Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
"Mas tidak suka kamu dekat-dekat dengan Cristian, sayang." Ucap Elio sepeninggal Cristian.
"Apa aku boleh tahu alasannya?." Diva menggunakan kesempatan ini untuk meyakinkan dugaannya, apa benar Elio cemburu pada Cristian atau ada hal lain yang mendasari.
Elio menatap Diva yang kini telah berpindah ke kursi kerjanya, sedangkan Elio masih pada posisinya, duduk di sofa single.
"Suami manapun pasti tidak akan suka bila istrinya dekat-dekat dengan pria yang pernah mengungkapkan rasa sukanya terhadap istrinya, Diva."
Deg.
"Jadi, tuan Cristian pernah menyukai Calista?." Batin Diva, Cukup terkejut dengan pengakuan secara tidak langsung suaminya itu.
Sesaat kemudian, Diva sadar akan sesuatu. Sesuatu yang selama ini membuat sikap Calista berubah posesif pada Elio.
"Jika mas tidak suka istri mas dekat-dekat dengan pria yang pernah mengungkapkan perasaannya terhadap istri mas, lalu mengapa mas justru melakukan hal yang sama pada nona Erin?." Tanpa sadar air mata Diva jatuh, teringat bagaimana terlukanya hati Calista setiap kali melihat bagaimana dengan tidak tahu malunya Erin mendekati suaminya.
Menyadari tangisan istrinya, Elio langsung mendekat dan memeluk Diva.
"Maafkan mas yang sebelumnya tidak pernah percaya dengan kata-kata kamu dan malah memihak pada Erin, sayang. Sungguh, mas menyesal pernah bersikap sebodoh itu." Melihat air mata istrinya membuat hati Elio seperti teriris pisau.
"Sekarang mas akan selalu percaya apapun yang terucap dari mulut kamu, sayang." Elio semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut kehilangan istrinya.
"Bagaimana bila aku katakan aku ini bukan istri mas, apa mas akan percaya?." Entah bodoh atau terlalu terbawa suasana atas kepercayaan Elio terhadapnya, hingga kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Diva.
Elio mengurai pelukannya, bukan karena marah, namun karena pertanyaan itu bukan pertama kalinya terlontar dari mulut istrinya. Ia menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, menengadahkan dagu Diva agar dapat membalas tatapannya.
"Kalaupun benar demikian, mas tidak peduli. Mas akan tetap mencintaimu, sayang."
"Hiks....hiks....hiks..." Tangis Diva semakin pecah. "Aku juga mencintaimu, mas." Kini Diva yakin bahwa perasaannya untuk Elio bukan hanya sekedar kagum akan visual pria itu, melainkan sebuah perasaan cinta yang mulai tumbuh karena kebersamaan mereka selama hampir sebulan terakhir.
*
Di tempat yang berbeda, wanita yang selama ingin dianggap Calista sebagai sahabat baiknya, justru sedang bertemu dengan seseorang yang selama ini dibenci oleh Calista. Siapa lagi wanita itu kalau bukan indah, wanita munafik yang hanya menjadikan Calista sebagai sumber uang baginya.
"Untuk apa kau mengajakku bertemu?." Mimik wajah Erin terlihat begitu dingin.
"Jangan bersikap seolah anda alergi bertemu dengan saya, nona Erin!."
Erin menelan ludah mendengar kata-kata berbau sindiran dari mulut Indah. Dengan menahan geram, ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Indah. Erin menyapu pandangan ke seisi ruangan restoran untuk memastikan tidak ada yang mengenali dirinya di sana, tepatnya tidak melihatnya bertemu dengan Indah.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?." Ketus Erin.
Indah mengetuk pelan meja dengan telunjuknya dan seutas senyum pun terbit di sudut bibirnya.
"Saya butuh uang sebesar lima puluh juta dan saya rasa uang lima puluh juta sangat kecil bagi anda, nona Erin."
"Apa kau pikir aku ini orang tuamu, sehingga seenaknya saja kau meminta uang padaku, hah?." Bentak Erin yang hampir kehabisan kesabaran menghadapi wanita dihadapannya itu.
Bukannya marah dikatai demikian, Indah malah tersenyum. "Jangan membentakku seperti itu, Nona Erin! Apa anda tidak takut bila sampai tuan Elio tahu semua kebusukan anda, hm?." Indah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi tuan Elio kalau sampai tahu jika malam itu istrinya bukannya sengaja menenggak racun, melainkan ada seseorang yang sengaja memasukkan racun ke dalam minumannya."
"Cukup! Aku akan memberikan uang yang kau inginkan." Dengan perasaan geram Erin merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya kemudian mentransfer uang sejumlah lima puluh juta ke rekening milik Indah.
"Done. Aku sudah mentransfer uang yang kau inginkan. Setelah ini, jangan lagi menampakkan wajahmu dihadapanku! Kalau kau tidak mengindahkan peringatan dariku, maka jangan salahkan aku bila pada akhirnya aku melakukan tindakan kejam terhadapmu!." Setelahnya, Erin bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja, meninggalkan Indah yang tersenyum senang setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
*
Pada malam harinya.
Di sebuah taman yang berada di tengah kota, di sinilah Elio dan Diva berada sekarang. Awalnya Elio berencana mengajak Diva ke sebuah pusat perbelanjaan, karena tahu betul bahwa istrinya paling suka shopping. Namun, ditengah perjalanan tiba-tiba Diva meminta Elio menepikan mobilnya di sebuah taman kota yang nampak ramai. Ada pasangan muda-mudi, ada pula pasangan suami-istri yang tengah mengajak buah hati mereka bermain dan masih banyak lagi tipikal pengunjung lainnya yang juga hadir di taman kota tersebut malam itu.
"Mas..."
"Iya sayang."
"Apa aku boleh beli jajanan itu?." Dengan wajah berbinar, Diva menuding ke arah pedagang jagung bakar yang mangkal di pinggiran taman kota.
Elio tak langsung menjawab. Pria itu terdiam untuk waktu yang cukup lama. Bukannya tidak mengizinkan atau menganggap jajanan itu kurang higienis, namun yang jadi pertanyaan dihati Elio, sejak kapan istrinya doyan jagung? Padahal jagung dalam bentuk popcorn pun Calista tidak doyan. Setiap kali menonton bioskop, Elio tidak pernah membeli popcorn karena istrinya tidak menyukainya.
"Mas..." Seruan Diva disertai sentu-han lembut wanita itu pada pundaknya akhirnya menyadarkan Elio dari lamunannya.
"Iy_iya sayang?."
"Apa boleh, mas?."
"Tentu saja boleh, sayang." Elio akhirnya mengiyakannya. Mereka berjalan menghampiri tempat dagangan si bapak kemudian Diva memesan dua buah jagung bakar varian keju manis.
Setelah pesanan siap, Diva langsung menyantapnya. Elio sampai tidak dapat berkata-kata, istrinya yang sekarang memiliki kebiasaan yang berbanding terbalik dengan istrinya yang dikenalnya dulu. Bagaimana tidak, istrinya yang sekarang nampak begitu menikmati jagung bakar sementara istrinya yang dikenalnya dulu jangankan untuk menikmati, mengendus aromanya saja tak suka.
"Bagaimana jika kenyataannya aku ini bukan istri kamu mas?." Pertanyaan Diva tiba-tiba kembali terlintas di pikiran Elio.
"Tidak mungkin, Elio.... Tidak mungkin dia bukan istrimu, Calista." Batin Elio sebelum membalas senyuman manis istrinya.
Elio menyeka noda keju di sudut bibir istrinya dengan ibu jarinya.
Diva sedikit kaget dengan tindakan tiba-tiba Elio hingga tubuhnya sedikit menegang.
Walaupun hatinya masih bertanya-tanya mengapa istrinya tiba-tiba doyan jagung, Elio memilih tidak membahasnya. Ia tidak ingin sampai pembahasan mengenai itu justru merusak suasana malam ini.
Elio dan Diva baru kembali ke rumah pada pukul sepuluh malam. Mereka mendapati Elhan telah tertidur di kamarnya.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣