"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 PROTES KERAS SANG PEMBERONTAK
Tiga puluh menit berlalu...
Namun bagi Wira, waktu di dalam Ruang Budaya itu seolah merangkak layaknya siput yang sekarat.
Suara srek-srek dari sapu ijuk yang bergesekan dengan lantai kayu jati menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan paviliun tua tersebut.
Debu-debu halus menari-nari di udara, tertiup masuk oleh angin sore dari celah jendela, membuat Wira beberapa kali terbatuk pelan.
Tangannya yang memar menahan ngilu setiap kali ia mengayunkan gagang sapu. Sudut bibirnya yang robek terasa berdenyut-denyut. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa panas yang perlahan-lahan mulai membakar kembali egonya di dalam dada.
Wira berhenti sejenak.
Ia menyandarkan tubuhnya pada gagang sapu, menarik napas panjang, dan menoleh ke arah meja administrasi.
Di sana, Asmara masih duduk dengan postur tegaknya yang sempurna.
Mata gadis itu fokus membaca deretan angka dan judul buku di lembar inventaris, sementara tangan kanannya lincah mencatat dengan pulpen. Sesekali ia membuka lembaran buku kuno di hadapannya dengan sangat hati-hati, seolah buku itu terbuat dari kaca yang rapuh.
Tidak sekalipun gadis itu melirik ke arah Wira.
Realitas dari situasi ini perlahan mulai meresap ke dalam otak Wira, mengikis habis niat baik yang sempat terbersit di hatinya beberapa menit yang lalu.
"Gue lagi ngapain sih di sini?" batin Wira, memandangi tangannya yang kotor memegang sapu.
Wira Aji Pratama. Sang penguasa tongkrongan sekolah di Bogor. Pemuda yang paling ditakuti oleh murid-murid dari sekolah lawan.
Kini, di kota ini, ia direduksi menjadi seorang tukang sapu rendahan yang diawasi oleh seorang gadis berusia enam belas tahun.
Dan yang paling membuat darahnya mendidih adalah kenyataan bahwa ia berada di ruangan apek ini karena membela kehormatan gadis yang sekarang menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu.
"Mas Wira..."
Suara Asmara tiba-tiba memecah keheningan.
Nadanya datar, dingin, dan sangat formal.
Gadis itu tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada catatannya.
"Menyapunya tolong jangan diayun terlalu keras. Debunya jadi beterbangan dan menempel di kain penutup gamelan. Gunakan pergelangan tangan saja, disapu perlahan ke satu arah."
Itu adalah pemicunya.
Kalimat instruksi yang diucapkan dengan nada memerintah tanpa sedikit pun empati itu menjadi percikan api yang menyambar tangki bensin di dalam dada Wira.
Brakkk!!!
Wira membanting sapu ijuk itu ke lantai kayu dengan tenaga penuh, menciptakan gema yang memekakkan telinga di seluruh penjuru ruangan. Debu yang tadinya sudah terkumpul kembali berhamburan.
Asmara terkesiap pelan, bahunya sedikit tersentak karena suara bantingan yang tiba-tiba itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Wira dengan kening sedikit berkerut, meski wajahnya tetap berusaha mempertahankan ketenangan.
"Gue bukan pembantu lo!" bentak Wira. Suaranya menggelegar, serak, dan dipenuhi oleh amarah yang tertahan.
Pemuda itu melangkah lebar-lebar melintasi ruangan, mengabaikan debu yang baru saja ia sapu, lalu berhenti tepat di depan meja Asmara.
Wira menumpukan kedua tangannya yang memar ke atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke dalam sepasang mata bulat gadis itu.
"Lo pikir lo siapa, hah?" desis Wira, napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat.
"Mentang-mentang guru BK nyuruh lo ngawasin gue, lo pikir lo bisa nyuruh-nyuruh gue seenaknya? --'Jangan diayun terlalu keras, Mas Wira'-- . --'Sapu perlahan, Mas Wira'-- . Cih! Lo pikir gue peduli sama debu dan gamelan tua ini?!"
Asmara tidak mundur seinci pun. Ia meletakkan pulpennya di atas meja dengan tenang, lalu melipat kedua tangannya di pangkuan.
Ia menatap Wira tepat di matanya, membalas tatapan berapi-api itu dengan kedinginan es di kutub.
"Saya hanya menyampaikan prosedur membersihkan ruangan ini, Mas," jawab Asmara datar. "Kalau Mas tidak mau debunya bertebaran, ya cara menyapunya harus dibenarkan."
"Persetan sama prosedur!" Wira nyaris berteriak, menggebrak meja dengan satu tangannya. "Gue nolak hukuman konyol ini! Sebulan penuh dikurung di ruangan ini tiap sore? Diawasin sama lo yang lagaknya kayak sipir penjara? Ini penghinaan, ngerti nggak lo?! Gue punya kehidupan, gue punya kebebasan! Gue nggak sudi disuruh jadi babu di sini!"
Asmara menghela napas pendek. Ia memandangi Wira lekat-lekat, menilai ledakan emosi pemuda itu dengan tatapan yang sangat analitis.
"Penghinaan bagi kebebasan Mas?" ulang Asmara pelan, meresapi kata-kata Wira.
Gadis itu lalu berdiri dari kursinya. Meski tinggi badannya kalah jauh dari Wira, entah mengapa aura Asmara saat ini membuat Wira merasa terintimidasi.
"Kebebasan seperti apa yang Mas maksud?" Asmara balik bertanya, suaranya naik setengah oktaf, menunjukkan ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Kebebasan untuk memukul orang sesuka hati? Kebebasan untuk merusak fasilitas sekolah kapan pun Mas sedang marah? Kalau itu definisi kebebasan menurut Mas, maka Mas tidak mengerti arti kebebasan sama sekali."
"Lo nggak tahu apa-apa soal alasan gue mukul bajingan itu!" kilah Wira, matanya berkilat-kilat.
Ia hampir saja meneriakkan alasannya, hampir saja mengatakan bahwa ia melakukannya demi Asmara, tapi egonya menahan lidahnya tepat pada waktunya.
"Lalu beritahu saya," tantang Asmara. Sorot matanya menembus pertahanan Wira.
"Beritahu saya alasan hebat apa yang membuat seorang siswa baru merasa berhak menghancurkan rahang kakak kelasnya di minggu pertama ia sekolah? Apa, Mas? Karena mereka menatap Mas dengan tidak enak? Karena mereka menyenggol Mas? Atau hanya karena Mas merasa perlu menunjukkan taring agar semua orang takut pada Mas?"
Wira terdiam.
Giginya bergemeretak.
Ia memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol.
Ia tidak bisa menjawab.
Ia tidak akan pernah menjawabnya.
Melihat kebisuan Wira, Asmara kembali mengatur napasnya, mengembalikan nadanya menjadi tenang dan kaku.
"Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab, Mas Wira," ucap Asmara pelan, kata-katanya mengiris udara dengan presisi yang mematikan.
"Mas memilih untuk bertindak menggunakan kekerasan siang tadi. Hukuman di ruangan ini adalah konsekuensi dari 'kebebasan' yang Mas agung-agungkan itu. Tidak ada yang menghina Mas. Mas sendirilah yang menempatkan diri Mas di posisi ini."
"Gue nggak peduli sama petuah filosofis lo yang membosankan itu!" Wira menepis udara dengan kasar.
Ia berbalik, berjalan menuju kursi panjang di sudut ruangan, lalu menyambar tas ranselnya dengan kasar. Ia menyampirkannya ke sebelah bahu dengan gerakan penuh amarah.
"Gue cabut!" putus Wira mutlak, melangkah menuju pintu keluar.
"Biarin aja Pak Anton tahu. Biarin kepala sekolah ngeluarin surat pengeluaran gue sekarang juga. Gue lebih baik dikeluarin dan balik ke Bogor, daripada harus nyapu debu di sini sambil direndahin sama cewek sok suci kayak lo!"
Wira berhenti tepat di ambang pintu paviliun.
Tangannya mencengkeram kusen pintu.
Di dalam hatinya yang paling dalam, Wira mengharapkan Asmara mencegahnya.
Ia mengharapkan gadis itu memanggil namanya, atau setidaknya menunjukkan sedikit kepanikan karena ancamannya.
Di Bogor, teman-temannya pasti akan menahannya jika ia mengancam pergi.
Tapi...
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Empat detik...
LIMA DETIK...
Keheningan yang mencekam menguasai ruangan.
Wira akhirnya menoleh sedikit ke belakang.
Asmara masih berdiri di tempatnya. Gadis itu sama sekali tidak melangkah maju untuk menahannya.
Jangankan panik, ekspresi wajahnya bahkan tidak berubah sedikit pun.
Asmara justru mengambil pulpennya kembali, bersiap menulis di atas lembar absensi.
"Silakan, Mas Wira..." ucap Asmara dengan nada yang teramat tenang, nyaris seperti suara robot. "Pintu paviliun ini tidak dikunci. Jalan menuju gerbang sekolah juga sangat lebar. Kalau Mas memang merasa lari dari tanggung jawab dan kembali bersembunyi di bawah ketiak orang tua di Bogor adalah pilihan yang paling 'jantan', saya tidak punya hak untuk melarang."
Wira membeku.
Urat nadinya serasa ditarik paksa.
"Saya akan menyerahkan lembar absensi ini kepada Pak Anton sekarang," lanjut Asmara tanpa ampun, ujung pulpennya mulai menyentuh kertas. "Saya akan laporkan bahwa Wira Aji Pratama memilih mundur pada menit ketiga puluh lima di hari pertama hukumannya. Semoga perjalanan pulang ke Bogor menyenangkan, Mas..."
Kata-kata Asmara menghujam tepat ke titik paling memalukan di dalam ego seorang laki-laki.
Pengecut.
Memang Asmara tidak mengucapkan kata itu secara langsung, namun setiap suku kata dari mulut gadis itu berteriak bahwa Wira adalah seorang pengecut yang lari dari medan perang hanya karena disuruh memegang sapu.
Tangan Wira yang bertumpu pada kusen pintu bergetar hebat.
Ia membayangkan wajah murka ayahnya di Bogor.
Ia membayangkan senyum meremehkan dari Bima dan gengnya esok hari saat mendengar si murid baru dikeluarkan karena kabur dari hukuman.
Dan yang paling menyakitkan, ia membayangkan tidak akan pernah lagi melihat gadis yang kini berdiri di belakangnya ini.
Jika ia melangkah keluar dari pintu ini sekarang, ia kalah.
Kalah telak secara fisik, mental, dan harga diri.
DAN SEKALI LAGI...
WIRA AJI PRATAMA ADALAH PEMUDA YANG MENOLAK UNTUK KALAH!!!
Wira menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu.
Dengan napas yang tersengal menahan gejolak emosi yang hampir membuatnya gila, Wira memutar tubuhnya.
Ia melangkah kembali ke dalam ruangan dengan langkah yang dihentakkan kasar. Ia melemparkan tas ranselnya kembali ke atas kursi hingga menimbulkan suara berdebum.
Tanpa menatap Asmara sedikit pun, Wira berjalan menuju tengah ruangan, memungut sapu ijuk yang tadi ia banting, lalu mulai menyapu debu-debu itu kembali.
Kali ini, gerakannya tidak lagi mengayun keras, melainkan diseret perlahan dengan pergelangan tangan, persis seperti instruksi yang diucapkan Asmara tadi.
Wira menyapu dalam keheningan yang penuh dengan amarah, kekalahan, dan rasa frustrasi yang tak tertahankan.
Di meja administrasi, Asmara menurunkan kembali pulpennya dari kertas absensi. Gadis itu tidak tersenyum kemenangan. Ia hanya menatap punggung tegap Wira yang kini bergerak menunduk menyapu lantai.
Di balik tatapan dinginnya, ada sepercik harapan yang sangat kecil.
Harapan bahwa pemuda liar dari kota hujan ini, suatu hari nanti, akan mengerti mengapa ia harus ditaklukkan.
Protes keras sang pemberontak telah berhasil diredam, bukan oleh bentakan atau hukuman fisik, melainkan oleh kekuatan prinsip yang tak tergoyahkan.
Dan Wira tahu, "masa tahanan"nya di Ruang Budaya ini akan menjadi bulan terpanjang dan paling menyiksa dalam hidupnya.