NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pintu geser van medis hitam itu dibuka paksa dari luar oleh Hendra. Marco langsung bergerak cepat membaringkan tubuhku di atas brankar medis yang sudah disiapkan di dalam kabin. Dua orang dokter pribadi berbaju steril langsung bergerak sigap. Salah satu dari mereka memasangkan selang oksigen ke hidungku, sementara yang lain menusukkan jarum infus ke punggung tanganku untuk mengalirkan cairan penawar racun.

"Billy, tancap gas sekarang! Keluar dari area perimeter ini!" teriak Hendra sambil membanting pintu van hingga tertutup rapat.

Di kursi depan, Billy yang sejak tadi menahan napas langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil van medis itu melesat dengan kecepatan penuh, membelah jalanan setapak di antara pohon pinus sebelum akhirnya berhasil masuk ke jalan raya kota yang sepi di tengah malam. Keringat dingin mengucur deras di pelipis Billy, tangannya yang memegang setir masih tampak gemetar. Ia sesekali melirik ke arah spion tengah dengan raut cemas.

"M-Marco... Bu Arini bagaimana? Dia... dia masih bernapas, kan?!" tanya Billy panik. "Pak Dikta.. pasti akan menguliti kita semua hidup-hidup dan membuang kita ke laut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Bu Arini! Kau tahu sendiri betapa berharganya Bu Arini bagi Den Arkan!"

Aku menoleh perlahan ke arah samping tempatku berbaring, mencoba menghirup oksigen sedalam mungkin. Di sampingku, Marco sedang duduk di kursi kecil, satu tangannya memegang erat tiang botol infus agar alirannya tetap stabil.

"Fokus saja Billy! Jangan banyak bertanya jika kau masih ingin melihat matahari terbit!" jawab Marco. Ia mencoba meredam kepanikan sopir pribadi yang ketakutan itu.

Setelah membentak Billy, Marco kembali memandang ke arahku. Tatapannya yang tadi menyeramkan kini melunak, dipenuhi rasa iba dan hormat yang besar. "Bu Arini jangan tidur. Dengar kan saya, semuanya sudah selesai, ingat Den Arkan, dia masih membutuhkan Ibu," lirih Marco memberi harapan agar aku punya semangat untuk hidup.

Sementara itu, Hendra yang duduk di kursi penumpang depan terus mengetik sesuatu di laptop taktisnya dengan cepat hingga menembus dinding pertahanan siber protokol keamanan penjara.

"Jalur komunikasi aman dan terenkripsi tingkat tinggi telah siap. Marco, komunikasi ke Lapas Sektor Satu sudah terbuka sekarang," ucap Hendra tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar tegang. "Waktu kita hanya tiga menit sebelum sistem pertahanan siber lapas mendeteksi infiltrasi frekuensi ini. Pak Dikta sudah tersambung di garis aman. Bicaralah."

Marco langsung menegakkan posisi duduknya. Ia meraih ponsel berenkripsi dari kantongnya dan menekan tombol speaker dengan cepat. Ia meletakkannya di dekat brankar tempatku berbaring agar suaranya Dikta terdengar jelas oleh kami semua di dalam kabin van.

"Pak Dikta, Anda bisa mendengar saya? Ini Marco," ucap Marco dengan sikap sigap, seolah sang bos besar sedang berdiri langsung di hadapannya.

Suara terdengar tidak jelas yang selama dua detik, sampai akhirnya suara itu digantikan oleh sebuah suara bariton yang sangat berat, dan dingin.

"Marco. ada Laporan," titah Dikta dari seberang telepon dengan nada datar.

"Tugas selesai, Pak," jawab Marco dengan tegas. "Dokumen tanah sektor empat berhasil dikunci sepenuhnya oleh sistem. Kuburan finansial untuk Wijaya Group sudah aktif dan tidak bisa dibatalkan lagi. Kami juga telah berhasil mengevakuasi Bu Arini dari lokasi penyekapan."

Suara napas berat Dikta terdengar menggema melalui pengeras suara van, menciptakan suasana yang mencekam di dalam mobil yang sedang melaju.

"Bagaimana kondisi Arini? Apakah dia terluka?" tanya Dikta, dan setiap kata yang diucapkannya terasa seperti mata pisau yang siap mengoyak siapa saja.

Marco melirik ke arahku yang terbaring lemah. "Buruk, Pak. Keluarga Wijaya menyuntikkan zat kimia saraf dosis tinggi ke tubuh Bu Arini agar mau menandatangani surat pembatalan blokir bank sentral. Saat ini tim dokter kita sedang melakukan berusaha untuk menstabilkan detak jantungnya."

"Zat kimia saraf...? Arman... Salma... dan keparat Bagas. Mereka benar-benar sudah bosan hidup." Dikta mengepal tangan, raut wajahnya bercampur antara cemas dan kemarahan yang sudah memuncak.

"Apa perintah Anda selanjutnya Pak?" tanya Marco tanpa ragu.

"Hancurkan mereka tanpa sisa, Marco. Jangan sisakan satu pun dari mereka untuk bisa menghirup udara bebas besok pagi. Serahkan semua berkas ilegal kepemilikan tanah sektor empat ke Kejaksaan Agung subuh ini juga. Biarkan bajingan-bajingan itu menyaksikan seluruh kekayaan, aset, dan dinasti Wijaya Group runtuh total di depan mata mereka saat matahari terbit nanti," perintah Dikta dengan dingin yang kejam, "Dan untuk Bagas... pastikan tangannya yang berani menyentuh, menyiksa, dan menyakiti Arini tidak akan pernah bisa berfungsi normal lagi seumur hidupnya. Buat dia cacat permanen."

"Dimengerti, Pak. Perintah segera dilaksanakan subuh ini juga," jawab Marco dengan patuh.

"Jaga Arini, Marco. Katakan padanya untuk tetap bertahan demi putraku," ucap Dikta,

Sambungan telepon langsung terputus secara otomatis oleh sistem keamanan. Marco menurunkan ponselnya perlahan, lalu kembali menatapku yang sejak tadi mendengarkan seluruh percakapan mengerikan itu dari atas blangkar.

"Tetaplah bertahan. Penawar racunnya sudah mulai bekerja," bisik Marco pelan demi menenangkanku.

Aku memejamkan mata secara perlahan, membiarkan obat penenang itu bekerja. Perlahan, kesadaranku mulai kembali. Rasa kantuk yang berat mulai berangsur pergi.

Tubuhku terasa kaku dan punggung tanganku nyeri akibat jarum infus. Bunyi bip... bip... bip... yang teratur dari mesin monitor detak jantung menjadi suara pertama yang kudengar.

"Ibu? Ibu Arini sudah sadar?"

Suara itu datang dari sebelah kanan. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk memperjelas pandangan. Marco memanggilku demi memastikan kesehatanku. Ia sedang duduk dan masih mengenakan kemeja taktisnya. Wajahnya yang biasa kaku kini terlihat jauh lebih tenang.

"Di mana aku, Marco?" tanyaku dengan suara serak. Tenggorokanku terasa sangat kering.

Marco langsung berdiri dan memberikan segelas air hangat lewat sedotan. "Ibu ada di safe house medis milik Pak Dikta di pinggiran kota. Tempat ini aman. Dokter bilang kondisi Ibu sudah stabil karena penawar racunnya bekerja dengan baik."

Aku meminum air itu sedikit untuk memulihkan tenaga. Saat melihat sekeliling, kamar ini tidak seperti bangsal rumah sakit biasa, melainkan kamar khusus dengan peralatan medis yang lengkap. Di balik tirai jendela yang sedikit terbuka, cahaya fajar mulai terlihat.

"Bagaimana situasi di luar?" tanyaku lirih.

"Tepat jam empat subuh tadi, Kejaksaan Agung sudah menerima semua dokumen ilegal Sektor Empat. Saat ini media berita sedang menyiarkan penangkapan Salma dan Arman Wijaya atas kasus korupsi dan pencucian uang."

"Lalu... Mas Bagas?" tanyaku lagi, mengingat betapa kejamnya pria itu, rela menyiksaku demi uang.

"Hendra dan tim sudah mengurusnya di gudang pelabuhan," jawab Marco datar. "Pak Dikta memastikan kedua tangannya terluka parah dan tidak akan bisa berfungsi normal lagi. Sekarang dia sudah diserahkan ke aparat hukum.

Aku mengembuskan napas panjang. Rasa cemas yang mengganjal selama beberapa hari ini akhirnya hilang. Wijaya Group benar-benar runtuh dalam satu malam.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Seorang perawat berjalan masuk sambil menggendong seorang bayi yang baru terbangun.

"Den Arkan, apa itu kamu, Nak?" Seketika mataku berkaca-kaca menatap pipi gembulnya yang sudah berubah. Terlihat kurus, seperti tidak terurus. Meskipun hubungan kami yang terbangun lewat cairan ini, namun hatiku merasa sangat dekat dengannya.

Aku membelai kepalanya yang berambut halus dengan tangan yang bebas. Air mataku menetes pelan karena terharu diberi kesempatan untuk kembali menggendongnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!