NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Aturan Kepala Murid Luar

Ujian naik ke sekte dalam diadakan pada hari kedua belas bulan keempat, dan Shen Yu lulus dengan peringkat ketujuh dari tiga puluh peserta. Jian Chen tidak heran. Ia hanya berdiri di antara kerumunan di depan gerbang pemisah, melihat Shen Yu menerima jubah putih biru dari seorang tetua, lalu berjalan ke arahnya sambil menyunggingkan senyum yang sama seperti biasa.

"Kau tidak bilang selamat," kata Shen Yu.

"Selamat."

"Dingin sekali." Shen Yu tertawa dan menepuk bahu kanan Jian Chen, bukan yang kiri. Ia sudah tahu bahu kiri itu masih kebas. "Aku pindah ke asrama sekte dalam sore ini. Jaraknya hanya satu gerbang, tapi kau tahu bagaimana aturannya. Murid luar tidak boleh masuk tanpa izin."

"Aku tahu."

"Subuh di belakang gudang kayu masih bisa dilanjutkan. Aku akan menyelinap keluar." Shen Yu mengedipkan mata. "Kau butuh seseorang yang memukul tanganmu kalau siku-mu naik."

"Kau terlalu baik."

"Aku selalu begitu." Ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangan seperti orang yang hendak pergi. "Sampai bertemu di atas, Jian Chen."

Jian Chen mengangguk dan menyaksikan punggung putih biru itu hilang di balik gerbang. Tangannya terasa dingin. Dua puluh tahun yang lalu, ia pernah mengucapkan selamat tinggal yang sama kepada orang yang sama di tempat yang sama, dan ia ingat betul betapa tulusnya ia waktu itu.

Pekan-pekan berikutnya berjalan menurut pola yang tidak berubah. Pagi, apel di lapangan. Siang, kerja bergilir: kebun herbal, gudang kayu, dapur, atau mengangkut batu napas dari tambang yang kini sudah dibuka kembali tanpa lorong empat. Sore, bengkel Dao, tempat Jian Chen memutar roda penghembus dan mendapat dua poin kontribusi per hari. Malam, pondok pengobatan, tempat Lin Xue memeriksa nadinya dan bahu kirinya yang perlahan kembali berasa.

Poin kontribusi menjadi mata uang sehari-hari. Sepuluh poin cukup untuk makan daging seminggu. Lima puluh poin cukup untuk membeli batu napas kelas menengah. Seratus poin cukup untuk menukar sebuah teknik dasar di aula kontribusi. Murid luar berebut tugas bergaji tinggi, dan di atas semua murid luar berdiri satu orang yang memegang daftar tugas itu.

Hari kelima belas bulan keempat, Jian Chen sedang menurunkan peti ramuan di pondok pengobatan ketika terdengar suara sepatu berat di depan pintu. Lin Xue yang sedang menumbuk obat berhenti. Ekspresinya berubah datar.

"Kepala Murid Luar," katanya pelan.

Pintu terbuka. Seorang pria berumur sekitar tiga puluh masuk dengan langkah yang terlalu santai. Wajahnya licin dan tampan dengan cara yang tidak menyenangkan, rambutnya diikat rapi, dan di pinggangnya tergantung cambuk kulit yang ujungnya mengilap karena sering dipakai. Dua murid luar bertubuh besar berdiri di belakangnya.

"Tabib Lin," kata pria itu sambil tersenyum. "Selamat siang."

"Kepala Gu," jawab Lin Xue tanpa menoleh dari lumpangnya. "Ada keperluan?"

"Keperluan kecil." Gu Hong berjalan mengelilingi meja sambil menyentuh toples-toples ramuan dengan ujung jari. "Bulan ini aku memeriksa persediaan semua pondok. Dan aku menemukan bahwa pondok pengobatan memiliki dua belas pil penguat napas kelas satu yang tidak tercatat di aula."

"Pil itu milik Aula Pengobatan. Aku hanya menyimpannya."

"Kalau begitu aku sita. Atas nama ketertiban." Gu Hong mengulurkan tangan. "Serahkan."

Lin Xue menatapnya. "Untuk keperluan apa?"

"Itu urusanku."

"Untuk dirimu sendiri," kata Lin Xue datar. "Atau untuk dijual di Bukit Lampion."

Senyum Gu Hong tidak berubah, tetapi matanya mengeras. "Kau bicara terlalu tajam untuk seorang gadis yang pondoknya masih bergantung pada izin dariku."

Jian Chen meletakkan peti terakhir di rak dan berdiri tegak. Ia tahu kalimat berikutnya. Dalam kehidupan pertama, Gu Hong berhasil menekan pondok pengobatan setahun penuh dengan cara yang sama, sampai Lin Xue terpaksa menyerahkan sebagian ramuannya setiap bulan. Dulu ia tidak pernah tahu. Ia baru mengetahuinya bertahun-tahun kemudian dari catatan lama.

"Kepala Gu," kata Jian Chen.

Gu Hong menoleh. "Siapa kau?"

"Jian Chen, pondok tujuh. Aku bekerja di sini."

"Murid yang diceritakan orang-orang itu." Gu Hong mengamatinya dari atas ke bawah. "Yang menyelamatkan kelompok ketiga. Aku dengar kau suka bicara. Bicaralah, kalau begitu."

"Pasal lima Aturan Murid Luar," kata Jian Chen. "Tabib murid luar hanya tunduk pada Aula Pengobatan, bukan pada Kepala Murid Luar. Persediaan pondok pengobatan tidak boleh disita tanpa surat dari aula itu."

Hening. Salah satu murid di belakang Gu Hong menggeser kaki.

"Kau hafal aturan?" tanya Gu Hong pelan.

"Aku membacanya di gulungan ketiga, aula kontribusi."

"Tidak ada murid luar yang membaca gulungan itu."

"Aku membaca."

"Bagus." Gu Hong tersenyum lagi, lebih lebar dan lebih dingin. "Kau membaca dengan baik. Tapi kau lupa sesuatu. Pasal lima punya pengecualian. Kalau ada dugaan penyelundupan, Kepala Murid Luar berhak memeriksa."

"Dugaan menurut siapa?"

"Menurutku."

"Itu bukan dugaan, itu keinginan," kata Jian Chen. "Kalau ada dugaan sungguhan, tulis laporan, bawa ke aula, dan biarkan tetua memeriksa. Kalau tidak, pasal itu berlaku."

Lin Xue menoleh pada Jian Chen, sebentar saja. Gu Hong menatapnya lama, dan kemudian tertawa pendek.

"Kau tahu apa masalahmu, Nak?" katanya. "Kau terlalu tahu. Orang yang terlalu tahu biasanya tidak panjang umur."

"Mungkin."

"Aku akan mengingat namamu."

"Silakan."

Langkah berat terdengar dari luar. Dao muncul di ambang pintu dengan palu besar di bahu dan wajah berkeringat. "Pelamun, kau sudah selesai? Aku mau..." Ia berhenti. Matanya menatap Gu Hong, lalu dua murid di belakangnya, lalu palunya sendiri. "Oh. Ada tamu."

"Dao," kata Gu Hong dengan nada ramah yang palsu. "Pandai besi. Aku baru mau mengunjungimu."

"Kebetulan. Aku juga mau mengunjungimu, sambil membawa ini." Dao mengangkat palunya sedikit. "Tapi aku tidak tahu dia ada di sini. Mau ikut?"

Gu Hong melirik palu itu, lalu bahu Dao yang selebar pintu. Senyumnya mengendur. "Tidak. Aku sudah selesai." Ia menoleh ke Lin Xue. "Kita bicara lagi bulan depan, Tabib Lin."

"Dengan surat dari aula," balas Lin Xue.

Gu Hong tidak menjawab. Ia berbalik dan keluar bersama dua muridnya, dan suara sepatunya menghilang di jalan tanah. Dao menurunkan palunya sambil menghela napas panjang.

"Wajahnya membuatku ingin memukul sesuatu," kata Dao.

"Palu itu hampir memukulnya," ujar Lin Xue.

"Hampir saja." Dao menyeringai. "Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik." Lin Xue menaruh alu di meja, lalu menoleh pada Jian Chen. Wajahnya tidak seramah biasanya. "Kau tidak perlu melakukannya. Itu urusanku."

"Aku tahu."

"Dia akan menyimpan dendam."

"Ya."

"Kau tetap melakukannya."

"Ya," jawab Jian Chen. "Dan aku akan melakukannya lagi."

Hening sebentar. Lin Xue mengalihkan pandangan. "Dasar keras kepala."

"Kau yang bilang aku aneh," kata Jian Chen.

"Aku bilang kau aneh. Aku tidak bilang kau salah." Lin Xue mengambil gulungan kain dan melemparkannya ke arah Dao tanpa menoleh. "Dao, kalau kau mau berdiri di sini, bantu aku menggulung perban."

"Aku datang untuk memukul orang, bukan menggulung perban."

"Sekarang kau menggulung."

Dao mengomel tetapi menurut. Jian Chen duduk di bangku dan memperhatikan dua orang itu. Di ruang sempit berbau ramuan itu, untuk pertama kalinya ia merasa sesuatu terbentuk tanpa ada yang mengucapkannya: tiga orang yang akan berada di sisi yang sama. Dulu ia tidak punya yang seperti ini. Sekarang ia punya.

"Kita perlu rencana," kata Lin Xue akhirnya. "Gu Hong tidak akan berhenti."

"Aku punya beberapa ide," jawab Jian Chen.

"Aku tahu kau punya," kata Dao sambil menggulung perban. "Kau selalu punya. Aku cuma tidak mau tahu dari mana."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!