Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Laras
Laras berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Beberapa dokumen di atas meja masih harus diperiksa, sementara sejumlah keputusan penting menunggunya.
Tapi, sejak kembali ke ruangannya, pikirannya justru tertuju pada keinginannya untuk meminta bantuan Aryan.
Sesekali, ia membaca dokumen di depannya. Tapi, belum sampai menyelesaikan satu halaman, pikirannya sudah kembali melayang pada kemungkinan yang akan terjadi jika ia benar-benar melibatkan pria itu dalam masalah rumah tangganya.
Apa pria itu akan bersikap profesional? Apa ia bisa mempercayainya?
Laras menyandarkan punggungnya pada kursi, kemudian menghembuskan napas panjang.
Bagaimanapun, Aryan bukan orang asing baginya. Pria itu adalah kakak Salsa, sahabat yang sudah ia kenal sejak lama. Tapi, justru karena itulah, Laras merasa sungkan jika harus menceritakan persoalan rumah tangganya kepada Aryan.
Ia tidak tahu bagaimana pria itu akan memandangnya setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahannya.
Terlebih lagi, Aryan dan Salsa termasuk orang-orang yang sejak awal menentang pernikahannya dengan Robby.
Laras masih ingat bagaimana sikap Salsa saat ia bersikeras mempertahankan keputusan tersebut. Salsa bahkan sempat berusaha membujuknya agar mempertimbangkan kembali pilihannya. Sementara, Aryan tidak banyak bicara, tetapi tatapan matanya sudah cukup menunjukkan semuanya.
Saat itu, ia mengira mereka hanya belum mengenal Robby dengan baik. Ia bahkan sempat merasa tersinggung karena orang-orang terdekatnya seolah tidak mendukung kebahagiaannya.
Tapi, sekarang, semuanya terasa berbeda.
Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja, lalu kembali menatap dokumen di depannya. Bagaimanapun, ia tidak boleh terus membiarkan pikirannya mengganggu pekerjaan.
Tapi, sebelum sempat kembali berkonsentrasi, suara dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan.
Laras meraih ponsel yang terletak di samping dokumen, berniat menjawab panggilan itu seperti biasa. Tapi, begitu melihat nama yang tertera di layar, gerakannya seketika terhenti.
"Mama?" lirihnya.
Kedua matanya langsung terasa panas. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan perasaan yang mendadak membuncah.
Melihat nama Soraya di layar saja sudah cukup membuat pertahanannya goyah.
Laras menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia mengusap sudut matanya sebelum akhirnya menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Ma?"
"Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu, hm?" tanya Soraya dari seberang telepon.
"Aku...." Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha mengendalikan suara yang hampir bergetar. "Aku baik-baik saja, Ma."
"Syukurlah, Sayang. Mama lega mendengarnya."
Mendengar suara Soraya yang hangat, membuat dada Laras semakin sesak. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
"Entah kenapa, beberapa hari ini Mama sering bermimpi buruk. Mama jadi khawatir padamu, Sayang."
Mendengar itu, pertahanan Laras nyaris runtuh.
Ia menundukkan kepala, sementara tangannya mencengkeram ponsel sedikit lebih erat. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada ibunya, tentang luka yang selama ini ia pendam sendirian.
Tapi, ia tidak ingin membuat Soraya khawatir, terlebih karena ibunya masih berada jauh darinya dan sedang mengurus urusan penting.
"Aku baik-baik saja, Ma. Mama tidak perlu khawatir," ucapnya dengan suara bergetar.
Soraya terdiam sejenak di seberang telepon. "Sayang, kenapa kamu menangis?"
Laras tersentak. Ia segera mengusap pipinya. "Aku tidak apa-apa, Ma. Aku hanya merindukan Mama saja." Ia mencoba tertawa kecil untuk menyamarkan kesedihannya. "Kapan Mama akan pulang?"
"Maaf, Sayang. Ternyata, masalah di sini tidak semudah yang Mama kira. Mama masih harus menyelesaikan beberapa urusan. Mungkin bisa sebulan, dua bulan, atau bahkan lebih."
Senyum tipis yang sempat muncul di wajah Laras perlahan menghilang.
Ia tahu, ibunya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sedang ditangani begitu saja. Namun, mendengar Soraya tidak akan pulang dalam waktu dekat, membuat hatinya terasa berat.
"Oh, begitu."
Laras menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.
"Ma, ada yang ingin aku katakan."
"Apa, Sayang?"
Laras melirik dokumen yang tergeletak di atas meja. "Perusahaan Megantara mengajukan kerja sama. Mereka ingin membangun kawasan komersial dan membutuhkan dana investasi yang cukup besar dari perusahaan kita. Tapi, aku belum mengambil keputusan karena masih menunggu rincian anggaran dan pembagian keuntungannya. Menurut Mama bagaimana?"
Alih-alih langsung memberikan pendapat, Soraya justru tertawa kecil.
"Astaga, Laras. Kamu bukan orang yang baru terjun ke dunia bisnis. Kamu tahu betul keputusan apa yang harus kamu ambil."
Laras terdiam. Ia tidak menyangka ibunya akan memberikan jawaban seperti itu.
"Jadi, Mama percaya padaku?"
"Tentu saja, Sayang," ucap Soraya. "Mama percaya padamu. Kamu sudah belajar banyak hal selama ini. Mama juga tahu kamu tidak akan mengambil keputusan sembarangan, apalagi dengan niat menghancurkan perusahaan kita."
Laras menunduk. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyum kecil.
"Jadi, apa pun keputusan yang kamu ambil, Mama akan mendukungnya," lanjut Soraya.
Mata Laras kembali terasa panas, tetapi kali ini bukan semata-mata karena kesedihan. Ada kehangatan yang memenuhi dadanya saat mendengar kepercayaan ibunya.
"Tapi, bagaimana kalau kita mengalami kerugian?" tanya Laras setelah terdiam beberapa saat.
Soraya tidak langsung menjawab.
Laras bisa mendengar suara napas ibunya dari seberang telepon sebelum wanita itu akhirnya berbicara.
"Kalau begitu, kamu harus berusaha mencari cara agar kita tidak mengalami kerugian besar. Setiap proyek tidak selamanya berjalan mulus. Terkadang, kita sudah merencanakan semuanya dengan baik, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan."
Laras menyimak setiap ucapan ibunya.
"Tapi, ada hal lain yang harus kamu ingat, Sayang. Dalam bisnis, tidak semua orang yang bekerja sama dengan kita memiliki niat baik. Ada orang-orang yang kita percaya, tetapi justru menusuk kita dari belakang demi keuntungan pribadi."
Jari-jari Laras perlahan mengepal. Tanpa sadar, pikirannya langsung tertuju pada Robby. Ia menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegelisahannya meskipun Soraya tidak bisa melihat ekspresinya.
"Orang-orang seperti itu harus kita singkirkan agar hidup kita tenang," lanjut Soraya.
Laras masih terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu menusuk. Seolah-olah ibunya sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar nasihat bisnis.
"Termasuk keluarga maupun kerabat kita sendiri," tambah Soraya dengan nada tegas.
Laras tertegun.
Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata-kata. Kedua tangannya mengepal erat, sementara pikirannya kembali dipenuhi berbagai kejadian yang belakangan ini membuat hatinya hancur.
Selama ini, ia selalu menganggap suaminya sebagai tempat untuk berlindung. Ia juga percaya ikatan pernikahan menjadi alasan bagi seseorang untuk saling menjaga.
Tapi, bagaimana jika orang yang seharusnya melindunginya justru menjadi sumber luka?
Laras memejamkan mata sejenak. Ucapan Soraya membuatnya semakin yakin dengan keputusannya.
"Baik, Ma. Aku mengerti," jawabnya akhirnya.
Soraya tidak mengetahui apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran putrinya. Ia hanya melanjutkan pembicaraan dengan beberapa nasihat lain, mengingatkan Laras agar menjaga kesehatan dan tidak terlalu memaksakan diri dalam bekerja.
Perlahan, suasana percakapan mereka kembali mencair.
Soraya menceritakan beberapa hal ringan mengenai kegiatannya di luar negeri. Dan, Laras sesekali menanggapi dengan senyum kecil, berusaha menikmati waktu bersama ibunya meskipun hanya melalui sambungan telepon.
Dan, setelah panggilan berakhir, tatapan Laras berubah tajam. Jarinya bergerak, mencari nama yang tersimpan di daftar kontak, lalu menekan ikon panggil.
"Bisa kita bertemu?"
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti