NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Kara mengerjap pelan saat merasakan hangatnya sinar mentari pagi menerobos masuk dan menyilaukan matanya.

Begitu kelopak matanya terbuka sempurna, ia langsung memegangi kepalanya yang masih berdenyut pusing. Lalu ia mengedarkan pandangannya kedepan, mengamati sekeliling ruangan dengan kening yang berkerut dalam.

"Lah, gue ada di mana ini?" batinnya.

Saat Kara ingin menggerakkan tubuhnya, ia merasakan ada beban aneh yang menindihnya. Lalu ia menunduk, dan mengamati tangan kekar yang melingkari perutnya.

"Sejak kapan tangan Anya jadi gede gini?" gumamnya pelan.

Lalu, ia menoleh perlahan. Jantungnya langsung berhenti seketika saat mendapati tubuh Erlangga sedang berbaring pulas di sebelahnya.

Mata Kara langsung membelalak lebar. "Kyaaaa! Lo ngapain ada di sini, anjir?!" teriaknya sambil menendang tubuh Erlangga ke samping, sampai tubuh pria itu langsung terjatuh ke lantai.

Bug!

"Aakh!" lenguh Erlangga.

Dengan gerakan cepat, Kara langsung menarik selimut hingga sebatas dada, lalu membungkus tubuhnya rapat-rapat bagai kepompong.

"Lo apain gue, Erlangga?!" teriaknya lagi dengan nafas yang terengah-engah.

Erlangga yang baru saja sadar dari tidurnya akibat hantaman keras itu, perlahan bangkit dari lantai. Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit, ditambah dengan lehernya yang terasa kaku. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sudah berantakan, dan beberapa kancing kemeja atasnya tampak lepas.

Mendengar tuduhan tak berdasar itu, rahang Erlangga langsung mengeras. Ia menatap Kara dengan tatapan kesal yang luar biasa.

"Harusnya gue yang tanya sama lo! Lo apain gue semalam, sialan?!" geram Erlangga dengan suara serak khas bangun tidur.

Kara langsung menunjuk dirinya sendiri. "Gue? Gue yang apain lo? Nggak salah?!" cibir Kara sambil memutar bola matanya malas. "Yang ada lo yang udah grepe-grepe gue semalam! Dasar cowok mesum!"

"Gue mesum?" Erlangga langsung mendengus tak percaya.

Dengan gerakan perlahan, Erlangga merangkak naik kembali ke atas ranjang. Kara yang melihat itu refleks memundurkan tubuhnya hingga mentok ke kepala ranjang.

Erlangga kemudian menarik kerah kemejanya yang longgar, memperlihatkan area leher dan dada atasnya yang dipenuhi oleh bercak merah keunguan akibat gigitan Kara.

"Lo lihat ini? Lo tahu bekas apa ini?" tanya Erlangga, sambil menunjuk tanda itu.

Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tanda yang tampak ganas itu. "Ngapain lo tanya gue?! Ya mana gue tahu itu bekas apa!"

"Bekas gigitan lo, Lengkara! Lo harus tanggung jawab," desis Erlangga sambil memajukan wajahnya hingga memangkas jarak di antara mereka.

"Ogah!" Kara langsung memalingkan wajahnya ke samping, memanyunkan bibirnya dengan ketus. "Lagian gue nggak mungkin ya gigit lo sampai kayak gitu. Kayak kurang kerjaan aja gue. Lo jangan mengada-ada deh!"

Mendengar kalimat itu, Erlangga langsung menaikkan sebelah alisnya. "Lo butuh bukti?"

"Nggak! Gue nggak butuh! Gue mau pulang sekarang!" sentak Kara sambil menyibakkan selimut dan bersiap untuk melompat turun dari ranjang. Namun, belum sempat kakinya menyentuh lantai, pergelangan tangannya sudah dicekal erat oleh Erlangga

"Gue nggak akan biarin lo pulang sebelum lo tanggung jawab, Lengkara."

Kara langsung menoleh sambil menghela nafas pasrah. "Oke, oke! Gue minta maaf kalau gue emang udah gigit lo kayak gitu. Lagian gue juga nggak inget sama sekali. Lo pasti tahu kan kalau semalam gue itu mabuk berat?!"

"Hanya minta maaf?"

"Ya iyalah, terus lo maunya apa?! Jangan ngelunjak deh, Erlangga!" sentak Kara, wajahnya mulai memerah karena kesal.

"Gue udah nggak perjaka karena lo... dan lo cuma minta maaf?"

"Heh! Jaga mulut lo, ya!" Pekik Kara sambil melotot ke arah Erlangga. "Gue cuma gigit lo doang, nggak ngapa-ngapain lo! Jangan ngarang deh!"

"Lo yakin nggak ngapa-ngapain gue semalam?" Erlangga langsung menyeringai tipis. "Atau lo mau lihat rekaman CCTV ulang adegan ketika lo nerkam gue di atas kasur kayak singa kelaparan? Atau lo mau lihat..."

Sebelum Erlangga menyelesaikan kalimat laknatnya itu, Kara dengan gerakan cepat langsung mencondongkan tubuhnya dan membungkam mulut pria itu menggunakan telapak tangannya.

"Stop, Erlangga! Cukup!" potong Kara setengah menjerit dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus. "Lo mau gue tanggung jawab, kan? Baik, gue akan tanggung jawab! Lo mau apa sekarang? Mau gue nikahin lo?!" tantang Kara asal bicara karena terlanjur emosi.

Erlangga melepaskan telapak tangan wanita itu dari mulutnya secara perlahan. Senyum kemenangan terukir jelas di wajah tampannya. "Ya. Nikahin gue sekarang."

"Oke! Siapa takut! Ayo kita omongin sama orang tua kita kalau lo emang berani!" gertak Kara yang sudah tersulut emosi.

Dengan langkah cepat, ia langsung menarik paksa tangan Erlangga, menyeret pria itu untuk keluar dari kamar demi menyelesaikan perdebatan konyol ini.

Namun, begitu Kara memutar knop pintu dan membukanya, seluruh keberanian dan emosi yang meluap-luap di dalam dadanya mendadak lenyap seketika. Kakinya membeku di ambang pintu. Matanya membelalak lebar, sementara mulutnya terbuka sedikit karena syok yang teramat sangat.

Tepat di ruang tengah, di atas sofa abu-abu yang empuk, empat orang paruh baya sedang duduk berjejer rapi sambil memegang cangkir teh masing-masing. Pemandangan itu sukses membuat jantung Kara ingin melompat pada tempatnya.

"Papa? Mama? Om... Tante?"

Pegangan tangannya pada pergelangan tangan Erlangga langsung ia lepaskan begitu saja.

"Sejak kapan kalian ada di sini?" tanyanya dengan nada yang langsung menciut.

1
Fulayah Haddad
Bagus, Amazing..........👍👍🤗😉😉 lanjut lg dong Thor, ditungguuu.............😉👌👌🫰🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!