NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Api Yang Membakar Kehidupan

Tahun 1582, pada tanggal 13 Juni, Oda Nobunaga berangkat menuju Kyoto setelah menghadiri jamuan bersama Tokugawa Ieyasu di Istana Azuchi. Tujuannya ke Kyoto adalah untuk mempersiapkan pasukan guna membantu Hashiba Hideyoshi yang tengah bertempur melawan klan Mori di Istana Takamatsu, Bitchu. Akechi Mitsuhide, yang baru saja dibebaskan dari tugasnya sebagai tuan rumah jamuan Ieyasu, diperintahkan memimpin pasukan bantuan tersebut. Sementara itu, Nobunaga memilih untuk menginap di Kuil Honnoji.

​Pada tanggal 21 Juni, Mitsuhide yang seharusnya memimpin pasukan ke Bitchu secara tak terduga memutar arah pasukannya. Mereka muncul tiba-tiba di Kyoto untuk mengepung Kuil Honnoji. Sekitar 11.000 samurai membentuk formasi rapat di luar pagar kuil. Tepat di depan gerbang, Mitsuhide mengacungkan kipas perangnya dan memberi perintah tegas kepada pasukannya.

​"Musuh berada di dalam Kuil Honnoji! Cepat serang dan bunuh setiap laki-laki dewasa di dalam sana!" teriak Mitsuhide.

​Pasukan itu langsung merangsek ke dalam kuil dengan Mitsuhide sebagai pelopornya. Sesuai perintah, para prajurit hanya mengincar laki-laki dewasa, sama sekali tidak menyentuh perempuan maupun anak-anak.

​Mitsuhide dan pasukannya merangsek ke bagian terdalam kuil demi memburu Nobunaga. Para biksu yang berada di dalam kuil tak luput dari keganasan mereka. Pasukan samurai pengawal yang menjaga kuil sempat memberikan perlawanan sengit. Namun karena kalah jumlah yang teramat teliti, satu demi satu pengawal itu merenggang nyawa.

​Di bagian terdalam kuil, dalam sebuah ruangan luas yang disediakan bagi tamu khusus, tiga orang tengah menanti takdir mereka.

​Pertama adalah seorang perempuan yang mengenakan kimono biru bermotif bunga sakura. Wajahnya manis dengan tahi lalat khas di tepi bibir. Dia adalah Putri Noh, putri dari penguasa Kastil Gunung Inaba, Saito Dosan, sekaligus istri utama Oda Nobunaga.

​Orang kedua adalah seorang pemuda bertubuh ringkih dengan tinggi sekitar 160 cm, namun mengenakan baju tempur lengkap. Di punggungnya tersandang pedang panjang dengan gagang berukir elang. Dialah Mori Ranmaru, pengawal paling setia Nobunaga.

​Dan yang terakhir, seorang pria dewasa berwajah garang dengan kumis tipis. Rambutnya diikat tinggi ke atas menyerupai pohon kelapa. Di hadapannya tergeletak sebuah tanto—pisau pendek yang biasa digunakan samurai. Pria itu adalah Oda Nobunaga, sang penguasa tanah Owari yang dijuluki 'Raja Iblis Surga Keenam'.

​Walau tahu kuilnya sedang digempur habis-habisan, Nobunaga tetap duduk tenang seolah sudah tahu kapan ajalnya tiba. Ia sedang bersiap untuk melakukan ritual seppuku.

​Dari luar ruangan, derap langkah kaki yang teratur mulai terdengar, bergaung bagai alunan musik kematian. Ranmaru menghunus pedang panjang di punggungnya, lalu melangkah ke depan pintu guna menghalangi musuh yang mencoba mengganggu ritual tuannya. Sementara itu, Putri Noh meraih sebuah naginata untuk membantu Ranmaru.

​Ranmaru menghadapi keganasan lusinan musuh yang datang bergelombang. Di sisi lain, Putri Noh menjaga pintu shoji agar tetap tertutup. Yasuno Hijime, salah satu orang suruhan Samanosuke Hidemitsu (bawahan Mitsuhide), berlari kencang melewati Ranmaru yang sedang sibuk bertempur.

​Putri Noh segera mengacungkan naginata-nya ke arah Yasuno. Melihat lawannya adalah seorang perempuan, Yasuno mendengus dan berceletuk,

​"Aku Yasuno! Aku tidak sudi bertempur melawan perempuan!"

​Putri Noh tersenyum tipis, sorot matanya menajam. "Kau meremehkanku."

​Yasuno mencoba menerobos, namun Putri Noh dengan gesit memutar senjatanya. Ia mengayunkan naginata itu sekuat tenaga ke arah kaki lawannya, tetapi Yasuno berhasil menangkisnya. Putri Noh mengayunkannya sekali lagi, kali ini mengincar kepala, namun Yasuno berhasil berkelit.

​"Kau boleh juga untuk ukuran seorang perempuan! Tapi aku tetap tidak ingin melawanmu. Minggir!"

​Sembari menahan serangan musuh, Putri Noh berdoa dalam hati agar Nobunaga bisa secepatnya menyelesaikan ritual seppuku. Sesaat, kehangatan dan rasa kasih sayang menjalar ke sekujur tubuhnya. Ada perasaan damai yang mengalir ke dalam hatinya.

​"Aku rela mati demi suamiku," bisik Putri Noh sambil mempererat genggamannya pada gagang senjata.

​Walaupun selama ini hubungan mereka diwarnai pertengkaran, kelembutan itu tetap membekas di hatinya, tak pernah berubah sejak hari pertama Nobunaga menikahinya.

​"Jika itu maumu, apa boleh buat!" cemooh Yasuno.

​Yasuno memutar tombaknya dan langsung menghujamkannya ke arah lawan. Dengan kecepatan kilat, mata tombak itu melesat lurus menuju perut Putri Noh.

​"Hiyahhh!"

​Bersamaan dengan terjangan tombak Yasuno, naginata Putri Noh juga melesat maju. Senjata sang putri berhasil menembus pelindung bahu Yasuno, menggores kulit kekar pria itu. Namun di saat yang sama, tubuh Putri Noh terhuyung ke depan. Kakinya seketika lemas. Tombak Yasuno telah telanjur menembus perutnya. Dalam satu kedipan mata, Putri Noh tersungkur di atas lantai kayu.

​Dalam keadaan kritis, Putri Noh menatap Ranmaru yang masih gagah berani menjatuhkan musuh satu per satu. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, saat pertama kali ia dinikahkan dengan Nobunaga. Awalnya, ia dikirim oleh ayahnya, Saito Dosan, untuk membunuh suaminya itu. Siapa sangka, Nobunaga yang mengetahui rencana tersebut justru tertawa dan berkata bahwa ia akan menganggap semua ini sebagai permainan yang menarik.

​Kini, di tempat ini, Putri Noh justru mengorbankan nyawanya demi melindungi kehormatan sang suami. Perlahan, Putri Noh menutup matanya. Ia tahu, kegelapan kali ini tak akan pernah mengizinkannya melihat dunia lagi. Untuk selamanya.

​Melihat Putri Noh gugur, Ranmaru yang baru saja menebas musuh terakhirnya segera melompat untuk menghadang Yasuno yang hendak membuka pintu shoji. Yasuno yang murka langsung menusukkan tombaknya ke arah Ranmaru.

​"Matilah kau menyusul tuanmu!" seru Yasuno.

​Dengan sigap Ranmaru berkelit seraya mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan memutar ke arah leher Yasuno.

​Yasuno terkejut dan refleks menahan bilah pedang itu dengan tangan kosong. Namun, ketajaman pedang Ranmaru tak terbendung; jari-jari Yasuno langsung buntung terpotong. Beruntung bagi Yasuno, gerakan refleksnya itu sedikit mengubah arah tebasan, sehingga lehernya selamat dan hanya menyisakan luka gores dalam di wajahnya.

​"Sesuai rumor... pedang itu benar-benar tajam," desis Yasuno menahan nyeri.

​Ranmaru tersenyum lebar, senyum yang dingin.

​"Jika kau sudah tahu reputasi pedang ini, seharusnya kau mundur. Dengan begitu, kepalamu masih akan tetap berada di pundakmu," ejek Ranmaru.

​"Kurang ajar!"

​Yasuno menerjang dengan tombaknya. Meski hanya menggunakan satu tangan, bidikan tombaknya tetap terarah dengan akurat.

​Ranmaru yang melihat lawannya telah tersulut emosi tetap tenang. Ia mengayunkan pedangnya dengan gerakan menyilang, memotong tangkai tombak Yasuno menjadi dua. Tanpa memberi jeda, Ranmaru melanjutkan dengan tebasan silang ke arah berlawanan, mengincar pergelangan tangan Yasuno yang tersisa. Ranmaru sengaja melumpuhkan kedua tangan lawannya agar pria itu tidak bisa melakukan seppuku.

​CRASHHH!

​Kedua tangan Yasuno kini telah terpisah dari tubuhnya.

​"Licik! Kau benar-benar licik!" teriak Yasuno frustrasi.

​"Ini adalah hukuman bagi pengkhianat seperti kalian. Matilah dalam kehinaan!" balas Ranmaru dingin.

​Dalam satu tebasan cepat berikutnya, Ranmaru memenggal leher Yasuno. Pria itu tewas seketika tanpa sempat menjaga kehormatannya sebagai samurai.

​"Jangan harap pengkhianat sepertimu bisa mati lewat seppuku," gumam Ranmaru.

​Suasana mendadak hening. Ranmaru teringat bahwa tuannya tengah menanti di dalam. Ia menggeser pintu shoji dan melangkah masuk. Di sana, Nobunaga masih duduk tegak dengan tenang.

​Nobunaga mengangkat kepalanya, menatap langit-langit ruangan yang mulai dipenuhi asap.

​"Ranmaru, ya... Sepertinya memang sudah tidak ada jalan lain," ucap Nobunaga pelan. "Maukah kau membantuku?" sambungnya.

​Selama beberapa detik, Ranmaru terdiam. Hatinya bergetar mendengar tuannya meminta bantuan dengan nada selembut itu. Air matanya menetes menuruni pipi sebelum ia mampu bersuara.

​"Hamba dengan sukarela akan membantu Tuan menyelesaikan ini. Kita tidak boleh membiarkan Mitsuhide mendapatkan kehormatan atas kepala Tuan," jawab Ranmaru mantap.

​Mendengar jawaban pengawal setianya, Nobunaga tersenyum puas.

​"Mari kita selesaikan."

​Nobunaga meraih tanto di hadapannya. Ia membuka kain putih yang membalut bilah pisau itu perlahan. Sembari memejamkan mata, ia mengarahkan mata pisau ke perutnya. Dengan satu hentakan mantap, pisau itu menembus kulitnya, lalu ditarik menyilang hingga ke sisi kanan perut.

​Bagi seorang samurai sejati yang melakukan seppuku, rasa sakit kalah oleh rasa bangga karena bisa mati dengan terhormat.

​"Lakukan!" perintah Nobunaga tegas.

​Tanpa ragu, Ranmaru mengayunkan katananya ke leher Nobunaga. Begitu kepala sang tuan terpenggal, Ranmaru langsung terduduk lemas. Lututnya gemetar. Meski ia baru saja menunaikan tugas paling terhormat bagi seorang pengawal, rasa kehilangan yang teramat besar menghujam dadanya. Pikirannya kalut ditikam rasa bersalah.

​Dalam kekalutan itu, sayup-sayup Ranmaru mendengar derap langkah kaki lain yang mendekat ke arah ruangan. Ia segera memungut kembali pedangnya.

​"Aku tidak akan membiarkan kepala Tuan jatuh ke tangan para pengkhianat!" tekadnya.

​Dengan sisa tenaganya, ia berdiri dan meraih lilin yang menyala di sudut ruangan. Dilemparkannya lilin itu ke atas lantai tatami. Api seketika berkobar, membakar tempat Nobunaga melakukan seppuku dan dengan cepat merembet ke dinding kayu. Ranmaru kemudian melangkah keluar ruangan, siap menghadang siapa pun yang mencoba merangsek masuk.

​Tak jauh dari ruangan itu, seorang samurai berjalan cepat mendekat. Wajahnya tampan dengan bekas luka gores di pipi kirinya. Ia mengenakan baju zirah lengkap, namun tanpa kabuto (helm perang), sehingga rambut panjangnya yang diikat ke belakang tampak jelas. Dialah Samanosuke Hidemitsu—atau yang memiliki nama asli Samanosuke Akechi—sepupu dari Mitsuhide. Ia mengemban tugas khusus untuk membawa kepala Nobunaga.

​Begitu melihat Ranmaru keluar dari ruangan, Samanosuke langsung menerjang dengan pedangnya. Ranmaru dengan sigap menangkis.

​CRANGGG!

​Kedua bilah besi beradu kuat. Baik Ranmaru maupun Samanosuke adalah petarung yang sama-sama tangguh. Dalam beberapa gebrakan yang sengit, keduanya melompat mundur untuk mengambil napas.

​"Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala Mitsuhide hingga dia berani memberontak?" tanya Ranmaru, menatap tajam lawannya.

​"Entahlah. Kupikir ini hanya soal dendam lama. Dan tentu saja, untuk menguasai Jepang," jawab Samanosuke santai.

​"Apakah Mitsuhide mengira menguasai Jepang semudah membalikkan telapak tangan hanya dengan membunuh Tuan Nobunaga? Lagipula, masih ada Hideyoshi-dono dan Ieyasu-dono yang akan meneruskan tekad beliau!" cecar Ranmaru.

​"Aku tidak peduli. Yang kuinginkan sekarang hanyalah membawa kepala Raja Iblis Surga Keenam kepada Tuan Mitsuhide," timpal Samanosuke dingin.

​Ranmaru tersenyum sinis, lalu kembali mengangkat pedangnya. "Kalau begitu, maaf saja. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh beliau."

​Samanosuke menyambut serangan Ranmaru. Kedua pedang kembali beradu, memecah kesunyian malam dengan dentingan nyaring yang bergaung bagai kicauan burung gagak pembawa ajal. Hingga puluhan jurus berlalu, pertarungan masih berimbang. Namun, ayunan pedang Ranmaru perlahan mulai melemah. Tubuhnya mulai kelelahan setelah sebelumnya harus menghabisi lusinan prajurit sendirian.

​Di belakang Ranmaru, cahaya merah merona semakin terang. Api yang dinyalakannya tadi kini telah melalap seperempat bangunan kuil.

​Melihat api yang membesar, Samanosuke mulai gelisah. Jika ia gagal membawa kepala Nobunaga, hukuman berat dari Mitsuhide telah menantinya.

​"Sial! Sial!" umpat Samanosuke. "Kenapa kau tidak menyerah saja? Menyerahlah, dan aku akan mengizinkanmu melakukan seppuku dengan tenang!"

​Ranmaru mengangkat alisnya, mengejek. "Kau pikir aku bodoh? Aku lebih memilih mati dilalap api ini demi melindungi Nobunaga-sama!"

​Ranmaru terus memasang badan di depan pintu. Samanosuke yang habis kesabaran mulai menyerang secara membabi buta. Aura membunuh memancar kuat dari tubuhnya. Dengan tebasan menyilang, Samanosuke mengincar kaki Ranmaru.

​Ranmaru terus bertahan dan menangkis, namun tangannya mulai mati rasa. Kekuatan fisik Samanosuke jelas berada di atasnya saat ini. Setelah beberapa benturan keras, pedang Ranmaru akhirnya terlepas dari genggamannya dan terlempar jauh. Bersamaan dengan itu, api di dalam ruangan meledak besar, melalap seluruh dinding luar.

​Melihat kobaran api yang menggulung dahsyat, Samanosuke ragu untuk merangsek maju. Sadar bahwa ruangan itu sudah menjadi neraka, ia akhirnya memutuskan untuk mundur dan pergi meninggalkan tempat itu.

​Ranmaru terduduk lesu dengan kepala tertunduk. Api mulai menjalar ke pakaian perangnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia meraih tanto kecil yang terselip di pinggangnya. Ranmaru memilih untuk melakukan seppuku di dalam pelukan ombak api yang menyala-nyala.

​Lautan api merah akhirnya membakar habis seluruh sisa kehidupan di kuil itu. Begitulah akhir kisah dari sang Penguasa Owari, istri setianya, dan pengawal yang tak tertandingi. Mereka binasa bersama runtuhnya Kuil Honnoji.

​*

​Sementara itu, di perbatasan Provinsi Mikawa, sebuah rombongan kecil tengah bergerak cepat dalam keheningan malam. Rombongan ini baru saja melakukan perjalanan pulang dari Istana Azuchi.

​Di tengah rombongan, tampak seorang pria berbadan tambun mengenakan jubah bermotif lingkaran dengan tiga daun mitsuba yang saling terhubung di tengahnya—lambang klan Tokugawa. Pria itu adalah Tokugawa Ieyasu. Dalam rombongan itu, hanya ada satu orang perempuan yang ikut serta. Wanita itu tengah hamil tua, terlihat dari perutnya yang membesar.

​Mereka mengambil jalan setapak rahasia yang dibangun membelah perbukitan sebagai jalur penghubung antara Provinsi Omi dan Mikawa. Namun, tepat ketika mereka hampir menyentuh perbatasan Mikawa, sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah tiba-tiba melompat turun menghadang jalan.

​Pemimpin pengawal yang berjalan di bagian paling depan segera mengangkat tangan, menghentikan seluruh rombongan.

​"Ketua! Kami membawa pesan dari Nobunaga-sama untuk Ieyasu-sama, dan juga sebuah surat untuk Nyonya Ogen," ucap salah satu orang bermasker itu berlutut memberikan hormat.

​"Tanba! Aku menugaskanmu untuk mengawasi situasi di sekitar Nobunaga-sama. Jika kau sampai turun ke mari, berarti telah terjadi sesuatu yang sangat mendesak," balas pemimpin pengawal rombongan Ieyasu.

​Orang bermasker hitam itu adalah Tanba Momochi, pemimpin kelompok shinobi yang baru saja muncul. Tanba segera mengeluarkan dua gulungan surat dari balik bajunya. Satu gulungan berwarna biru diserahkannya kepada sang pemimpin pengawal, sedangkan gulungan berwarna cokelat diberikan kepada wanita hamil di dalam rombongan.

​Pemimpin pengawal tersebut segera membawa gulungan biru itu ke hadapan sang kepala klan, Tokugawa Ieyasu.

​Ieyasu segera membuka dan membaca isi surat itu dengan teliti. Alisnya tampak bertaut tegang, naik-turun seiring ia mencerna setiap bait kata. Setelah selesai membaca, ia langsung menoleh ke arah pemimpin pengawalnya tadi.

​"Masanari, bagaimana pendapatmu?" tanya Ieyasu cemas.

​Pria yang dipanggil Masanari ini adalah seorang samurai sekaligus shinobi kepercayaan tertinggi klan Tokugawa. Pria bertubuh tegap dan berdada bidang ini adalah pemimpin klan Hattori dari perbukitan Iga. Ia mengenakan pakaian shinobi shozoko lengkap dengan zirah khusus bersimbol Iga. Di punggungnya tersandang sebilah ninjato, dan terdapat bekas luka gores di pelipis mata kirinya. Nama aslinya adalah Hattori Hanzo, namun Ieyasu lebih suka memanggilnya dengan nama baptis samurai, Masanari.

​Hanzo berpikir sejenak, menganalisis situasi dengan cepat sebelum memberikan saran.

​"Tuan, untuk sementara waktu sebaiknya kita jangan kembali ke Mikawa. Jalur utama pasti sudah dijaga. Akan sangat berbahaya bagi keselamatan Tuan, saya menyarankan kita lebih baik berlindung di Lembah Ueno untuk sementara waktu. Mitsuhide jelas melakukan pemberontakan ini untuk merebut takhta tertinggi Jepang," saran Hanzo tegas.

​"Tapi jalan alternatif menuju Lembah Ueno teramat curam dan berbahaya. Kita akan butuh waktu beberapa hari untuk bisa sampai ke sana," Ieyasu tampak ragu, memikirkan kondisi fisiknya dan rombongan.

​"Lembah Ueno berada di bawah kekuasaan penuh klan Iga. Hamba tahu rute rahasia yang aman menuju ke sana. Jalur ini dibuat oleh leluhur klan Hattori khusus sebagai rute evakuasi darurat. Hamba sendiri yang akan memandu jalan," jelas Hanzo meyakinkan.

​Mendengar penjelasan detail dari Hanzo, Ieyasu akhirnya mengangguk setuju.

​Di sisi lain rombongan, Ogen yang baru saja membaca surat dari suaminya tampak layu dirundung kesedihan. Ogen dulunya adalah seorang kunoichi (ninja perempuan) dari Iga dan merupakan keponakan dari Hattori Yasunaga (ayah Hanzo), yang menjadikannya sepupu langsung dari Hanzo. Ogen juga merupakan selir keempat dari Oda Nobunaga.

​Melihat raut wajah sepupunya yang mendadak pucat, Hanzo melangkah mendekat.

​"Ogen... saat ini kemungkinan besar Nobunaga-sama telah tiada. Wilayah Owari sudah tidak aman lagi untukmu. Oleh karena itu, ikutlah bersama kami berlindung di Lembah Ueno. Setelah situasi kembali kondusif, aku sendiri yang akan memerintahkan Tanba untuk mengawalmu kembali ke Owari," hibur Hanzo dengan nada lembut namun tegas.

​Setelah memberikan instruksi taktis kepada sisa rombongan, Hanzo memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan tandu khusus yang nyaman bagi Ogen yang sedang mengandung. Begitu semua persiapan selesai, rombongan itu segera memacu langkah membelah kegelapan malam menuju tempat persembunyian di Lembah Ueno.

​Catatan Istilah:

​Seppuku: Upacara ritual bunuh diri para samurai dengan cara merobek perut menggunakan pisau pendek demi menjaga kehormatan.

​Kimono: Pakaian tradisional Jepang yang kini umum digunakan pada upacara adat atau festival.

​Tanto: Pisau pendek berbilah satu yang biasa digunakan samurai sebagai senjata pertahanan jarak dekat.

​Naginata: Senjata tiang tradisional Jepang berbentuk bilah melengkung di ujung gagang kayu yang panjang.

​Katana: Pedang panjang khas samurai dengan bilah melengkung satu sisi.

​Ninjato: Pedang khas yang biasa digunakan oleh shinobi, berbilah lurus dan lebih pendek dari katana.

​Tatami: Lembaran tikar tradisional Jepang yang terbuat dari tenunan jerami.

​Shoji: Pintu geser atau sekat ruang khas Jepang yang rangkanya terbuat dari kayu dan dilapisi kertas khusus.

​Shinobi Shozoko: Pakaian khusus ninja yang longgar dan memiliki banyak kantong tersembunyi untuk menyimpan senjata rahasia.

​Kabuto: Helm pelindung kepala yang menjadi bagian dari zirah perang samurai.

​Shinobi: Agen rahasia atau mata-mata pada zaman feodal Jepang yang ahli dalam taktik perang tidak konvensional (lebih dikenal sebagai Ninja).

​Kunoichi: Sebutan khusus untuk ninja atau shinobi berjenis kelamin perempuan.

​-dono: Akhiran honorifik standar dalam bahasa Jepang untuk menunjukkan rasa hormat kepada sesama.

​-sama: Akhiran honorifik tingkat tinggi yang ditujukan kepada orang dengan posisi atau derajat yang jauh lebih tinggi (tuan/nyonya).

​Mitsuba: Tumbuhan herbal Jepang yang daunnya berbentuk tiga helai mirip seledri, sering diadopsi sebagai lambang klan (mon), salah satunya klan Tokugawa.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!