NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

POV Suster Mary Mendez

Kamar itu terasa lebih kecil hari itu.

Mungkin karena koper-koperku sudah teronggok di atas ranjang.

Mungkin karena, untuk pertama kalinya sejak delapan belas tahun, aku bersiap meninggalkan tempat yang selalu kusebut rumah.

Kuusapkan jariku pada salib yang tergantung di dinding, lalu kutarik napas dalam-dalam.

Masih sulit dipercaya.

Roma.

Sebuah rumah sakit anak.

Kesempatan untuk belajar ilmu kedokteran anak.

Semua itu terasa seperti mimpi yang jauh, sesuatu yang hanya kubayangkan dalam doa-doaku yang paling sunyi.

Ketukan di pintu memutus lamunanku.

"Masuk."

Natália masuk tanpa menunggu jawaban.

Di belakangnya menyusul Bárbara dan Graziela.

"Jadi, ini dia," ujar Bárbara sambil duduk di ranjang. "Kita benar-benar akan berangkat ke Italia."

"Aku masih belum percaya," akuku.

"Aku percaya," sahut Natália. "Dan aku sudah memutuskan akan menyantap semua jenis pasta Italia yang bisa kutemukan."

"Kau memikirkan makanan dalam situasi apa pun," komentar Graziela.

"Itu bakat."

Kami tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dengan Ibu Kepala Biara, rasa gugupku mereda.

Kupandangi sahabat-sahabatku.

Saudari-saudari hatiku.

Gadis-gadis yang tumbuh bersamaku.

Yang belajar bersamaku.

Yang berbagi suka, hukuman, rahasia, dan mimpi denganku.

Kini kami akan menyeberangi samudra bersama.

"Kalian takut?" tanyaku.

Senyum Bárbara memudar.

"Sedikit."

"Aku juga," aku Graziela.

Natália menyilangkan lengan.

"Sangat."

Kami menatapnya.

"Apa?" tanyanya. "Aku pemberani, bukan orang gila."

Kami berempat pecah dalam tawa.

Suaranya bergema memenuhi kamar.

Untuk beberapa detik kami melupakan perpisahan.

Melupakan kepindahan.

Melupakan rasa rindu yang akan datang.

Tapi semua itu kembali saat lonceng kapel berdentang.

Hening.

Suara itu membuat hatiku mencelos.

Karena itu berarti waktunya semakin dekat.

Waktunya berpamitan pada lorong-lorong tempat aku belajar berjalan.

Pada perpustakaan tempat aku menghabiskan berjam-jam belajar.

Pada taman tempat aku biasa berdoa saat sedang sedih.

Pada biara yang menampungku ketika aku tak punya siapa-siapa.

"Kita akan merindukan tempat ini," gumam Graziela.

"Pasti," aku sepakat.

Tak lama kemudian, kami dipanggil ke halaman utama.

Semua suster telah berkumpul.

Ibu Kepala Biara menunggu kami.

Ketika kami mendekat, ia menyunggingkan senyum penuh kebanggaan.

"Gadis-gadisku."

Getaran haru dalam suaranya nyaris membuatku menangis.

"Kalian akan melangkah ke babak baru dalam hidup kalian."

Ia menggenggam kedua tanganku.

"Mary, jangan pernah berhenti merawat sesama dengan hati yang baik ini, karunia yang telah Tuhan berikan padamu."

Mataku berkaca-kaca.

Lalu ia memeluk Natália.

Bárbara.

Graziela.

Satu per satu.

Tak ada satu pun suster yang matanya tak basah.

Kemudian terdengar suara kendaraan datang.

Keluarga Herrera.

Mobil-mobil itu berhenti di depan biara.

Dan, untuk pertama kalinya, kedatangan itu menandai awal sebuah perjalanan baru.

Kuperhatikan mereka semua turun.

Nyonya Consuelo tersenyum saat melihat kami.

Suaminya mempertahankan sikap serius.

Pietro, Kevin, dan Giovanni tampak antusias dengan perjalanan itu.

Lalu mataku bertemu dengan matanya.

Dante Herrera.

Hanya beberapa detik.

Tapi itu sudah cukup.

Ia tampak berbeda.

Lebih pendiam.

Lebih larut dalam pikiran.

Seolah memikul pertanyaan-pertanyaan yang tak sanggup ia jawab.

Cepat-cepat kualihkan pandangan.

Jantungku berdetak lebih kencang tanpa sebab yang jelas.

Atau mungkin ada sebabnya.

Sebuah sebab yang belum ingin kuakui.

"Sudah siap?" tanya Consuelo lembut.

Kupandangi sahabat-sahabatku.

Lalu biara itu.

Ibu Kepala Biara.

Tempat yang membesarkanku.

Kutarik napas dalam-dalam.

"Sudah," jawabku.

Dan pada saat itu aku menyadari bahwa hidupku akan berubah selamanya.

POV Suster Mary Mendez

Kukira aku sudah siap untuk pergi.

Kukira aku akan sanggup tersenyum, mengucap terima kasih atas segalanya, lalu masuk ke mobil tanpa kesulitan.

Tapi aku keliru.

Sangat keliru.

Ketika kubalikkan badan untuk menatap biara sekali lagi, kakiku begitu saja berhenti.

Tempat itu bukan sekadar sebuah tempat.

Itu rumahku.

Satu-satunya rumah yang pernah kukenal.

Di sanalah aku belajar membaca.

Di sanalah aku belajar berdoa.

Di sanalah aku menangis ketika ketakutan.

Di sanalah aku tersenyum ketika menemukan keluarga pada orang-orang yang ditempatkan Tuhan di jalanku.

Aku tak punya kenangan tentang orang tuaku.

Tak punya foto.

Tak punya kisah untuk diceritakan.

Segala yang membentuk diriku telah dibangun di dalam tembok-tembok itu.

Dan kini aku pergi meninggalkannya.

Air mata mengalir sebelum sempat kutahan.

Satu demi satu.

Membisu.

Menyakitkan.

Ibu Kepala Biara langsung menyadarinya.

"Kemarilah, anakku."

Ia membentangkan kedua lengan.

Dan aku menjatuhkan diri ke pelukannya seperti seorang anak kecil.

Aku menangis.

Menangis seperti tak pernah kulakukan sejak bertahun-tahun.

Kurasakan tangannya membelai rambutku.

Gerakan yang sama yang ia lakukan saat aku bermimpi buruk semasa kecil.

Gerakan yang sama yang ia berikan saat aku sakit.

Gerakan yang sama yang tanpa kata mengatakan bahwa aku tidaklah sendirian.

"Aku tak ingin melupakan tempat ini," bisikku di sela tangis.

"Dan kau tak akan pernah melupakannya."

"Bagaimana kalau aku berubah?"

"Itu bagian dari hidup."

"Bagaimana kalau aku mengecewakan kalian?"

Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

"Mary Mendez, kau telah menjadi berkat bagi biara ini sejak hari kau tiba."

Tenggorokanku tercekat.

"Gadis kecil ketakutan yang dulu melangkah masuk lewat gerbang itu telah menjelma menjadi seorang wanita muda yang luar biasa."

Air mataku mengalir tak terkendali.

Di sekelilingku, beberapa suster ikut menangis.

Bahkan Natália diam-diam mengusap matanya.

Sebuah peristiwa bersejarah.

"Aku menyayangi kalian," ucapku.

"Dan kami menyayangimu."

Ibu Kepala Biara mengecup dahiku.

"Pergilah dan wujudkan mimpi-mimpi yang telah Tuhan tanamkan di dalam hatimu."

Kutatap sekeliling.

Kukenali setiap wajah.

Setiap suster.

Setiap orang yang membantuku bertumbuh.

Suster Clara, yang mengajariku memasak.

Suster Beatriz, yang mengajariku matematika.

Suster Helena, yang menyemangatiku untuk belajar kedokteran.

Mereka semua tersenyum di sela air mata.

Lalu terjadilah sesuatu yang tak terduga.

Anak-anak dari panti asuhan muncul berlarian.

"SUSTER MARY!"

Jantungku nyaris berhenti.

Dalam sekejap aku sudah dikerumuni.

Lengan-lengan mungil memelukku.

Tangan-tangan mungil menggenggam jubah biaraku.

Suara-suara mungil menangis.

"Jangan pergi!"

"Suster sudah janji mau mengajariku menggambar!"

"Siapa yang akan bercerita nanti?"

"Aku pasti kangen!"

Aku jatuh berlutut.

Menangis bersama mereka.

Memeluk setiap anak yang bisa kuraih.

Dadaku terasa sakit.

Karena anak-anak itu memahami persis apa yang kurasakan.

Mereka pun tahu rasanya kehilangan seseorang yang penting.

"Aku tidak meninggalkan kalian," ucapku dengan suara bergetar.

"Janji?"

"Aku janji."

"Suster akan kembali?"

"Setiap kali aku bisa."

Salah satu yang paling kecil, Miguel, yang baru berusia lima tahun, mengeluarkan sebuah gambar lusuh dari sakunya.

"Ini kubuat untuk Suster."

Tanganku gemetar saat menerima kertas itu.

Gambar sederhana.

Aku sedang menggandeng tangan beberapa anak.

Dan di atas kami ada sebuah hati yang besar.

Aku tak sanggup menahan tangis.

Kupeluk bocah itu sekuat tenaga.

"Terima kasih."

Saat bangkit berdiri, aku merasakan keheningan yang berbeda.

Kutatap ke depan.

Dan kudapati Dante Herrera sedang mengamati semuanya.

Pandangannya terpaku padaku.

Namun tak ada arogansi.

Tak ada kedinginan.

Tak ada sikap mengintimidasi yang biasa ia tampilkan.

Yang ada hanyalah keharuan.

Keharuan yang tampaknya ia coba sembunyikan.

Untuk sesaat, mata kami bertemu.

Dan ada sesuatu di dalam diriku yang terasa aneh.

Hangat.

Membingungkan.

Jantungku berdetak lebih kencang.

Terlalu cepat.

Kualihkan pandangan seketika.

"Kita berangkat?" tanya Consuelo dengan lembut.

Kutarik napas dalam-dalam.

Kupandangi biara itu untuk terakhir kalinya.

Pepohonan.

Taman-taman.

Kapel.

Jendela-jendela asrama.

Setiap sudut menyimpan sebuah kenangan.

Setiap batu memikul sepenggal kisah hidupku.

Kudekapkan tangan ke dada.

Kupanjatkan doa dalam hati.

Lalu kulangkahkan kaki untuk pertama kalinya.

Satu langkah menjauh dari kehidupan yang kukenal.

Tanpa membayangkan bahwa perjalanan ke Roma itu tak hanya akan mengubah masa depanku.

Ia akan mengubah takdirku.

Dan mungkin...

Takdir Dante Herrera juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!