NovelToon NovelToon
Rahasia Tersembunyi Mantan

Rahasia Tersembunyi Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:894
Nilai: 5
Nama Author: Penpena

Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.

Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.

Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.

Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.

Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sah menikah

Sesampai dirumah, Amira berpamitan kepada Glen. 

"Terimakasih Glen sudah mengantarku, aku akan turn sekarang."

"Aku ikut." Ucapnya.

"Ha?." Amira menatapnya bingung. 

"Apa kamu tidak mengijinkan ku bertamu kerumah mu?, Tidak sopan sekali kepada tamu." Ucapnya ketus.

"Oh bukan begitu, aku kira kamu memang tidak ingin singgah karena ini sudah malam." Jawabnya tidak enak.

"Aku ingin menemui orang tua mu." Ucapnya "Sudah lama tidak bertemu Om dan Tante, aku sangat merindukan mereka." 

Seketika Amira terdiam, dia menunduk dan terlihat sedih. Glen melihatnya dan merasa khawatir dengan perubahan sikap Amira.

"Em, kenapa Mir?. Apa kamu baik-baik saja?." tanya nya khawatir. 

"Glen," Ucapnya lirih dan membuat Glen semakin menatapnya penuh perhatina. "Sebenarnya orang tuaku sudah tiada." 

Seketika glen kaget mendengarnya, badanya terasa panas serasa dicengkram. dia tidak tahu kalau orang tua Amira sudah tiada. "Ma-maksudnya?." Tanya nya masih belum mengerti. 

"Ayah dan Ibu ku sudah meninggal, Glen. Tiga tahun lalu." Ucapnya lirih

Glen terpaku dia tengang saat ini. Dia semakin bisa merasakan begitu kesepiannya Amira selama ini. Dia tidak pernah berpikir kalau Amira merasakan hal berat seperti ini selama ini dan dia tidak ada bersamanya untuk menemani dia menerima kenyataan orang tuanya tiada. 

"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku, Mir?." tanya nya tidak habis pikir kalau amira mendiam kan hal ini dari nya.

Amira menatap Glen dengan mata berkaca-kaca. "Apa?, aku menelpon mu beberapa kali Glen" Ucapnya gemetar menahan air matanya yang hendak jatuh. 

Glen mengingat kalau dirinya tidak bisa dihubungi Amira selama ini, dia merasa bersalah telah menanya kannya. "Aku minta maaf, Mira. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Aku bersalah." Ujarnya.

Amira mengedipkan matanya dan sontak air matanya itu mengalir membasahi pipinya. 

Glen tidak tega melihatnya, andaikan saja hidupnya saat itu tidak dikekang orang tuanya, mungkin saja dia sudah ada bersama Amira dan menemaninya. Seketika Glen menarik mira kedalam pelukannya. Dia memeluk Amira dengan erat dan menyesali kesalahannya selama ini yang sudah membiarkan Amira sendiri tanpa kabar. "Aku banyak bersalah padamu Mir, Aku tahu saat itu kamu pasti membutuhkan ku. Kamu pantas menghukum ku, Mir. Aku sangat menyesal." Ucapnya mengakui penyesalannya. 

"Tidak Glen, ini bukan kesalahanmu. Semuanya sudah terjadi, dan tidak akan bisa kembali lagi. Sebaiknya sekarang kita menata hidup yang baru dan memikirkan kedepannya. Jangan terlalu menyalahkan diri mu." Ucapnya menatap Glen serius. 

Lalu Glen memegang kedua pipi Amira dan menatapnya dalam. "Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan pada mu, Mir. Kamu tidak akan merasa kesepian lagi." Ucapnya tersenyum.

Amira pun tersenyum, dia sangat bersyukur karena Glen sungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik untuk hubungan mereka. 

"Yasudah, ayok kita kerumah." Ajak Glen. 

Amira tertekun, Glen masih saja mau masuk kerumahnya. Lalu Amira keluar dari mobil dan disusul oleh Glen. 

"Rumah mu unik juga." 

"Aku sengaja mencari rumah yang kecil, karena hanya aku saja yang tinggal disini."

"Ini tidak kecil, Mir. kalau ditinggalin sendiri ini sudah besar." Tutur Glen masih melihati semua sudah ruangan itu. Rumah itu memang telihat kecil bagi keluarga besar, tetapi kalau untuk ditinggal sendiri itu sudah cukup besar. Selain itu, rumah Amira terlihat sangat estetik dengan desain-desain mewah, berbeda dengang tampilan jika dilihat dari luar. 

"Yah begitu lah. Aku akan mengambilkan teh untuk mu." Ucapnya tersenyum. 

Glen tersenyum lalu duduk di sofa ruang tamu Amira. 

"Ini, minumlah."

"Makasih, sayang." Ucapnya tersenyum mengambil cangkir itu dari tangan Amira. Lalu Amira duduk disebelahnya. 

"Glen apa kamu serius ingin menikah dengan ku?." tanya Amira mulai bertanya serius. 

"Kenapa tidak serius?," Glen menatap Amira. "Amira, aku serius." Tambahnya.

"Tetapi, Ibumu tidak menyukai ku Glen, dia tidak akan menyetujui pernikahan kit."

"Kamu benar, Mir." Glen menghela napasnya berat. "Tetapi hal itu tidak akan bisa menjadi penghalang bagi kita. Aku serius sama kamu. Dan aku tidak akan memperdulikan apa kata orang lain tentang pernikahan kita."

Amira tersenyum namun tetap saja hatinya belum begitu puas. Dia khawatir hal ini akan menimbulkan masalah besar di kehidupan mereka kedepannya. 

"Kamu tenang saja sayang, bagaimana kalau kita menikah besok?."

"Ha?." Amira kaget, Glen selalu saja tiba-tiba.

"Iya aku serius, lebih cepat lebih bagus."

"Tapi Glen, itu sangat buru-buru." 

"Bagaimana kalau kita menikah siri dulu?. Aku hanya tidak ingin menunda-nunda lagi menikahi mu, Mir. Aku ingin bersama mu selamanya. Dan setelah itu kita bisa membuat rencana pernikahan sah secara negara."

"Baik lah kalau begitu." Ucap Amira berpikir apa yang Glen katakan ada baiknya juga. 

Glen tersenyum senang lalu memeluk Amira. "Kalau begitu kamu harus bersiap untuk besok, oke?."

"Hem."

"Aku pulang sekarang dan akan mempersiapkan semuanya. Makasih Mir, sudah mau menikahi ku." 

**

Sehari berlalu, Akhirnya Amira dan Glen sudah sah menika secara agama. Memulai hidup baru sebagai pasangan Suami istri membuat kecanggungan pada mereka. Mereka tinggal dirumah yang baru saja Glen sewa, semenjak tinggal diindonesia dia mulai membuka usaha Startup sendiri menggunakan tabungannya selama ini. Karena dia sudah sangat berpengalam jadi dia tidak merasa sulit untuk membangun usahnya sendiri. 

Dia tidak lagi mengandalkan kekayaan keluarganya, dia sudah bertekat untuk mengandalkan diri sendiri untuk masa depannya. 

"Lagi nelpon siapa?." Tanya Glen ketika melihat Amira sedang menghubungi seseorang dan duduk diatas tempat tidur. 

"Teman, kamu masih kenal Melly teman ku dulu gak?."

Deg,

seketika eskpresi Glen yang tadi biasa saja kini berubah menajadi tegang, dia terdiam dan berusaha mengoptimalkan ekspresinya. "Oh, buat apa kamu menghubungi dia?." Tanya Glen lagi.

Amira tersenyum kepada Glen sembari menunggu Melly mengangkat telponnya. "Aku harus memberi tahu sahabatku, tentang hubungan kita. Dia pasti sangat marah padaku karena aku tidak memberitahunya sebelum kita menikah." Jelasnya.

Glen merasa gugup.

"Kenapa, kamu terlihat berbeda, sayang?." tanya Amira menatap Glen bingung.

"A- enggak kok sayang. Aku pikir kalian sudah tidak saling berhubungan lagi." Ucapnya. 

"Enggak dong, selama ini hanya dia sahabat dekat ku yang paling mengerti keadaan ku. dan aku selalu cerita tentang kehidupanku padanya. Melly sudah seperti saudaraku sendiri dan aku sangat bersyukur memilikinya." Tutur Amira terhari dan sangat merasa bersyukur.

Glen menelan ludahnya. Glen tidak menyadari kalau mereka masih seakrab itu. 

"Dia harus tahu sayang, kabar baik ini." Ucapnya menatap Glen.

Glen menatap Amira dan tersenyum kaku kepadanya. 

"Duh, dia kenapa gak aktif ya?. Lagi ngapain dia?." Ucap Amira dan kembali berusaha menghubungi Melly. 

Mendengar itu Glen sangat berharap kalau Melly tidak mengangkat telpon dari Amira. 

"Sepertinya dia lagi sibuk sayang, nanti saja dihubungi."

"Hem," Amira menghela napasnya pasrah. "Biasanya dia langsung angkat telponku. Kok sekarang tumben banget gak aktif nomornya?. Semoga dia baik-baik saja disana." Ucapnya berharap. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!