NovelToon NovelToon
Kembali Ke Meja Yang Sama

Kembali Ke Meja Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah

Alya menatap Pak Surya dengan tidak percaya, jantungnya berdegup kencang mendengar tuduhan yang baru saja dilontarkan padanya. "Saya? Bukan, Pak. Saya nggak pernah bocorin laporan itu ke siapa pun. Saya bahkan minta Bu Retno untuk menyimpannya sebagai rahasia sampai saya tau harus bagaimana menanganinya."

Pak Surya menatap Alya dengan tatapan menyelidik, tidak sepenuhnya percaya pada penjelasan itu. "Tapi kenyataannya, seluruh kantor sekarang tau soal masa lalu Dimas, dan satu-satunya orang selain saya dan Bu Retno yang tau soal laporan itu adalah kamu."

"Saya cerita ke Raka," aku Alya jujur, tidak ingin menyembunyikan apa pun lagi di tengah situasi yang sudah semakin rumit ini. "Tapi cuma dia. Dan saya yakin dia juga nggak bakal sembarangan cerita ke orang lain."

Pak Surya menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi, tampak berpikir keras. "Situasi ini sudah jadi berita besar di kantor, Alya. Divisi HR kebanjiran pertanyaan, dan Dimas sendiri sudah minta cuti mendadak pagi ini karena merasa tidak nyaman dengan sorotan yang tiba-tiba muncul."

"Bagaimana dengan Bapak sendiri?" tanya Alya, memberanikan diri untuk mempertanyakan hal yang sejak semalam mengganggu pikirannya. "Bu Retno bilang, Bapak yang minta laporan itu nggak disertakan dalam catatan resmi rekrutmen. Kenapa, Pak?"

Ekspresi Pak Surya berubah, sedikit gelagapan sebelum kembali ke wajah tegasnya. "Itu keputusan bisnis, Alya. Dimas punya rekam jejak kerja yang luar biasa, dan satu insiden yang belum sepenuhnya terverifikasi tidak seharusnya menghalangi kesempatan seseorang untuk berkembang."

"Tapi itu bukan cuma satu insiden biasa, Pak," bantah Alya, suaranya mulai lebih tegas. "Itu laporan resmi soal perilaku yang mengganggu rekan kerja perempuan. Dan Bapak menempatkan saya serta tim saya dalam situasi berisiko tanpa memberi tau kami sama sekali."

Ruangan itu hening sejenak, ketegangan terasa jelas di udara. Pak Surya akhirnya menghela napas panjang, tampak kehilangan sedikit dari otoritasnya yang biasa ia tunjukkan. "Saya akan tinjau ulang keputusan ini," katanya akhirnya. "Tapi untuk sekarang, saya perlu tau siapa yang membocorkan informasi ini ke seluruh kantor, karena ini bisa berdampak buruk pada reputasi perusahaan dan juga pada Dimas sendiri, terlepas dari kesalahannya di masa lalu."

Alya mengangguk, meski dalam hati ia juga penasaran siapa sebenarnya yang membocorkan informasi rahasia itu.

---

Sepanjang hari, suasana kantor terasa berbeda—bisik-bisik terdengar di setiap sudut, tatapan penasaran mengarah pada Alya setiap kali ia berjalan melewati koridor, seolah semua orang menduga bahwa ia ada hubungannya dengan kebocoran informasi itu meski tidak ada yang berani menanyakannya secara langsung.

Saat makan siang, Nadia mendekati Alya dengan wajah khawatir. "Alya, kamu baik-baik aja? Aku denger kabar aneh-aneh di kantor."

"Aku nggak bocorin apa pun, Nadia," kata Alya, lelah dengan seluruh situasi yang tiba-tiba menimpanya. "Tapi entah kenapa semua orang seolah nunjuk aku."

"Aku percaya kamu," jawab Nadia, menggenggam tangan Alya sejenak. "Tapi kamu harus cari tau siapa sebenarnya yang bocorin ini, sebelum reputasi kamu yang malah kena imbasnya."

Alya mengangguk, menyadari bahwa Nadia benar. Ia harus mencari tau kebenaran sebelum situasi ini semakin di luar kendali.

Sore itu, saat Alya sedang mencoba fokus bekerja di mejanya meski pikirannya kacau, Raka datang menghampirinya dengan wajah serius.

"Alya, aku baru dapat info," kata Raka, duduk di kursi kosong di sebelah meja Alya. "Aku tanya-tanya ke beberapa orang di divisi IT, ternyata ada yang mengakses file laporan HR itu dari komputer kantor semalam, sekitar jam sembilan malam."

"Siapa?" tanya Alya, jantungnya berdebar menunggu jawaban.

Raka menghela napas, tampak enggan mengucapkan nama yang ada di pikirannya. "Log akses menunjukkan itu dari komputer di ruangan Pak Surya."

Alya menatap Raka, terkejut. "Pak Surya sendiri yang bocorin? Tapi kenapa? Bukannya itu bakal merugikan dia juga, mengingat dia yang nutupin laporan itu dari awal?"

"Mungkin bukan Pak Surya langsung," jawab Raka. "Tapi seseorang yang punya akses ke ruangannya. Atau mungkin memang sengaja dibocorkan untuk suatu alasan tertentu."

Mereka berdua terdiam sejenak, mencoba mencerna kemungkinan-kemungkinan yang ada. Lalu, tiba-tiba, sebuah ingatan muncul di benak Alya.

"Dimas," katanya pelan. "Dia yang minta ketemu aku kemarin malam, katanya mau jelasin soal masa lalunya sebelum aku denger dari orang lain. Kalau dia tau laporan itu bakal bocor, mungkin dia sendiri yang sengaja bocorin, biar kelihatan seperti korban yang 'terungkap' duluan, daripada ketauan lewat jalur resmi yang lebih merugikan dia."

Raka mengangguk pelan, mempertimbangkan teori itu. "Itu mungkin aja. Tapi kita butuh bukti lebih kuat sebelum menuduh siapa pun."

---

Keesokan harinya, Dimas kembali masuk kerja setelah cuti sehari, wajahnya tampak tenang meski suasana kantor masih penuh bisik-bisik di sekelilingnya. Alya memutuskan untuk menghadapinya langsung, mengajaknya bicara di ruang rapat kecil yang lebih privat.

"Dimas, aku mau tanya langsung," kata Alya begitu mereka berdua duduk berhadapan. "Apa kamu yang bocorin laporan HR soal kamu sendiri ke seluruh kantor?"

Dimas terdiam sejenak, matanya menatap ke bawah sebelum akhirnya mengangguk pelan, mengakui kebenaran yang selama ini disembunyikan. "Iya," katanya lirih. "Aku yang bocorin."

"Kenapa?" tanya Alya, tidak menyangka pengakuan itu akan datang secepat ini.

"Karena aku tau cepat atau lambat itu bakal ketauan," jawab Dimas, suaranya penuh penyesalan. "Dan aku pikir, kalau aku yang ceritain versi aku sendiri duluan—biar keliatan kayak aku jujur, kayak aku udah berubah—orang-orang bakal lebih mudah maafin aku, dibanding kalau mereka denger dari laporan resmi yang bikin aku keliatan kayak predator."

"Tapi caranya kamu lakuin itu malah bikin masalah buat aku," kata Alya, suaranya mulai meninggi. "Semua orang sekarang curiga aku yang bocorin, padahal aku yang berusaha keras jaga rahasia itu."

"Aku minta maaf, Alya," kata Dimas, tampak benar-benar menyesal. "Aku nggak mikir sejauh itu, aku cuma panik dan pengen kontrol narasinya sebelum semuanya makin buruk."

Alya menghela napas panjang, mencoba menenangkan kemarahannya. "Dimas, aku ngerti kamu takut, tapi tindakan kamu ini udah ngerusak kepercayaan banyak orang, termasuk kepercayaan aku. Aku rasa yang terbaik sekarang, kamu harus ngaku ke Pak Surya soal apa yang sebenarnya terjadi, dan biarin proses HR yang nentuin langkah selanjutnya."

Dimas mengangguk lemah, menyadari bahwa tidak ada jalan lain selain menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri. "Aku akan ngomong ke Pak Surya," katanya akhirnya. "Dan Alya... aku minta maaf udah bikin kamu terlibat dalam semua kekacauan ini. Kamu nggak salah apa-apa, dan aku janji nggak akan ganggu kamu lagi soal perasaan aku."

Alya mengangguk, merasakan sedikit kelegaan meski situasi ini masih jauh dari selesai. Ia berjalan keluar dari ruang rapat itu dengan pikiran yang penuh, menyadari bahwa satu masalah mungkin sudah mendekati penyelesaian, tapi ada satu pertanyaan besar yang masih menggantung di benaknya—bagaimana ini semua akan memengaruhi posisinya di mata Pak Surya, dan di mata seluruh kantor yang sempat mencurigainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!