Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Pagi itu, suasana kediaman Wen tiba-tiba menjadi lebih sibuk dari biasanya. Pengawal pribadi istana berbaris rapi di depan gerbang, dan kereta kuda berwarna ungu emas lambang keluarga kerajaan berhenti perlahan di depan gerbang kediaman Wen. Seluruh penghuni kediaman segera menyambut dengan hormat penuh, karena yang datang bukanlah tamu sembarangan.
Turunlah seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan, dibalut jubah sutra berwarna ungu tua yang dihiasi benang emas. Wajahnya anggun, tatapannya lembut namun memancarkan wibawa yang tak bisa diragukan. Dan yang datang adalah Selir Agung, adik kandung dari Jenderal Wen, dan salah satu selir yang paling dihormati di istana kekaisaran karena statusnya setara dengan Permaisuri. Di sampingnya berdiri seorang pemuda tampan berusia sekitar sembilan belas tahun, dengan jubah perak berhias naga perak, ia Pangeran Ketujuh, putra ketiga Selir Agung. Beliau memiliki dua orang putra lainnya, yaitu Pangeran Kedua dan Pangeran Ketiga, yang saat ini bertugas di istana.
"Selamat datang, Yang Mulia Selir Agung, Yang Mulia Pangeran Ketujuh," sapa Jenderal Wen dengan hormat, namun senyum hangat tersungging di wajahnya, bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga.
Selir Agung tersenyum tulus, berjalan mendekat dan memeluk kakaknya itu dengan penuh kerinduan. "Kakak... sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku merindukanmu."
Mereka pun masuk ke ruang tamu utama, duduk bersama sambil menikmati teh dan kue yang telah dihidangkan. Selir Agung bercerita tentang kehidupan di istana, tentang kesehatannya, dan betapa ia bersyukur kakaknya telah pulang dengan selamat dari perbatasan. Pangeran Ketujuh yang duduk di samping ibunya bersikap sopan dan tenang, sesekali ikut berbincang dengan Jenderal Wen dengan penuh rasa hormat.
"Aku datang hari ini hanya karena ingin bertemu denganmu, Kakak," ucap Selir Agung lembut. "Sudah terlalu lama kita terpisah. Dan aku senang... akhirnya kau kembali ke ibukota. Pangeran Kedua dan Pangeran Ketiga juga sering menanyakan kabarmu, sayangnya mereka sedang bertugas dan tidak bisa ikut bersamaku hari ini."
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Jenderal Wen tulus. "Kalian selalu yang paling perhatian di antara kita."
Perbincangan berlangsung hangat dan penuh kasih sayang, hingga waktu berlalu tanpa terasa. Setelah puas berbincang, Selir Agung berdiri untuk berpamitan.
"Sudah hampir siang, aku harus kembali ke istana sebelum dicari Kaisar," ucapnya sambil tersenyum.
Selir Agung melangkah keluar menuju pintu utama, diiringi Jenderal Wen dan Pangeran Ketujuh. Namun tepat saat ia melintasi lorong menuju halaman depan, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak, napasnya tertahan di tenggorokan.
Di sudut halaman, sedang berdiri seorang gadis muda yang sedang berbicara dengan Wen Jin di dekat tempat menjemur obat-obatan. Punggungnya tegak, wajahnya bersinar lembut di bawah sinar matahari pagi, dan senyum tipis yang terukir di bibirnya... begitu, begitu familier.
"Ning'er...?" bisik Selir Agung lirih, seakan melihat hantu dari masa lalu. Tubuhnya gemetar hebat.
Pangeran Ketujuh yang berjalan di samping ibunya segera memegang lengan ibunya. "Ibu? Ada apa?"
Selir Agung tidak menjawab. Ia berjalan perlahan mendekati gadis itu, matanya tak berkedip sedikit pun. Semakin dekat, wajahnya semakin pucat.
" Wajah itu, mata itu, hidung itu... persis seperti Wen Ning" Batin Selir Agung.
Feng Wu yang mendengar langkah kaki mendongak. Saat melihat wanita berpakaian keunguan itu menatapnya dengan tatapan tak percaya, ia segera menunduk sedikit memberi hormat.
Selir Agung berhenti tepat di hadapannya, tangannya gemetar hendak menyentuh wajah gadis itu namun tak berani. "Kau... siapa kau? Wajahmu... persis seperti Ning'er... ya benar sekali..."
Jenderal Wen segera berjalan mendekat, berdiri di samping cucunya. Ia menatap adiknya itu dengan senyum penuh haru.
"Yang mulia selir agung, dia bukan Wen Ning," ucapnya lembut namun jelas. "Namun dia adalah darah dagingnya sendiri. Dia adalah Feng Wu putri tunggal Wen Ning dan Menteri Feng. Cucu perempuan kesayanganku."
Selir Agung terbelalak, matanya langsung berkaca-kaca. "Feng Wu... putri Ning'er? Dia... dia masih hidup?"
"Ya," jawab Jenderal Wen pelan. "Dia hidup. Dan kini dia kembali bersama kita."
Selir Agung tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia langsung merangkul Feng Wu erat-erat, seakan merangkul kepingan jiwa mendiang keponakannya yang telah kembali. "Feng Wu... Ibumu pasti sangat bahagia melihatmu sekarang. Kau sangat cantik"
Feng Wu yang awalnya kaku, perlahan membalas pelukan itu. Kehangatan dari wanita di hadapannya begitu tulus, begitu penuh kasih sayang, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari keluarga ayahnya sendiri.
"Salam hormat dari saya yang mulia Selir Agung," ucap Feng Wu pelan namun tulus.
Pangeran Ketujuh yang berdiri di belakang ibunya, menatap Feng Wu dengan tatapan takjub dan rasa ingin tahu yang dalam.
Setelah kembali ke istana, Selir Agung tak bisa tenang. Bayangan wajah Feng Wu yang begitu mirip dengan mendiang Wen Ning terus berputar di kepalanya. Setelah sampai di Istana kekaisaran, ia bergegas menuju kediaman Kaisar Qinchuan tempat di mana Kaisar sedang beristirahat sejenak setelah menyelesaikan urusan negara.
Kaisar Qinchuan yang melihat kedatangannya lebih dulu menyambut dengan senyum hangat. "Kau baru saja dari kediaman Wen, bukan? Wajahmu tampak gelisah, ada apa?"
Selir Agung tidak bertele-tele. Ia duduk di hadapan Kaisar, lalu mulai bercerita dengan penuh semangat sekaligus haru.
"Yang Mulia... di kediaman Wen tadi, aku melihat seseorang. Seorang gadis muda yang sangat cantik. Begitu melihatnya, aku hampir saja mengira dia keponakanku, Wen Ning, telah hidup kembali. Wajahnya persis sama dan matanya, senyumnya, bahkan caranya menatap pun begitu mirip."
Kaisar Qinchuan menyimak dengan saksama, lalu perlahan mengangguk seakan sudah menebak jawabannya.
"Apakah gadis itu bernama Feng Wu?" tanyanya tenang.
Selir Agung terkejut sesaat, lalu segera mengangguk mantap. "Benar, Yang Mulia! Itu dia! Jenderal Wen sendiri yang mengatakannya dia adalah putri tunggal Wen Ning dan Menteri Feng. Dia masih hidup, dan kini telah kembali ke keluarga Wen."
Selir Agung tersenyum bahagia, matanya bersinar penuh harapan. "Kau tahu, Yang Mulia... saat Pangeran Ketujuh melihat gadis itu, ia tak pernah mengalihkan pandangannya sedari tadi. Aku melihatnya dengan jelas tatapan putraku berubah sejak pertama kali menatap Feng Wu. Sepertinya ia menyukai gadis itu."
Ia melanjutkan dengan antusias, seakan sudah membayangkan masa depan mereka. "Menurutku, mereka akan sangat serasi. Feng Wu adalah wanita yang cocok untuk Pangeran ketujuh. Jika mereka bersanding, itu akan menjadi pernikahan yang indah sekaligus menguntungkan bagi kedua belah pihak. Aku berniat... menjodohkan Pangeran Ketujuh dengan Feng Wu. Bagaimana menurutmu, Yang Mulia?"
Namun di luar dugaan, Kaisar Qinchuan justru menggeleng pelan namun tegas. Wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah menjadi serius dan penuh penghormatan.
"Aku tidak bisa menyetujui hal itu, Selir Agung," ucapnya lembut namun tegas.
Selir Agung tertegun. "Mengapa, Yang Mulia? Bukankah itu hal yang baik?"
Kaisar menarik napas panjang, lalu menjelaskan dengan tulus. "Kau tau, saat Jendral Wen kupanggil ke istana, ia datang menghadapku dan memohon satu hal satu permintaan yang sangat penting baginya. Ia minta agar Feng Wu tidak dilibatkan dalam urusan istana, tidak dipertemukan dengan para pangeran, dan terutama... tidak boleh dijodohkan dengan siapa pun tanpa persetujuannya sendiri."
Ia menatap Selir Agung dengan tatapan tegas namun penuh pengertian. "Aku telah berjanji padanya. Dan kata-kata seorang Kaisar tidak boleh diingkari. Feng Wu harus bebas, bebas memilih jalan hidupnya sendiri, bebas menentukan siapa yang akan berdiri di sisinya. Ia tidak boleh dijadikan alat perjodohan atau ikatan kekuasaan, seperti yang dulu pernah terjadi pada ibunya, Wen Ning."
Selir Agung terdiam mendengar penjelasan itu. Perlahan ia memahami meskipun hatinya menginginkan yang terbaik untuk putranya, ia tidak bisa melanggar janji yang telah diucapkan oleh Kaisar sendiri.
"Maafkan aku, Yang Mulia..." ucapnya pelan. "Aku hanya berpikir itu akan membahagiakan Pangeran Ketujuh. Tapi kau benar, janji adalah janji. Dan Feng Wu berhak memilih sendiri jalannya."
Kaisar tersenyum lembut, menepuk tangan Selir Agung. "Kau tetap bisa mengundangnya ke istana, memperlakukannya sebagai anak. Tapi soal pernikahan... biarkan waktu yang menjawab. Jika memang takdir mereka bersanding, tidak ada yang bisa memisahkan. Namun jika dipaksa, itu hanya akan membawa kesedihan seperti yang dialami Wen Ning dulu."
Di saat yang sama, di kediaman Pangeran Ketujuh sendiri.
Pangeran Ketujuh berdiri di jendela, menatap ke arah luar istana. Di tangannya, ia memegang sebuah jepit rambut giok yang indah, jepit itu hendak diberikan pada Feng Wu.
"Feng Wu..." gumamnya pelan, nama itu terasa begitu manis di lidahnya. "Meski Ibu belum membicarakannya, meski Ayahanda belum memberi izin... aku tidak akan menyerah. Aku akan memilikimu. Kau pasti akan menjadi permaisuri utamaku"