Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PESTA MEWAH DAN CINCIN BERLIAN
Tiga hari kemudian, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Suasana di aula utama hotel bintang lima yang paling megah di pusat kota tampak teramat fantastis dan berkilau. Karangan bunga mawar segar berjejer rapi di sepanjang karpet merah menuju aula utama, membawa ucapan selamat ulang tahun untuk sang putri klan Ye: Kamilah Ye.
Lampu-lampu gantung kristal yang megah membiaskan cahaya keemasan di setiap sudut ruangan, memantulkan kemewahan para tamu undangan kelas atas yang hadir mengenakan gaun dan tuksedo mahal.
"Wah, ramai sekali ya malam ini..."
Sebuah suara bernada santai nan percaya diri terdengar dari arah pintu masuk. Sosok pria tegap berwajah rupawan yang mengenakan jas buatan penjahit terbaik dunia melangkah masuk dengan gaya yang begitu dominan—Rizky Syah.
Pria itu berjalan mendekati Roya Ye dan teman dekatnya, Syahril, yang sedang berdiri menyambut tamu.
"Rizky Syah... kamu ini benar-benar tebal muka ya!" bentak Roya Ye dengan intonasi suara yang teramat sengit dan dingin. "Seingatku, aku sama sekali tidak menyebarkan surat undangan untukmu!"
Syahril yang berdiri di samping Roya Ye justru tertawa kecil, menyunggingkan senyum mengejek. "Sudahlah, Roya... Siapa pun yang datang ke sini adalah tamu. Berikan dia sedikit muka di hadapan para undangan."
Roya Ye mengepalkan tangannya rapat-rapat, rahangnya mengerasa menahan emosi yang membakar dadanya.
Sialan! Kalau bukan karena proyek-proyek bisnis besar belakangan ini yang membuat perusahaan harus melepas banyak keuntungan jika memutuskannya... aku pasti sudah menarik kerah bajunya dan melemparkannya keluar dari hotel ini! raung Roya Ye dalam hatinya dengan gusar.
Tiba-tiba, mata Syahril mendongak menatap ke arah tangga melingkar di lantai dua. "Wah... lihat ke atas! Selamat datang sang bintang utama ulang tahun kita... Kamilah!"
Mendengar nama itu, semua tamu di dalam aula serentak menengok ke atas. Kamilah berjalan anggun di balkon lantai dua, mengenakan gaun malam berwarna merah muda berhias kristal yang menjuntai indah. Gadis itu tersenyum manis ke arah bawah, melambaikan tangannya dengan lembut.
Rizky Syah yang tadinya bersikap cuek mendadak membeku. Pria tegap itu mendongakkan kepalanya, menatap sosok Kamilah di atas tangga dengan raut wajah melohok dan terpana tanpa berkedip sedikit pun.
Suara musik klasik menggema lembut saat Kamilah perlahan melangkah turun menyusuri anak tangga melingkar. Tepuk tangan riuh langsung membahana dari seluruh tamu undangan.
"Wah... julukan si Nona Diaochan modern untuknya memang benar adanya! Dia sungguh luar biasa cantik!" puji seorang tamu pria berjas hitam yang takjub melihat kecantikan alami Kamilah.
Begitu Kamilah sampai di dasar tangga, Ikra Pratama melangkah maju dengan tersenyum manis. Pria itu memegang seikat buket bunga mawar merah yang di tengahnya bertaburkan berlian halus yang berkilau.
"Kamilah... selamat ulang tahun," ucap Ikra Pratama dengan suara yang lembut dan romantis. "Hari ini... kamu terlihat jauh lebih cantik dan memesona daripada bunga mawar mana pun di dunia ini."
Ikra menyodorkan buket bunga tersebut ke hadapan Kamilah.
"Terima kasih banyak, Ikra," balas Kamilah sambil tersenyum tipis dan menerima buket bunga dari tangan Ikra Pratama.
"Wah, lihat itu! Itu kan Mawar Berlian edisi terbatas!" bisik seorang tamu wanita di deretan belakang dengan heboh. "Tuan Ikra Pratama benar-benar sangat royal dan royal pada calon tunangannya!"
Rizky Syah yang berdiri tak jauh dari sana mendengar setiap kata pujian tersebut. Rasa tidak suka dan cemburu yang membakar jiwanya seketika memuncak.
Tanpa membuang waktu, Rizky Syah melangkah lebar mendatangi Kamilah dan Ikra Pratama. Dengan gerakan kasar dan acuh tak acuh, Rizky Syah sengaja mendorong bahu Ikra Pratama hingga pria itu terdorong mundur beberapa langkah!
"Cuma setangkai bunga biasa begitu... apa hebatnya, sih?" sindir Rizky Syah tajam sambil menatap mawar di tangan Kamilah dengan pandangan meremehkan.
Rizky Syah mengikis jarak, berdiri tepat di hadapan Kamilah. Dari dalam saku jas mewahnya, pria itu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bludru hitam berukiran emas, lalu membukanya di hadapan Kamilah.
Di dalam kotak itu, terbaring sebuah cincin dengan berlian raksasa murni yang memancarkan kilau kebiruan yang amat menyilaukan mata!
"Astaga! Bukankah itu cincin berlian 'Bintang Afrika Selatan' yang baru saja terjual di lelang internasional beberapa hari lalu?!" seru seorang tamu pria dengan suara bergetar takjub. "Cincin itu terjual dengan harga fantastis satu triliun rupiah! Siapa pria tampan ini?! Bagaimana bisa dia begitu kaya?!"
seorang tamu wanita melirik heboh. "Kamu tidak tahu dia? Dia itu Rizky Syah! Penguasa klan kaya dari wilayah Jakarta Utara!"
Di sudut ruangan lain, Sanum yang mengenakan gaun malam menatap sosok Rizky Syah dengan mata berbinar penuh keserakahan dan iri hati.
Rizky Syah ternyata sangat tampan dan begitu berkuasa... batin Sanum dengan napas tertahan. Kalau aku bisa mendapatkan hatinya dan bertekuk lutut padaku... bukankah aku bisa dengan mudah mengalahkan dan menginjak-injak Kamilah selamanya?!
"Kamilah... selamat ulang tahun," bisik Rizky Syah dengan sorot mata yang penuh kelembutan, menyodorkan kotak cincin berlian satu triliun itu secara langsung ke tangan Kamilah.
Namun, sebelum jemari Kamilah sempat menyentuh kotak tersebut, sebuah tangan tegap menyambar kotak itu dengan secepat kilat. Roya Ye merebut kotak perhiasan itu secara paksa!
"Hadiah darimu sudah diberikan!" tegas Roya Ye dengan tatapan mata membunuh. "Sekarang... kamu harus menjauh dari adikku!"
Roya Ye berpaling ke arah adiknya, merendahkan intonasi suaranya menjadi sangat hangat. "Kamilah, Kakak mengajakmu berdansa untuk membuka pesta malam ini."
Kamilah menganggukkan kepalanya pelan. Sebelum melangkah pergi bersama kakaknya, Kamilah memiringkan badannya dan menaruh buket bunga dari Ikra ke meja tempat tumpukan kado dari para tamu.
Kamilah melirik ke arah Rizky Syah yang menatapnya dengan tatapan tidak puas.
"Aku tahu... kamu sebenarnya ingin memberikan cincin berlian mahal ini pada siapa," bisik Kamilah dengan nada salah paham yang masih melekat erat. "Tenang saja, Kak Syah... aku pasti akan menyampaikannya pada Kak Roya nanti."
Mendengar bisikan absurdity itu, mata Rizky Syah seketika melotot lebar. Amarah dan rasa frustrasi makin membakar dadanya melihat gadis itu masih saja menganggapnya menyukai sang kakak!
Setelah Kamilah dan Roya Ye melangkah menuju lantai dansa di tengah aula, Ikra Pratama mendekati Rizky Syah. Pria itu menyunggingkan senyum ramah buatan, lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Tuan Rizky Syah... aku sudah lama sekali mendengar namamu yang besar di dunia bisnis," kata Ikra Pratama bersikap sopan.
Namun, Rizky Syah hanya berdiri kaku, menatap tangan Ikra yang terulur tanpa niat sedikit pun untuk membalasnya. Ia mengabaikan uluran tangan itu sepenuhnya.
Ikra Pratama menarik tangannya kembali tanpa merasa canggung, lalu tersenyum tipis. "Aku adalah calon suami dari Kamilah. Kedua keluarga besar kami sudah menyepakati beberapa urusan bisnis dan perjodohan."
Rizky Syah tetap diam membisu, matanya menyipit sangat tajam dan dingin.
"Kalian berdua bahkan belum resmi bertunangan, kan?" potong Rizky Syah dengan suara rendah nan intimidatif yang menusuk tulang. "Kalau belum bertunangan... berarti dia sama sekali bukan calon istrimu."
Tanpa sudi mendengar balasan dari Ikra lagi, Rizky Syah membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Ikra dengan aura dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
Sementara itu, di sudut meja bar minuman yang remang-remang, Sanum memperhatikan pergerakan Rizky Syah yang tampak gusar. Senyuman licik dan beracun terukir di bibirnya.
Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, Sanum mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan obat perangsang dosis tinggi dari dalam tasnya, lalu memasukkan obat tersebut ke dalam gelas minuman yang akan disajikan untuk Rizky Syah.
Sanum merapikan gaun mewahnya, membuka dan membetulkan potongan gaunnya agar terlihat sangat seksi dan menyingkap bagian dadanya. Dengan percaya diri dan penuh tipu daya, Sanum membawa gelas minuman tersebut dan melangkah pelan mendekati posisi Rizky Syah...