alex akhirnya mendapatkan lokasi Mely. Titik koordinat itu terletak di sebuah gang kecil, di Jalan Wongko Kusumo.
"Naya, Puri, ini wilayah yang sudah lama terbengkalai," ujar Alex sambil menghadap ke layar laptopnya yang menyala terang di ruang tamu yang remang.
Puri melangkah mendekati Alex dan duduk di sebelahnya, menatap peta digital yang dipenuhi titik merah.
"Naya, rencana kita tidak mungkin hanya kita bertiga melawan algojo Hans dan Mely. Mereka terlalu banyak orang," ujar Puri seraya merangkum dokumen-dokumen artis yang terlibat dalam jaringan ilegal itu. Wajahnya terlihat tegang.
Aku pun masih bimbang. Apa rencanaku ini akan berhasil? Tapi harus kulakukan malam ini juga. Tidak ada waktu lagi untuk menunda. Ayahku masih di dalam sana.
"Sebentar, biarkan aku berpikir dulu," ujarku. Aku menarik kursi sofa yang ada di depan dan duduk di hadapan Alex dan Puri, memijat pelipisku yang berdenyut.
Tiba-tiba lampu di atas kepalaku seolah menyala. Sebuah ide gila terlintas di benakku.
"Bagaimana jika Puri menyamar sebagai wanita cantik dan menggoda algojo Mely dan Hans, sedangkan kau, Alex, buat Mely sibuk dengan teleponnya? Tanya semua tentang pekerjaannya, bilang saja kau tim kreatif di acara Mely, buat dia terdistraksi," ujarku menyusun rencana dengan cepat, mataku berbinar.
"Bagaimana dengan kau, Naya?" tanya Puri dan Alex bersamaan, menatapku heran.
"Aku bersantai di rumah menunggu kalian datang membawa Ayahku," godaku kepada Alex dan Puri sambil tersenyum jahil, mencoba mencairkan suasana yang tegang.
"Kau tega, Naya, memasukkan kami ke kandang harimau?" ucap Puri dan Alex sambil menekuk wajah, pura-pura merajuk.
Aku tertawa melihat ekspresi wajah mereka yang lucu. Di tengah situasi genting ini, hanya mereka yang bisa membuatku sedikit tertawa.
"Tidak mungkin aku melakukan itu. Dengar, saat para algojo lengah dengan rayuan Puri, dan Mely sibuk dengan telepon genggamnya karena diinterogasi Alex, aku akan menyelinap ke dalam mencari Ayahku," jawabku menjelaskan rencana seolah semuanya akan berjalan lancar sesuai harapan.
Lalu aku dibingungkan dengan pertanyaan kritis dari Puri dan Alex.
"Lalu bagaimana kau membawa Ayahmu keluar, Naya? Kau akan membawa Ayahmu sendirian? Kondisinya pasti lemah," tanya mereka berdua dengan logis.
Aku diam sejenak dengan pertanyaan yang dilontarkan mereka berdua. Benar juga, aku tidak mungkin menggendong Ayahku sendirian melewati penjagaan ketat itu.
"Bagaimana jika aku menelepon Dany? Aku yakin dia dapat membantu kita," ide Puri muncul dengan wajah polosnya yang tiba-tiba bersemangat.
"Dany? Siapa Dany, Puri?" ujarku dengan dahi mengerut. Aku tidak mengenal nama itu.
"Dia cinta pertamamu, Naya. Jangan bilang kau melupakan Dany. Aku yakin dia dapat menolong kita," ujar Puri menatapku seolah aku sudah gila.
Aku baru menyadari, aku tidak tahu pemilik tubuh ini, Naya yang asli, pernah menjalin cinta dengan seorang pria bernama Dany. Ingatanku sebagai Lin Yue tidak memiliki memori tentangnya.
Aku bertanya kepada Puri, sengaja mengulik masa lalu Naya, pemilik tubuh ini, agar aku tidak canggung jika nanti bertemu dengan Dany.
"Em, Puri, saat kejadian aku pingsan itu, separuh ingatanku hilang. Bagaimana bisa hubunganku dan Dany selesai? Ceritakan padaku," ujarku beralasan.
"Kau melihat Dany berpelukan dengan wanita lain, Naya, saat itu kita sedang di pusat perbelanjaan. Kau sangat hancur saat itu, kau langsung memutuskan hubungan kalian," ujar Puri dengan nada pelan, mengingat kejadian menyakitkan itu.
Aku hanya mengangguk kecil dan hati kecilku bicara, "Lelaki sama saja brengseknya, di dunia mana pun sama."
"Bagaimana, Naya, jika kau setuju, aku akan menghubungi Dany sekarang?" tanya Puri, diikuti Alex yang menengok ke arahku menunggu jawaban dengan tatapan penuh harap.
"Oke, baiklah, hubungi Dany, Puri. Kita butuh bantuan," jawabku akhirnya.
Puri mengambil ponsel genggamnya dan langsung menghubungi Dany. Jari-jarinya sedikit gemetar.
Tut... tut... telepon berbunyi, memecah keheningan ruangan.
"Halo, Dany, apa kabar?" sapa Puri dengan basa-basi, suaranya dibuat seceria mungkin. "Dany, apa kami bisa minta bantuanmu? Ini sangat penting, menyangkut Naya."
Dany menjawab di seberang sana, suaranya terdengar kaget, dan ia bertanya ada apa, kenapa dengan Naya.
Puri menjelaskan semuanya dengan cepat, dari awal hingga akhir, tentang penculikan Ayah Naya oleh Hans dan Mely. Pembicaraan itu berlangsung cukup lama.
Hingga setelah tiga puluh lima menit berlalu, terdengar suara mobil terparkir di depan rumah. Suaranya cukup keras di tengah malam yang sepi. Alex melangkah membukakan pintu.
Krek, suara pintu dibuka perlahan. Alex mempersilakan Dany masuk dan duduk.
Dany tersenyum padaku. Dany adalah pria yang tampan, tinggi, berkulit putih, rapi dengan penampilannya yang memakai hoodie hitam yang sederhana namun mahal. "Selera Naya, pemilik tubuh ini, cukup bagus juga," gumamku dalam hati, mengakui ketampanan Dany.
"Naya, aku turut prihatin akan semuanya. Ini pasti rumit bagimu. Aku akan bantu apa pun yang aku bisa," ujar Dany padaku dengan tatapan tulus yang dalam. Ada rasa bersalah di matanya.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi perhatiannya.
Sementara itu, Puri sudah bersiap di kamar. Ia berdandan dengan penampilan yang sangat berbeda, seperti wanita penggoda yang cantik dan berani, untuk melancarkan aksinya menggoda para algojo Hans dan Mely. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya.
Kami beranjak keluar meninggalkan rumah. Krek, pintu ditutup pelan.
Kami pergi menggunakan mobil Dany yang lebih besar dan terlihat kokoh, mengikuti arah peta yang diarahkan oleh alat penyadap yang dipasang Alex di ponsel Mely.
Sebuah wilayah pusat perbelanjaan yang sudah lama terbengkalai menjadi tujuan kami. Tempat itu gelap, hanya saja banyak usaha-usaha ilegal yang berdiri di balik ruko-ruko kosong. Lampu remang-remang terlihat dari kejauhan. Jarum petunjuk arah pada peta berhenti di sebuah depan ruko tua yang paling besar.
Ternyata terdengar suara musik diskotik yang sangat keras dari dalam ruko itu. Dentuman musiknya memekakkan telinga bahkan dari luar. Mungkin ini rumah bordir ilegal milik Hans yang selama ini tersamarkan.
Puri melancarkan aksinya. Ia berjalan dengan gaya menggoda mendekati dua penjaga pintu depan. Ia mengalihkan perhatian mereka dengan rayuan dan tawa manjanya, agar aku dan Dany bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan.
Aku dan Dany melangkah ke dalam dengan langkah perlahan dan sangat hati-hati, menempel di dinding. Melihat keadaan di dalam, mataku terbelalak. Banyak wanita penghibur menari tanpa busana di hadapan manusia-manusia bejat yang tertawa dan bersorak. Bau alkohol dan rokok menyengat.
Pemandangan itu sekelebat mengingatkanku pada masa laluku sebagai selir. Aku segera memotret kegiatan di dalam diskotik itu dengan ponselku sebagai bukti untuk menjatuhkan Hans nanti. Ini akan menjadi senjata pamungkas.
Teringat lokasi penyekapan Ayahku yang dikatakan Alex ada di ruang bawah tanah.
Aku dan Dany mencari jalan menuju ruang bawah, melewati lorong sempit yang berbau lembap. Kami melihat pintu besi besar dengan dua penjaga berbadan tegap yang berdiri di depannya.
"Mungkin itu ruang penyekapan Ayahku," ujarku berbisik terhadap Dany, jantungku berdebar kencang.
Dany mengangguk. Ia mengeluarkan dua sarung tangan hitam dari kantong hoodienya dan memberikan satu kepadaku. Dany memberi isyarat dengan matanya, seolah mengatakan untuk mengikuti instruksinya dan jangan bersuara.
Kami berjalan perlahan mendekati algojo Hans dan Mely yang berdiri di depan pintu besi itu. Dengan gerakan cepat yang sudah terlatih, Dany dan aku membekap mulut para algojo dari belakang. Mereka meronta sejenak, lalu akhirnya kehilangan kesadaran dan terkulai lemas di lantai.
Pintu besi di depan kami kini tidak terjaga lagi.
Bersambung...