"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Pernikahan
Nikolai
Aku berada di kamar hotel, merampungkan penampilanku. Kurapikan detail-detail terakhir, lalu menatap bayanganku di cermin. Sempurna. Dingin. Terkendali. Persis seperti diriku selama ini… atau setidaknya seperti yang telah kupelajari untuk kujadikan diriku.
Tatiana masuk, mengamatiku dari atas ke bawah, lalu membenahi dasiku sambil setengah tersenyum. "Sempurna," ujarnya, yakin.
Dmitry tergelak di belakang kami. "Tak pernah kusangka bakal hidup cukup lama untuk menyaksikanmu menikah, Ivanov."
Tatiana ikut tertawa, dan aku memutar bola mata. "Sudah cukup," potongku, ketus, sebelum mereka sempat menambahkan sepatah kata lagi.
Kami menuju tempat parkir. Aku mengambil alih kemudi dan menyetir sampai ke gereja. Gereja yang sama tempat Salvatore dibaptis. Detail itu tak luput dari perhatianku, tetapi kudorong jauh-jauh pikiran itu. Emosi tak punya tempat hari ini.
Aku tiba. Turun dari mobil dengan tenang, membenahi blazer, lalu melangkah menuju altar, dengan Tatiana dan Dmitry tepat di belakangku. Vittorio sudah di sana, di samping Natalia.
Sebelum aku sempat berkata apa pun, seseorang yang mungil melihatku.
"Om Niko!"
Salvatore melesat ke arahku dan melompat ke pelukanku tanpa aba-aba. Kutangkap anak itu secara naluriah, dan ia memelukku erat sambil berbicara terlalu cepat. "Sekarang kau harus membawa Helena supaya bisa selalu menemuiku!"
Sudut bibirku terangkat, nyaris tak kentara.
"Pasti," jawabku, mantap.
Kudekap Salvatore sedetik lebih lama dari yang seharusnya. Aku tak bisa menjelaskan alasannya. Tetapi Natalia dan Salvatore, yang seakan menjadi perpanjangan dirinya, punya tempat tersendiri di hatiku. Sesaat, dunia terasa tak sedingin yang selama ini kupercayai.
Natalia mendekat dan memelukku erat. Ia berbisik di telingaku.
"Aku merindukanmu, Niko."
Kukecup dahinya, lalu ia menjauh, kembali ke sisi Vittorio.
Marco muncul tak lama kemudian. Aku tak menyapanya. Tidak hari ini. Keinginan untuk mencabut kepala keparat itu masih berdenyut hidup di bawah kulitku. Ia menyadarinya. Aku tahu ia menyadarinya. Dan itu sudah cukup bagiku.
Petugas acara meminta semua orang menempati tempatnya. Aku sudah tak sabar. Waktu seakan merayap lambat, seolah menguji kendaliku. Lalu, akhirnya, lagu pernikahan mengalun.
Pintu gereja terbuka.
Romeo menuntun Helena ke altar.
Sesaat, segala yang ada di sekelilingku lenyap.
Ia bukan lagi gadis kecil yang dulu kukenal. Ia berbeda. Lebih dewasa. Lebih menjelma perempuan. Ada kematangan dalam caranya melangkah, dalam sikap tubuhnya, dalam tatapannya… tetapi senyum itu — senyum itu — masih tetap sama. Menerangi seisi gereja seolah tercipta dari cahaya.
Aku tak balas tersenyum.
Aku hanya diam, menatapnya, meresapi setiap langkah, setiap tarikan napasnya. Kulihat saat ia menyadari raut wajahku yang beku. Senyumnya goyah sedetik. Wajahnya merona. Mata hijau itu mencari mataku, lalu berpaling, salah tingkah.
Ia mencoba mengalihkan pandangan, tetapi sudah terlambat.
Aku telah melihatnya seutuhnya.
Dan ia melihatku sebagaimana diriku yang sesungguhnya.
Dan, dalam keheningan itu, bahkan sebelum satu ikrar pun terucap, sesuatu mengukuhkan dirinya di antara kami: ini bukan dongeng. Ini bukan kelembutan.
Ini ketegangan.
Ini takdir.
Ini janji yang tak perlu diucapkan untuk menjadi mutlak.
Romeo mendekat, tatapannya keras, sarat sebuah peringatan yang tak terkatakan. Ia berhenti di hadapanku dan meletakkan tangan Helena ke tanganku.
"Jaga dia baik-baik."
Aku tak menjawab. Kata-kata tak pernah menjadi keahlianku untuk sebuah janji. Aku hanya mengangguk.
Kugenggam tangan Helena. Dingin. Gemetar. Kecil di dalam genggamanku. Kurasakan gemetar halus jemarinya, seolah tubuhnya sedang berjuang menyusul detak jantungnya.
Aku tak menggenggamnya erat-erat, tetapi aku tak melepaskannya.
Ada sesuatu yang nyaris intim dalam gerak sederhana itu. Sesuatu yang final.
Kami berbalik menghadap sang Pastor.
Gumaman di dalam gereja padam, seolah seluruh dunia menyusut ke dalam saat itu. Aku, dia, tangan kami yang bertaut. Dan keyakinan aneh bahwa, mulai saat itu, tak ada lagi yang akan sama seperti sebelumnya, tidak baginya… tidak pula bagiku.
Pastor memulai upacara. Suaranya menggema di seluruh gereja, khidmat, nyaris jauh. Perlahan, kurasakan jemari dingin Helena menghangat di dalam genggamanku. Gemetarnya mereda. Napasnya menjadi lebih dalam. Ia lebih tenang.
Aku memandanginya.
Mata hijau itu berkilau, berkaca-kaca oleh haru. Ada kesungguhan di sana. Harapan. Sebuah keyakinan pada apa yang ia lakukan, yang sesaat membuatku goyah.
Tiba saat ikrar. Kuulangi kata-kata Pastor dengan suara mantap, terkendali, meski kurasakan bobot setiap kalimatnya. Kuambil cincin kawin dan kusematkan di jarinya. Gerak yang sederhana, tetapi final. Helena melakukan hal yang sama padaku, tangannya masih sedikit ragu.
Lalu Pastor mengucapkan kata-kata penutup.
"Silakan cium mempelai wanita."
Aku mendekat perlahan. Kucium aroma tubuhnya bahkan sebelum bibirku menyentuh bibirnya. Manis, lembut, sama sekali tak memualkan. Aroma yang membekas.
Kutempelkan bibirku pada bibirnya dalam sentuhan ringan, tertahan. Tanpa tergesa. Tanpa kesan menguasai. Hanya secukupnya.
Helena memejamkan mata dan mengembuskan desah pelan, nyaris tak terdengar. Ketika menjauh, kulakukan itu perlahan, sambil mengamati. Wajahnya merona pekat, membocorkan segala yang berusaha ia sembunyikan.
Sesaat, kuamati… betapa memesonanya ia… dilihat dari sedekat ini. Secepat pikiran itu muncul, secepat itu pula kulenyapkan. Sambil menuntunnya ke pintu keluar gereja, kupertahankan tanganku di punggungnya.