NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Can You Hear Me?

Bara segera memesan taksi online dan meninggalkan kampus setelah berpisah dengan Ara.

Biasanya, kakaknya yang selalu mengantar dan menjemputnya. Namun, karena Marissa sedang berada di Jepang, Bara akhirnya hanya bisa bergantung pada aplikasi transportasi online yang sudah terpasang di ponselnya.

Tidak lama kemudian, Bara tiba di rumah sakit. Sesampainya di sana, ia langsung kembali ke kamar rawatnya dan mengganti pakaian dengan pakaian pasien. Namun, bukannya beristirahat atau menjalani perawatan, Bara justru keluar dari kamar.

Ia sedang tidak ingin menjalani kemoterapi. Padahal, biasanya suster akan datang untuk memberikan obat melalui infus sebagai bagian dari rangkaian perawatannya. Namun, kali ini Bara memilih untuk menghindarinya.

Ia berjalan menuju bangku yang berada di bagian belakang rumah sakit, lalu duduk sendirian. Tatapannya jatuh pada beberapa memar yang terlihat di tubuhnya.

Bara mengusap salah satunya dengan perlahan. Rasa sakit itu sudah menjadi sesuatu yang biasa baginya.

Namun, hari ini rasanya jauh lebih berat. Bukan karena tubuhnya yang sakit. Melainkan karena Ara.

Ponselnya terus berdering. Bara tahu siapa yang menelepon. Sudah berkali-kali ia menolak panggilan itu, tetapi Ara terus menelepon tanpa henti. Akhirnya, karena masih marah, Bara mematikan ponselnya.

Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku dan menatap kosong ke depan.

"Gue marah karena lo pura-pura nggak tahu tentang penyakit gue, tapi lo masih aja deketin dan bahkan nyatain perasaan lo ke gue."

Suara Bara terdengar lirih.

"Iya, gue tahu gue juga nyatain perasaan gue karena lo bakal pergi sebentar lagi. Tapi apa lo nyatain perasaan lo ke gue cuma karena kasihan, Ra?"

Bara menundukkan kepalanya.

"Hidup gue aja tinggal sebentar lagi. Gue nggak mau lo terluka karena gue."

Beberapa saat kemudian, Bara mendongakkan kepala ketika tiba-tiba merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya.

Darah.

Ia mengusapnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya, lalu mengelap sisa darah yang masih menempel dengan bajunya.

Bara menghela napas panjang.

"Sorry, Ra."

Tatapannya kosong.

"Gue kayaknya bakal berhenti kuliah mulai besok."

...---...

Sementara itu, di kampus, Ara masih terus mencari Bara.

"Bara, lo ada di mana? Gue khawatir sama lo."

Sejak Bara meninggalkannya, Ara sudah berkali-kali mencoba menghubungi laki-laki itu.

Awalnya, panggilannya masih bisa tersambung, meskipun selalu ditolak oleh Bara. Namun, beberapa saat kemudian, panggilannya benar-benar terputus.

Bara mematikan ponselnya. Ara semakin panik. Ia sudah berkeliling ke berbagai sudut kampus, bahkan sampai ke atap yang biasanya menjadi tempat Bara menyendiri. Namun, laki-laki itu tidak ada di sana.

Ara kemudian teringat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, ia langsung pergi ke sana.

Sesampainya di rumah sakit, Ara segera menuju kamar rawat Bara.

Kosong. Bara tidak ada di sana.

Ara sempat ingin menghubungi Marissa, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ara tidak ingin menambah beban pikirannya.

Ia keluar dari kamar rawat Bara dan kembali mencoba menghubungi nomor Bara. Tetap tidak tersambung.

Ara menggigit bibirnya. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia menyimpan semuanya sendiri sampai waktu yang diberikan kepadanya habis. Seharusnya ia tidak mengatakan apa pun kepada Bara.

Namun, ia benar-benar tidak tega melihat kondisi Bara yang semakin memburuk. Ketika melihat Bara di kampus tadi, Ara bisa melihat bahwa berat badan laki-laki itu tampak menurun. Wajahnya pucat, dan tatapannya terlihat sayu.

Awalnya, Ara berusaha mempertahankan ekspresi senormal mungkin agar Bara tidak curiga.

Namun, ia tidak sanggup. Dadanya terasa sesak ketika memeluk Bara. Ia tidak bisa lagi berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.

Karena itu, akhirnya Ara memilih untuk jujur. Dan sekarang... Bara marah. Bahkan menghilang begitu saja.

"Padahal gue udah janji sama Kak Marissa buat jagain lo."

Air mata Ara mulai menggenang.

"Tapi gue aja nggak becus gini."

Ara menundukkan kepalanya.

"Lo sekarang lagi ada di mana, sih? Gue khawatir banget, tahu nggak!"

Tidak lama kemudian, suara klakson mobil terdengar dari arah depan rumah sakit. Ara langsung menoleh.

Yuvin melambaikan tangan dari balik kemudi. Ara segera menghampiri mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.

Ternyata, Sora dan Yohan juga sudah berada di dalam mobil. Mereka memang sengaja datang untuk membantu Ara mencari Bara.

"Udah ketemu?" tanya Sora.

Ara menggeleng.

"Nggak ada. Gue udah nyari di kampus sama kamar rawatnya, tapi dia nggak ada."

Mereka bertiga kemudian ikut mencari Bara di sekitar rumah sakit. Waktu terus berjalan. Siang berganti sore. Namun, keberadaan Bara masih belum diketahui.

Menjelang malam, mereka akhirnya kembali berkumpul di dalam mobil Yuvin.

"Lo yakin tadi udah nyari di sekitar rumah sakit?" tanya Yuvin.

"Gue tadi cuma ngecek kamar dia, sih, Vin."

Ara menatap rumah sakit dari balik kaca jendela.

"Ya udah. Mending kita balik ke sana lagi. Terus kita berpencar buat nyari dia."

Ara mengangguk. Entah kenapa, sejak tadi perasaannya mengatakan bahwa Bara sebenarnya masih berada di rumah sakit.

Mereka pun kembali masuk ke area rumah sakit.

"Kita sekarang berpencar. Siapa pun yang udah nemuin Bara duluan, kasih kabar di grup."

Ketiganya mengangguk bersamaan mendengar perintah Yuvin.

Mereka kemudian berpencar menuju arah yang berbeda. Ara memilih berjalan ke bagian belakang rumah sakit, tempat yang jauh dari keramaian.

Barangkali Bara sedang menyendiri di sana. Setelah beberapa saat berjalan, Ara tiba-tiba melihat seseorang dari kejauhan.

Sosok itu tergeletak di area belakang rumah sakit. Ara langsung mengenalinya.

"Bara!"

Ia segera menghubungi teman-temannya melalui grup sambil berlari menghampiri Bara.

"Bara?"

Ara berlutut di sampingnya dan berusaha membantu Bara bangun. Ia menopang tubuh Bara sambil menunggu teman-temannya datang.

Sebenarnya, Ara ingin menggendong Bara kembali ke kamar. Namun, tubuhnya jauh lebih kecil daripada Bara. Jangankan menggendong, menopang tubuh Bara saja sudah membuatnya kesulitan.

Bara yang mendengar suara Ara perlahan membuka matanya. Sebenarnya, ia tidak pingsan. Kepalanya hanya tiba-tiba terasa sangat pusing dan tubuhnya mendadak kehilangan tenaga.

Ketika hendak kembali ke kamar, tubuhnya limbung dan akhirnya terjatuh. Namun, sekarang Bara justru merasa malu karena Ara tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Lo udah berapa lama ada di sini?"

Ara menatapnya khawatir.

"Kenapa nggak istirahat di kamar aja sih, Bara? Sekarang udah malam. Kalau lo makin sakit, gimana? Cuacanya juga dingin."

Ara segera melepaskan kardigan yang dikenakannya dan menyelimuti tubuh Bara dengan pakaian tersebut. Ia menghela napas panjang melihat kondisi Bara yang begitu lemah.

Bara menatap Ara.

"Kok lo ada di sini?"

"Kenapa? Lo nggak suka kalau gue ada di sini?"

Ara langsung mengomel.

"Lo mau menjauh dari gue lagi? Coba aja sekarang lo pergi kalau lo kuat berdiri!"

Bara hanya diam.

"Gue tuh udah nyariin lo semenjak lo ngilang dari kampus tadi. Gara-gara ular mainan lo itu, gue diusir dari kelasnya Pak Adam! Kesel gue!"

Ara semakin kesal.

"Masih nyebelin aja lo ternyata. Gue kira lo udah insaf."

Bara justru tersenyum. Ia memperhatikan Ara yang masih terus mengomel kepadanya.

Awalnya, Bara mengira Ara akan panik melihat kondisinya. Namun, ternyata Ara masih sama seperti biasanya.

Masih cerewet. Masih suka mengomel. Bahkan masih berani memarahinya meskipun Bara sedang dalam keadaan sakit.

"Lo nggak gimana-gimana gitu lihat kondisi gue?"

Belum sempat Ara menjawab, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Yuvin muncul sambil berlari menghampiri mereka. Yohan dan Sora menyusul beberapa saat kemudian. Napas keduanya juga terdengar terengah-engah.

"Gila! Gue sampai susah napas. Luas banget sih ini rumah sakit!"

"Makanya, olahraga dong, Han. Kayak gue nih yang masih kuat dan gagah perkasa."

Sora langsung menoyor kepala Yuvin.

"Masih sempat pamer!"

Yuvin mengusap kepalanya.

"Aduh!"

Sora sebenarnya merasa tidak enak kepada Bara dan Ara. Ia tidak ingin membuat Bara merasa semakin minder hanya karena melihat teman-temannya yang sehat masih bisa bercanda seperti biasa.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Yuvin. "Mau gue gendong balik ke kamar? Gue kuat, kok."

Bara menatap mereka satu per satu. Kemudian, pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya akhirnya keluar.

"Kalian semua... udah tahu?"

Mereka terdiam. Lalu, satu per satu mengangguk.

Bara menatap mereka dengan tatapan tidak percaya. Kemudian, pandangannya beralih kepada Ara. Ara juga mengangguk sambil tersenyum kecil. Bara terdiam cukup lama.

"Ngobrolnya lanjut nanti aja."

Ara segera memotong suasana.

"Ini mending kalian cepetan bantu bawa Bara balik ke kamar."

Yuvin mengangguk. Tanpa banyak bicara, ia langsung membungkukkan tubuhnya di depan Bara.

"Ayo, naik."

Bara akhirnya menurut.

Yuvin menggendong Bara di punggungnya, sementara Yohan membantu menopang tubuh Bara dari belakang agar tidak terjatuh.

Ara dan Sora berjalan mengikuti mereka.

...---...

Sesampainya di kamar rawat Bara, Yuvin perlahan merebahkan tubuh Bara di atas ranjang. Yohan berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan Bara.

"Lo ngapain sih malam-malam sendirian di luar kayak tadi? Lagi bertapa lo?"

Ara langsung menoyor kepala Yohan.

"Aw!"

Yuvin malah tertawa.

"Lo tahu kan kalau kita nggak ada yang waras? Ada teman lagi sakit juga tetap sempat-sempatnya nge-bully."

Ia menatap Bara.

"Jadi lo nggak usah berpikiran negatif ke kita. Iya nggak, Ra?"

"Thanks, Vin."

Ara tersenyum.

"Lo emang yang paling bisa diandalkan. Nggak kayak si Yohan."

Ara menunjuk Yohan.

Yohan hanya mendecakkan lidah.

"Kenapa gue terus yang kena?"

Sora tertawa melihat tingkah mereka.

Untuk sesaat, kamar rawat itu terasa seperti ruang berkumpul biasa. Tidak ada rasa kasihan. Tidak ada tatapan iba. Tidak ada perlakuan berbeda. Mereka memperlakukan Bara seperti teman mereka sendiri. Dan justru itulah yang membuat dada Bara terasa sesak.

"Sejak kapan kalian semua tahu?"

Yuvin bersandar di kursi.

"Nggak penting juga kita tahu sejak kapan. Yang penting, sikap kita masih biasa aja di depan lo."

Sora mengangguk.

"Tenang aja. Kita bakal selalu ada buat nguatin lo."

Yuvin menepuk bahu Bara pelan.

"Dan masih ada gue yang bakal jagain lo."

Bara tersenyum tipis. Namun, senyum itu perlahan menghilang ketika sebuah kenyataan kembali mengingatkannya pada waktu yang tersisa.

"Tapi sebentar lagi kan lo mau pergi, Ara."

Ara terdiam. Kalimat sederhana itu kembali mengingatkannya pada kenyataan bahwa waktu mereka terus berjalan.

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, waktu yang tersisa semakin sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!