Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BISIKAN DARI RUANG GELAP NOMOR EMPAT
BAB 22: BISIKAN DARI RUANG GELAP NOMOR EMPAT
Embusan angin laut Selat Malaka yang membawa uap asin perlahan berganti menjadi keheningan yang pekat saat kapal pesiar MS Royal Sovereign ditarik merapat ke dermaga karantina militer di bawah pengawetan ketat Interpol. Seluruh anggota Orde 'Mahkota Kristal', termasuk dr. Julian Vance, telah dimasukkan ke dalam sel isolasi berlapis baja.
Namun, alih-alih beristirahat setelah berhari-hari bertaruh nyawa di tengah lautan, markas VPCI di Jakarta justru mendapati diri mereka terseret ke dalam sebuah misteri baru yang jauh lebih gelap dan bernuansa mistis sebuah teka-teki yang bahkan membuat insting psychometry Reno bergidik ngeri.
Di ruang laboratorium forensik bawah tanah, lampu neon utama dipadamkan. Hanya menyisakan pendar lampu meja otopsi yang memancarkan cahaya putih pucat.
Di atas Meja Otopsi Nomor Tiga meja yang dulunya menjadi tempat terletaknya jasad almarhum Paman Aris kini terbaring sebuah kotak kayu jati tua berukuran sedang yang dikirim secara misterius melalui kargo tertutup tanpa label bea cukai.
Kunci gembok kotak tersebut terukir lambang aneh berupa mata tertutup yang dikelilingi duri besi, berbeda jauh dengan teknologi modern Orde 'Mahkota Kristal'.
dr. Sara Maheswari berdiri di sisi meja dengan mengenakan sarung tangan lateks ganda. Di sampingnya, Widya Kusuma dan Bara mengawasi dengan raut wajah tegang.
"Paket ini lolos dari seluruh pemindai sinar-X pelabuhan tanpa terdeteksi," bisik Widya, suaranya terdengar tercekat di dalam keheningan ruang bawah tanah.
"Petugas bea cukai bahkan bersumpah bahwa mereka tidak pernah melihat kotak itu dimasukkan ke dalam ruang kargo agensi kita. Kotak itu tiba-tiba saja... sudah berada di atas meja otopsi tiga."
Reno Devano melangkah mendekati meja tiga. Langkah kakinya terasa begitu berat. Begitu ia mendekat, bulu kuduk di tengkuknya meremang hebat.
Ada getaran aneh yang menjalar di udara bukan lagi getaran bahan kimia atau sengatan listrik, melainkan sebuah hawa dingin menusuk yang membawa aroma tanah kuburan basah dan wangi melayu tua yang menyesakkan dada.
"Reno," panggil dr. Sara pelan, menoleh menatap mitranya dengan manik mata yang menyimpan kecemasan mendalam.
"Ada kejanggalan termal yang luar biasa pada kotak ini. Suhu di sekitar permukaan kayu jati itu turun drastis hingga minus sepuluh derajat, meskipun suhu ruangan kita berada di angka normal. Tidak ada mekanisme pendingin apa pun di dalamnya."
Reno mengangguk perlahan. Ia tidak menjawab, melainkan melepaskan sarung tangan kulitnya, membiarkan kulit bertelanjangnya bersiap menghadapi apa pun yang tersimpan di balik kayu tua tersebut.
"Buka gemboknya, Widya," perintah Reno dengan suara rendah dan berat.
Widya menggunakan klem khusus untuk memutar gembok berkarat itu.
Dengan suara derit logam tua yang memekakkan telinga, pengait kotak kayu tersebut terbuka lepas.
dr. Sara perlahan mendorong tutup kotak jati itu ke atas.
Tidak ada uap bahan kimia beracun. Tidak ada pendar kristal biru. Yang ada hanyalah gulungan kain kafan tua yang menguning, berlumuran noda tanah liat yang tampak masih basah, membungkus sesuatu yang berbentuk bulat di bagian tengahnya.
Di atas kain kafan itu, tergeletak sehelai foto polaroid usang yang memperlihatkan sudut sebuah kamar tua di rumah sakit jiwa terbengkalai di pinggiran Bogor, lengkap dengan tulisan tangan menggunakan tinta merah pekat:
"Keadilan dunia medis hanyalah ilusi. Temukan kebenaran yang terkubur di bawah lantai kamar nomor empat."
"Foto polaroid ini..." bisik Bara, memicingkan mata mengamati latar belakang kamar di foto tersebut.
"Itu adalah Rumah Sakit Jiwa St. Carolus di pinggiran Bogor yang sudah ditutup total pasca kebakaran misterius dua puluh tahun lalu!"
dr. Sara menggunakan pinset bedah untuk membuka lipatan kain kafan tua tersebut secara perlahan. Begitu lapisan kain itu tersingkap sepenuhnya, Widya dan Bara langsung membuang muka sambil menahan napas dalam-napas ngeri.
Di dalam balutan kain kafan itu... terdapat sebuah tengkorak manusia utuh yang di bagian rongga matanya ditanami dua buah batu permata hitam legam, sementara di sela-sela gigi taringnya terjepit sebuah jarum jahit tua berkarat sepanjang sepuluh sentimeter.
"Astaga..." gumam dr. Sara, mundur satu langkah kecil, napasnya tersengal.
"Tengkorak ini... proses pengeroposan tulangnya menunjukkan usia kematian puluhan tahun lalu, tapi tidak ada catatan medis forensik manapun yang mencatat penanaman batu permata hitam di rongga mata manusia!"
Reno tidak berkata apa-apa. Ia membungkuk perlahan, memusatkan seluruh konsentrasinya, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh langsung permukaan tengkorak tua yang dingin di dalam kotak jati tersebut.
DEG!
Hantaman psychometry kali ini meledak begitu mengerikan, jauh melampaui seluruh batas memori fisik yang pernah diserap Reno seumur hidupnya!
Seketika itu juga, lampu neon di seluruh laboratorium bawah tanah VPCI meledak padam secara serentak!
PRANG!
Ruangan itu terjerumus ke dalam kegelapan total yang pekat, hanya diterangi oleh pendar kilat petir dari luar jendela kecil bawah tanah. Suara deru angin malam berubah menjadi bisikan-bisikan halus ribuan manusia yang merintih kesakitan di dalam kepala Reno!
Dunia nyata di sekeliling Reno lenyap. Ia ditarik paksa ke dalam lorong waktu masa lalu yang dipenuhi kabut hitam.
Reno berdiri di tengah ruangan gelap gulita di dalam Rumah Sakit Jiwa St. Carolus dua puluh tahun yang lalu. Di sekelilingnya, empat orang dokter berjas putih berdiri mengelilingi sebuah meja operasi tua.
Di atas meja itu, seorang wanita muda berambut panjang diikat kuat-kuat, berteriak histeris sementara matanya dicungkil hidup-hidup oleh para dokter tersebut!
Wanita itu bukanlah pasien gila biasa. Ia adalah seorang saksi kunci yang mencoba membongkar eksperimen ilegal pencucian otak dan transplantasi ilegal yang dilakukan oleh sindikat rahasia bernama Ordo Bayangan Hitam cikal bakal dari seluruh jaringan kejahatan yang selama ini dihadapi VPCI!
Dalam kilas balik yang mengerikan itu, salah seorang dokter berjas putih yang memegang pisau bedah menoleh ke arah Reno. Wajah dokter itu tersenyum lebar hingga merobek pipinya sendiri, dan suara berat yang menggema di dalam kepala Reno berbisik:
"Kamu mencari kebenaran tentang kematian orang tuamu, Reno? Kamu mencari akar dari segala kejahatan medis ini? Datanglah sendiri ke Kamar Nomor Empat RS St. Carolus malam ini... atau orang-orang terdekatmu akan menjadi tumbal berikutnya di atas meja otopsi."
BRAK!
Sensasi kilas balik itu menghantam kesadaran Reno begitu keras hingga tubuhnya terpelanting mundur dan membentur rak instrumen bedah hingga berhamburan!
"Reno!" jerit dr. Sara panik dalam kegelapan. Tangannya meraba-raba dinding, mencari saklar darurat, lalu menekan tombol generator cadangan.
BZZZT!
Lampu darurat berwarna kuning redup menyala, memandulkan bayangan-bayang panjang di dinding laboratorium. dr. Sara berlutut di samping Reno, mengangkat kepala sang detektif yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar dari hidungnya.
"Reno! Jawab aku! Apa yang kamu lihat?!" teriak dr. Sara cemas, menekan kain kasa steril ke hidung Reno yang berdarah.
Napas Reno memburu hebat. Manik matanya melebar, menatap kosong ke arah langit-langit ruangan dengan tubuh yang bergetar hebat akibat syok psikis yang luar biasa.
"Bukan... bukan Orde 'Mahkota Kristal'..." bisik Reno dengan suara serak yang hampir hilang, jemarinya mencengkeram lengan jas laboratorium dr. Sara dengan sangat kuat.
"Mereka hanyalah boneka... Organisasi yang sebenarnya... Orde Bayangan Hitam... mereka masih hidup di balik reruntuhan RS St. Carolus..."
Bara yang berdiri di dekat pintu mendadak menoleh ke arah lorong koridor. "Bos! Dokter Sara! Dengar itu!"
Dari arah koridor luar laboratorium, terdengar suara gema langkah kaki yang menyeret lantai semen—seret... seret... seret...—diikuti oleh suara ketukan jarum bedah yang bergesekan dengan dinding baja secara berirama, semakin lama semakin mendekat ke arah pintu kamar jenazah VPCI.
Widya memeluk laptopnya ketakutan, sementara Bara langsung mencabut pistol dari holster-nya, mengarahkan moncong senjata ke arah pintu baja yang tertutup rapat.
dr. Sara merapatkan pelukannya pada Reno, matanya yang tajam menatap pintu baja dengan gejolak keberanian dan ketegangan yang memuncak.
Teka-teki baru telah memanggil mereka. Sebuah jebakan maut di dalam rumah sakit jiwa berhantu di Bogor menanti kedatangan sang detektif dan dokter forensik. Di antara batas sains medis dan dunia mistis masa lalu, malam ini VPCI harus melangkah masuk ke dalam sarang kegelapan yang paling mematikan.