NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — MIMPI YANG TERKUBUR

Bagaimana kalau... aku mencoba sekali lagi?

Pertanyaan itu bertahan di kepala Ervan jauh lebih lama daripada halaman di layar ponselnya.

Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, memandangi situs resmi seleksi Hunter yang masih terbuka. Tadi ia hanya memperhatikan tanggal pelaksanaan.

Satu bulan lagi.

Sekarang ia mulai membaca semuanya dari awal.

Batas usia.

Dokumen administrasi.

Pemeriksaan kesehatan.

Verifikasi identitas.

Pengujian CORE.

Uji kemampuan fisik.

Tes kompetensi dasar.

Ervan menggulir layar perlahan.

Semakin banyak ia membaca, semakin terasa bahwa pertanyaan yang muncul beberapa menit lalu mungkin terlalu optimistis.

Seleksi Hunter bukan ujian yang bisa dihadapi hanya dengan keberanian.

Orang-orang yang datang ke sana bukan pemuda biasa yang tiba-tiba memutuskan ingin mengenakan Regalia lalu pergi memburu BETA.

Sebagian besar telah dipersiapkan bertahun-tahun.

Ervan membuka forum diskusi calon Hunter.

Kemudian artikel lain.

Lalu beberapa rekaman wawancara peserta dari tahun sebelumnya.

Informasinya hampir selalu sama.

Mayoritas calon Hunter mulai menerima pendidikan dasar ketika berusia sekitar lima hingga delapan tahun.

Awalnya sederhana.

Latihan keseimbangan.

Kontrol tubuh.

Daya tahan.

Disiplin.

Kemudian teori mengenai BETA, pengenalan CORE, latihan penggunaan Regalia tingkat dasar, pola pergerakan, sampai pengetahuan mengenai bagaimana seseorang harus bereaksi ketika berhadapan dengan ancaman sebenarnya.

Anak-anak dari keluarga Hunter bahkan memiliki keunggulan lebih besar.

Mereka tumbuh dengan pelatih.

Fasilitas.

Peralatan.

Informasi.

Beberapa sudah terbiasa memegang Regalia latihan bahkan sebelum cukup umur mengikuti seleksi resmi.

Sementara Ervan—

Ia melirik tangannya sendiri.

Delapan belas tahun.

Tidak pernah mendapat pendidikan tempur formal.

Tidak mempunyai pelatih.

Tidak berasal dari keluarga Hunter.

Bahkan sampai kemarin, CORE miliknya masih dikenal sebagai CORE gagal yang tidak pernah melewati Installation Progress nol persen.

Ervan mengembuskan napas pelan.

"Sepuluh tahun lebih..."

Ia mematikan layar ponsel.

Kamar langsung terasa sedikit lebih gelap.

Satu bulan untuk mengejar orang-orang yang sudah berlatih lebih dari satu dekade.

Kalau dilihat sebagai persoalan angka, kemungkinan itu hampir menggelikan.

Ervan meletakkan ponsel di sampingnya.

Inilah alasan kenapa ia dulu berhenti melihat informasi seperti ini.

Bukan karena tidak tertarik.

Justru karena terlalu tertarik.

Setiap kali melihat dunia Hunter, ia hanya diingatkan pada sesuatu yang seharusnya bisa ia kejar seandainya CORE-nya bekerja seperti milik orang lain.

Dulu ia bahkan hafal beberapa tahapan seleksi.

Ia pernah membuat jadwal latihan sendiri.

Pernah membaca klasifikasi BETA sampai larut malam.

Pernah berdiri di depan toko perlengkapan Hunter hanya untuk melihat Regalia yang dipajang di balik kaca.

Lalu hasil pemeriksaan berikutnya keluar.

Installation Progress: 0%.

Pemeriksaan berikutnya.

Tetap nol.

Tahun berikutnya.

Nol.

Akhirnya mimpi itu tidak benar-benar hilang.

Ervan hanya menguburnya cukup dalam agar tidak lagi mengganggu kehidupan sehari-harinya.

Ia bekerja.

Membantu panti.

Menjalani hidup seperti orang biasa.

Lebih mudah begitu.

Sampai semalam.

Ervan kembali mengambil ponsel.

Ia menyalakan layar dan membuka halaman seleksi yang tadi ditutup.

Tatapannya berhenti pada salah satu persyaratan.

CORE terinstal dan berfungsi.

Kalimat sederhana.

Namun selama bertahun-tahun, itulah tembok yang tidak pernah bisa dilewatinya.

Sekarang?

Ervan menundukkan pandangan.

Ia masih mengingat suara itu.

«CORE INSTALLATION COMPLETE»

Kalau itu benar—

hambatan terbesarnya sudah tidak ada.

Masalahnya, ia tidak tahu apa yang menggantikannya.

Ervan berpindah dari situs seleksi menuju artikel mengenai aktivasi CORE.

Ia membaca beberapa penjelasan medis dan teknis yang tersedia untuk publik.

Proses instalasi biasanya terjadi mengikuti respons tubuh dan tingkat kompatibilitas pengguna. Setelah instalasi sempurna, tubuh dapat mulai menyesuaikan diri dengan CORE sebelum kemampuan Hunter dikembangkan melalui latihan dan penggunaan Regalia.

Tidak ada yang aneh pada bagian itu.

Yang aneh adalah dirinya.

Ervan mempersempit pencarian.

CORE installation delayed

Beberapa hasil muncul.

Keterlambatan beberapa hari.

Minggu.

Dalam kasus tertentu, bulan.

Ia mengganti kata pencarian.

Installation Progress 0% years

Hasilnya jauh lebih sedikit.

Sebagian besar hanya forum spekulasi dan pembahasan kasus tanpa data jelas.

Ervan membaca beberapa sebelum menutupnya.

Tidak berguna.

Ia mencoba bagian lain.

CORE activation near death.

Kemudian—

CORE healing severe injury.

Ia tidak menemukan apa pun yang benar-benar cocok dengan apa yang dialaminya.

Ada pembahasan mengenai Hunter dengan kemampuan regenerasi tertentu.

Ada Role tertentu yang meningkatkan pemulihan.

Ada kemampuan Support yang dapat mempercepat penyembuhan luka.

Namun semuanya mempunyai mekanisme spesifik.

Dan hampir semuanya membutuhkan kemampuan yang sudah dikenali.

Ervan belum mengenali apa pun.

Ia bahkan belum tahu apakah dirinya memiliki Role.

Tangannya kembali menyentuh sisi perut.

Kulit di sana tetap mulus.

Tidak ada rasa sakit.

Tidak ada bekas luka.

"Kalau bukan CORE... lalu apa?"

Tidak ada jawaban.

Ervan bersandar.

Ia mulai mempertimbangkan kemungkinan melakukan pemeriksaan resmi.

Namun pikiran itu hanya bertahan sebentar.

Kasus CORE dengan kompatibilitas sembilan puluh sembilan persen tetapi gagal terinstal selama bertahun-tahun sudah cukup aneh.

Kalau ia datang sekarang dan mengatakan proses itu tiba-tiba selesai tepat setelah dirinya ditikam, sementara luka tusuknya menghilang tanpa bekas—

ia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan institusi terhadap informasi tersebut.

Pemeriksaan tambahan?

Observasi?

Penelitian?

Atau sesuatu yang lebih merepotkan?

Ervan tidak ingin membuat keputusan sebelum memiliki setidaknya sedikit pemahaman mengenai tubuhnya sendiri.

Untuk sementara, lebih baik diam.

Bukan selamanya.

Hanya sampai ia memiliki data.

Ervan menatap catatan kecil di meja belajarnya.

Data.

Kata itu membuat pikirannya berhenti berputar-putar.

Selama ini ia terus bertanya apa yang berubah.

Namun dirinya belum melakukan satu hal paling sederhana.

Menguji.

Ia bangkit dari ranjang.

Mengambil buku catatan yang biasanya digunakan untuk mencatat pengeluaran pribadi.

Satu halaman kosong dibuka.

Ervan menulis tanggal hari ini.

Di bawahnya ia membuat beberapa baris.

Kondisi awal:

Tidak ada rasa sakit pada bekas tusukan.

Tidak ada luka terlihat.

Tidak ada pusing.

Tidak ada mual.

Tidak ada kelemahan setelah kehilangan darah.

Tubuh terasa lebih ringan dari biasanya.

Ujung bolpoin berhenti.

Ervan membaca ulang daftar tersebut.

Kalau semua ini memang berhubungan dengan aktivasi CORE, seharusnya ada perubahan yang bisa diukur.

Bukan hanya perasaan.

Ia tidak mempunyai laboratorium.

Tidak mempunyai alat pemeriksaan Hunter.

Tetapi ia mengenal tubuhnya sendiri.

Ervan tahu kira-kira seberapa jauh ia mampu berlari sebelum napasnya berantakan.

Ia tahu jumlah push-up yang biasanya membuat kedua lengannya mulai kehilangan kekuatan.

Ia tahu seberapa cepat dirinya pulih setelah aktivitas fisik berat.

Semuanya sederhana.

Namun cukup untuk membuat perbandingan awal.

Ervan menulis satu kalimat lagi.

Uji kondisi fisik.

Ia berhenti sejenak.

Kemudian menambahkan:

Besok pagi.

Untuk pertama kalinya sejak membuka halaman seleksi, pikirannya terasa lebih tenang.

Ervan belum memutuskan akan menjadi Hunter.

Belum.

Mengikuti seleksi hanya karena CORE tiba-tiba aktif tanpa mengetahui kemampuan tubuh sendiri adalah keputusan bodoh.

Ia hanya perlu mengetahui satu hal terlebih dahulu.

Apakah dirinya masih Ervan yang sama seperti kemarin?

Menjelang sore, Ervan keluar dari kamar.

Aktivitas panti sudah kembali berjalan seperti biasa.

Beberapa anak kecil berlarian di halaman. Salah seorang hampir menabraknya sebelum berbelok sambil tertawa ketika melihat Rosaline keluar dari ruangan samping.

Ervan memperhatikan mereka beberapa saat.

Tempat ini tidak pernah benar-benar sunyi.

Ada pintu yang perlu diperbaiki.

Tagihan yang harus dihitung.

Persediaan makanan yang harus dijaga.

Anak-anak yang tumbuh terlalu cepat dibanding kemampuan panti membeli pakaian baru.

Masalah kecil bagi sebagian orang.

Tidak kecil bagi mereka.

Rosaline menyadari Ervan berdiri di dekat pintu.

"Kukira kamu masih di kamar." Pandangan Rosaline sempat turun ke sisi perut Ervan sebelum kembali ke wajahnya. "Kamu belum tidur sama sekali, ya?"

"Sudah, kok," jawab Ervan.

"Jawabanmu terlalu cepat untuk orang yang benar-benar sudah tidur," balas Rosaline.

"Hampir tiga jam. Aku sempat melihat jam sebelum tertidur, jadi itu bukan perkiraan."

Rosaline menyilangkan tangan.

"Semalam kamu hampir mati. Dan menurutmu tiga jam sudah pantas disebut istirahat?"

Ervan terdiam sebentar.

"Kalau kujawab iya, sepertinya aku tetap akan kalah dalam percakapan ini."

"Setidaknya kepalamu masih cukup sehat untuk menyadarinya," kata Rosaline.

Ada sedikit kelegaan dalam nada Rosaline meskipun wajahnya masih menyimpan kekhawatiran.

Ervan memandang anak-anak yang sedang bermain lagi.

"Besok pagi aku mau keluar sebentar. Tidak akan lama," kata Ervan.

Tatapan Rosaline langsung kembali kepadanya.

"Keluar ke mana? Jangan bilang kamu sudah mau masuk kerja lagi," tanya Rosaline.

"Bukan kerja." Ervan mengusap tengkuknya; ia sudah bisa menebak bagaimana kata berikutnya akan diterima. "Aku mau lari."

Rosaline mengerutkan kening.

"Lari?"

"Jogging, maksudku. Pelan saja. Aku cuma ingin mengecek kondisi tubuhku," jawab Ervan.

Rosaline jelas tidak menyukai jawabannya.

"Tadi pagi kamu pulang dengan pakaian penuh darah. Dan besok kamu sudah mau lari?"

"Justru karena kejadian semalam." Ervan mengangkat tangan sebelum Rosaline memotong. "Aku tidak akan memaksakan diri. Kalau ada rasa sakit, pusing, atau apa pun yang terasa aneh, aku langsung berhenti. Daripada terus menebak-nebak dari atas ranjang, lebih baik aku tahu pasti."

Rosaline menatapnya cukup lama.

"Kadang aku tidak tahu kamu ini memang pintar, atau cuma sangat pandai membuat keputusan buruk terdengar masuk akal."

Ervan sedikit tersenyum.

"Mungkin dua-duanya."

Rosaline mendecakkan lidah.

"Jangan jauh-jauh. Pilih jalan yang kamu hafal."

"Aku tahu. Aku tidak berniat pergi jauh," jawab Ervan.

"Ponselmu dibawa, dan jangan dimatikan. Aku tidak mau lagi menelepon sampai pagi tanpa diangkat."

Senyum Ervan surut.

"Iya. Kubawa, dan tidak akan kumatikan."

Rosaline menepuk lengannya sekali, pelan, seperti memastikan ia benar-benar berdiri di sana.

"Dan sarapan dulu sebelum berangkat. Aku tidak mau dengar alasan belum lapar."

Ervan mengangguk.

Kali ini ia tidak berdebat.

Pagi berikutnya, udara masih dingin ketika Ervan berdiri di depan gerbang panti.

Kaos olahraga sederhana.

Celana training.

Sepatu lama yang masih cukup layak digunakan.

Tidak ada Regalia.

Tidak ada alat khusus.

Hanya ponsel di tangan dan buku catatan kecil yang ditinggalkan di kamarnya.

Ervan membuka aplikasi stopwatch.

Ia sudah menentukan rute sejak malam.

Dua setengah kilometer keluar.

Dua setengah kilometer kembali.

Total—

5 kilometer.

Jarak yang cukup untuk memberikan gambaran dasar tanpa terlalu memaksakan tubuh.

Setidaknya menurut perhitungannya.

Ervan melakukan peregangan singkat.

Kemudian ia berdiri di tepi jalan.

Jempolnya menekan layar.

00:00:00

Stopwatch mulai bergerak.

Ervan mengambil napas.

Lalu mulai berlari.

Langkah pertama terasa biasa.

Langkah kedua juga.

Ervan mempertahankan kecepatan rendah, sengaja menahan diri sambil memperhatikan napas, detak jantung, serta setiap sinyal kecil dari tubuhnya.

Ia tidak tahu bahwa pagi itu ia sedang menguji sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar stamina.

Karena tubuh yang membawanya berlari keluar dari panti—

bukan lagi tubuh yang sama seperti dua hari sebelumnya.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!