NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Tangan Besi Raja

Gong Balai Agung dipukul sebelum matahari terbit, dan seluruh ibu kota tahu artinya.

Satu pukulan panjang. Lalu sunyi. Lalu satu pukulan lagi.

Tidak ada pesta. Tidak ada penobatan. Gong itu terakhir dipukul dengan irama seperti ini sembilan tahun lalu, saat Prabu Hayam Vira yang baru berusia sembilan belas tahun memanggil seluruh Dewan untuk menyaksikan hukuman mati pamannya sendiri.

Para menteri datang dengan kain yang dikenakan terburu-buru. Beberapa masih membetulkan ikatan destar di kepala mereka sambil menaiki undakan. Tidak ada yang berbicara keras. Kabar sudah menyebar sejak ayam berkokok pertama: kediaman Rakryan Rangga Wirapati di sisi timur alun-alun dikepung dua ratus prajurit berzirah hitam. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang keluar.

Dan tidak satu pun prajurit itu berasal dari Sayap Utara.

***

Balai Agung Kedaton jauh lebih besar dari Balai Agung Keputren.

Tiga puluh dua tiang jati berlapis prada menyangga atap bertingkat lima. Lantainya batu andesit hitam yang dipotong dari satu gunung yang sama, disambung begitu rapat sampai sehelai rambut pun tidak bisa diselipkan di antara celahnya. Di ujung balai, di atas panggung tujuh undakan, berdiri dampar kencana. Singgasana emas berukir naga dan matahari bersudut delapan.

Prabu Hayam Vira sudah duduk di sana ketika para menteri tiba.

Ia mengenakan kain kebesaran hitam dengan prada emas, dan mahkota pusaka Kagendra yang tinggi dan berat. Bahu kirinya masih terbalut kain putih, lengannya diikat ke dada di balik selendang. Wajahnya pucat dan tulang pipinya tajam.

Di pangkuannya, melintang di atas kedua lutut, tergeletak sebilah pedang pusaka dalam sarung kayu cendana. Kyai Surya Wisesa. Pedang yang hanya keluar dari gedung pusaka pada hari penobatan dan hari hukuman.

Dewan Tujuh duduk bersila di undakan ketiga. Tujuh lelaki tua berjubah putih, wajah mereka kaku. Di bawah mereka, barisan menteri, adipati, dan pejabat tinggi bersimpuh di atas tikar pandan, berbaris sesuai pangkat.

Di sisi kanan balai, di balik tirai kayu berukir emas yang tingginya dua kali tubuh manusia, terdapat serambi sempit untuk para perempuan Keputren. Mereka boleh menyaksikan sidang agung. Mereka tidak boleh terlihat.

Dyah Ayu berdiri di sana, di sudut paling ujung.

Melalui celah-celah ukiran tirai berbentuk sulur daun, ia bisa melihat seluruh balai. Ia bisa melihat Rakryan Wiradipa di barisan depan menteri, kepala tertunduk, jemari tersembunyi di dalam lengan baju. Ia bisa melihat Mahapatih Gajahwira di sisi kanan dampar, memegang setumpuk lontar yang diikat tali merah.

Di sebelahnya, Selir Ratna bernapas pendek-pendek. Di ujung lain serambi, di atas bantal sutra yang lebih tinggi dari bantal selir mana pun, Gusti Prabaswari duduk tegak tanpa bergerak, mengenakan kemben biru tua.

Ia tidak menoleh ke arah Dyah Ayu. Sekali pun tidak.

***

Rakryan Rangga Wirapati diseret masuk dengan rantai di pergelangan tangan dan kakinya.

Lelaki bertubuh gemuk berusia lima puluhan, dengan perut yang membuncit di balik kain sutra kuning gading. Kain itu kini kusut dan ternoda lumpur. Destarnya sudah hilang. Rambut tipisnya yang beruban berantakan, menempel di dahi yang basah keringat. Ia dikawal empat prajurit Sayap Dalam berzirah hitam, dipimpin seorang lelaki pendek kekar berwajah bekas cacar.

Mereka melepaskannya di tengah balai. Rakryan Wirapati jatuh berlutut di atas batu andesit. Rantainya berdentang keras, menggema di antara tiang-tiang emas.

Ia tidak menyembah. Ia mengangkat wajahnya ke arah dampar.

"Sinuwun! Apa salah hamba? Hamba sudah mengabdi dua belas tahun! Hamba yang membiayai perang Sinuwun melawan Watugaluh! Hamba yang..."

"Mahapatih."

Hayam Vira tidak menaikkan suaranya. Mahapatih Gajahwira melangkah maju dan membuka ikatan tali merah di tumpukan lontar.

Ia membacakannya satu per satu.

Resi upeti garam dari Lasem, seratus dua puluh karung, dengan segel matahari yang tajam dan lilin keras dari Kedaton. Tanda terima Gudang Perbendaharaan Timur, delapan puluh karung, dengan segel yang ujung-ujungnya tumpul dan lilinnya berminyak.

Resi ikan asin dari Tuban. Resi kain dari Gresik. Resi kayu jati dari Bojonegoro.

Lalu catatan kedua, ditulis tangan oleh juru tulis gudang, tersusun rapi bulan demi bulan selama tiga tahun.

Dengan setiap lontar yang dibacakan, para menteri di barisan depan semakin menunduk. Beberapa di antara mereka mulai menggeser lutut, menjauh sedikit dari barisan Rakryan Wiradipa, seolah takut terkena percikan.

"Fitnah!" Rakryan Wirapati meronta, rantainya berderak. "Juru tulis itu pembohong! Ia dendam karena hamba memotong upahnya!"

Mahapatih memberi isyarat. Dua prajurit menuntun seorang lelaki kurus berkain lusuh masuk ke balai dari pintu samping. Gending, juru tulis muda Gudang Perbendaharaan Timur. Wajahnya putih, tangannya gemetar. Ia bersujud begitu dalam sampai dahinya menempel di batu.

Di belakangnya, seorang lelaki gemuk berkalung emas tebal diseret dengan tangan terikat. Juragan Wangsa dari Pasar Pandean.

"Gerobak malam," ucap Gending dengan suara bergetar, tanpa mengangkat wajah. "Tiga kali seminggu. Dari pintu belakang gudang ke gudang Juragan Wangsa. Rakryan sendiri yang memberikan kuncinya pada hamba."

Juragan Wangsa tidak menunggu ditanya. Ia langsung menangis dan menunjuk lelaki berantai di sebelahnya. Uang hasil penjualan dibagi dua. Separuh untuknya, separuh untuk Rakryan. Ia bersumpah demi semua dewa. Ia bersumpah demi ibunya.

Rakryan Wirapati berhenti meronta.

Ia menoleh ke barisan menteri. Ke arah mertuanya.

"Rama," desisnya. "Rama Wiradipa. Katakan pada Sinuwun. Katakan siapa yang meminta hamba..."

Rakryan Wiradipa mengangkat kepalanya perlahan. Wajah tuanya datar, tanpa satu kerutan pun yang bergeser.

"Sinuwun," ucapnya, membungkuk ke arah dampar. "Hamba malu. Hamba menyerahkan putri hamba kepada seekor tikus gudang. Hari ini juga, hamba akan memutus ikatan keluarga hamba dengan lelaki ini. Ia bukan lagi menantu hamba."

Ia bahkan tidak melirik menantunya ketika mengatakannya.

Dari balik tirai emas, Dyah Ayu melihat wajah Rakryan Wirapati runtuh. Seperti tanah liat yang belum dibakar dan tiba-tiba kehujanan.

***

"Tidak," gumam Rakryan Wirapati. Lalu lebih keras. "Tidak! Hamba tidak akan mati sendiri!"

Ia menyeret lututnya maju di atas batu andesit, rantainya berdentang. Para prajurit Sayap Dalam bergerak menahannya, tetapi ia terus meraung, suaranya pecah dan melengking.

"Uang itu bukan untuk hamba! Separuhnya untuk Keputren! Untuk dupa, untuk sesaji, untuk Prajurit Estri! Tanyakan pada..."

Ia menoleh ke arah tirai emas di sisi kanan balai.

Tidak ada yang bisa melihat menembus tirai itu dari tengah balai. Tetapi semua orang tahu siapa yang duduk di baliknya.

"Tanyakan pada Gusti Pe..."

Hayam Vira berdiri.

Bunyi pedang yang ditarik dari sarung kayu cendana terdengar seperti desisan ular di seluruh balai. Pendek. Bersih. Bilah Kyai Surya Wisesa berkilau putih di bawah cahaya pagi yang masuk dari pintu-pintu besar.

Raja itu menuruni tujuh undakan dengan satu tangan. Tangan kirinya masih terikat ke dada. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat. Para menteri di jalurnya bergeser mundur di atas lutut mereka, kain-kain sutra berdesir di atas batu.

Rakryan Wirapati melihatnya datang. Kalimat yang tadi akan ia selesaikan mati di tenggorokannya.

"Dua belas tahun," ucap Hayam Vira. Ia berhenti di depan lelaki berantai itu. "Selama dua belas tahun, prajuritku di perbatasan timur makan nasi basi dan tidur tanpa selimut. Tiga ratus orang mati karena demam di benteng Pamotan musim hujan lalu, karena obat dan selimut yang dijanjikan perbendaharaan tidak pernah sampai."

Ia mengangkat pedang itu dengan satu tangan.

"Kau mencuri garam dari mulut mereka. Dan sekarang kau ingin mencuri sesuatu yang lain dariku dengan mulutmu sendiri."

"Sinuwun, Dewan belum memutus..." Salah satu anggota Dewan Tujuh setengah bangkit dari undakan.

Hayam Vira tidak menoleh.

Pedang itu turun.

Bunyinya tidak keras. Hanya satu desing, lalu bunyi berat yang tumpul, seperti karung beras yang dijatuhkan dari bahu. Rantai berdentang sekali di atas batu andesit. Lalu sunyi.

Sunyi yang begitu penuh sampai Dyah Ayu bisa mendengar burung gereja di atap Balai Agung.

***

Darah mengalir di atas batu andesit hitam.

Tidak ada celah di antara batu-batu itu untuk menyerapnya. Darah itu menyebar perlahan, membentuk genangan gelap yang memantulkan tiang-tiang emas dan atap bertingkat lima. Bau besinya naik, hangat dan tebal, bercampur dengan bau dupa gaharu yang dibakar di sudut-sudut balai.

Seorang menteri muda di barisan belakang muntah ke tikarnya sendiri. Tidak ada yang menoleh ke arahnya.

Hayam Vira menyerahkan pedang yang basah itu kepada Lurah Lembu Peteng. Lalu ia menunduk, memungut salah satu lontar dari tumpukan di tangan Mahapatih. Lontar yang sejak tadi tidak dibacakan.

Tiga lembar kecil. Diikat benang sutra.

Ia berjalan, tidak kembali ke dampar kencana, melainkan ke sisi kanan balai. Ke arah tirai kayu berukir emas. Langkahnya meninggalkan jejak merah samar di atas batu hitam.

Ia berhenti di depan tirai. Tepat di depan tempat Gusti Prabaswari duduk.

Ia tidak membuka tirai itu. Ia menyelipkan gulungan lontar kecil itu melalui celah ukiran sulur daun yang paling lebar, dan membiarkannya jatuh.

Dyah Ayu mendengar bunyi lontar itu mendarat. Di atas pangkuan sutra biru tua.

"Untuk dupa dan sesaji Keputren," ucap Hayam Vira pelan, cukup pelan agar hanya serambi perempuan yang mendengarnya. "Mulai bulan ini, kau membayarnya dari kantongmu sendiri."

Ia berbalik dan berjalan kembali ke dampar kencana tanpa menoleh.

***

Di balik tirai, tidak ada yang bernapas.

Selir Ratna membekap mulutnya dengan kedua tangan. Para selir lain menatap lantai serambi, tidak berani mengangkat wajah. Dayang-dayang di belakang mereka gemetar.

Gusti Prabaswari tidak bergerak.

Gulungan lontar itu tergeletak di pangkuannya. Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak membukanya. Ia tidak perlu. Benang sutra yang mengikatnya berwarna hijau zamrud, warna yang sama dengan payung kebesarannya.

Wajahnya putih seperti pualam. Senyum yang selalu sempurna itu tidak ada di sana. Untuk pertama kalinya, Dyah Ayu melihat bibir Permaisuri terkatup begitu rapat sampai garis-garis tipis muncul di sudutnya. Seperti retakan pada guci porselen yang belum pecah.

Kedua tangan Prabaswari terlipat di atas lutut. Jemarinya saling mencengkeram. Cincin emas yang membalut kuku retaknya kini menancap ke kulit punggung tangannya sendiri.

Dyah Ayu mengalihkan pandangan dari Permaisuri. Kembali ke celah tirai. Kembali ke balai.

Genangan darah di batu andesit sudah berhenti menyebar. Ia memandanginya lama. Gelap, mengilap, memantulkan cahaya pagi.

Satu bidak sudah runtuh. Bidak yang berdiri paling jauh dari raja lawan, dan paling dekat dengan uangnya.

Sudut bibirnya bergerak. Sangat sedikit.

Rakryan Wiradipa masih bersimpuh. Ia selamat hari ini dengan mengorbankan menantunya sendiri. Permaisuri selamat hari ini karena Hayam Vira memilih untuk menyimpan kartunya, bukan karena belas kasihan. Dan setiap orang di serambi ini akan mengingat siapa yang duduk di Srigading selama tujuh hari terakhir, membaca lontar dan memasak bubur sendiri, sementara karung-karung rempah datang dan pergi.

Perang di Keputren tidak berakhir hari ini. Perang itu baru saja menemukan wajah musuhnya.

Dyah Ayu merasakan sesuatu menyentuh kulit tengkuknya. Bukan angin. Tatapan.

Ia menoleh.

Di ujung serambi, Gusti Prabaswari tidak lagi menatap gulungan lontar di pangkuannya. Kepalanya sudah berputar, perlahan, melewati Selir Ratna, melewati para selir lain yang gemetar, melewati deretan dayang.

Mata hitam Permaisuri kini terkunci lurus di wajah Dyah Ayu.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya mengangkat tangannya yang berhias cincin emas, perlahan, dan meletakkan ujung jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Lalu, dengan gerakan yang sangat lembut, ia menarik ujung jari itu melintang di lehernya yang jenjang. Dari kiri ke kanan.

Persis di garis tempat Kyai Surya Wisesa baru saja turun.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!