Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12: Bonus gajih dan apresiasi dari sang bos besar
Setelah Perjamuan Malam Musim Gugur dibubarkan, Xie Yufei berjalan gontai di sepanjang koridor istana yang diterangi lentera. Kakinya terasa pegal luar biasa karena harus memakai sepatu dengan sol tebal khas putri bangsawan selama berjam-jam. Di belakangnya, Xiao Mei berjalan sambil membawa bungkusan kain, sementara Xie Jian sudah berpamitan terlebih dahulu untuk mengawal kepulangan ayah mereka.
Di luar, Yufei tampak melangkah dengan sisa-sisa keanggunan seorang nona muda bangsawan. Namun di dalam kepalanya, jeritan kelelahan fisik dan mental seorang pekerja kantoran yang habis kerja lembur bagai kuda kembali bergema:
(Aduh... encok, jompo, pegel linu! Ini kaki berasa mau copot, bund. Mana perut gue keroncongan parah lagi. Tadi pas perjamuan mana bisa makan kenyang, tiap mau nyuap kue harus pelan-pelan estetik demi menjaga citra Penasihat Rahasia. Giliran si Lin Hao gatal-gatal, drama lagi. Hih, kalau di dunia modern, jam segini gue udah rebahan sambil order seblak ceker level lima sama es teh manis jumbo via ojol. Lapar bener, asli!)
Tiba-tiba, langkah kaki Yufei terhenti. Di persimpangan koridor menuju gerbang luar, sesosok pria bertubuh tegap dengan jubah biru tua bersulam perak sudah berdiri menyandar pada tiang kayu cendana. Pangeran Mo Cheng.
Yufei buru-buru membenarkan postur tubuhnya dan membungkuk hormat. "Yang Mulia Pangeran Mo Cheng. Mengapa Anda masih berada di area luar istana jam selarut ini?" tanya Yufei dengan suara selembut sutra.
Namun di dalam hatinya, dia langsung panik:
(Waduh, si Bos Besar ngapain nongkrong di sini? Jangan-jangan mau ngasih tugas tambahan buat besok pagi?! Tolonglah Mas Jenderal, kasihani jiwa buruh yang rentan encok ini. Gue butuh tidur, bukan briefing proyek baru!)
Pangeran Mo Cheng menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum. Seblak? Ojol? Briefing? Istilah aneh itu lagi-lagi lewat, tapi kalimat terakhir Yufei tentang "jiwa buruh" membuat sang pangeran merasa sedikit bersalah. Dia tahu gadis ini sudah bekerja keras menjatuhkan harga diri faksi Lin Hao malam ini.
Pangeran Mo Cheng berdehem pelan, suaranya terdengar berat namun tidak sedingin biasanya. "Nona Xie, aku menunggumu di sini untuk menyerahkan... upah atas kinerjamu malam ini."
Pangeran memberi isyarat pada kasim pribadinya yang langsung maju membawa nampan giok berpenutup kain sutra merah. Ketika kain itu dibuka, mata Yufei seketika melotot indah. Di atas nampan terdapat dua buah gelang giok putih kualitas tertinggi yang berkilau di bawah cahaya lentera, serta sekotak perhiasan emas murni.
Namun, yang paling membuat air liur Yufei hampir menetes adalah sebuah wadah mangkuk keramik tertutup yang mengeluarkan aroma kuah kaldu pedas, gurih, dan sangat menggugah selera.
"Gelang dan perhiasan ini adalah bonus resmimu karena telah membantuku membungkam Lin Hao," ucap Pangeran Mo Cheng dengan wajah datar, walau daun telinganya perlahan mulai merona merah. "Dan mangkuk itu... aku menyuruh koki pribadiku memasak sup daging dengan cabai merah kering yang ditumbuk kasar, disajikan dengan mi gandum kenyal. Koki bilang rasanya sangat pedas dan berkuah pekat. Kurasa ini mirip dengan makanan pedas berkuah yang pernah kau sebutkan dulu."
DUARRR!
Jiwa lapar Yufei seketika langsung mengalami lonjakan kegembiraan tingkat dewa di dalam kepalanya:
(DEMI APA?! SEBLAK TIRUAN ZAMAN KUNO?! Mas Jenderal, lu beneran malaikat pelindung atau gimana sih?! Tahu aja kalau perut gue lagi demo minta asupan karbohidrat dan micin! Mana dapet bonus giok sama emas sekeranjang lagi! Wah, fix... ini mah bukan eksploitasi tenaga kerja, tapi skema kompensasi karyawan terbaik sepanjang sejarah dinasti! Kalau bosnya royal begini dan gantengnya meresahkan kayak aktor piala Oscar, gue rela kerja lembur bagai kuda sampai akhir hayat!)
Pangeran Mo Cheng yang mendengar pujian "rela kerja lembur sampai akhir hayat" langsung merasakan dadanya berdesir hangat. Dia buru-buru memalingkan wajahnya yang mulai memanas ke arah lain, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya.
"B-bawa pulang dan makanlah selagi hangat," ujar Pangeran Mo Cheng agak gugup, suaranya sedikit serak. "Sebagai penasihatku, kau tidak boleh kelaparan."
Yufei tersenyum lebar hingga matanya menyipit manis, rasa lelahnya hilang seketika. "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Yang Mulia Pangeran Mo Cheng. Hamba pasti akan mendedikasikan seluruh jiwa dan raga hamba untuk membantu Anda."
Di dalam hatinya, Yufei sudah melompat-lompat kegirangan sambil memeluk mangkuk sup pedas itu secara imajiner:
(Asyik! Pulang-pulang langsung mukbang! Makasih banyak Mas Jenderal yang ganteng nya kebangetan, besok-besok kalau lu batuk lagi, gue bakal racikin ramuan kecap jeruk nipis versi premium pake doa biar langsung sembuh total! Love you sekebon, Bos Besar!)
Mendengar seruan batin "Love you sekebon" yang bernada sangat riang ditambah gelombang emosi kegembiraan yang meluap-luap dari jiwa gadis itu, Pangeran Mo Cheng langsung merasa dadanya berdebar aneh. Meskipun dia sama sekali tidak tahu apa arti kata "love you" atau wujud dari "sekebon", reaksi batin Yufei yang begitu heboh setelah menerima sup pedas darinya sukses membuat sang pangeran salah tingkah sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi demi menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas, Pangeran Mo Cheng langsung berbalik dan melangkah pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Yufei yang menatap jubah birunya yang melambai dengan pandangan penuh kekaguman.