**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - BAYANGAN DARI SELAT MALAKA
Layar televisi di sudut ruang kerja baruku menayangkan siaran warta berita ekonomi maraton tanpa henti.
Volume suaranya sengaja diturunkan hingga menyisakan dengung halus, namun teks berjalan (running text) berwarna merah menyala di bagian bawah layar sudah cukup untuk merangkum kekacauan yang melanda pasar modal sejak pembukaan bel bursa pagi ini:
[BREAKING NEWS] KEJAKSAAN AGUNG RESMI TAHAN RAYMOND ZHOU ATAS KASUS PENCUCIAN UANG SENGKETA DERMAGA BARAT.
[MARKET UPDATE] SAHAM ARKANA CAPITAL TERKENA SUSPENSI PERDAGANGAN HINGGA BATAS WAKTU TIDAK DITENTUKAN; SELURUH ASSET JAMINAN DIKENDALIKAN KURATOR VARELL GROUP.
Dua puluh empat jam setelah malam lelang di Grand Hyatt, pembersihan di tingkat permukaan tampak berjalan sempurna tanpa cela.
Namun, di atas meja kaca hitam ruanganku, sebuah berkas intelijen taktis berkode Black-Lotus-07 terbentang terbuka di bawah sorotan lampu baca. Kertas tipis berstempel Mata-Mata Maritim Singapura itu memuat sebuah foto satelit inframerah bertanggal tadi malam, pukul dua puluh tiga lewat empat puluh menit.
Foto sebuah kapal kargo raksasa berbendera Panama, MV Leviathan, yang mematikan transponder sistem identifikasi otomatis (AIS) tepat saat melintasi perairan perbatasan Selat Philip menuju Laut Natuna Utara.
"Dia tidak menggunakan penerbangan komersial seperti ayahnya," suara bariton Adrian memecah kesunyian ruangan.
Aku mengangkat pandanganku dari berkas tersebut.
Adrian berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gerimis tipis menyapu atap-atap gedung pencakar langit Jakarta. Jas kerjanya tersampir di sandaran sofa kulit, menyisakan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung rapi hingga ke bawah siku. Di tangan kanannya, sebuah gelas kristal berisi wiski dengan sebongkah es bulat berputar perlahan, memantulkan bias cahaya lampu gantung.
"Gavin Zhou tahu bahwa daftar cekal imigrasi Indonesia dan Interpol sudah memblokir seluruh paspor resminya sejak penangkapan Raymond semalam," lanjut Adrian, berbalik dan melangkah perlahan menghampiri mejaku. "Satu-satunya cara dia bisa masuk ke teritorial kita adalah melalui jalur tikus perairan dangkal di kepulauan riau menggunakan kapal tanpa manifes resmi."
Aku menatap foto buram di atas meja. Di sana, di samping kapal kargo itu, tampak siluet tiga perahu cepat taktis berkecepatan lima puluh knot yang biasa digunakan oleh pasukan khusus militer.
"Berapa banyak anak buah yang dia bawa?" tanyaku datar, jemariku yang dihiasi cincin giok hitam mengetuk pelan permukaan meja kaca.
"Dua tim regu serbu kontraktor militer swasta Black Trident," jawab Adrian tanpa ragu, menyebut nama firma tentara bayaran paling kejam yang beroperasi di kawasan Afrika Timur dan perairan Asia Pasifik. "Total dua puluh empat personel terlatih. Mantan anggota komando maritim yang dipecat karena kejahatan perang. Mereka tidak membawa dokumen hukum atau surat utang seperti Raymond Zhou, Nadia. Mereka membawa senapan serbu teredam, bahan peledak plastis C4, dan perintah eliminasi mutlak."
Udara di dalam ruangan terasa membeku seketika.
Jika Raymond Zhou adalah racun finansial yang berusaha mencekik Arlena Holding melalui jeratan surat utang dan manipulasi hukum, maka Gavin Zhou adalah peluru panas yang ditembakkan tepat ke jantung musuh tanpa perlu banyak bicara.
Di kehidupan pertamaku, aku baru mengetahui tentang eksistensi Gavin Zhou di tahun keenam pernikahanku dengan Ryan. Ryan yang biasanya arogan dan suka membentak pelayan mendadak gemetar bagai anak kucing yang ketakutan setiap kali sebuah nomor satelit dengan awalan kode acak menelepon ponselnya. Ryan akan mengunci diri di ruang kerja selama berjam-jam, menerima instruksi dari pria bernama Gavin itu untuk mencuci miliaran dana selundupan ke rekening yayasan keluarga Arlena.
Dan ketika aku menemukan jejak transfer dana gelap itu beberapa hari sebelum kematianku... Ryan panik. Bukan karena ia takut pada polisi, melainkan karena ia tahu bahwa Gavin Zhou tidak pernah membiarkan saksi hidup yang mengetahui jalurnya.
"Ryan Arkana hanyalah anjing peliharaan yang diberi makan remah-remah oleh Gavin," gumamku serak, bayangan malam pembantaian di apartemen lantai tiga puluh dua itu kembali merayap di pelupuk mataku bagai hantu yang menolak pergi. "Ryan tidak punya nyali untuk memegang pisau itu sendiri jika Gavin tidak berdiri di ambang pintu, mengawasinya seperti instruktur yang sedang melatih muridnya mengeksekusi mangsa."
Adrian berhenti tepat di seberang mejaku. Matanya yang hitam kelam menyipit tajam, menangkap nada kebencian mendalam yang bergetar di balik suaraku.
"Kamu bicara seolah-olah kamu pernah melihat Gavin Zhou berdiri di depan matamu sendiri, Nadia," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan rasa penasaran yang pekat.
Aku terdiam selama satu detik. Tatapanku mengunci kedua matanya tanpa sedikit pun gentar.
"Saya melihatnya di dalam mimpi terburuk saya, Tuan Varell. Mimpi di mana keluarga saya dimusnahkan dan kota ini dibakar oleh keserakahan mereka. Dan mimpi itu... terlalu nyata untuk saya abaikan begitu saja."
Adrian tidak menyanggah. Bagi pria yang telah kehilangan ayahnya dalam konspirasi helikopter berdarah tujuh tahun lalu, ia tahu betul bahwa insting bertahan hidup yang diasah oleh rasa dendam sering kali melampaui logika rasional apa pun.
Perlahan, Adrian meletakkan gelas wiskinya di atas tatakan kayu, lalu membungkuk sedikit, menatapku dengan jarak yang begitu dekat hingga aroma tembakau dingin dan wiski tercium samar dari napasnya.
"Gavin Zhou tidak akan langsung menyerang gedung ini," bisik Adrian, membedah pola pikir sang komandan tentara bayaran. "Gedung Arlena Holding saat ini dipenuhi pengamanan terbuka dan sorotan kamera media dua puluh empat jam. Gavin adalah pemburu taktis. Dia akan mencari titik paling rapuh yang berada di luar jangkauan kamera wartawan."
"Ethan," desisku seketika.
"Bukan hanya Ethan," sahut Adrian dingin. "Ibumu, Maria Arlena, yang saat ini berada di rumah sakit menjaga adikmu. Dan... fasilitas penyimpanan logistik bahan bakar dermaga barat yang baru saja kamu menangkan tadi malam."
Jantungku berdegup kencang bagaigenderang perang yang ditabuh liar.
Tentu saja. Taktik klasik serigala Selat Malaka: menciptakan kekacauan berskala besar di fasilitas ekonomi strategis untuk memecah konsentrasi aparat keamanan, lalu mengeksekusi target utama dalam kekosongan perlindungan.
Jika kilang penyimpanan bahan bakar di dermaga barat diledakkan malam ini, seluruh pelabuhan ibu kota akan lumpuh total. Kerugian materialnya bisa mencapai ratusan triliun rupiah, dan pemerintah akan membekukan izin konsesi Arlena Holding atas dasar kegagalan menjaga keamanan objek vital nasional. Dan di tengah kepanikan pemadaman kebakaran dan evakuasi massal itu... Gavin Zhou bisa dengan mudah menyusup ke Rumah Sakit Pertamina untuk melenyapkan Ethan dan Ibuku tanpa meninggalkan jejak sidik jari.
Rencana pembantaian yang luar biasa sistematis dan kejam.
"Pukul berapa kapal kargo MV Leviathan itu dijadwalkan merapat di perairan dangkal luar Teluk Jakarta?" tanyaku tegas, seluruh kepanikan di dalam diriku terkikis habis, digantikan oleh kalkulasi matematis yang dingin.
"Pukul dua dini hari," jawab Adrian seraya melirik jam tangan peraknya. "Tepat saat air laut pasang tertinggi dan kabut laut menutupi radar navigasi syahbandar."
Aku bangkit berdiri dari kursi kepemimpinanku. Setelan jas biru safir gelap yang kukenakan bergerak anggun mengikuti langkahku menuju panel peta taktis di dinding ruang kerja.
Tanganku menunjuk sebuah pulau karang kecil tak berpenghuni yang terletak lima mil laut di luar jalur masuk pelabuhan barat: Pulau Damar Barat.
"Di sini," kataku dengan suara yang dingin bagai es kutub. "Pulau ini memiliki mercusuar tua peninggalan era kolonial yang sudah tidak difungsikan sejak tahun sembilan puluhan. Di bawah mercusuar itu, terdapat dermaga sandar tersembunyi yang dulu digunakan oleh kakek saya untuk menyelundupkan pasokan medis darurat selama krisis masa lalu. Gavin Zhou pasti akan menggunakan titik ini untuk memindahkan tim serbunya dari kapal kargo ke perahu cepat sebelum meluncur ke daratan utama."
Adrian melangkah mendekat, berdiri tepat di samping bahuku, mengamati titik koordinat yang kutunjuk. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis—senyuman seorang jenderal yang melihat pasangannya memahami seni perang dengan sempurna.
"Dan kamu ingin kita menyambut putra mahkota Sembilan Teratai itu di sana?" tanya Adrian pelan.
"Bukan sekadar menyambut, Tuan Varell," sahutku seraya menoleh, menatap tepat ke manik matanya yang kelam. "Saya ingin memotong tentakel militer mereka sebelum kakinya sempat menyentuh pasir daratan pulau ini."
"Menyerang kapal asing di luar batas perairan resmi pelabuhan bisa memicu insiden diplomatik antarnegara, Nadia," Adrian menguji tekadku dengan nada dingin.
"Kapal itu mematikan transponder AIS dan tidak memiliki manifes pelayaran resmi di otoritas pelabuhan internasional," balasku tanpa keraguan sedikit pun. "Di mata hukum maritim internasional, MV Leviathan saat ini berstatus sebagai kapal bajak laut bersenjata tanpa perlindungan hukum bendera negara mana pun. Jika kapal itu tenggelam di palung laut lima ratus meter di luar pulau karang... tidak ada satu pun kedutaan besar yang berani mengeluarkan nota protes resmi."
Adrian menatapku lurus selama beberapa detik yang membeku. Di balik ketenangan matanya, aku bisa melihat riak kegembiraan yang buas—gairah seorang penguasa bayangan yang menemukan sekutu paling berbahaya dan tak kenal ampun di atas bumi ini.
"Bastian!" panggil Adrian dengan suara lantang yang menggelegar di dalam ruangan.
Pintu kaca terbuka seketika. Asisten pribadi Adrian melangkah masuk dengan langkah cepat dan membungkuk hormat. "Saya, Tuan Besar."
"Hubungi pangkalan armada khusus Varell Maritime Security di Kepulauan Seribu," perintah Adrian tanpa ragu. "Aktifkan dua kapal patroli serbu siluman kelas Trisula. Perintahkan Kapten Ronald untuk memuat torpedo ringan berpemandu akustik dan perlengkapan selam tempur malam."
Mata Bastian berbinar tajam. "Perintah keterlibatan tembak, Tuan?"
"Tembak untuk menenggelamkan," jawab Adrian dingin bagai malaikat maut. "Jangan biarkan satu pun serpihan lambung kapal kargo itu mengapung kembali ke permukaan laut."
"Siap, Tuan Besar!" Bastian segera berbalik dan melangkah keluar seraya menempelkan telepon satelit terenkripsinya ke telinga.
Setelah Bastian pergi, Adrian kembali menatapku. Tangannya terulur perlahan, menyentuh pipiku yang dingin dengan punggung jemarinya yang hangat dan kokoh. Sentuhan itu begitu lembut, sebuah kontras yang mencolok dari aroma kematian dan kehancuran yang baru saja kami bicarakan.
"Operasi laut malam ini akan ditangani langsung oleh armada saya, Nadia," bisik Adrian rendah, ada nada protektif yang tak tersamarkan dalam suaranya. "Tetaplah di sini, di bawah pengamanan gedung ini bersama ayahmu."
Aku menepis tangannya perlahan namun tegas. Sudut bibirku terangkat membentuk seringai mematikan yang tak gentar sedikit pun.
"Sepuluh tahun yang lalu, saya mati di atas lantai apartemen yang dingin karena saya hanya bisa menunggu dan berharap pada belas kasihan orang lain, Adrian," kataku, untuk pertama kalinya menyebut nama depannya secara langsung tanpa embel-embel formalitas. "Di kehidupan ini, saya tidak akan pernah lagi duduk manis di belakang meja sementara orang lain menumpahkan darah untuk masa depan saya."
Aku melangkah menuju lemari rahasia di balik panel dinding ruanganku, mengeluarkan sebuah tas nilon hitam kedap air yang telah dipersiapkan sejak subuh tadi. Di dalamnya terdapat seragam tempur taktis hitam tanpa atribut, rompi antipeluru serat kevlar tingkat empat, dan sepasang sarung tangan kulit khusus operasi malam.
"Saya ikut ke Pulau Damar Barat malam ini," lanjutku dengan tatapan sedingin baja tempa. "Saya ingin melihat wajah Gavin Zhou saat ia menyadari bahwa gadis yang ia kira sebagai mangsa lemah... adalah sosok yang menarik pelatuk kuburannya sendiri."
Adrian terpaku menatapku selama beberapa detik. Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, diisi oleh deru angin malam yang mulai memukul kaca jendela gedung Arlena Holding.
Alih-alih melarang atau menentang keputusanku, tawa rendah yang sarat akan kekaguman mutlak akhirnya lolos dari bibir sang penguasa Varell Group. Pria itu menyambar mantel panjangnya dari sofa, lalu melangkah mendampingiku menuju pintu keluar darurat pribadi.
"Kalau begitu, bersiaplah, Ratuku," bisik Adrian di samping telingaku saat kami melangkah keluar dari ruangan. "Malam ini... kita akan mengubah air Selat Malaka menjadi merah pekat."
Pukul nol satu lewat tiga puluh menit dini hari.
Perairan di sekitar gugusan Pulau Damar Barat diselimuti kegelapan total dan kabut laut yang tebal. Hujan gerimis telah reda, menyisakan deburan ombak hitam yang menghantam tebing-tebing karang tajam dengan suara menderu yang konstan. Tidak ada cahaya bintang, tidak ada sinar bulan. Seluruh horizon laut tampak bagai jurang tak berdasar yang siap menelan apa pun yang berani melintas.
Dua kapal patroli siluman Trisula milik Varell Group meluncur tanpa suara di atas permukaan air. Bodi kapal yang terbuat dari material komposit penyerap gelombang radar dilapisi cat hitam doff khusus, membuat kedua kapal tempur cepat itu nyaris tak kasat mata di tengah pekatnya malam. Mesin turbin airnya dirancang dengan peredam suara bawah air generasi terbaru, hanya menghasilkan desau riak air yang menyatu sempurna dengan deburan ombak alami.
Di dek komando kapal patroli utama, aku berdiri di samping Adrian.
Aku telah mengenakan seragam tempur taktis hitam pas badan, rambut panjangku diikat kencang di balik topi balaklava yang hanya menampakkan sepasang mataku yang berkilat dingin. Rompi antipeluru membebat dadaku dengan kokoh, dan di paha kananku, terselip sebuah pistol semi-otomatis berperedam suara kaliber sembilan milimeter.
Adrian berdiri di sebelahku dengan perlengkapan tempur serupa, memegang teropong penglihatan malam (night vision binoculars) berteknologi termal militer.
"Target terlihat pada jarak seribu dua ratus meter di arah lambung kiri," lapor Kapten Ronald, perwira komando armada Varell, melalui mikrofon radio internal yang terpasang di helm taktis kami. "Kapal kargo MV Leviathan baru saja mematikan mesin utamanya dan membuang jangkar terapung di balik tebing karang selatan pulau."
Aku mengambil teropong termal cadangan dan mengarahkannya ke arah yang ditunjukkan.
Melalui lensa berpendar hijau keemasan itu, siluet raksasa kapal kargo berbobot dua puluh ribu ton itu tampak menjulang bagai monster besi di tengah kegelapan laut. Panas dari cerobong asapnya masih memancarkan radiasi termal kuning kemerahan. Dan di dek lambung bawah kapal, sebuah derek hidrolik sedang menurunkan sebuah perahu cepat taktis berawak ke permukaan laut.
Tujuh siluet tubuh manusia berkekuatan termal tinggi terlihat melompat turun ke atas perahu cepat tersebut.
Salah satu siluet itu tampak lebih tinggi dan tegap dari yang lain, berdiri di haluan perahu dengan mantel tempur panjang dan sebilah senapan serbu laras pendek tergantung di dadanya.
Gavin Zhou.
Bahkan dari jarak lebih dari satu kilometer menembus kabut laut, aura kekejaman dan dominasi mutlak yang memancar dari sosok pria itu terasa begitu nyata menusuk udara malam.
"Perahu cepat target mulai bergerak menuju dermaga tua mercusuar," bisik Kapten Ronald tegang. "Mereka membawa peluncur granat portabel dan detonator nirkabel jarak jauh. Perkiraan waktu mendarat di pulau: empat menit."
"Di mana kapal kedua kita?" tanya Adrian dingin tanpa menurunkan teropongnya.
"Kapal Trisula Dua sudah berada di posisi penyergapan di sisi timur palung laut, Tuan. Siap melepaskan dua torpedo ringan ke ruang mesin MV Leviathan begitu Anda memberi komando mutlak."
Adrian menoleh sedikit ke arahku di balik temaram lampu konsol navigasi yang berwarna merah redup. Sepasang matanya menatapku dengan intensitas yang menuntut keputusan akhir.
"Kapal kargo itu adalah pangkalan logistik utama mereka di wilayah perairan ini, Nadia," bisik Adrian rendah melalui mikrofon helm kami. "Jika kita menenggelamkannya sekarang, Gavin Zhou dan tim serbunya akan terisolasi di pulau karang ini tanpa jalur evakuasi atau bantuan amunisi cadangan. Namun hal itu akan memicu baku tembak jarak dekat di area tebing mercusuar."
Aku menarik tuas kokang pistol berperedam di paha kananku dengan gerakan tenang dan terlatih. Suara klik mekanisnya terdengar renyah dan dingin di udara malam.
"Tenggelamkan kapalnya, Tuan Varell," perintahku tanpa ragu sedetik pun. "Tutup pintu pelarian mereka ke laut. Biarkan serigala-serigala Selat Malaka itu menyadari... bahwa pulau ini bukanlah pintu masuk mereka menuju ibu kota, melainkan liang lahat yang telah dipersiapkan khusus untuk menyambut kepulangan mereka."
Adrian menarik sudut bibirnya membentuk seringai kejam di bawah helm taktisnya. Pria itu menyalakan saluran radio komando tempur gabungan dengan satu tekanan jari.
"Seluruh elemen serbu armada Varell: Eksekusi Operasi Palung Hitam," perintah Adrian dengan suara bariton yang sarat vonis kematian. "Tenggelamkan MV Leviathan. Hancurkan setiap jejaknya di dasar laut."
"Perintah diterima!" sahut suara dari saluran radio.
Dari kejauhan, di sisi timur tebing karang, dua jejak gelembung putih berkecepatan tinggi melesat membelah air laut yang gelap gulita. Torpedo ringan berpemandu akustik berakselerasi dengan kecepatan lima puluh knot di bawah permukaan ombak, mengunci frekuensi dengung generator tambahan di ruang lambung bawah kapal kargo raksasa itu.
Tiga... dua... satu...
DUAAARRRR!
Ledakan bawah air pertama menghantam lambung tengah MV Leviathan dengan kekuatan daya hancur ratusan kilogram bahan peledak tinggi. Air laut seketika menyembur ke udara membentuk kolom air raksasa setinggi tiga puluh meter yang diterangi oleh kobaran api oranye pekat.
Belum sempat kapal kargo itu miring, torpedo kedua menghantam tepat di ruang kompartemen tangki bahan bakar minyak solar di bagian buritan.
BLAAASSTTTT!
Bola api raksasa meledak membubung ke langit malam, merobek kabut tebal dan menerangi seluruh perairan Pulau Damar Barat bagai siang hari yang mengerikan. Lambung baja kapal kargo berbobot puluhan ribu ton itu terbelah menjadi dua bagian dengan suara derit logam yang memekakkan telinga. Jeritan panik para awak kapal yang tersisa tertelan oleh deru kobaran api dan gemuruh air laut yang merangsek masuk ke dalam kompartemen yang hancur.
Hanya dalam tempo kurang dari sembilan puluh detik, raksasa besi itu tersedot masuk ke dalam palung laut berkedalaman lima ratus meter, menyisakan pusaran air berbuih hitam yang dipenuhi serpihan kayu dan tumpahan minyak yang terbakar di atas permukaan ombak.
Pangkalan logistik Konsorsium Sembilan Teratai... telah musnah tak berbekas di dasar laut Nusantara.
Di dermaga tua mercusuar yang berjarak delapan ratus meter dari lokasi ledakan, perahu cepat yang membawa Gavin Zhou seketika terombang-ambing liar akibat gelombang kejut yang melanda perairan dangkal.
Melalui teropong termal, aku bisa melihat sosok Gavin Zhou yang berdiri di haluan perahu menatap ke arah kobaran api di tengah laut dengan tubuh yang membeku kaku. Sosok sang putra mahkota sindikat yang biasanya tak tersentuh itu tampak terperangah di bawah langit yang memerah oleh bara api kapalnya sendiri.
Rencana penyusupan rahasianya telah hancur sebelum sempat dimulai.
"Kapten Ronald," suara Adrian kembali berdentum dingin di dek komando. "Arahkan haluan kapal patroli kita langsung ke pantai dermaga batu mercusuar. Pasukan serbu satu dan dua bersiap melakukan pendaratan amfibi."
"Siap, Tuan Besar!"
Dua kapal patroli siluman Trisula berakselerasi penuh, membelah ombak pasang malam dengan kecepatan maksimal menuju tebing mercusuar yang curam.
Aku berdiri tegak di haluan kapal, membiarkan angin laut yang berbau mesiu dan minyak terbakar menerpa wajahku. Darah di dalam nadiku berdesir panas oleh kobaran dendam yang akhirnya menemukan mangsa puncaknya.
Gavin Zhou... pria yang di masa laluku memerintahkan pembantaian keluargaku dari balik bayang-bayang... kini terperangkap di atas pulau karang terisolasi ini bagai tikus di dalam sangkar baja.
Dan aku... bersama sang raja kegelapan di sampingku... sedang melangkah turun dari atas ombak untuk menagih setiap tetes darah yang pernah ia renggut dari kehidupanku yang dulu.
Babak Kedua perang berdarah di Selat Malaka... baru saja mencapai titik didih paling mematikan.
Bersambung...
[HEADLINE] SELENA MARVIA DIPINDAHKAN KE RUTAN WANITA PONDOK BAMBU DENGAN PENGAWALAN KETAT BARESKRIM POLRI.