Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: BEKAS LUKA YANG SAMA
Kehangatan perapian Penginapan Angin Timur perlahan mulai memudar saat badai es di luar jendela perlahan surut menjadi hawa dingin yang mengendap. Di dalam kamar kayu yang temaram, keheningan malam terasa begitu intim namun penuh dengan kerinduan yang mendalam.
Lian Yue masih duduk berdekatan dengan Shen Rui di atas karpet bulu. Cahaya lilin yang bergetar lembut memancarkan kilauan temaram di wajah tegap sang pemburu. Saat pria itu bergerak sedikit untuk menambah potong kain alas, jubah abu-abu ketat di bagian dadanya agak tersingkap, mengalihkan perhatian Lian Yue.
Di balik lipatan kain di dada kiri Shen Rui—tepat di atas posisi jantungnya—terdapat sebuah tanda yang sangat ganjil.
Lian Yue terpana. Jemari tangannya terangkat secara refleks, menunjuk ke arah dada pria itu. "Shen Rui... tanda apa itu?"
Shen Rui menunduk menatap dadanya sendiri, lalu perlahan menurunkan lipatan jubahnya sedikit lebih rendah. Di atas kulit tegapnya, terukir sebuah bekas luka berwarna perak samar yang berbentuk bulan sabit sempurna. Bekas luka itu seolah menembus permukaan kulit, memancarkan pendar energi spiritual yang sangat tipis dan dingin.
"Ini bekas luka sejak lahir," jawab Shen Rui pelan, suaranya rendah dan sarat akan kebingungan yang disimpan sejak kecil. "Para penatua di Paviliun Tianjian selalu mengatakan ini adalah cacat lahir biasa dari bawaan qi spiritualku. Tetapi bekas luka ini sering berdenyut kesakitan... terutama setiap kali aku memikirkan mimpi-mimpi aneh tentang seseorang yang tak kutahu."
Lian Yue merasa dadanya dihantam getaran dahsyat saat menatap bekas luka bulan sabit tersebut.
Secara perlahan, Lian Yue mengangkat tangan kirinya. Ia menarik ke atas lengan gaun sutra putihnya hingga memperlihatkan bagian dalam lengan atasnya, tepat di dekat garis bahu. Di sana, di atas kulit mulusnya yang pucat bagai pualam, terukir tanda perak berbentuk bulan sabit dengan ukuran dan bentuk yang persis sama.
Shen Rui menegang seketika. Matanya membesar, tatapannya terkunci rapat pada pergelangan dan lengan Lian Yue.
"Tanda ini..." bisik Lian Yue dengan bibir bergetar. "Pria dalam mimpiku—pria yang mengenakan gaun pengantin merah seribu tahun lalu—memiliki bekas luka yang sama persis di dada kirinya. Sebelum kegelapan membuntutinya pada malam pernikahan berdarah itu, ia menggenggam tanganku dan berjanji bahwa tanda bulan sabit ini akan menjadi penanda jiwa kami di setiap kehidupan."
Shen Rui menyentuhkan jemarinya ke lengan Lian Yue, tepat di atas bekas luka bulan sabit tersebut.
Zzzzt!
Sentuhan dua tanda bulan sabit yang saling berdekatan itu mendadak memicu ledakan gelombang qi perak di udara kamar. Sebuah dentuman hangat bersirkulasi cepat, menghubungkan aliran darah dan meridian kedua tubuh mereka dalam satu irama detak jantung yang sempurna.
Di dalam benak Shen Rui, sebuah kilasan ingatan yang sangat jelas meledak: Ia melihat dirinya sendiri berdiri di sebuah altar kuno seribu tahun lalu, memegang dada kirinya yang bersimbah darah setelah dilukai oleh senjata suci. Di depannya, perempuan berwajah Lian Yue menangis histeris, mencoba menahan napasnya yang perlahan menghilang. Sebelum jiwanya melayang ke dalam siklus reinkarnasi, ia mengukirkan sisa esensi intinya ke dada sang perempuan, membentuk segel bulan sabit abadi.
"Lian Yue..." suara Shen Rui pecah oleh air mata yang mendadak menetes dari pelupuk matanya. Pria yang tak pernah menangis di hadapan musuh itu kini menatap Lian Yue dengan seluruh kepedihan dari jiwa masa lalunya. "Bukan kau yang membawakan kutukan ini... aku yang mengukirnya padamu agar aku bisa menemukanmu kembali di setiap kehidupan."
Lian Yue menyandarkan kepalanya di dada kiri Shen Rui, tepat di atas bekas luka bulan sabit yang berdenyut hangat. Di bawah deru angin malam yang berhembus di luar Penginapan Angin Timur, dua jiwa yang terpisah oleh hukum pembantaian seribu tahun kini menyadari bahwa tanda luka yang mereka bawa bukanlah tanda kematian—melainkan bukti ikrar abadi yang tak sanggup dihapus oleh langit maupun bumi.