Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah sangka
Bibi' sangat terkejut mendengarnya.
"Nyonya tidak sedang bercanda, kan?"
"Tidak lah, bi'. Ini beneran istrinya Zain. "
Tiyas mengulum senyum. Bibi' pun tersenyum.
"MasyaAllah ini kejutan. Selamat datang di rumah ini non. Kalau non perlu sesuatu panggil saja bibi'. Nama saya bi' Titin. Soalnya di sini ada empat asisten dengan tugasnya masing-masing."
"Terima kasih, bi' Titin."
"Sama-sama, non."
Tiyas pun pamit kepada ummi dan bibi' untuk kembali ke kamar.
Zean sedang mondar mandir di dalam kamarnya. Ia sedang memikirkan tentang bagaimana caranya menegur sang kakak.
"Apa aku telpon saja?"
Zean pun menghubungi Zain, namun ternyata tidak aktif. Memang dari semalam handphone Zain dicas dalam keadaan mati. Karena tidak sabar, Zean memutuskan untuk langsung pergi ke kamar Zain.
Di kamar Zain
Tiyas meletakkan coklat hangat di atas meja sofa. Zain baru saja mulai shalat dhuha. Kekaguman Tiyas terhadap Zain semakin bertambah. Ternyata suaminya itu memang istiqomah dalam beribadah.Tiyas pun masuk ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
"Wah benar-benar nih abang. Jangan-jangan dia memang lagi menyembunyikan sesuatu." Cerutu Zean. Ia masih berdiri di depan pintu.
Tok tok tok
"Bang buka pintunya!"
Zain baru saja selesai shalat, dan Tiyas keluar dari kamar mandi hendak membuka pintu.
"Biar aku saja yang membukanya." Sahut Zain.
"Oh iya."
tok tok tok
"Bang, aku tahu kamu ada di dalam. Buka bang!"
Ceklek
"Ada apa sih dek? Aku baru selesai shalat."
Tanpa menjawab pertanyaan abang yang, Zean celingukan ke dalam kamar Zain. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Tiyas sedang berdiri di depan sofa.
"Astaghfirullah... bang kamu beneran bawa cewek ke dalam kamarmu?"
Tiyas pun terperangah melihat Zean. Ia memang belum tahu kalau suaminya itu punya saudara kembar. Zean dan Zain adalah kembar identik. Yang membedakan mereka hanya tahi lalat kecil di dagu. Dan itu dimiliki oleh Zean.
"Apa maksudmu dek?"
"Lha ini?"
"Oh ya Allah... otakmu itu perlu dicuci."
Zain menjitak kepala adiknya.
"Hei, kenapa malah KDRT. Bang, aku nggak nyangka ya ternyata kamu.... "
Suara Tiyas menghentikan ucapan Zean.
"Mas, kamu punya kembaran?"
"Iya, ini adikku. Namanya Zean. Dek, tolong.... "
"Jangan bilang abang mau minta tolong untuk merahasiakan ini dari ummi dan abi!"
Zain kembali menjitak kening adiknya.
"Ish, abang!"
"Makanya tolong dengarkan aku dulu! Ini Tiyas, istriku."
"Apa?"
Zean menggelengkan kepala seakan tidak percaya.
"Abang jangan bercanda. Aku tahu abang nggak punya pacar kok tiba-tiba beristri? Nggak mungkin!"
"Ya sudah kalau nggak percaya. Aku mau minum coklatku dulu, keburu dingin nanti tidak enak." Ujar Zain dengan santainya sambil mendorong tubuh Zean keluar dari kamarnya.
"Eh eh... tunggu bang! "
Blam
Pintu pun tertutup dan Zain langsung menguncinya.
Tok tok tok
"Bang bang....! "
Zain tidak menghiraukannya.
"Mas, kenapa adiknya diusir?"
"Nggak pa-pa, biarkan dia sibuk dengan asumsinya sendiri. Terima kasih coklatnya."
"Bukan aku yang bikin tapi bibi'."
"Tapi kamu yang membawanya ke sini."
Tiyas pun mengangguk.
Zain menikmati coklat hangatnya yang sudah hampir dingin. Sedangkan Tiyas pergi ke walk in closed untuk mengambil baju kotor.
Zean tidak berhenti di situ saja. Karena rasa penasarannya itu, ia langsung turun ke bawah dan mencari keberadaan orang tuanya. Zean baru ingat kalau abangnya itu tidak pergi sendirian tapi bersama orang tuanya.
"Ummi... ummi... abi.... "
"Ada apa sih, kok teriak-teriak?" Sahut abi.
"Abi.... abang bawa perempuan ke dalam kamarnya. Terus dia bilang itu istrinya. Apakah benar?"
"Oh... "
"Abi, Zean nanya serius kok abi jawabnya cuma oh."
"Iya, itu istri abangmu. " Sahut ummi yang baru saja balik dari dapur.
"Tolong jelaskan kepada Zean. Abang nggak mungkin menghamili anak orang, kan?"
"Astaghfirullah, Zean.... "
"Lalu bagaimana ceritanya pulang-pukang abang sudah punya istri? Ummi sama abi juga main rahasia perginya."
"Sini kamu! Biar abi jelaskan."
Zean pun masuk ke kamar orang tuanya. Abi dan ummi menceritakan apa yang sudah dialami Zain sehingga akhirnya Zain menikah dengan Tiyas. Zean memuji sikap yang diambil abangnya itu. Karena tidak mudah juga untuk menikah dengan orang yang baru kita kenal dan tanpa rasa cinta.
Saat waktunya sarapan, ummi memanggil Zain dan Tiyas untuk sarapan bersama. Tidak lama kemudian Zain dan Tiyas bergabung dengan ummi, abi, dan Zean di ruang makan. Nampak Zean memandang Zain dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Selamat bergabung mbak Tiyas." Sapa Zean dengan full senyum.
Riyas pun membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum tipis.
"Ayo nak, duduklah di samping suamimu."
"Iya, ummi."
Pagi ini menu di meja makan ada sambal Petdan ayam goreng, tempe mendo'an, dan sayur asem. Roti, selai, dan keju juga tidak pernah absen dari atas meja makan. Tiyas tidak menyangka di rumah besar itu, ia masih bisa melihat masakan sederhana.
Seperti biasanya, ummi melayani abi. Tiyas pun meski masih canggung belajar untuk melayani suaminya. Hal tersebut membuat Zean gigit jari.
"Hem... nggak ada yang melayaniku."
"Makanya cepetan nikah!" Sahut abi.
"Belum ada yang... "
"Cocok.... gitu? Zean Zean... "
Tidak ingin mengganggu suasana sarapan pagi ini, abi pun tidak melanjutkannya lagi.
Mereka sarapan dengan santai dan tenang.
"Nak Tiyas, ayo tambah lagi. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kamu kan sudah menjadi anak ummi."
"Iya, ummi."
Beberapa saat kemudian, mereka selesai makan. Bibi' membereskan perabotan bekas mereka makan. Tiyas membantu bibi' meskipun ummi sudah melarangnya. Namun ketika Tiyas akan mencuci piring kotor, bibi' melarangnya.
"Kalau non Tiyas yang cuci piring, nanti bibi' ngapain? Kan itu kerjaannya bibi'."
"Begitu ya bi'?"
"Iya, non. Non Tiyas santai saja. Di rumah ini sudah ada bagian masing-masing. Bi' Titin bagian masak dan belanja, saya bagian beres-beres dan cuci piring, Si Kokom bagian cuci baju dan setrika. Kalau si Yuyun bagian nyapu dan ngepel."
Tiyas mengangguk paham.
Lagi-lagi prasangkanya dipatahkan oleh kenyataan bahwa keluarga suaminya itu selain kaya memang benar-benar baik.
Saat Tiyas tidak ada di ruang itu, abi menegur Zain. Abi meminta Zain agar terbiasa memanggilnya dengan sebutan yang lebih pantas.
"Masa' panggil nama? Abang kan tahu dalam agama kita dianjurkan memanggil nama pasangan kita dengan panggilan yang romantis."
"Iya, abi. Zain akan belajar untuk itu."
"Ehem ehem yang lain nggak usah belajar kan, bang? cie yang udah punya istri. Panggil sayang, cinta, atau my honey gitu bang. Atau ayang beb... " Sahut Zean.
Ummi menahan tawa mendengarnya.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...