Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Dinding cahaya perak itu berdiri kokoh bagaikan pilar suci di tengah koloseum yang berlumuran kerak darah tua.
Julius von Ravensburg terdorong mundur beberapa langkah oleh gelombang kejut sihir suci yang memancar kuat dari pilar cahaya tersebut. Rambut pirangnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan dan menempel di dahinya yang berkeringat dingin. Ujung jubah sutra birunya berasap akibat percikan barier pemurnian yang membatalkan mantra petirnya. Sepasang mata birunya melotot liar, menatap sosok gadis berambut perak yang berdiri di hadapannya dengan tongkat perak terhunus ke depan dada.
"Elise... apa yang sebenarnya kau lakukan?!" raung Julius dengan suara parau yang dipenuhi kemarahan meluap. "Kau menggunakan sihir suci Wangsa Althea untuk melindungi prajurit jelata yang baru saja menghabisi para ksatria terbaik ordo kekaisaran kita?!"
"Para ksatria itu binasa akibat kejahatan keji yang Anda perintahkan sendiri, Tuan Muda Julius!" suara Elise menggema jernih, membelah kebisingan arena dengan ketegasan mutlak.
Elise menatap Julius dengan sepasang mata perak yang dingin, tanpa rasa takut yang sebelumnya membelenggu hatinya. Selama berminggu-minggu ia terdiam, membiarkan arogansi kaumnya menindas orang-orang tak berdaya atas nama mandat kekaisaran. Malam ini, setelah menyaksikan ketenangan Ren dan kekejaman Julius, topeng kepatuhan aristokrasi itu telah hancur berkeping-keping. Di dalam dada sang putri suci, kesadaran moral telah menggantikan doktrin feodal yang menuntut kepatuhan buta.
Jubah kelabunya berkibar anggun, disinari oleh lingkaran cahaya suci yang berputar perlahan di atas kepalanya, memancarkan aura perlindungan bagi para prajurit yang terluka di barisan belakang. Pendar perak itu menenangkan kepanikan para serdadu jelata yang menggigil ketakutan.
"Sebagai putri dari Wangsa Marquis Althea dan penyandang Kresta Perak Suci," lanjut Elise, suaranya terdengar lantang dan berwibawa di hadapan setiap ksatria dan prajurit yang tersisa di dalam koloseum, "saya menyatakan bahwa Anda, Julius von Ravensburg, telah melakukan pelanggaran berat terhadap Sumpah Kehormatan Militer Kekaisaran: Pembantaian Terencana terhadap Pasukan Sekutu dan Penyalahgunaan Otoritas untuk Ritual Pengorbanan Darah!"
Mendengar deklarasi terbuka tersebut, suasana di dalam amfiteater seketika membeku. Tiga puluh ksatria pengawal keluarga Althea yang bersenjatakan pedang perak saling bertukar pandang sejenak sebelum melangkah maju secara serempak. Mereka berbaris rapat di belakang Elise, menghunus bilah pedang mereka dan membentuk barikade pelindung berlapis baja perak di depan para prajurit jelata dan kuli angkut yang masih hidup.
"Kalian sudah gila?!" teriak Penyihir Gunter dari barisan belakang Ravensburg dengan tangan gemetar memegangi sisa jubahnya yang terbakar. "Wangsa Althea ingin memicu perang antar-keluarga bangsawan di tengah ekspedisi menara?!"
"Ini adalah penegakan hukum militer dan pemulihan kehormatan sejati!" sahut Elise dingin tanpa menoleh ke arah sang penyihir. "Mulai detik ini, komando tertinggi ekspedisi Batalion Ketujuh dibekukan, dan Julius von Ravensburg kehilangan seluruh wewenangnya!"
"Hak komandoku dibekukan oleh seorang gadis ingusan sepertimu?!" Julius tertawa liar—tawa histeris seorang bangsawan arogan yang menyaksikan tahta dan reputasinya runtuh seketika di depan matanya sendiri.
Julius mengangkat rapier kristalnya, mengalirkan seluruh sisa mana di dalam tubuhnya hingga bilah pedang tipis itu berubah menjadi tombak petir hitam kebiruan yang menderu ganas. Percikan kilat menyambar-nyambar di atas lantai batu, menguapkan sisa genangan darah menjadi kepulan asap berbau anyir.
"Di dalam lantai menara yang terkunci ini, hukum kekaisaran tidak ada artinya!" raung Julius dengan mata menyala penuh kegilaan. "Hanya kekuatan mutlak yang berhak menentukan siapa yang hidup dan mati! Aku akan membantai prajurit jelata itu, membunuhmu, dan membuka gerbang Lantai 16 dengan darah kalian semua!"
Julius bersiap meluncurkan tebasan petir penghancurnya ke arah Elise dan barisan pengawalnya.
Sebelum mantra mematikan itu sempat dilepaskan dari ujung pedangnya, lantai koloseum di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat.
Guncangan dahsyat itu meretakkan lantai batu andesit merah menjadi ratusan patahan besar yang terangkat miring. Rantai-rantai besi raksasa yang menggantung di langit-langit kubah berayun liar, menjatuhkan fosil tengkorak monster purba ke lantai arena dengan debuman keras yang memekakkan telinga. Debu batu hitam dan uap belerang berhamburan ke udara, mengaburkan pandangan seluruh pasukan.
Sirkuit energi di dinding monolit Altar Darah Abadi berkedip liar dalam warna merah kehitaman pekat.
Ritual pengorbanan jiwa telah terhenti sebelum mencapai batas kestabilannya. Ketidakseimbangan energi akibat terserapnya intisari mana berkonsentrasi tinggi dari para ksatria elit memicu lonjakan saturasi di seluruh saluran parit darah. Sirkuit pemanggil menara mengalami kegagalan fungsi, membatalkan hitung mundur alami yang seharusnya masih tersisa beberapa menit.
Kegagalan ritual itu memicu kebangkitan paksa dari sang penguasa sejati koloseum yang tertidur di bawah tanah.
Kolam tembaga di tengah panggung altar meledak ke atas, menyemburkan geyser darah setinggi puluhan meter ke udara.
Cairan darah merah pekat itu melayang di udara, memadat dan membentuk pusaran topan daging serta serpihan tulang yang memancarkan hawa dingin mengerikan. Tekanan udara di dalam koloseum merosot tajam, membuat setiap tarikan napas terasa perih membakar paru-paru.
Dari dalam pusaran darah yang mendidih tersebut, sebuah tangan raksasa berkulit merah—otot-otot merah menyala dan urat hitam tebal terlihat telanjang—mencengkeram tepi panggung altar batu.
Setiap cakar jarinya sepanjang tubuh manusia dewasa, tersusun dari susunan tulang purba yang diasah runcing dan menghitam oleh racun korosif. Cengkeraman itu meremukkan balok batu andesit menjadi serpihan kerikil dalam sekejap.
Sosok raksasa setinggi sepuluh meter itu bangkit berdiri dari dalam kolam tembaga.
Makhluk itu adalah Agares, Sang Penguasa Berkulit Abadi.
Legenda kuno menara menceritakan bahwa Agares adalah jenderal perang terkutuk dari era purba yang dihukum untuk menjaga koloseum darah hingga akhir zaman. Kepalanya berupa topeng perunggu kuno berkarat yang tertancap langsung ke dalam rongga tengkorak berdarahnya dengan pasak besi raksasa, dimahkotai tanduk hitam yang membakar lidah api merah. Dari punggungnya yang kekar, delapan lengan otot tambahan merentang ke segala arah, masing-masing menggenggam rantai besi berbobot tengkorak berduri yang meneteskan racun ke lantai batu.
Tekanan pembunuh yang dipancarkan oleh monster raksasa itu luar biasa pekat. Ksatria-ksatria pengawal Ravensburg yang berdiri terlalu dekat langsung memuntahkan darah segar dari mulut mereka, jatuh tersungkur tak berdaya di atas lantai batu, tubuh mereka gemetar oleh teror purba yang melumpuhkan saraf motorik.
Arogansi kasta bangsawan seketika lenyap tak berbekas di hadapan monster purba tersebut. Bagi Agares, ksatria berzirah emas ataupun serdadu jelata berpakaian compang-camping tidak ada bedanya; mereka semua hanyalah mangsa yang siap dilumat menjadi abu.
Agares membuka rahang topeng perunggunya yang dipenuhi taring runcing, melepaskan raungan ultrasonik yang membelah keheningan koloseum.
Gelombang suara raksasa itu meretakkan dinding bertingkat, meruntuhkan pilar batu, dan memadamkan seluruh obor api hitam di sekeliling arena, menyisakan pendar merah dari tubuh sang monster dan kilau perak dari tongkat Elise.
Bahkan Julius von Ravensburg terhempas ke belakang sejauh sepuluh langkah oleh gelombang kejut raungan tersebut. Rapier kristalnya terlepas dari genggaman dan menancap di tanah berdebu, sementara tubuh sang bangsawan berguling di atas batu merah dengan wajah pias tak berdaya. Mahkota keangkuhannya tanggal di tanah yang kotor oleh jelaga.
Di tengah keputusasaan yang menelan seluruh ksatria dan bangsawan di dalam koloseum, Ren berdiri tegak di atas reruntuhan pilar altar.
Vargas merapatkan perisai bajanya di samping Ren, sementara Shizuka dan Riku berdiri siaga di belakang mereka. Di samping mereka, Lady Elise dan para ksatria Althea membentuk sayap pertahanan pelindung, menyatukan barisan dengan para prajurit garis depan. Tidak ada lagi sekat pemisah antara darah bangsawan dan darah jelata di hadapan ancaman maut bersama. Di mata mereka yang tersisa, hanya ada satu tekad mutlak: bertahan hidup bersama dari amukan sang penguasa kuno.
"Tetap di belakang perisaiku!" seru Vargas, suaranya parau namun penuh keberanian yang membakar semangat. Sang veteran menancapkan tepi perisai besinya ke rekahan lantai batu, memposisikan dirinya sebagai dinding pertahanan pertama bagi para kuli angkut yang panik di belakangnya.
"Aku akan memasang barier suci berlapis untuk menahan gelombang racunnya!" sahut Elise seraya mengangkat tongkat peraknya, memancarkan cahaya perlindungan yang menyelimuti seluruh barisan penyintas. Ksatria-ksatria Althea merapatkan formasi di sisi sayap, mengunci perisai perak mereka secara berlapis demi meredam pecahan batu yang berhamburan.
Shizuka segera membuka kantung perbekalan medisnya, membagikan daun mint pahit dan garam penetral racun kepada para prajurit jelata di sekitarnya. "Kunyahkan ini di bawah lidah kalian! Jangan biarkan miasma merah masuk ke paru-paru!"
Riku menarik tali busur kayu hitamnya, matanya yang tajam mengawasi celah-celah pilar yang runtuh, siap melepaskan anak panah pengalih perhatian saat monster itu bergerak.
Mata Ren menatap monster raksasa setinggi sepuluh meter itu dengan pupil menyempit tajam. Ia mengamati uap panas yang mengepul dari sela topeng perunggu Agares, pergerakan delapan rantai berduri, dan tetesan racun korosif yang melelehkan lantai batu di bawah kaki monster itu. Setiap detail anatomis makhluk purba itu ia rekam dalam ingatan taktisnya.
Jari-jarinya mencengkeram erat gagang belati taring di pinggangnya, sementara napasnya diatur dalam ritme yang lambat dan tenang. Di hadapan bencana hidup yang meluluhlantakkan akal sehat para ksatria bangsawan, Ren justru menemukan fokus tertingginya.
Sang Penguasa Berkulit Abadi telah bangkit seutuhnya... batin Ren dengan ketenangan membeku. Ini adalah pertempuran paling menentukan yang pernah kami hadapi di dalam menara.
Amukan badai rantai pertama dari sang penguasa koloseum meledak menghantam seluruh arena, menandai dimulainya babak pertempuran hidup dan mati di Lantai 15.