NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Gelas berisi jus alpukat di atas

meja kantin kantor digeser kasar oleh Luna. Napas gadis itu menggebu-gebu,

matanya menatap Rania dengan raut wajah yang siap meledak kapan saja.

"Gila, Ran! Beneran udah nggak waras

itu pria tua!" sembur Luna tanpa mukadimah.

Rania yang baru saja hendak menyuap

nasi gorengnya mendadak menghentikan sendok di udara. "Sumpah, Lun,

pelanin suara lu! Ini kantin kantor, ntar ada yang denger kan berabe. Lu kenapa

lagi sih? Masih emosi gara-gara ditaruh di rumah Pak Marko?"

"Bukan cuma ditaruh, Ran. Gue

berasa disandera!" Luna merogoh tasnya, melempar selembar kertas yang

sudah agak terlipat-lipat ke hadapan Rania. "Lu baca tuh! Baca sendiri

aturan edan yang dia bikin!"

Rania menaikkan sebelah alisnya,

merapikan lipatan kertas itu lalu membacanya perlahan. Semakin jauh matanya

membaca poin demi poin, semakin lebar mulutnya terbuka.

"Jam enam sore harus udah

sampai rumah? Dilarang ditemui teman pria tanpa izin tertulis? HP harus aktif

dan share loc 24 jam?!" Rania menatap Luna tak percaya. "Gila... ini

mah bukan aturan numpang menginap, Lun. Ini mah jam malam asrama tentara!"

"Kan?! Gue nggak bohong

kan?!" seru Luna emosi, mengusap wajahnya kasar. "Papa sama Mama gue

aja dari dulu nggak pernah se-posesif ini! Kemarin sore si Kenan mau jemput gue

habis ngantor aja langsung dipotong sama supir suruhan dia. Gue berasa kayak

tawanan tahu nggak?"

"Tapi tunggu deh..." Rania

mengetuk-ngetuk dagunya, menatap Luna lekat-lekat. "Lu nggak merasa ada yang

aneh gitu?"

"Aneh gimana maksud lu?"

"Ya iyalah aneh! Pak Marko itu

orangnya dingin, cuek, dan super sibuk. Mana ada bos besar Janitra Group yang

rela ngabisin waktu cuma buat ngatur jam pulang magang kalau nggak ada 'alasan

khusus'?" goda Rania sambil menyenggol lengan Luna. "Lu yakin dia

cuma mau ngejalanin amanat bokap lu? Jangan-jangan dia emang mau ngunci lu biar

nggak bisa dekat-dekat sama Kenan lagi?"

"Ih, apaan sih lu, Ran!"

tampik Luna cepat, meski dadanya mendadak berdesir membayangkan kemungkinan

itu. "Dia tuh cuma mau pamer wewenang aja! Sengaja bikin hidup gue

sengsara gara-gara gue kemarin ketahuan jalan sama Kenan!"

"Ya itu artinya dia cemburu,

Aluna!" gemas Rania melotot.

"Gak mungkin!" potong Luna

ngotot. "Wong di Semarang aja dia asyik-asyikan makan malam romantis sama

Mbak Jessi kok! Orang kayak gitu mana ada cemburu sama gue!"

Sementara itu, di lantai atas ruang

kerja eksekutif Janitra Group, suasana terasa jauh lebih mencekam.

Marko duduk di balik meja kerjanya

yang luas, menatap layar monitor komputer. Di samping mejanya, Sekretaris Rani

berdiri kaku seraya memegang sebuah map dokumen tebal bertanda khusus.

"Semua laporan latar belakang

dan aktivitas anak itu sudah terkumpul di dalam map ini, Pak Marko," ujar

Rani pelan dan profesional.

Marko mengangguk tipis,

mengisyaratkan Rani untuk meletakkan map tersebut. "Bagaimana dengan

pengawasan di lapangan?"

"Supir pribadi dan tim keamanan

internal sudah bersiap di area luar kantor sesuai instruksi Bapak. Setiap kali

Mbak Aluna keluar dari gedung atau menemui pihak luar, laporan lokasi akan

langsung dikirimkan ke ponsel Bapak," jelas Rani.

"Bagus. Pastikan Kenan atau

pihak mana pun dari divisi luar tidak membuat kontak pribadi dengan Aluna tanpa

sepengetahuan saya," tegas Marko dengan suara rendah dan dingin.

Rani sempat ragu sejenak, namun

akhirnya memberanikan diri bertanya. "Maaf, Pak Marko... kalau boleh saya

tahu, kenapa Bapak menerapkan pengawasan seketat ini pada Mbak Aluna? Pak Ardi

hanya meminta Bapak menjaganya selama beliau di Singapura, tapi pengawasan

ini... seolah Mbak Aluna sedang dalam ancaman bahaya."

Marko tidak langsung menjawab. Pria

matang itu menyandarkan badannya ke kursi kulitnya, jemarinya saling bertaut di

atas meja. Pandangannya menerawang kearah jendela kaca yang memperlihatkan

pemandangan kota Jakarta.

Ada alasan besar dan mendesak kenapa

Marko harus memberlakukan aturan ekstrem ini—alasan yang sengaja ia sembunyikan

rapat-rapat dari Ardi, Sinta, apalagi dari Luna sendiri.

Beberapa hari sebelum Sinta mendadak

jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit, tim intelijen bisnis Janitra Group

menemukan pergerakan mencurigakan dari rival bisnis lama Ardi yang baru saja

keluar dari kasus hukum. Pria itu mulai mengincar celah terlemah keluarga

Raharja untuk melakukan aksi balas dendam, dan target paling rapuh itu tak lain

adalah Aluna.

Juga... Marko sangat sadar,

kedekatan Kenan yang terkesan tiba-tiba dan makin agresif pada Luna menyimpan

kejanggalan tersendiri yang sedang diusut oleh timnya.

Marko tidak boleh terkecoh. Ia harus

memasung Luna dalam jarak pandangnya, melindunginya dari marabahaya luar,

sekaligus menahan dorongan liar di dalam dadanya sendiri yang kian hari kian

sulit dikendalikan tiap kali melihat gadis itu membangkang.

"Tugas kamu hanya menjalankan

perintah, Rani," sahut Marko datar tanpa niat menjelaskan. "Jangan

ada satu detail pun yang bocor ke Aluna."

"Baik, Pak Marko.

Permisi," panggil Rani membungkuk cepat lalu keluar dari ruangan.

Malam harinya, pukul tujuh malam

lewat sepuluh menit.

Luna baru saja melangkah turun dari

mobil supir pribadi yang mengantarnya pulang ke kediaman Marko. Wajahnya

ditekuk habis-habisan. Ia sengaja memperlambat jalannya saat memasuki pintu

depan rumah megah itu.

Begitu melangkah ke ruang tengah,

sosok Marko sudah menunggunya. Pria itu berdiri di dekat tangga dengan kemeja

yang sudah dilipat separuh di lengan, memegang cangkir kopi hitam.

"Kamu terlambat sepuluh

menit," panggil Marko kaku tanpa basa-basi.

Luna menghentikan langkahnya,

menatap Marko dengan tatapan menantang. "Tadi jalanan macet, Om! Nggak

bisa diprediksi! Lagian cuma terlambat sepuluh menit doang, gak usah lebay

deh!"

"Aturan tetap aturan,

Aluna," balas Marko melangkah mendekat. "Saya sudah bilang, kalau ada

kendala di jalan, kamu wajib telepon atau kirim pesan ke saya."

"Gue capek, Om!" teriak

Luna akhirnya meledak. Ia melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan frustrasi.

"Capek diadili terus-terusan kayak buronan! Om tuh sebenarnya mau menjaga

aku atau cuma mau nyiksa aku sih?!"

Marko menatap Luna yang napasnya

memburu dengan mata memerah menahan kekesalan. Rasa gemas dan dorongan posesif

yang tertahan di dalam dadanya makin bergejolak.

"Saya melakukan ini buat

kebaikan kamu sendiri, Aluna," ujar Marko rendah, suaranya kini terdengar

sangat dalam.

"Kebaikan apa?! Kebaikan Om

sendiri kan?!" cemooh Luna tajam, melangkah maju memotong jarak hingga

berdiri tepat di depan dada bidang Marko. "Om tuh jahat tahu nggak?! Om

ngekang aku di sini, melarang aku dekat sama Kenan, tapi Om sendiri bebas

mesra-mesraan sama Mbak Jessi di Semarang! Om egois!"

"Aluna, stop bawa-bawa nama

Jessi—"

"Kenapa?! Takut rahasianya

terbongkar?!" potong Luna dengan nada mengejek. "Kalau Om emang gak

suka aku dekat sama cowok lain, ngomong langsung! Nggak usah sok-sokan pakai

alasan 'amanat Papa'!"

Mata Marko seketika menajam. Udara

di antara mereka mendadak terasa membeku dan penuh dengan tensi yang berbahaya.

"Kamu benar-benar mau tahu

alasannya?" bisik Marko dengan suara berat yang teramat intimidatif.

Pria itu mendadak mengambil satu

langkah lebar maju, membuat Luna refleks mundur hingga punggungnya membentur

tiang ukir kayu di tengah ruangan. Sebelum Luna sempat menghindar, kedua tangan

kokoh Marko sudah terkunci rapat di sisi kiri dan kanan kepala Luna, mengurung

tubuh gadis itu sepenuhnya.

Jantung Luna berdegup liar kencang.

Jarak mereka kini begitu rapat, hingga Luna bisa merasakan kehangatan napas

Marko yang memburu di atas kulit wajahnya.

Marko menundukkan kepalanya, menatap

lurus ke dalam manik mata Luna dengan binar gelap yang teramat pekat—binar

kepemilikan yang selama ini berusaha ia sembunyikan rapat-rapat di balik

topeng 'sahabat ayah'.

"Kamu mau tahu kenapa saya

nggak mengizinkan pria mana pun mendekati kamu?" bisik Marko parau di

depan bibir Luna.

Tiba-tiba, dari arah pintu utama

yang sedikit terbuka, suara langkah kaki tergesa-gesa dan dehaman keras

terdengar memecah keheningan.

"Maaf mengganggu, Pak Marko...

tapi ada hal darurat terkait berkas yang Bapak minta."

Luna dan Marko seketika menoleh. Di

ambang pintu, Kenan berdiri tegap dengan raut wajah kaget luar biasa, menatap

posisi mereka berdua yang teramat dekat dan intim.

 

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!