"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Bersamamu
Matahari Senin pagi baru saja merambat naik, menyinari kediaman keluarga Damian yang megah namun dingin. Tepat pukul 06.30, Zahira sudah rapi dengan pakaian kerjanya, melangkah turun menuju meja makan.
Di sana, Damian duduk membaca koran sembari menyesap kopinya. Matanya menyipit saat menyadari satu kursi di sebelah istrinya kosong.
"Mana Bianka? Jam segini kok belum kelihatan?" tanya Damian datar, meletakkan cangkirnya.
Karlina yang sedang mengoles mentega ke roti langsung menyahut cepat, nada suaranya penuh pembelaan.
"Bianka masih tidur pulas, Papi. Kasihan, semalam dia belajar sampai larut. Jangan dibangunin dulu."
Damian hanya menggeleng pelan, tahu betul alasan itu hanya bualan Karlina untuk memanjakan putri kesayangannya. Saat Zahira mendekat dan mengulurkan tangan untuk berpamitan, langkahnya terhenti oleh pertanyaan sang Papi.
"Zahira, Papi perhatikan beberapa hari ini motor matic kamu nggak ada di garasi. Ke mana?"
"Oh, itu... motor Zahira masih di bengkel, Pi," jawab Zahira halus. "Belum sempat diambil. Kebetulan bengkel langganan itu punya teman kuliah Zahira. Rencananya nanti sore sepulang kantor baru mau Zahira ambil."
"Kalau begitu berangkat bareng Papi saja. Naik mobil Papi," tawar Damian langsung.
"Nggak usah, Pi. Zahira kan cuma staf biasa, harus sampai lebih pagi dari Papi. Nanti Papi malah kerepotan kalau harus buru-buruk."
Karlina menyela dengan nada sinis, "Halah, Papi ini kok repot banget sih? Dianya saja bilang nggak mau. Biarkan sajalah, Pi, dia kan sudah dewasa, bisa urus dirinya sendiri. Papi kan ke kantor berangkat jam setengah delapan, ngapain juga harua pagi-pagi."
Damian menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia memilih diam daripada memicu pertengkaran pagi dengan istrinya yang selalu menyimpan ketidaksukaan pada Zahira.
"Yaudah, Zahira berangkat dulu ya, Pi, Mi," pamit Zahira tenang.
Ia melangkah keluar menuju gerbang rumah, di mana seorang pengendara ojek online sudah menunggunya di pinggir jalan.
.
.
Jam menunjukkan pukul 12.15 WIB. Suasana kantin kantor tempat Zahira bekerja sangat ramai. Zahira dan Maya, rekan kerjanya, sedang menikmati makan siang di salah satu sudut meja.
Tiba-tiba, aroma parfum maskulin yang tajam tercium. Seorang pria berjas rapi berdiri di samping meja mereka, didampingi seorang pria lain bersikap sigap.
"Boleh kami bergabung di sini?" suara berat dan tenang itu mengejutkan Zahira.
Zahira mendongak, matanya membelalak seketika. Rezvan sudah berdiri di sana bersama Rayyan, asisten pribadinya.
Maya menyenggol lengan Zahira pelan, berbisik heboh dengan mata berbinar. "Ra... Ra! Siapa ini? Ganteng banget, demi apa?!"
Zahira tidak sempat menjawab. Rezvan tersenyum tipis lalu duduk di hadapan Zahira tanpa menunggu jawaban panjang.
"Permisi ya,"
Ucap Rayyan sopan ikut duduk di sebelah Rezvan.
Atmosfer meja makan mendadak canggung bagi Zahira. Maya yang piringnya sudah bersih cepat-cepat merapikan barang-barangnya.
"Ra, aku udah selesai nih. Yuk balik ke ruangan sekarang, ada berkas yang harus diurutin," ajak Maya sambil menarik pelan tangan Zahira, bermaksud memberi jalan sekaligus menyelamatkan rasa canggung sahabatnya.
Zahira bergegas berdiri. "Ah, iya, Maya. Kak... Zira permisi dulu—"
Sebelum Zahira sempat melangkah jauh, Rezvan mendongak dan bersuara pelan namun sangat jelas di telinga Zahira.
"Nanti sore saya jemput. Jangan pulang dulu sebelum saya sampai."
Wajah Zahira mendadak merah padam. Diliriknya Maya yang sudah menatapnya dengan curiga dan senyum-senyum sendiri.
Merasa malu dan tersudut, Zahira hanya bisa mengangguk pelan pasrah, sebelum akhirnya pasrah ditarik oleh Maya keluar dari kantin.
Sepeninggal kedua wanita itu, Rayyan mendaratkan pandangannya pada Rezvan yang masih menatap punggung Zahira yang menghilang di balik pintu kantin.
"Ternyata pak Rezvan bisa juga ya bicara selembut itu," goda Rayyan sambil terkekeh pelan.
Rezvan memutar pandangannya, kembali dingin seperti biasa. "Fokus, Rayyan. Bagaimana hasil pertemuan dengan Pak Damian tadi?"
Rayyan membetulkan posisi duduknya, beralih ke mode profesional. "Semua berjalan lancar, Pak. Pak Damian sudah menyetujui draf kerja sama pengadaan suku cadang untuk jaringan bengkel dan showroom mobil milik perusahaan kita."
"Bagus," gumam Rezvan. "Kerja sama ini penting. Lagipula, om Elvan sudah mengelola lini bisnis itu dengan sangat baik selama empat tahun terakhir. Kita tidak boleh membuat kesalahan dalam pemilihan vendor."
"Siap, Pak. Kontrak resminya akan ditandatangani akhir pekan ini," jawab Rayyan mantap.
Rezvan menyesap minumannya, melirik jam di tangannya. Pikiran bisnisnya sejenak teralih pada janji yang baru saja ia buat untuk menjemput gadis yang baru saja pergi dari hadapannya.
.
.
Lampu jalanan mulai menyala satu per satu menembus sore yang kian temaram di depan gedung kantor Zahira. Di dalam mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari pintu keluar, Rezvan memperhatikan langkah Zahira.
Gadis itu tidak sendiri. Ia berjalan berdampingan dengan Maya dan seorang pria bertubuh jangkung, berkacamata, dengan penampilan rapi.
Zahira tertawa lepas sebuah tawa renyah yang belum pernah Rezvan lihat sebelumnya selama ia mengenal gadis itu. Pria berkacamata itu beberapa kali mengacak rambutnya sendiri sambil memeragakan sesuatu yang membuat tawa Zahira makin pecah.
Dada Rezvan berdesir aneh. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menyelinap.
Tanpa membuang waktu, Rezvan menjalankan mobilnya perlahan mendekati ketiganya. Ponsel di genggaman Zahira bergetar saat nama Rezvan tertera di layar.
Zahira mengangkat teleponnya sembari menghentikan langkah. "wa'alaikum salam, iya Hallo, kak?"
"Saya sudah di depan kamu," suara Rezvan terdengar berat dari seberang telepon.
Zahira menoleh. Kaca mobil mewah di samping mereka perlahan terbuka, menampilkan sosok Rezvan dengan kemeja kerjanya yang masih rapi, memancarkan aura pria yang karismatik namun dingin.
Seketika, tawa Maya dan pria berkacamata itu terhenti. Maya menatap sosok di dalam mobil dengan mata membelalak, sementara sang pria berkacamata hanya menaikkan alisnya, memperhatikan Rezvan dengan sorot ingin.
Zahira merasa canggung seketika. Ia berbalik menatap kedua temannya.
"Maya, Bima... aku duluan ya. Pria ini udah jemput."
"Wah, pantesan buru-buru. Hati-hati ya, Ra!" goda Maya pelan sambil menyenggol lengan Bima.
Bima tersenyum ramah dan mengangguk. "Ditunggu cerita lengkapnya besok ya, Ra." bisik Bima melambaikan tangan saat Zahira mulai melangkah masuk ke dalam mobil.
Kendaraan beroda empat itu kini membelah kemacetan jalanan ibu kota. Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi dan kaku. Rezvan fokus memegang kemudi, namun matanya sesekali melirik ke arah Zahira melalui spion tengah.
"Kelihatannya akrab sekali sama cowok berkacamata tadi," ujar Rezvan akhirnya memecah keheningan, nadanya dibuat sedatar mungkin meski menyimpan rasa penasaran yang besar.
Zahira menoleh, lalu terkekeh pelan. "Maksud kakak, Bima? Dia teman satu divisi Zira, kak."
"Satu divisi? Tapi dari ketawanya keliatan lebih dari temen," sindir Rezvan tipis.
Zahira tersenyum geli melihat respons Rezvan.
"Tadi itu Bima lagi cerita hal lucu tentang Bu Imelda, atasan kami di kantor. Bu Imelda itu suka bertindak seenaknya sendiri dan galak banget. Nah, tadi siang dia sempat dikerjai sama Bima. Bima kan jago IT, jadi layar komputer Bu Imelda mendadak dipasang pemutar musik dangdut tanpa bisa dimatikan."
Rezvan memiringkan kepalanya sedikit, berusaha menahan senyum mendengar cerita polos Zahira, meski dalam hati ada sedikit rasa lega.
Mobil terhenti saat lampu lalu lintas berganti merah. Ponsel Rezvan bergetar di atas dashboard. Ia mengambilnya dan membaca pesan singkat dari adiknya.
“Kak, jangan lupa ajak Zahira ke rumah ya! Bunda udah masak banyak banget buat makan malam kita bareng Zahira.”
Rezvan meletakkan ponselnya kembali, lalu menoleh menatap Zahira secara langsung.
"Gisel baru aja chat. Bunda masak banyak di rumah dan minta kamu ikut makan malam bersama."
Zahira terkejut, matanya berbinar namun ada keraguan memancar.
"Eh? Bunda mengundang Zira? Tapi... Zira belum izin sama Papi."
"Coba kamu telepon Papi kamu sekarang! Minta izin," tegas Rezvan, tidak menerima penolakan.
Zahira mengangguk pelan. Ia segera mengambil ponsel dari tasnya dan mendial nomor sang Papi. Nada sambung berbunyi beberapa detik sebelum suara Damian terdengar di ujung telepon.
"Wa'alaikum salam, Zahira? Kamu sudah di mana, Nak?"
"Hallo, Papi. Zahira mau izin... ini Zahira lagi sama kak Rezvan. Bunda Heni mengundang Zahira untuk makan malam di rumahnya. Boleh kan, Pi?" tanya Zahira berhati-hati.
Di seberang sana, Damian tersenyum lega mendengar putrinya sendang bersama Rezvan dan Damian tahu bagaiman perlakuan keluarga sahabat nya itu, sudah menganggap Zahira seperti anak mereka.
"Oh, tentu boleh, Sayang. Sampaikan salam Papi untuk tante Heni dan om Lazuardi ya. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam ya, sayang!"
.
"Iya, Papi. Makasih ya, Pi. Zahira jalan dulu."
Zahira menutup teleponnya dengan helaan napas lega. Saat ia berpaling, dilihatnya Rezvan sedang menatapnya dengan ulasan senyum tipis yang sangat menawan di balik pendar lampu merah yang baru saja berganti hijau.