Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Raungan memekakkan telinga dari tenggorokan Agares membelah udara beracun koloseum bagaikan ribuan bilah belati tak kasat mata.
Gelombang kejut sonik bercampur kabut darah merah pekat melesat menyapu lantai batu dengan kecepatan badai topan yang mengerikan. Udara di sekitar arena mendadak bergetar hebat, merontokkan batuan dari kubah langit-langit setinggi ratusan meter dan menciptakan pusaran angin beracun yang menghempaskan puing-puing zirah kuno ke segala arah. Namun, sebelum gelombang penghancur itu sempat menyentuh barisan prajurit, Paman Vargas telah menancapkan tameng baja raksasanya ke tanah pada sudut kemiringan tepat tiga puluh derajat di sektor selatan. Sepuluh ksatria pengawal Althea berdiri rapat di kedua sisinya, menancapkan pelindung kaki besi mereka dalam-dalam ke celah lantai batu dan saling mengunci pelindung bahu baja mereka dalam satu barikade pertahanan kokoh.
Gelombang suara raksasa itu membentur permukaan miring barisan tameng dengan dentuman menggelegar yang menggetarkan seluruh rongga dada.
Logam tameng berderit keras di bawah tekanan ribuan kilogram tenaga kinetik. Percikan api menyembur dari gesekan lempeng baja, dan telapak kaki para ksatria terdorong mundur beberapa jengkal menggores lantai batu andesit merah. Otot-otot lengan Vargas menegang kaku bagaikan kawat baja yang ditarik batas maksimal, sementara rembesan darah hangat keluar dari telapak tangannya yang mencengkeram erat tali pengikat perisai. Setiap getaran frekuensi rendah menembus tulang rusuk para prajurit di garis depan, memicu rasa mual hebat akibat gelombang kejut yang mengguncang organ dalam mereka.
Namun, berkat sudut kemiringan tiga puluh derajat yang telah diperhitungkan Ren dengan cermat, daya hantam mematikan tersebut berhasil terbiaskan ke arah atas. Gelombang kejut itu meluncur membentur dinding tebing luar koloseum, meruntuhkan gugusan batu cadas ke dalam jurang tanpa melukai seorang pun prajurit di balik barikade baja.
“Tahan posisimu!” raung Vargas sembari menjejakkan tumit bajanya kuat-kuat ke celah lantai batu, giginya bergemeretak menahan guncangan di persendian bahunya. “Jangan biarkan barisan bergeser satu inci pun! Percayalah pada hitungan Ren!”
Para ksatria Althea meraung membalas, menyalurkan sisa mana fisik mereka ke dalam pelat tameng, mengunci pertahanan mereka hingga gelombang kejut pertama mereda menjadi desau angin panas.
Pada detik keenam belas, Agares menghantamkan telapak tangannya yang bebas ke lantai rawa darah.
Cairan merah pekat di bawah kaki mereka mulai bergolak liar bagaikan kawah gunung berapi yang siap meletus. Gelembung-gelembung gas belerang raksasa bermunculan di permukaan, mengeluarkan uap beracun yang mendesis saat bersentuhan dengan udara dingin. Ratusan titik letupan geyser darah bersuhu sangat panas bersiap menyembur serentak ke udara. Pada saat yang sama, ribuan tombak tulang beracun mulai menukik turun dari kegelapan langit-langit kubah dengan suara desingan tajam yang mengerikan.
“Letupan di sebelah kiri dan depan! Mundur tiga langkah serong ke kanan sekarang juga!” seru Riku dengan ketajaman pandangan matanya yang luar biasa. Anak panah di busurnya berpendar redup saat matanya memindai retakan lantai yang memancarkan pendar energi termal sebelum semburan terjadi.
Bocah pemanah itu melompat di atas pecahan pilar, tangannya memberi isyarat arah tanpa keraguan sedikit pun. Seluruh prajurit jelata dan pembawa perbekalan bergerak mengikuti arahannya bagai satu tubuh yang padu. Disiplin gerak yang mereka pelajari dari instruksi Ren menyelamatkan nyawa mereka dari jebakan mematikan.
Geyser darah panas meledak menyembur setinggi sepuluh meter persis di tempat mereka berpijak sedetik sebelumnya, membakar udara dan melelehkan pecahan batu di sekitarnya. Uap panasnya menjilat tepian jubah mereka namun tidak berhasil membakar raga seorang pun di antara mereka.
Di saat yang sama, Shizuka meluncur lincah di atas kedua lututnya menyusuri lantai batu yang licin menuju tepi parit altar utama. Dengan keberanian luar biasa yang mengalahkan rasa gentar di dalam dadanya, gadis penyembuh itu merobek segel kantung perbekalan medisnya. Ia menuangkan seluruh kantung serbuk lumut beku yang mereka kumpulkan dari lantai gua es bawah tanah langsung ke dalam saluran sirkuit darah utama.
Reaksi kimia magis terjadi secara instan. Hawa dingin yang membekukan meledak di sepanjang parit altar. Kristal-kristal es keunguan merambat cepat menyusuri lekukan lantai, membekukan seluruh cairan darah di dalam saluran sirkuit hanya dalam tiga tarikan napas pendek. Jalur pasokan energi regenerasi yang selama ini mengalir tanpa henti dari lantai koloseum ke dalam tubuh raksasa Agares seketika terputus total.
Otot-otot merah menyala di sekujur tubuh sang penguasa koloseum berkedut liar saat kemampuan pemulihan abadinya mendadak anjlok hingga ke titik terendah. Pembuluh darah hitam di permukaan kulitnya tampak mengering dan mengeras.
Menyadari bahwa aliran darah penyembuhnya telah dibekukan secara paksa, Agares mengamuk dalam kegilaan yang membabi buta. Empat lengan bawahnya yang dipersenjatai cakar tulang melesat maju menyapu lantai, berniat meremukkan Shizuka dan Riku menjadi serpihan daging di atas batu andesit merah.
“Kunci pergerakan empat lengan bawahnya sekarang juga!” seru komandan ksatria Althea dengan suara menggelegar.
Dua puluh ksatria pengawal Althea melangkah serentak ke garis depan. Mereka merapalkan mantra suci secara bersamaan, melemparkan rantai sihir perak yang memancarkan pendar cahaya pemurnian murni. Rantai-rantai perak itu meluncur di udara bagai sulur cahaya fajar, melilit erat pergelangan tangan empat lengan bawah Agares. Dengan sekuat tenaga, para ksatria menancapkan pasak rantai tersebut ke dasar pilar-pilar basal yang tersisa, memaku lengan-lengan raksasa itu ke lantai dalam kobaran cahaya suci yang membakar jaringan otot sang monster.
Agares melolong kesakitan, suaranya menggetarkan seluruh kubah batu dan memecahkan batuan di dinding-dinding bertingkat. Rasa sakit yang belum pernah dirasakan oleh sang penguasa lantai selama berabad-abad kini menyengat dagingnya tanpa ampun.
Dengan empat lengan bawahnya yang terkunci rapat di tanah oleh rantai suci, empat lengan atas sang raksasa merentangkan rantai berduri ke udara. Rantai-rantai berkarat berbobot tengkorak kuno itu mulai berputar cepat dalam pola melingkar, membentuk pusaran sangkar maut yang mampu mencincang lempengan baja padat menjadi serpihan halus dalam sekejap mata. Angin puyuh tajam tercipta di sekitar tubuhnya, menghalau siapa pun yang mencoba mendekat dari permukaan tanah.
Dan tepat pada detik ketujuh puluh enam, Ren mulai bergerak.
Pemuda itu tidak berlari menyusuri lantai rawa darah yang licin dan bergelombang. Ren melompat ke atas bongkahan pilar marmer yang runtuh, menjejakkan kakinya dengan kecepatan penuh berkat efek ramuan akselerasi yang disuntikkan Shizuka. Ia meluncur dari satu batu melayang ke batu lainnya bagaikan bayangan hitam yang melintas di tengah kabut merah pekat.
Setiap lompatan dan jeda langkah yang diambil Ren dieksekusi tepat pada celah sepersekian detik di antara pusaran putaran rantai berduri Agares. Di dalam kepalanya yang terus berdenyut akibat kelelahan mental puluhan regresi, ia menghitung ritme perputaran rantai dengan ketelitian dingin.
Sebuah tengkorak berduri berkelebat hanya beberapa milimeter di samping telinga kirinya, menebas udara dengan desingan tajam yang memotong beberapa helai rambut hitamnya tanpa menggores kulitnya. Ren bahkan tidak berkedip sedikit pun. Di dalam kesadarannya yang telah ditempa oleh puluhan kematian, seluruh lintasan ayunan rantai itu tampak sejelas jalur yang telah terukir abadi di dalam ingatannya.
Pada detik kesembilan puluh satu, Ren telah berhasil mencapai puncak pilar tertinggi di sisi kanan Agares, berdiri tegak tepat pada ketinggian delapan meter di udara.
Di bawah kakinya, empat lengan atas Agares mulai menarik seluruh rantai berduri ke depan dadanya, mengumpulkan sisa-sisa miasma beracun di seluruh koloseum menjadi satu titik bola plasma hitam pekat di hadapan topeng perunggunya. Konsentrasi energi pemusnah itu menciptakan daya hisap gravitasi yang meretakkan batu di sekitar arena, tanda bahwa letusan dahsyat akan terjadi dalam hitungan beberapa detik lagi.
“Nona Elise! SEKARANG!” teriak Ren, suaranya membelah gemuruh badai arena.
Lady Elise von Althea mengangkat tongkat peraknya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, lalu menghantamkan ujung bawah tongkat pusakanya sekuat tenaga ke lantai batu koloseum. Seluruh sisa tenaga sihir suci di dalam raganya meledak dalam sebuah pilar cahaya fajar pemurnian yang sangat megah dan menyilaukan.
Pilar cahaya suci berdiameter sepuluh meter meledak lurus ke atas persis dari bawah telapak kaki raksasa Agares.
Kekuatan tolak sihir cahaya suci yang luar biasa itu mengangkat tubuh raksasa sepuluh meter sang penguasa koloseum setinggi tepat dua meter ke udara, memiringkan tubuh berotot monster itu ke belakang pada sudut empat puluh lima derajat.
Keseimbangan gerak Agares hancur seketika di udara. Sistem pertahanan tubuh monster itu terpaksa mempercepat siklus pembuangan panas intinya sebelum sempat melepaskan ledakan plasma darah.
Ren melompat dari puncak pilar marmer, melayang di udara lurus menuju kepala raksasa sang penguasa koloseum dengan belati taring bayangan tergenggam erat di tangan kanannya. Udara terasa dingin dan hening di sekelilingnya saat gravitasi menariknya jatuh mendekati target.
Satu detik.
Dua detik.
Pada detik kesembilan puluh sembilan, topeng perunggu kuno di wajah Agares bergeser ke atas sejauh beberapa inci. Celah sempit berdiameter sejengkal terbuka di dasar rongga tengkorak berdarahnya, melepaskan kepulan uap panas yang membakar udara di sekitarnya.
Di balik celah itulah, sebuah batu kristal intisari purba berwarna merah keemasan berdenyut liar—inti kehidupan abadi yang menopang seluruh eksistensi monster tersebut.
Celah terbuka itu terbentang jelas di depan matanya, hanya berjarak satu jengkal dari ujung belatinya.
Namun, Julius von Ravensburg, yang merangkak keluar dari tumpukan puing dengan mata menyala penuh kebencian dan kegilaan, telah mengangkat sisa pedang rapier kristalnya dari tanah. Wajah sang bangsawan berlumuran darah dan jelaga saat menatap punggung Ren di udara.
“Jika aku harus hancur… kau tidak akan pernah keluar sebagai pahlawan, sampah jelata!” raung Julius dengan tawa gila yang tercekat di tenggorokan.
Dengan sisa mana terakhir di dalam jiwanya yang sekarat, sang bangsawan melepaskan tembakan petir beracun berkekuatan penuh yang meluncur lurus mengarah tepat ke punggung Ren yang tak terlindungi di udara.
“Ren! Awas di belakangmu!” jerit Elise dari dasar arena, suaranya pecah oleh kepanikan saat menyadari barier sucinya tidak akan sempat menjangkau ketinggian delapan meter tersebut.
Vargas, Shizuka, dan Riku menatap ke udara dengan mata membelalak horor, napas mereka tertahan di tenggorokan. Kilatan petir pengkhianatan itu meluncur lebih cepat daripada kedipan mata, membelah kabut merah dan hanya berjarak beberapa jengkal dari tulang punggung Ren, tepat pada saat ujung belati pemuda itu siap menghujam kristal inti Agares.