Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan
Malam itu, hujan lokal mengguyur ibu kota dengan lebat. Gemuruh petir sesekali menyambar, membiaskan cahaya kilat di atas lantai marmer apartemen mewah milik Clarissa.
Di dalam penthouse lantai paling atas, Clarissa sedang menyesap segelas anggur merah. Ia mengukir senyum puas di bibirnya yang teroles gincu menyala, membayangkan raut ketakutan Vivian saat menerima paket teror yang ia kirimkan siang tadi.
"Satu gertakan lagi, wanita desa itu pasti bakal lari ketakutan sambil bawa anak haramnya," bisik Clarissa dingin pada dirinya sendiri.
BRAK!
Pintu utama penthouse ganda itu mendadak didobrak paksa dari luar hingga engselnya hampir terlepas. Dua pengawal pribadi Clarissa di depan pintu ambruk tersungkur setelah dilumpuhkan dalam hitungan detik.
Clarissa tersentak kaget. Gelas anggur di tangannya hampir terlepas saat ia berbalik.
Dari balik kegelapan lorong masuk, melangkah sosok Radhit. Basah kuyup oleh air hujan, dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung kusam, dan mata yang memancarkan kilat amarah mematikan. Pria itu melangkah masuk dengan aura dingin bagai malaikat pencabut nyawa dari dasar neraka.
"Rad-Radhit?!" Clarissa membeku. Gagap seketika melanda bibirnya yang tadi tersenyum. "Kamu... kenapa kamu bisa ke sini malam-malam begini? Dan pengawal kamu"
SRAK!
Sebelum Clarissa sempat menyelesaikan kalimatnya, Radhit mencengkeram leher gaun sutra Clarissa dan memojokkan wanita itu ke dinding kaca apartemen. Gelas anggur di tangan Clarissa jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai.
"Radhit! Apa-apaan kamu?! Sakit!" jerit Clarissa panik, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Radhit yang mengunci pergerakannya bagai jepitan besi.
Radhit mendekatkan wajahnya. Napasnya memburu, matanya merah padam, dan suara yang keluar dari tenggorokannya begitu rendah, berat, serta berdarah dingin.
"Minyak wangi sintetis murah ini..." bisik Radhit, mengendus aroma parfum yang tercium dari tubuh Clarissa. "Sama persis dengan aroma di surat teror yang dikirim ke rumah saya siang tadi."
Wajah Clarissa seketika memucat bagai kertas. Ia mencoba mengelak dengan tawa histeris yang dipaksakan. "Surat teror apa?! Kamu menuduh aku tanpa bukti! Aku tidak tahu apa-apa, Radhit!"
Radhit mengeluarkan ponselnya dengan tangan kiri, lalu melempar benda itu ke lantai tepat di depan kaki Clarissa. Layar ponsel tersebut menampilkan rekaman CCTV resolusi tinggi dari area perumahan: mobil sedan merah milik Clarissa terlihat jelas menyerahkan paket kepada kurir sewaan di ujung jalan.
"Kamu pikir saya sebodoh itu, Clarissa?" suara Radhit menembus desing angin hujan di luar kaca. "Saya tahu posisi keuangan kamu hancur setelah aset keluarga saya yang kamu gerogoti disita negara. Kamu panik karena harta yang kamu incar dari saya sepenuhnya jatuh ke tangan Bumi!"
"Dia anak haram, Radhit!" jerit Clarissa meluapkan dengki yang membakar dadanya. "Wanita itu tidak berhak mendapatkan apa pun! Aku yang selama ini ada di samping kamu!"
BUG!
Radhit menghempaskan Clarissa ke lantai hingga wanita itu tersungkur menabrak pecahan gelas. Clarissa merintih kesakitan, memegangi tangannya yang tergores.
Radhit tidak memberi ruang sedikit pun untuk belas kasihan. Pria itu melangkah maju, membungkuk, lalu menatap Clarissa tepat di manik matanya dengan tatapan yang sangat dingin—tatapan penuh ancaman tanpa keraguan.
"Dengar baik-baik, Clarissa," ujar Radhit, setiap kata diucapkannya dengan penekanan yang menusuk tulang. "Dulu, saya memang pria dungu yang bisa kamu permainkan. Tapi hari ini... jika kamu menyentuh sehelai rambut pun dari Vivian atau Bumi, saya tidak akan memakai jalur hukum yang berbelit-belit."
Radhit mencengkeram dagu Clarissa, memaksa wanita itu menatap ke dalam matanya.
"Saya punya cukup uang dan kekuasaan untuk membuat kamu lenyap tanpa jejak dari kota ini. Kamu akan kehilangan segalanya—kebebasanmu, nama baikmu, dan hidupmu. Jangan pernah uji seberapa jauh seorang ayah dan pria yang kehilangan segalanya bisa melangkah untuk melindungi keluarganya."
Clarissa gemetaran hebat. Untuk pertama kalinya selama mengenal Radhit, ia melihat ketakutan yang nyata. Radhit di hadapannya bukan lagi pria yang bisa dihasut atau dimanipulasi; pria ini benar-benar siap menjadi monster jika ada yang mengusik anak dan wanita yang dicintainya.
Radhit melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu menyapu tangannya dengan sapu tangan hitam seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Ini peringatan pertama dan terakhir," pungkas Radhit dingin seraya berbalik melangkah menuju pintu. "Pengawal saya akan mengawasi setiap gerak-gerik kamu 24 jam. Sekali saja kamu melangkah mendekati rumah saya... kamu tahu apa akibatnya."
Pintu penthouse tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Clarissa yang terduduk lemas di atas lantai sambil terengah-engah dalam ketakutan.
Radhit kembali ke rumah utama saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Keadaan rumah sudah hening.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Radhit melangkah perlahan melewati kamar Vivian di lantai dua. Pintunya sedikit terbuka. Radhit melongokkan kepalanya, memastikan Vivian dan Bumi tertidur dengan aman.
Namun, di dalam kegelapan kamar, Vivian ternyata masih terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke arah pintu dengan mata yang sayu.
"Mas..." panggil Vivian pelan.
Radhit tertegun di ambang pintu, merasa bersalah jika gangguannya mengusik istirahat Vivian. "Maaf, Vi... Saya cuma mau memastikan kamu dan Bumi aman."
Vivian memperhatikan jemari tangan Radhit yang sedikit memar dan kemerahan. Wanita itu menghela napas panjang, lalu berbisik pelan dengan raut khawatir yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu habis dari mana, Mas? Tanganmu..."
Radhit dengan cepat menyembunyikan tangannya di balik saku celana, lalu mengukir senyum hangat yang menenangkan.
"Nggak papa, Vi. Masalah teror tadi... sudah Mas selesaikan. Kamu dan Bumi nggak perlu takut lagi. Mulai malam ini, Mas pastikan nggak ada satupun orang yang bisa menyakiti kalian berdua lagi selama Saya masih bernafas."Janji Radhit dengan penuh tekad.
Vivian menatap mata Radhit dalam-dalam di tengah kegelapan malam. Ada dorongan aneh di dadanya sebuah rasa aman yang perlahan-lahan mulai mengetuk benteng pertahanan hatinya. Namun, apakah Clarissa akan benar-benar mundur begitu saja setelah gertakan berdarah dingin ini?
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian