NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Lamaran Jingga & Levin

Pagi hari, sinar matahari menyelinap masuk melalui tirai kamar Arin. Gadis itu masih meringkuk di tempat tidur sambil memeluk guling. Ingatannya tentang Roy semalam membuatnya tersenyum sendiri tanpa sadar.

Baru saja ia ingin beranjak, ponselnya yang tergeletak di nakas berbunyi. Notifikasi pesan masuk. Dengan setengah mengantuk, ia meraih ponselnya.

Matanya langsung terbuka lebar saat melihat nama pengirimnya.

Roy.

Pesan singkat muncul di layar:

“Hai, ini Roy.”

Arin sontak meloncat dari tempat tidurnya.

“Ya Tuhan! Dia beneran chat aku!” teriaknya pelan sambil menutup mulut dengan tangan, takut mami atau siapapun mendengar.

Senyumnya merekah, matanya berbinar-binar. Jantungnya berdebar kencang, seolah seluruh semesta mendadak berubah jadi lebih indah.

“Arin, tenang, jangan norak. Balasnya yang elegan…” gumamnya sambil mengetik, lalu menghapus lagi.

Setelah beberapa kali ragu, akhirnya ia membalas dengan sederhana:

“Pagi Roy, thanks ya kemarin udah anterin aku pulang ”

Begitu tombol kirim ditekan, Arin langsung tergeletak lagi di kasur sambil menutup wajah dengan bantal. Pipinya panas, hatinya berbunga-bunga. Ia benar-benar seperti gadis yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Sementara itu, jauh di apartemennya, Roy menatap layar ponselnya yang baru saja berbunyi. Bibirnya membentuk senyum samar—hangat dan berbeda dari biasanya.

Roy membaca balasan singkat Arin. Ada emotikon senyum di ujung kalimat, sesuatu yang sederhana tapi entah kenapa membuat hatinya terasa ringan.

Jari-jarinya sempat berhenti di atas layar. Ia berpikir, biasanya ia tidak suka basa-basi, tapi kali ini ada dorongan kecil untuk membalas.

Akhirnya ia mengetik:

“Pagi. Sama-sama, itu memang sudah tugas saya.”

Arin yang baru saja membuka Instagram langsung menjerit kecil ketika notifikasi balasan dari Roy masuk. “Ya ampun, datar banget! Tapi… dia bales! Dia balesin aku!”

Senyum konyolnya kembali muncul. Ia guling-guling di kasur sambil menepuk-nepuk bantal, seolah seluruh dunia sedang mendukung kisahnya.

Tak puas hanya dengan jawaban singkat, Arin mencoba lagi:

“Tugas sih tugas, tapi tetep aja aku mau bilang makasih. Apalagi kamu udah nyetir jauh semalam. Hebat juga ternyata Sekretaris Roy bisa multitasking ”

Roy membaca pesan itu, matanya sedikit melembut. Ia menggeleng kecil, entah kenapa setiap celoteh Arin bisa membuatnya ingin tersenyum. Tapi tetap, ia memilih membalas dengan singkat:

“Hati-hati kalau berangkat kerja hari ini.”

Kali ini Arin terdiam. Balasan sederhana itu justru sukses membuatnya makin salah tingkah. “Astaga… ini maksudnya care banget nggak sih? Aduh Arin, jangan GR deh… tapi… aaaakkkk, sweet banget!”

Di apartemennya, Roy menaruh ponsel di meja, tapi senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Hatinya berbisik, “Gadis ini… kenapa aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang dia?”

----

Di tempat lain, Jingga dan Levin tampak sibuk memeriksa persiapan untuk acara lamaran besok. Ballroom hotel milik Rika, mama Jingga, sudah mulai dipenuhi dengan dekorasi indah—dari bunga putih segar hingga tata cahaya yang elegan.

Namun, di balik semua kerapihan itu, ada sosok yang menjadi tangan kanan utama: Mozza, kakak Jingga.

Mozza berdiri di tengah ruangan, memegang clipboard dengan wajah serius tapi sesekali tersenyum puas.

“Jangan lupa bunga di sudut sana harus segar, ganti kalau mulai layu. Lalu sound system dicek tiga kali. Aku nggak mau ada masalah besok,” ucapnya tegas pada tim dekorasi.

Levin memperhatikan dengan tatapan kagum. “Jujur, aku nggak nyangka kalau kakakmu ini sehebat ini, Jingga. Semua detailnya rapi sekali.”

Jingga tersenyum bangga. “Kak Mozza memang selalu seperti itu, Vin. Dari dulu kalau urusan acara, dia yang paling cekatan. Aku benar-benar beruntung punya kakak sepertinya.”

Mozza mendekat, mendengar sedikit percakapan itu. “Hei, jangan lebay. Aku cuma nggak mau hari penting kalian kacau. Lagi pula… ini juga hari bersejarah buat keluarga kita. Jadi tentu saja aku ingin semuanya sempurna.”

Rika ikut menimpali sambil menepuk bahu putri sulungnya. “Kalau nggak ada Mozza, Mami pasti kerepotan. Kamu benar-benar membantu  Mami.”

Mozza tersenyum, lalu menoleh ke Jingga. “Dan kamu, adikku, tinggal nikmatin saja. Besok kamu harus tampil sebagai bintang utama. Jangan kepikiran hal-hal kecil, biar aku yang urus.”

Jingga langsung memeluk kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih, Kak. Aku nggak tahu apa jadinya tanpa kamu.”

Levin ikut menatap penuh rasa haru, merasa semakin yakin bahwa ia masuk ke dalam keluarga yang hangat dan penuh cinta.

----

Ketika Mozza sedang sibuk mengatur detail dekorasi, tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari arah pintu ballroom.

“Kak Mozzaaa!” suara Grey menggema, membuat semua orang menoleh.

Mozza menghela napas panjang sambil menepuk jidat.

“Astaga, Grey… kamu datang juga. Jangan bilang kamu datang cuma buat jadi pengganggu.”

Grey terkekeh, berjalan santai dengan kedua tangan di saku.

“Pengganggu apanya? Aku datang sebagai bala bantuan, dong. Masa kaka sendiri mau tunangan, aku nggak ikut andil?”

Rika hanya bisa tersenyum geli melihat ulah anak bungsunya.

“Kalau kamu benar-benar bantu, Mami senang. Tapi kalau bikin ribut, awas ya, Grey.”

Levin ikut menyambut dengan ramah.

“Hai, Grey. Thanks bro sudah meluangkan waktu .”

“Tenang Lancar kalau aku yang pegang,” ucap Grey penuh percaya diri, lalu tiba-tiba dia berdiri di tengah ballroom sambil mengangkat tangan, seolah jadi MC.

“Attention please! Besok malam, sejarah akan tercipta! Seorang Levin Putra Artama akan resmi mengikat hati seorang Jingga Arletha Alinka —tepuk tangan semua!”

Spontan seluruh pekerja dekorasi yang sedang sibuk malah bertepuk tangan sambil tertawa, membuat Mozza semakin gemas.

“Grey!” Mozza mencubit lengan adiknya.

“Jangan bikin heboh sekarang! Ini belum acara sebenarnya!”

“Ya ampun, Kak, biar rileks dikit. Semua orang kan tegang. Lagi pula, aku ini ice breaker keluarga,” jawab Grey sambil menyeringai.

Jingga tertawa geli melihat interaksi kakak dan adiknya. Hatinya hangat. Dia sadar, besok bukan hanya hari istimewanya bersama Levin, tapi juga sebuah momen kebersamaan yang akan selalu ia kenang bersama keluarga tercinta.

Levin menatap ke arah keluarga Alinka dengan rasa syukur. Dalam hati ia berjanji, “Aku harus menjaga Jingga, seperti mereka menjaganya.”

Setelah suasana mencair, Grey duduk agak dekat dengan Levin. Sambil pura-pura membuka katalog menu, ia menunduk dan berbisik, cukup pelan supaya hanya Levin yang dengar.

“Bro, gue punya ide. Masa acara lamaran cuma gitu-gitu aja? Harus ada boom moment biar makin berkesan.”

Levin melirik penasaran. “Boom moment?”

Grey mengangguk penuh semangat. “Yes. Surprise tambahan. Lo udah bikin geger Nusantara dengan postingan Instagram itu kan? Nah, kali ini… bikin kejutan khusus buat Kak  Jingga di depan semua tamu.”

Levin tersenyum kecil. “Gue sebenarnya kepikiran sesuatu, tapi belum yakin. Lo ada ide apa?”

Grey menepuk dadanya dengan percaya diri.

“Gampang. Serahkan ke gue. Besok, biarin gue yang atur momen penutup. Kita bisa pakai live music, lampu-lampu, terus—bam!—ada pesan rahasia buat Jingga. Sesuatu yang bikin semua orang nangis haru sekaligus iri.”

Levin tertawa kecil mendengar antusiasme Grey. “Lo serius banget.”

“Of course! Ini kakakku, bro. Aku nggak bakal biarin acara sebesar ini tanpa Grey’s touch.”

Jingga dari seberang meja memandang curiga. “Kalian lagi ngomongin apa bisik-bisik gitu?”

Grey cepat-cepat pura-pura membuka halaman katalog dessert. “Ini lho, kita lagi bahas kue. Kan penting, kak. Gue tuh peduli banget sama detail. Hehehe.”

Mozza memutar bola matanya. “Ya ampun, Grey. Kue aja bikin kamu senyum-senyum misterius gitu?”

Levin cuma tersenyum simpul, menahan rahasia kecilnya bersama Grey. Dalam hatinya, ia tahu: besok lamaran itu bukan hanya momen resmi, tapi juga momen tak terlupakan bagi Jingga.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!