Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Reyna mengambil ponselnya dari nakas. Ia tidak mencari di kontak, karena nomor yang ia cari sudah dihapus dari ponselnya lima tahun lalu atas perintah Richard.
Ia membuka browser, mengetik nama sebuah firma hukum kecil di pinggiran kota yang sudah tidak populer lagi. Valerian & Associates.
Situs webnya masih ada, meskipun terlihat usang dan jarang diperbarui. Di halaman 'Tentang Kami', terdapat foto seorang pria paruh baya dengan wajah lelah namun mata yang tajam. Vincent.
Reyna menemukan nomor telepon kantor di bagian bawah.
Dengan jari yang mantap, ia menekan tombol panggil.
Satu dering. Dua dering. Tiga dering.
"Halo, Valerian Legal. Ada yang bisa saya bantu?" Suara seorang resepsionis terdengar lelah.
"Sambungkan saya dengan Tuan Vincent Valerian," ucap Reyna tegas.
"Tuan Vincent sedang dalam rapat dengan klien. Bisa saya...."
"Katakan padanya bahwa 'Elena' sedang menunggunya," potong Reyna.
Elena. Nama mendiang ibu Reyna. Satu-satunya kata kunci yang bisa membuat Vincent mengangkat teleponnya, bahkan jika ia sedang tidur.
Hening sejenak di seberang sana. Lalu terdengar suara gagang telepon yang diletakkan dengan tergesa, diikuti suara langkah kaki yang berlari.
"Reyna?" Suara Vincent terdengar di ujung sana, terdengar lebih tua dan lebih lelah dari yang Reyna ingat, namun masih memiliki ketajaman yang sama. "Apakah ini... Reyna Arland? Apa kau dalam bahaya? Kenapa kau menggunakan nama itu?"
Reyna memejamkan mata, merasakan sedikit kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ada satu orang di dunia ini yang tulus peduli padanya.
"Aku tidak dalam bahaya, Tuan Vincent. Tapi aku akan segera berada dalam perang," ucap Reyna, suaranya kembali dingin dan penuh determinasi. "Dan aku butuh jenderal terbaik yang pernah dikenal ibuku. Bisakah kita bertemu? Sekarang."
Di seberang sana, Vincent terdiam sejenak, seolah memproses situasi. Kemudian, suara berat itu kembali, kali ini dengan nada serius yang familiar.
"Kantor saya. Satu jam lagi. Bawa semua dokumen yang tidak ingin ayahmu lihat, Nak. Kita punya banyak pekerjaan rumah."
Reyna tersenyum. Kali ini, senyumnya tulus, meski tipis.
"Siap, Tuan Vincent. Sampai jumpa."
Gagal telepon. Reyna meletakkan ponselnya. Langkah pertama sudah selesai. Aliansi telah terbentuk. Sekarang, saatnya mempersiapkan senjata.
Ia menoleh ke arah lemari pakaiannya. Ia butuh pakaian yang tepat. Bukan gaun mewah yang membuatku terlihat seperti boneka, tapi setelan jas yang membuatku terlihat seperti pemilik tahta.
Hari ini, Reyna Arland yang lama mati. Dan sang Ratu baru saja mulai bermain.
Reyna berdiri di depan lemari pakaian walk-in berukuran raksasa itu. Barisan gaun couture berwarna pastel, gaun malam berpayet, dan rok-rok lembut yang selalu ia pakai untuk menyenangkan mata Julian dan Richard terpampang rapi. Dulu, ia memilih pakaian-pakaian itu agar terlihat manis, tidak mengancam, dan mudah dikontrol.
Hari ini, tangan Reyna melewati semua warna lembut itu.
Jemarinya berhenti pada sebuah setelan jas hitam tailor-made dengan potongan tajam di bagian bahu. Ia menariknya keluar, memasangkannya dengan kemeja sutra putih yang dikancingkan hingga ke leher, dan celana bahan hitam yang jatuh sempurna di atas sepatu heels runcing berwarna matte.
Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai lembut kini diikat ketat dalam gaya low bun yang rapi dan tegas.
Ketika ia menatap cermin lagi, gadis naif yang haus cinta itu sudah tidak ada. Yang menatap balik dari kaca adalah seorang eksekutif. Seorang predator.
Reyna mengambil tas kulit hitamnya, memastikan flashdisk dan buku catatan kecil ibunya tersimpan aman di dalam saku dalam. Ia turun ke lantai dasar.
Di ruang tengah, Richard dan Julian sedang berbisik dengan wajah tegang. Begitu mendengar bunyi langkah kaki Reyna, keduanya langsung menoleh. Suasana canggung dan penuh kecurigaan langsung menyelimuti ruangan.
"Reyna, kau mau ke mana?" tanya Richard, suaranya berusaha terdengar tegas namun ada nada khawatir yang tipis, takut jika Reyna benar-benar lari dan membuat rencana mereka berantakan. "Kita belum selesai membahas dokumen itu."
Reyna tidak berhenti melangkah. Ia berjalan melewati mereka, menatap lurus ke depan. "Aku ada urusan di luar, Pa. Urusan yang tidak bisa ditunda. Jangan tunggu aku untuk makan malam."
"Reyna, tunggu!" Julian mencoba menahan lengannya, namun Reyna menepis tangan pria itu dengan gerakan yang begitu cepat dan tajam hingga Julian tersentak mundur.
"Jangan sentuh aku, Julian," desis Reyna, matanya menyipit menatap pria itu. "Dan Pa, kalau kau mencoba memblokir rekening pribadiku atau memindahkan aset atas namaku sebelum aku kembali, aku akan langsung mengirim salinan audit forensik ke komite direksi dan media. Kita sama-sama tahu siapa yang akan hancur lebih dulu."
Tanpa menunggu respons, Reyna membuka pintu utama dan melangkah keluar menuju mobilnya. Ia bisa merasakan tatapan terpaku kedua pria itu di punggungnya. Mereka tidak berani mengejarnya. Ancaman Reyna barusan cukup untuk membuat mereka lumpuh sementara waktu.