AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: RAHASIA DIBALIK KEBUN KARET
Sejak kejadian bungkusan santet Kembang Kantil itu, Arga jadi sangat protektif. Sangat posesif bahkan. Dia tidak lagi berangkat ke kebun karet subuh-subuh jam 4 pagi seperti biasanya. Sekarang dia berangkat jam 7 pagi, setelah memastikan aku dan Salsa sudah bangun, sudah sarapan nasi goreng gosong buatanku, dan pintu serta jendela rumah sudah terkunci rapat dari dalam dengan kayu palang besar.
"Salsa jangan main di luar pagar bambu ya, Nak. Main di dalam saja sama Bunda. Jangan ke kebun belakang," pesan Arga setiap pagi sebelum berangkat dengan motor trailnya.
Salsa yang biasanya bandel, lincah, dan suka lari-lari ke kebun karet mengejar kupu-kupu, sekarang jadi penurut. Dia hanya main di dalam rumah, main boneka kelinci bersama aku. Mungkin dia merasakan ketegangan dan hawa takut yang menyelimuti rumah bocor ini.
Pagi itu, hari ketiga aku tinggal di rumah bocor itu, aku sudah mulai agak betah dan mulai terbiasa. Mual hamilku di pagi hari sudah sedikit berkurang, tidak separah hari pertama. Aku sudah mulai belajar masak nasi yang tidak gosong, belajar mencuci baju Salsa yang setiap hari penuh tanah dan lumpur, dan belajar menggendong Salsa di samping sambil mengelus perutku sendiri yang masih rata tapi sudah ada kehidupan di dalamnya.
Siang itu, saat Arga masih di kebun dan Salsa tertidur siang di kamar, Bu Minah datang lagi membawakan singkong rebus hangat dan sambal terasi yang pedasnya nampol. Bu Minah memang tetangga paling baik di desa ini, meskipun mulutnya agak ember.
"Nduk Kirana, Arga di mana? Di kebun?" tanya Bu Minah sambil duduk di kursi kayu reot dan menyodorkan singkong rebus.
"Iya, Bu. Di kebun karet belakang. Katanya lagi nyadap getah," jawabku sambil mengambil singkong itu.
Bu Minah menatap ke arah kebun karet yang rimbun, gelap, dan tinggi-tinggi di belakang rumahku. Wajahnya yang tadinya ramah langsung berubah menjadi serius dan sedikit takut.
"Nduk, Bu Minah mau cerita sesuatu, tapi kamu jangan bilang Arga ya kalau Bu Minah yang cerita. Nanti Arga marah besar sama Bu Minah dan tidak boleh main ke sini lagi," bisik Bu Minah pelan, hampir tidak terdengar.
Aku mengangguk penasaran. "Cerita apa, Bu?"
Bu Minah mendekat dan berbisik di telingaku, "Kebun karet yang di belakang rumahmu itu, Nduk... itu bukan kebun karet biasa. Itu kebun karet angker."
Jantungku berdebar kencang. "Maksudnya, Bu? Angker gimana?"
"Dulu, Nduk, sebelum jadi kebun karet yang rimbun seperti sekarang, tanah di belakang itu adalah pemakaman. Pemakaman umum lama. Pemakaman tua peninggalan zaman Belanda. Makanya tanahnya subur sekali, hitam, gembur, bagus untuk karet. Tapi... tapi banyak yang bilang tanah itu dihuni. Angker. Tidak boleh diganggu."
Pemakaman? Kebun karet di belakang rumahku yang setiap hari aku lihat itu adalah bekas pemakaman?
Bulu kudukku langsung berdiri semua. Merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Dulu, waktu Arga masih kecil, masih SD, bapaknya Pak Karim, mantan Kades itu, pernah mau jual tanah itu ke orang kota. Harganya murah. Tapi tidak ada satu orang pun yang mau beli, Nduk. Katanya kalau malam, dari dalam tanah itu sering terdengar suara orang menangis. Suara perempuan menangis. Dan suara bayi menangis melengking. Padahal tidak ada orang di sana."
Suara bayi menangis. Sama seperti mimpi buruk Mira sebelum meninggal yang diceritakan Arga tadi malam.
"Terus kenapa bisa jadi kebun karet, Bu? Kok bisa?"
"Karena Pak Karim nekat, Nduk. Orang desa bilang dia sudah diperingatkan Mbah Joyo jangan digusur, tapi dia tidak percaya. Dia tebang semua pohon beringin besar yang ada di tengah pemakaman itu, yang katanya sarang kuntilanak, dia gusur semua batu nisan yang sudah tidak ada namanya, yang sudah miring-miring, terus dia tanami karet. Sejak itu, hasil karetnya memang paling banyak, paling bagus se-Desa Wonorejo. Getahnya banyak. Uangnya banyak. Tapi... sejak itu juga keluarga Pak Karim sering dapat musibah. Satu per satu."
Bu Minah menghitung dengan jarinya, "Pertama, ibunya Arga, Bu Ratna, meninggal mendadak sakit keras. Padahal masih muda. Kedua, Mira, istri pertama Arga, meninggal pendarahan saat melahirkan Salsa. Ketiga, Rendo, adiknya Arga, jadi anak nakal, berandal, kabur-kaburan. Terus sekarang... sekarang kamu, Nduk. Kamu diteror santet."
Aku membeku mendengar rentetan musibah keluarga Pak Karim itu.
"Bu Minah curiga, Nduk. Santet Kembang Kantil itu bukan dari orang desa yang iri. Tapi dari penunggu kebun itu sendiri. Dari arwah yang tidak terima tanah pemakamannya digusur jadi kebun karet. Arwah yang marah."
Teori Bu Minah memang masuk akal tapi juga sangat menyeramkan dan tidak masuk akal di zaman modern.
Sore harinya, sekitar jam 5 sore saat matahari sudah mulai oranye, Arga pulang dari kebun dengan wajah lelah dan sepatu boot penuh lumpur. Aku mencoba bertanya pelan-pelan sambil menyodorkan air putih.
"Pak, kebun karet di belakang itu... dulu bekas apa, Pak? Bekas sawah ya?"
Arga yang sedang mencuci kaki di sumur langsung terdiam. Gayung di tangannya berhenti di tengah jalan. Air dari gayung tumpah ke kakinya.
"Siapa yang cerita ke kamu?" tanyanya dingin, tanpa menoleh.
"Bu Minah..." jawabku jujur.
"Bu Minah lagi! Sudah kubilang jangan percaya omongan Bu Minah! Mulutnya itu! Kenapa kamu masih dengarkan dia?!" bentaknya, tapi kali ini tidak terlalu keras. Lebih ke nada lelah dan frustasi.
Aku diam, takut.
Arga menghela napas panjang dan duduk di balai bambu samping sumur, di sampingku.
"Iya, benar. Dulu bekas pemakaman. Pemakaman Belanda yang sudah tidak dipakai. Bapakku yang gusur tahun 1998 dulu. Waktu itu aku masih SMP. Bapakku bilang, daripada jadi sarang ular kobra dan sarang jin, mending jadi kebun karet yang menghasilkan uang. Dan memang benar, hasil kebun itu yang biayai aku dan Rendo kuliah sampai sarjana. Yang biayai pernikahanku sama Mira dulu. Yang biayai hidup kami sekeluarga."
"Tapi apa Bapak tidak takut, Pak? Tidur di dekat bekas kuburan?"
"Dulu aku tidak takut, Kir. Aku tidak percaya hantu, tidak percaya setan. Aku anak IPA, aku logis. Tapi setelah Mira meninggal... setelah Mira mimpi didatangi nenek-nenek dari kebun itu... aku jadi takut, Kir. Aku jadi percaya."
Arga menatap kebun karet yang sudah mulai gelap karena matahari sudah terbenam.
"Malam sebelum Mira meninggal, Mira bilang dia mimpi didatangi nenek-nenek tua berambut putih panjang, bajunya putih, dari arah kebun karet belakang. Nenek itu berdiri di bawah pohon beringin besar di tengah kebun dan bilang dengan suara serak, 'Kembalikan tanahku, kembalikan anakku, jangan ambil tanahku'. Mira terbangun nangis histeris dan langsung pendarahan hebat malam itu juga."
Sama persis dengan yang dikatakan Bu Sumi tadi malam. Balikin anakku.
Malam itu, Arga melarangku keluar rumah. Tapi rasa penasaranku, rasa takutku, dan rasa ingin tahuku lebih besar daripada rasa takutku.
Sekitar jam 10 malam, setelah Arga dan Salsa tertidur pulas di depan pintu kamar, aku mengendap-endap keluar dari kamar. Aku membawa lampu teplok kecil yang minyaknya sudah hampir habis.
Aku berjalan pelan ke arah kebun karet belakang. Semakin dekat ke kebun, semakin dingin hawanya. Angin malam berhembus dingin menusuk tulang. Bau tanah basah bercampur bau getah karet yang menyengat dan bau bunga kamboja yang harum menusuk.
Di tengah kebun karet yang gelap gulita itu, ada sebuah pohon beringin besar yang tidak ditebang. Satu-satunya pohon beringin yang masih berdiri kokoh, besar sekali, di tengah ribuan pohon karet yang kecil-kecil. Pohon itu sangat besar, akarnya menjalar kemana-mana di atas tanah seperti ular raksasa yang sedang melilit. Daunnya rimbun menutupi bulan.
Di bawah pohon beringin itu, ada sesuatu yang membuat jantungku hampir copot, hampir berhenti berdetak.
Ada sebuah batu nisan tua. Batu nisan yang masih berdiri tegak, tidak digusur oleh Pak Karim. Batu nisan itu berlumut hijau tebal, miring sedikit, tulisannya sudah hampir hilang dimakan waktu. Tapi masih bisa terbaca samar-samar jika didekati dengan lampu teplok.
Di batu nisan itu tertulis dengan pahatan yang sudah aus: MIRAH BINTI KROMO - LAHIR 1932 - WAFAT 1950 - MATI MELAHIRKAN
Mirah. Bukan Mira, tapi Mirah. Nama yang hampir sama persis dengan Mira, istri pertama Arga.
Mati melahirkan. Sama seperti Mira yang meninggal tahun 2022 juga karena mati melahirkan.
Dan di bawah batu nisan itu, tepat di atas tanah yang basah, ada bungkusan kain hitam yang masih baru. Masih hangat berasap. Sama persis seperti yang aku temukan di depan pintu dapur kemarin pagi. Di atas bungkusan kain hitam itu, ada sebuah foto. Foto aku. Foto yang diambil diam-diam dari jauh saat aku sedang menyapu halaman kemarin sore, memakai daster biru.
Foto aku yang sedang hamil, perutku masih rata, dicoret-coret dengan darah ayam segar yang masih menetes.
Aku menjerit sekeras-kerasnya sampai tenggorokanku sakit.
"ARGA! PAK ARGA! TOLONG!"
Arga yang tidur di depan pintu langsung terbangun kaget dan lari ke kebun dengan golok tajam di tangannya, bersama Salsa yang menangis ketakutan digendongnya.
Saat Arga sampai di bawah pohon beringin dan melihat batu nisan itu dan bungkusan hitam berisi fotoku itu, wajahnya yang biasanya dingin dan tegar itu langsung pucat seperti mayat, putih pasi, tidak ada darahnya.
"Kirana! Jangan sentuh! Jangan sentuh bungkusan itu!" teriaknya histeris.
Dia mengambil bungkusan itu dengan ujung goloknya dan melemparkannya jauh-jauh ke sungai kecil di belakang kebun dengan tenaga penuh.
"Kenapa Bapak tidak pernah cerita kalau masih ada satu nisan yang tidak digusur, Pak?! Kenapa Bapak bohong lagi?!" tanyaku sambil menangis histeris, tubuhku gemetar hebat.
Arga terdiam lama, menatap batu nisan itu dengan tatapan kosong, tatapan penuh luka dan duka yang mendalam.
"Karena... karena itu nisan ibu kandungku sendiri, Kir," jawab Arga dengan suara pelan hampir berbisik.
Apa? Ibu kandungnya?
"Ibu kandungku namanya Mirah. Bukan Ratna. Ratna itu ibu tiriku, ibunya Rendo. Ibu kandungku meninggal tahun 1950 saat melahirkan aku. Umurnya baru 18 tahun. Mati pendarahan hebat di rumah ini juga, di kamar yang sekarang kamu tiduri. Mati melahirkan aku. Sama seperti Mira meninggal melahirkan Salsa."
Aku membeku. Tidak bisa berkata apa-apa. Lututku lemas.
Jadi Mirah binti Kromo itu adalah ibu kandung Arga sendiri. Yang meninggal melahirkan Arga tahun 1950 karena pendarahan hebat. Dan Mira, istri pertama Arga, meninggal tahun 2022 juga karena pendarahan saat melahirkan Salsa di rumah yang sama. Dan sekarang aku, istri kedua Arga, yang sedang hamil 8 minggu, diteror santet yang sama, di rumah yang sama, di kebun yang sama.
Ini bukan kebetulan. Ini bukan santet kiriman orang iri. Ini kutukan. Kutukan berdarah.
Kutukan kebun karet bekas pemakaman. Kutukan keluarga Pak Karim. Kutukan perempuan-perempuan yang mati melahirkan di tanah angker ini.
Arga memelukku erat di bawah pohon beringin besar itu, di depan batu nisan ibu kandungnya sendiri yang meninggal 73 tahun lalu.
"Maafkan aku, Kir. Aku baru ingat cerita Bapakku. Bapakku pernah bilang, keluarga kami dikutuk oleh penunggu kebun ini. Setiap perempuan yang hamil dan tinggal di rumah ini dan dekat dengan kebun ini, akan mati pendarahan. Tidak ada yang selamat. Ibuku mati begitu. Mira mati begitu. Dan sekarang..."
Arga tidak melanjutkan kalimatnya. Dia memelukku semakin erat, seolah-olah jika dia lepaskan, aku akan hilang dan mati seperti ibu dan istrinya.
"Aku tidak akan biarkan kamu mati seperti mereka, Kir. Kita pergi dari sini. Besok pagi kita pergi dari Wonorejo. Kita ke kota. Kita tinggal di kontrakan di kota. Tinggalkan kebun ini. Tinggalkan kutukan ini."
Tapi aku tahu di dalam hatiku, kutukan tidak bisa dihindari hanya dengan pergi dari desa ini. Karena bungkusan santet itu sudah ada fotoku di dalamnya. Berarti yang mengirim, entah itu manusia atau arwah penunggu kebun, sudah menargetkan aku secara pribadi. Sudah mengincar aku dan anak di dalam perutku.
Siapa? Siapa perempuan yang iri itu? Apakah arwah Mirah, ibu kandung Arga, yang iri karena Arga menikah lagi dan membawa perempuan hamil lain ke rumah peninggalannya? Atau ada orang lain, manusia, yang menggunakan arwah Mirah itu untuk mengirim santet Kembang Kantil?
Di bawah pohon beringin besar yang angker itu, di tengah kebun karet bekas pemakaman Belanda yang dingin, di depan batu nisan ibu kandung Arga yang meninggal tragis saat melahirkan, aku menyadari satu hal yang membuat darahku membeku.
Aku tidak hanya harus belajar menjadi ibu untuk anak orang lain, yaitu Salsa. Aku juga harus memutus kutukan berdarah yang sudah membunuh dua perempuan sebelum aku di keluarga ini, di rumah ini, di tanah ini.
Kalau tidak, aku akan menjadi korban ketiga. Korban ketiga dari kutukan keluarga Pak Karim. Dan anak yang ada di dalam perutku yang baru 8 minggu itu akan menjadi yatim piatu bahkan sebelum sempat lahir ke dunia, sebelum sempat melihat wajah ayahnya.
---