NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Tombak dari Shinano

Di balik lipatan Pegunungan Shinano yang terjal dan dingin, derap ribuan kaki kuda memukul jalanan tanah yang berbatu. Suara gemerincing tali kekang, derak zirah besi yang bergesekan, serta debu tipis yang membumbung di udara pagi menandai pergerakan salah satu kekuatan militer paling ditakuti di wilayah utara.

Klan Sanada sedang bergerak menuju Odawara.

Di barisan terdepan pasukan berkuda Shinano, seorang pemuda berusia awal dua puluhan tahun memegang tali kekang kuda hitamnya dengan mantap. Ia mengenakan baju zirah akatoshiku berwarna merah menyala—warna kehormatan klan Sanada yang bagaikan bara api menyala di tengah keabu-abuan vegetasi gunung. Di pelindung dadanya, terukir dengan tegas lambang Rokumonsen, enam keping koin emas yang melambangkan ongkos bagi penyeberang Sungai Sanzu menuju alam kematian.

Pemuda itu adalah Sanada Nobushige. Putra kedua dari Sanada Masayuki penguasa di wilayah Shinano.

Meskipun usianya masih sangat muda, tatapan mata Nobushige memancarkan ketenangan yang matang melampaui usianya. Ia dibesarkan di tengah pusaran konflik terdarah di wilayah pegunungan, bertumbuh di bawah bayang-bayang ayahnya, Sanada Masayuki—sang "Rubah dari Shinano" yang dua kali mempermalukan pasukan raksasa klan Tokugawa di Benteng Ueda.

"Tuan Muda Nobushige," panggil seorang komandan veteran bernama Anayama Kosuke yang berkuda di sampingnya. "Kita sudah melewati batas Provinsi Kai. Dua hari lagi pasukan Sanada akan menyatu dengan sayap utara pasukan Toyotomi di perbatasan Kanto."

Nobushige tidak memalingkan pandangannya dari jalan setapak di hadapannya. "Bagaimana dengan barisan logistik kita di belakang, Kosuke?"

"Berjalan sesuai jadwal," jawab Kosuke mantap. "Tuan Masayuki telah memastikan setiap kuda membawa cadangan gandum dan peluru senapan yang cukup. Ayah Anda berpesan agar kita tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan beras dari Kuroda Kanbei."

Nobushige tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kebanggaan pada ayahnya. Sanada Masayuki adalah pria yang tidak pernah membiarkan nasib klannya bergantung pada kebaikan orang lain. Meskipun klan Sanada secara formal menyatakan tunduk pada Toyotomi Hideyoshi demi bertahan hidup di antara gajah-gajah raksasa seperti klan Tokugawa dan klan Uesugi, Masayuki tetap menyiagakan pasukannya dengan kemandirian besi.

"Kuroda Kanbei adalah arsitek yang luar biasa, Kosuke," ujar Nobushige, suaranya tenang menembus gemuruh derap kaki kuda. "Namun dalam pengepungan raksasa seperti Odawara, ribuan prajurit dari klan-klan kecil sering kali dijadikan umpan untuk menguji ketebalan tembok musuh. Kita pergi ke Odawara untuk mengukir kehormatan klan Sanada, bukan untuk menjadi tumbal taktik orang lain."

"Hamba mengerti, Tuan Muda," tunduk Kosuke penuh rasa hormat.

Nobushige membetulkan letak helm perangnya. Dari atas bukit tinggi yang baru dilaluinya, ia mendongak menatap ke arah tenggara. Di sana, di balik kabut pegunungan Hakone, dua ratus ribu prajurit dari seluruh penjuru Jepang sedang berkumpul seperti gelombang pasang yang siap meruntuhkan benteng terbesar di negeri ini.

Sementara pasukan berkuda Sanada terus melaju menembus perbatasan Shinano dan Kai, persiapan pengepungan Odawara di markas utama Toyotomi telah mencapai puncaknya.

Di atas Gunung Ishigaki—sebuah bukit tinggi berhutan lebat yang berhadapan langsung dengan Benteng Odawara—ribuan tukang batu dari Kansai, tukang kayu dari Kyoto, serta puluhan ribu buruh bekerja siang dan malam di bawah pengawasan ketat Kuroda Kanbei.

Rencana Kanbei sangat gila dan tak masuk akal bagi standar perang masa itu, membangun sebuah benteng tandingan berukuran raksasa lengkap dengan tembok batu, menara pengawas, dan gerbang megah tepat di depan mata musuh, tetapi sepenuhnya tersembunyi di balik rapatnya pepohonan hutan Gunung Ishigaki.

Di dalam ruang perencanaan Gunung Ishigaki yang dipenuhi peta-peta raksasa, Kuroda Kanbei berdiri bersandar pada tongkat kayun ukirnya. Di depannya, Toyotomi Hideyoshi sedang mengagumi maket benteng kayu tandingan tersebut.

"Berapa hari lagi sebelum seluruh pohon di lereng gunung ini ditebang, Kanbei?" tanya Hideyoshi, matanya berbinar-binar oleh antusiasme yang membara.

"Tiga hari lagi, Tuan Kampaki," jawab Kanbei dingin. "Pondasi batu dan dinding kayu Yagura di dalam hutan sudah sembilan puluh persen selesai. Saat kita menebang seluruh pohon cedar di lereng ini dalam waktu satu malam, klan Hojo yang terbangun di pagi hari akan melihat sebuah benteng raksasa muncul secara ajaib tepat di atas kepala mereka."

Hideyoshi tertawa terbahak-bahak, menepuk tangannya girang. "Perang psikologis yang sempurna! Hojo Ujimasa merasa benteng Odawara tidak sanggup ditembus karena dikelilingi tembok batu dan parit laut. Ketika dia melihat kita bisa mendirikan benteng tandingan hanya dalam semalam, mental pertahanannya akan runtuh menjadi abu!"

Kanbei membungkuk pelan. "Kemenangan terbaik adalah kemenangan yang diraih sebelum pedang pertama dicabut dari sarungnya, Tuan."

"Bagaimana dengan pergerakan pasukan dari utara?" tanya Hideyoshi lagi, mengalihkan pandangannya ke peta perbatasan Kanto.

"Pasukan klan Uesugi dan klan Maeda telah mengunci jalur utara," terang Kanbei. "Dan barusan hamba menerima kabar bahwa pasukan berkuda klan Sanada yang dipimpin oleh Sanada Nobushige telah melintasi Kai. Mereka akan tiba di garis depan utara besok malam."

Hideyoshi menyipitkan matanya mendengar nama itu. "Sanada Nobushige... putra dari Masayuki si Rubah tua itu?"

"Benar, Tuan," sahut Kanbei. "Anak muda itu masih sangat hijau, namun laporan intelijen menyebutkan ia memiliki ketenangan dan keberanian yang amat langka. Menempatkan pasukan berkuda Sanada di sayap utara akan memastikan tidak ada satu pun jalur pelarian bagi klan Hojo menuju wilayah pegunungan."

Hideyoshi manggut-manggut puas. "Gunakan mereka dengan baik, Kanbei. Biarkan serigala-serigala dari Shinano itu menunjukkan taringnya di Odawara!"

Malam harinya, perkemahan pasukan berkuda Sanada berdiri di lereng perbukitan yang menghadap ke arah Lembah Kanto. Api-api unggun kecil dinyalakan dalam lubang-lubang tanah agar asapnya tidak membumbung tinggi dan memancing perhatian mata-mata klan Hojo.

Sanada Nobushige berdiri di tepi tebing perkemahan, mengelus leher kuda hitamnya yang sedang beristirahat. Dari ketinggian tempatnya berdiri, lautan lampu obor dari dua ratus ribu prajurit Toyotomi membentang luas di sepanjang pesisir Sagami, tampak bagaikan rantai naga api raksasa yang melilit Benteng Odawara dari segala penjuru.

"Pemandangan yang mengerikan, bukan?"

Sebuah suara tenang menyela dari balik kegelapan. Nobushige memutar tubuhnya dan mendapati sosok kakaknya, Sanada Nobuyuki, melangkah mendekat. Nobuyuki mengenakan zirah hitam sederhana, wajahnya tampak lebih dewasa dan penuh pertimbangan dibandingkan Nobushige yang penuh semangat bertarung.

"Kekuatan yang luar biasa, Kak," aku Nobushige seraya menatap lautan api di bawah sana. "Hideyoshi berhasil mengumpulkan seluruh Jepang di tempat ini. Tidak pernah ada pasukan sebesar ini dalam sejarah tanah air kita."

Nobuyuki berdiri di samping adiknya, menatap naga api itu dengan pandangan yang kompleks.

"Kekuatan yang besar sering kali menyembunyikan keretakan yang dalam, Nobushige," bisik Nobuyuki pelan agar tidak terdengar oleh prajurit lain. "Di bawah bendera Toyotomi ini, ada klan Tokugawa, klan Uesugi, klan Date, dan klan kita sendiri. Kita semua berkumpul di sini bukan karena mencintai Hideyoshi, melainkan karena takut pada kekuatannya. Apa yang akan terjadi jika raksasa ini suatu hari kehilangan kepalanya?"

Nobushige terdiam. Pertanyaan kakaknya menghantam bagian terdalam dari intrik politik yang sedang berlangsung. Ia tahu betul bahwa ayahnya, Masayuki, selalu mengajarkan mereka untuk tidak pernah memberikan loyalitas buta pada satu klan.

"Jika raksasa ini runtuh suatu hari nanti," jawab Nobushige, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan, "maka tombak Sanada harus berdiri di pihak yang memegang kehormatan murni, bukan sekadar kelicikan kekuasaan."

Nobuyuki menepuk bahu adiknya dengan hangat. "Besok kita akan melangkah ke garis depan pengepungan. Jaga dirimu, Nobushige. Ayah mengutus kita ke sini agar klan Sanada tetap hidup, bukan untuk mati sia-sia demi impian Hideyoshi."

"Aku mengerti, Kak."

Nobushige kembali menatap ke arah kegelapan Lembah Kanto. Di bawah sana, Pengepungan Odawara—panggung pembantaian dan intrik terbesar dalam sejarah unifikasi Jepang—siap meletus dalam hitungan hari.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!