"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Gelas berisi jus alpukat di atas
meja kantin kantor digeser kasar oleh Luna. Napas gadis itu menggebu-gebu,
matanya menatap Rania dengan raut wajah yang siap meledak kapan saja.
"Gila, Ran! Beneran udah nggak waras
itu pria tua!" sembur Luna tanpa mukadimah.
Rania yang baru saja hendak menyuap
nasi gorengnya mendadak menghentikan sendok di udara. "Sumpah, Lun,
pelanin suara lu! Ini kantin kantor, ntar ada yang denger kan berabe. Lu kenapa
lagi sih? Masih emosi gara-gara ditaruh di rumah Pak Marko?"
"Bukan cuma ditaruh, Ran. Gue
berasa disandera!" Luna merogoh tasnya, melempar selembar kertas yang
sudah agak terlipat-lipat ke hadapan Rania. "Lu baca tuh! Baca sendiri
aturan edan yang dia bikin!"
Rania menaikkan sebelah alisnya,
merapikan lipatan kertas itu lalu membacanya perlahan. Semakin jauh matanya
membaca poin demi poin, semakin lebar mulutnya terbuka.
"Jam enam sore harus udah
sampai rumah? Dilarang ditemui teman pria tanpa izin tertulis? HP harus aktif
dan share loc 24 jam?!" Rania menatap Luna tak percaya. "Gila... ini
mah bukan aturan numpang menginap, Lun. Ini mah jam malam asrama tentara!"
"Kan?! Gue nggak bohong
kan?!" seru Luna emosi, mengusap wajahnya kasar. "Papa sama Mama gue
aja dari dulu nggak pernah se-posesif ini! Kemarin sore si Kenan mau jemput gue
habis ngantor aja langsung dipotong sama supir suruhan dia. Gue berasa kayak
tawanan tahu nggak?"
"Tapi tunggu deh..." Rania
mengetuk-ngetuk dagunya, menatap Luna lekat-lekat. "Lu nggak merasa ada yang
aneh gitu?"
"Aneh gimana maksud lu?"
"Ya iyalah aneh! Pak Marko itu
orangnya dingin, cuek, dan super sibuk. Mana ada bos besar Janitra Group yang
rela ngabisin waktu cuma buat ngatur jam pulang magang kalau nggak ada 'alasan
khusus'?" goda Rania sambil menyenggol lengan Luna. "Lu yakin dia
cuma mau ngejalanin amanat bokap lu? Jangan-jangan dia emang mau ngunci lu biar
nggak bisa dekat-dekat sama Kenan lagi?"
"Ih, apaan sih lu, Ran!"
tampik Luna cepat, meski dadanya mendadak berdesir membayangkan kemungkinan
itu. "Dia tuh cuma mau pamer wewenang aja! Sengaja bikin hidup gue
sengsara gara-gara gue kemarin ketahuan jalan sama Kenan!"
"Ya itu artinya dia cemburu,
Aluna!" gemas Rania melotot.
"Gak mungkin!" potong Luna
ngotot. "Wong di Semarang aja dia asyik-asyikan makan malam romantis sama
Mbak Jessi kok! Orang kayak gitu mana ada cemburu sama gue!"
Sementara itu, di lantai atas ruang
kerja eksekutif Janitra Group, suasana terasa jauh lebih mencekam.
Marko duduk di balik meja kerjanya
yang luas, menatap layar monitor komputer. Di samping mejanya, Sekretaris Rani
berdiri kaku seraya memegang sebuah map dokumen tebal bertanda khusus.
"Semua laporan latar belakang
dan aktivitas anak itu sudah terkumpul di dalam map ini, Pak Marko," ujar
Rani pelan dan profesional.
Marko mengangguk tipis,
mengisyaratkan Rani untuk meletakkan map tersebut. "Bagaimana dengan
pengawasan di lapangan?"
"Supir pribadi dan tim keamanan
internal sudah bersiap di area luar kantor sesuai instruksi Bapak. Setiap kali
Mbak Aluna keluar dari gedung atau menemui pihak luar, laporan lokasi akan
langsung dikirimkan ke ponsel Bapak," jelas Rani.
"Bagus. Pastikan Kenan atau
pihak mana pun dari divisi luar tidak membuat kontak pribadi dengan Aluna tanpa
sepengetahuan saya," tegas Marko dengan suara rendah dan dingin.
Rani sempat ragu sejenak, namun
akhirnya memberanikan diri bertanya. "Maaf, Pak Marko... kalau boleh saya
tahu, kenapa Bapak menerapkan pengawasan seketat ini pada Mbak Aluna? Pak Ardi
hanya meminta Bapak menjaganya selama beliau di Singapura, tapi pengawasan
ini... seolah Mbak Aluna sedang dalam ancaman bahaya."
Marko tidak langsung menjawab. Pria
matang itu menyandarkan badannya ke kursi kulitnya, jemarinya saling bertaut di
atas meja. Pandangannya menerawang kearah jendela kaca yang memperlihatkan
pemandangan kota Jakarta.
Ada alasan besar dan mendesak kenapa
Marko harus memberlakukan aturan ekstrem ini—alasan yang sengaja ia sembunyikan
rapat-rapat dari Ardi, Sinta, apalagi dari Luna sendiri.
Beberapa hari sebelum Sinta mendadak
jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit, tim intelijen bisnis Janitra Group
menemukan pergerakan mencurigakan dari rival bisnis lama Ardi yang baru saja
keluar dari kasus hukum. Pria itu mulai mengincar celah terlemah keluarga
Raharja untuk melakukan aksi balas dendam, dan target paling rapuh itu tak lain
adalah Aluna.
Juga... Marko sangat sadar,
kedekatan Kenan yang terkesan tiba-tiba dan makin agresif pada Luna menyimpan
kejanggalan tersendiri yang sedang diusut oleh timnya.
Marko tidak boleh terkecoh. Ia harus
memasung Luna dalam jarak pandangnya, melindunginya dari marabahaya luar,
sekaligus menahan dorongan liar di dalam dadanya sendiri yang kian hari kian
sulit dikendalikan tiap kali melihat gadis itu membangkang.
"Tugas kamu hanya menjalankan
perintah, Rani," sahut Marko datar tanpa niat menjelaskan. "Jangan
ada satu detail pun yang bocor ke Aluna."
"Baik, Pak Marko.
Permisi," panggil Rani membungkuk cepat lalu keluar dari ruangan.
Malam harinya, pukul tujuh malam
lewat sepuluh menit.
Luna baru saja melangkah turun dari
mobil supir pribadi yang mengantarnya pulang ke kediaman Marko. Wajahnya
ditekuk habis-habisan. Ia sengaja memperlambat jalannya saat memasuki pintu
depan rumah megah itu.
Begitu melangkah ke ruang tengah,
sosok Marko sudah menunggunya. Pria itu berdiri di dekat tangga dengan kemeja
yang sudah dilipat separuh di lengan, memegang cangkir kopi hitam.
"Kamu terlambat sepuluh
menit," panggil Marko kaku tanpa basa-basi.
Luna menghentikan langkahnya,
menatap Marko dengan tatapan menantang. "Tadi jalanan macet, Om! Nggak
bisa diprediksi! Lagian cuma terlambat sepuluh menit doang, gak usah lebay
deh!"
"Aturan tetap aturan,
Aluna," balas Marko melangkah mendekat. "Saya sudah bilang, kalau ada
kendala di jalan, kamu wajib telepon atau kirim pesan ke saya."
"Gue capek, Om!" teriak
Luna akhirnya meledak. Ia melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan frustrasi.
"Capek diadili terus-terusan kayak buronan! Om tuh sebenarnya mau menjaga
aku atau cuma mau nyiksa aku sih?!"
Marko menatap Luna yang napasnya
memburu dengan mata memerah menahan kekesalan. Rasa gemas dan dorongan posesif
yang tertahan di dalam dadanya makin bergejolak.
"Saya melakukan ini buat
kebaikan kamu sendiri, Aluna," ujar Marko rendah, suaranya kini terdengar
sangat dalam.
"Kebaikan apa?! Kebaikan Om
sendiri kan?!" cemooh Luna tajam, melangkah maju memotong jarak hingga
berdiri tepat di depan dada bidang Marko. "Om tuh jahat tahu nggak?! Om
ngekang aku di sini, melarang aku dekat sama Kenan, tapi Om sendiri bebas
mesra-mesraan sama Mbak Jessi di Semarang! Om egois!"
"Aluna, stop bawa-bawa nama
Jessi—"
"Kenapa?! Takut rahasianya
terbongkar?!" potong Luna dengan nada mengejek. "Kalau Om emang gak
suka aku dekat sama cowok lain, ngomong langsung! Nggak usah sok-sokan pakai
alasan 'amanat Papa'!"
Mata Marko seketika menajam. Udara
di antara mereka mendadak terasa membeku dan penuh dengan tensi yang berbahaya.
"Kamu benar-benar mau tahu
alasannya?" bisik Marko dengan suara berat yang teramat intimidatif.
Pria itu mendadak mengambil satu
langkah lebar maju, membuat Luna refleks mundur hingga punggungnya membentur
tiang ukir kayu di tengah ruangan. Sebelum Luna sempat menghindar, kedua tangan
kokoh Marko sudah terkunci rapat di sisi kiri dan kanan kepala Luna, mengurung
tubuh gadis itu sepenuhnya.
Jantung Luna berdegup liar kencang.
Jarak mereka kini begitu rapat, hingga Luna bisa merasakan kehangatan napas
Marko yang memburu di atas kulit wajahnya.
Marko menundukkan kepalanya, menatap
lurus ke dalam manik mata Luna dengan binar gelap yang teramat pekat—binar
kepemilikan yang selama ini berusaha ia sembunyikan rapat-rapat di balik
topeng 'sahabat ayah'.
"Kamu mau tahu kenapa saya
nggak mengizinkan pria mana pun mendekati kamu?" bisik Marko parau di
depan bibir Luna.
Tiba-tiba, dari arah pintu utama
yang sedikit terbuka, suara langkah kaki tergesa-gesa dan dehaman keras
terdengar memecah keheningan.
"Maaf mengganggu, Pak Marko...
tapi ada hal darurat terkait berkas yang Bapak minta."
Luna dan Marko seketika menoleh. Di
ambang pintu, Kenan berdiri tegap dengan raut wajah kaget luar biasa, menatap
posisi mereka berdua yang teramat dekat dan intim.