NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL22. Seorang Istri

Qiera masih berdiri di lorong fakultas ketika pesan dari nomor tak dikenal itu kembali dibacanya untuk kesekian kali. Dua kalimat singkat di layar ponselnya terasa jauh lebih mengganggu daripada yang ingin ia akui.

Bukan hanya karena pengirimnya mengetahui sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia, melainkan karena orang itu seolah sengaja memberitahunya bahwa selama ini ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya.

*Saya tahu hubungan kalian bukan sekadar dosen dan mahasiswa.*

*Kalau kamu ingin rahasia pernikahanmu tetap aman, sebaiknya kamu mulai berhati-hati. Tidak semua orang di kampus akan menerima hubungan kalian.*

Qiera menggigit bibir bawahnya, lalu memeriksa nomor pengirim. Tidak ada foto profil, tidak ada nama, bahkan tidak ada petunjuk mengenai siapa pemiliknya. Ia mencoba membuka informasi kontak, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan identitas orang tersebut, tetapi hasilnya nihil.

“Qiera?”

Suara Nisa membuatnya tersentak. Sahabatnya itu baru keluar dari ruang kelas dengan tas tersampir di bahu. Melihat Qiera berdiri mematung sambil menatap ponsel, Nisa langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa? Dari tadi aku panggil tidak dengar.”

Qiera buru-buru mematikan layar. “Tidak apa-apa. Cuma pesan masuk.”

“Pesan dari siapa sampai wajahmu begitu?”

“Nomor tidak dikenal.”

Nisa mengulurkan tangan. “Coba lihat.”

“Tidak perlu, Nis. Mungkin cuma orang salah kirim.”

Nisa menatapnya curiga. “Kamu yakin?”

Qiera memaksakan senyum. “Yakin. Ayo, kita makan dulu. Aku lapar.”

Ia berjalan lebih dulu sebelum Nisa sempat bertanya lagi. Sepanjang perjalanan menuju kantin, Qiera berusaha meyakinkan diri bahwa pesan itu mungkin hanya lelucon buruk dari seseorang yang kebetulan melihatnya bersama Ravi.

Bisa jadi ada mahasiswa yang memperhatikan interaksi mereka di kelas, atau seseorang yang melihat mereka berbicara setelah perkuliahan.

Namun, ada satu hal yang terus mengusiknya. Bagaimana orang itu bisa tahu tentang pernikahan mereka?

Selama ini, Qiera dan Ravi selalu berhati-hati. Mereka tidak pernah datang langsung bersama sampai ke kampus, tidak menunjukkan kedekatan di depan orang lain, dan bahkan berusaha menjaga percakapan mereka tetap profesional ketika berada di lingkungan fakultas. Kecupan yang terjadi semalam pun berlangsung di apartemen, jauh dari jangkauan siapa pun.

Kalau seseorang benar-benar mengetahui rahasia mereka, berarti ada sesuatu yang terlewatkan. Mungkin orang tersebut melihat ciuman saat hujan sore itu?

Dan Qiera tidak menyukai kemungkinan itu.

...☁☁☁...

Menjelang sore, Ravi menyelesaikan perkuliahan terakhirnya dengan lebih cepat daripada biasanya. Ia sudah berusaha membatasi aktivitas sesuai anjuran dokter, tetapi kembali mengajar setelah beberapa hari beristirahat ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Punggungnya mulai terasa kaku, terutama ketika ia harus berdiri cukup lama untuk menjelaskan materi di depan kelas.

Meski demikian, ia tetap menyelesaikan tugasnya tanpa menunjukkan rasa tidak nyaman kepada mahasiswa. Setelah kelas berakhir, ia kembali ke ruang dosen untuk merapikan berkas sebelum akhirnya memutuskan pulang.

Ponselnya bergetar ketika ia sedang memasukkan dokumen ke dalam tas.

Sebuah pesan dari Qiera muncul di layar.

📲Mas, kelasnya sudah selesai?

Ravi membalas singkat.

📲Sudah. Kamu masih di kampus?

📲Sudah mau pulang. Mas jangan lupa istirahat.

Ravi tersenyum tipis. Ia hampir mengetik sesuatu untuk menggoda istrinya, tetapi urung ketika rasa nyeri di sekitar bahunya kembali terasa. Ia merapikan tas, lalu berjalan menuju parkiran dengan langkah hati-hati.

...⛅⛅...

Dalam perjalanan pulang, pikirannya sempat kembali pada beberapa potong kkejadian sebelumnya. Pada wajah Qiera yang memerah setelah ciuman mereka yang tidak disengaja, pada tangan perempuan itu yang gemetar ketika merawat goresan kecil di dagunya, dan pada caranya meniup luka itu seolah rasa sakit sekecil apa pun yang dialaminya harus segera dihilangkan.

Hal-hal sederhana semacam itu seharusnya tidak membuatnya tersenyum sendiri. Namun, nyatanya, Ravi sudah beberapa kali tersenyum diam-diam sejak pagi.

Ravi mengembuskan napas, lalu memusatkan perhatian kembali pada jalan. Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apa pun tentang perasaan Qiera. Perempuan itu masih muda, memiliki banyak hal yang ingin dicapai, dan baru saja menjalani pernikahan yang datang jauh lebih cepat daripada yang mungkin pernah dibayangkannya.

Ravi tidak ingin kedekatan mereka terasa seperti kewajiban baru yang harus dipenuhi Qiera. Ia ingin perempuan itu memilihnya dengan kemauan sendiri.

Bukan karena status mereka sebagai suami istri, bukan karena keluarga mereka saling mengenal, dan bukan pula karena merasa berutang setelah dirinya terluka demi melindunginya.

Ia ingin menjadi seseorang yang membuat Qiera merasa pulang, bahkan ketika dunia di luar apartemen sedang begitu melelahkan.

Pikiran itu membuat Ravi tersenyum kecil sebelum akhirnya memarkir mobil di basement.

Di saat itu, Qiera tiba di apartemen hampir bersamaan dengan Ravi. Begitu pintu terbuka, ia melihat suaminya berdiri di dekat rak sepatu sambil melepas jam tangan. Penampilan Ravi masih rapi, tetapi wajahnya tampak lebih lelah daripada ketika berangkat pagi tadi.

“Mas sudah pulang?” Qiera segera menghampirinya. “Bagaimana luka Mas? Punggung Mas sakit lagi?”

Ravi menatapnya dengan senyum tipis. “Saya juga baru masuk, Lily. Beri saya kesempatan bernapas dulu.”

“Berarti sakit?”

“Bukan begitu.”

“Terus?”

Ravi menggeleng sambil tertawa kecil. “Kamu tidak berubah sejak saya pulang dari rumah sakit.”

“Karena Mas juga tidak berubah. Sudah dibilang istirahat, masih saja memaksakan diri.”

Qiera mengambil tas kerja dari tangannya sebelum Ravi sempat meletakkannya di meja. Ia kemudian menyuruh pria itu duduk di sofa, mengambilkan air minum, dan memastikan obat yang harus diminum setelah makan sudah tersedia.

Ravi menurut tanpa banyak protes, meskipun sesekali ia melirik istrinya yang bergerak ke sana kemari dengan kesibukan yang nyaris tidak masuk akal.

“Lily, saya bisa mengambil air sendiri.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu mengambilkannya?”

“Karena aku sedang mengambil air.”

Ravi terdiam, kemudian menggeleng sambil tersenyum. “Baiklah. Saya tidak akan berdebat denganmu.”

“Bagus.”

Qiera baru saja hendak beranjak ke dapur ketika pandangannya jatuh pada kemeja Ravi. Ada sesuatu yang berbeda di bagian belakang bahu, tepat di sekitar area luka yang masih dalam masa pemulihan. Kainnya sedikit kusut dan tampak ada noda samar yang tidak seharusnya berada di sana.

Ia mendekat, lalu menyentuh lengan Ravi dengan hati-hati.

“Mas, coba berdiri sebentar.”

Ravi menoleh. “Kenapa?”

“Aku mau memeriksa punggung Mas.”

“Tidak perlu. Saya baik-baik saja.”

Qiera menatapnya tajam. “Mas, berdiri.”

Mendengar nada itu, Ravi akhirnya menurut. Qiera memintanya berbalik, kemudian memperhatikan bagian belakang kemejanya. Ketika melihat noda merah yang samar di dekat bahunya, wajah perempuan itu langsung berubah.

“Mas Ravi!”

Ravi menoleh sedikit. “Apa?”

“Ini berdarah!”

Ia segera membantu Ravi duduk kembali, lalu bergegas mengambil kotak pertolongan pertama yang disimpan di lemari. Tangannya bergerak cepat, tetapi wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

Ravi memperhatikannya dalam diam, menyadari bahwa ia seharusnya tidak menganggap remeh rasa nyeri yang muncul sejak siang tadi.

“Lily, mungkin hanya sedikit—”

“Jangan bilang tidak apa-apa sebelum aku melihatnya!”

Ravi menutup mulut.

Qiera kembali membawa kotak obat, kemudian meminta suaminya duduk dengan posisi yang tidak menekan bagian punggung yang terluka. Ia membantunya melepaskan kemeja dengan hati-hati, memastikan tidak ada gerakan yang membuat luka semakin tertarik.

Setelah melihat bahwa bagian tepi luka kembali mengeluarkan sedikit darah, ia segera menghubungi fasilitas kesehatan yang menangani Ravi untuk meminta arahan. Ia mengikuti instruksi yang diberikan, membersihkan area sesuai petunjuk, lalu menutupnya kembali dengan balutan bersih.

Tidak ada luka yang tampak mengerikan, tetapi bagi Qiera, melihat darah itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.

“Mas harus diperiksa lagi kalau darahnya tidak berhenti atau rasa sakitnya bertambah,” katanya setelah panggilan berakhir. “Aku tidak mau Mas menyepelekan ini.”

Ravi mengangguk. “Baik. Kalau masih sakit, kita periksa.”

“Bukan kalau masih sakit. Kalau ada perubahan, kita periksa. Dan besok Mas tidak boleh mengajar dulu sebelum mendapat arahan dokter.”

Ravi hendak membantah, tetapi tatapan Qiera membuatnya mengurungkan niat.

“Baik, Lily.”

Qiera mengembuskan napas lega, lalu mulai merapikan perlengkapan medis. Namun, ketika ia berbalik untuk menyimpan kotak obat, Ravi memanggilnya.

“Terima kasih.”

Qiera berhenti. “Untuk apa?”

“Karena mengurus saya.”

Ia menatap Ravi beberapa saat, kemudian menggeleng pelan. “Mas tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti itu.”

“Kenapa?”

“Karena...” Qiera terdiam, mencari jawaban yang tidak membuatnya terdengar terlalu sentimental. “Karena aku istrinya Mas.”

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!