NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 18.

Stella mengerjapkan mata, perlahan senyumnya mengembang. Rasa kagum yang belum pernah ada sebelumnya mendadak menyelinap di dadanya. Selama ini, Lingga di kelas hanyalah sepotong bayangan—cowok pendiam yang duduk di pojok belakang, jarang bicara, dan selalu memakai jaket oversized.

Namun hari ini, demi tugas kelompok Seni Budaya membuat replika rumah adat, mereka terdampar di rumah Lingga. Dan cowok itu sedang menyajikan makanan.

Dengan gerakan teliti, Lingga membagi nasi goreng itu ke dalam empat piring yang sudah ditata rapi di atas konter dapur.

Potongan daun bawang dan dadar tipis sebagai garnish diletakkan di atasnya dengan presisi yang estetis.

"Lo... bisa masak serapi ini, Ling? Ini keren banget, sumpah," celetuk Stella spontan.

Lingga menatap Stella dari dekat, dan untuk pertama kalinya sejak mereka sekelas selama hampir dua tahun, Stella melihat sudut bibir cowok misterius itu terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang tulus.

"Biasa aja. Tuntutan hidup sendirian," jawab Lingga pelan, namun kali ini, nadanya tidak lagi terdengar dingin.

Lingga bergerak melewati Stella yang masih mematung untuk mengantarkan dua piring pertama ke meja makan.

Saat cowok itu berjalan melaluinya, kaos oblong hitam yang lengannya sedikit tergulung ke atas bergeser. Tepat di otot lengan kanan Lingga yang terekspos, Stella tidak sengaja melihat garis putih panjang—sebuah bekas luka sayatan yang tampak kontras dengan kulitnya.

'Luka lama yang dalam?' batin Stella berspekulasi dengan dada yang tiba-tiba berdesir aneh.

"Woi! Ini seriusan Lingga yang masak?!" Suara cempreng Rara memecah lamunan Stella.

Rara dan Raka, dua anggota kelompok mereka yang lain, langsung menghentikan aktivitas memotong sterofoam di ruang tengah begitu mencium bau makanan.

Mereka berdua langsung menyerbu meja makan tanpa malu-malu.

"Gila, aromanya mirip nasi goreng spek restoran bintang lima, Ling ini mah!" seru Raka, matanya berbinar melihat piring yang disodorkan Lingga. Tanpa babibu, Raka langsung menyendok suapan pertama ke dalam mulutnya. Matanya melotot dramatis. "Demi apa... ini enak banget! Asin, gurih, ada semburat smoky-nya gitu. Lo pake rahasia apa, woi?"

"Cuma nasi semalem sama kecap," sahut Lingga lempeng, kembali ke dapur untuk mengambil dua piring sisanya bersama Stella.

Rara yang baru menelan suapan pertamanya ikut heboh, memukul-mukul lengan Raka saking hebohnya. "Asli, Lingga! Gue gak bohong, ini lebih enak daripada nasi goreng langganan nyokap gue di pasar modern. Gak terlalu berminyak juga. Lo kalau buka katering di sekolah pasti laku keras, sumpah!"

Pujian bertubi-tubi itu hanya dibalas Lingga dengan anggukan kecil. Dia tidak terlihat bangga yang berlebihan, justru terkesan agak canggung menerima atensi sebesar itu. Dia meletakkan piring ketiga di depan Rara, lalu menyodorkan piring terakhir kepada Stella yang baru saja duduk di sebelah Rara.

"Makan," ujar Lingga pendek, lalu dia sendiri memilih duduk agak memisah, di kursi ujung dekat jendela yang menghadap ke halaman samping yang sepi. Dia tidak ikut makan, hanya memegang segelas air putih.

Stella memandangi piring di depannya. Sendok logam di tangannya terasa agak berat saat dia menyendok sedikit nasi. Begitu makanan itu menyentuh lidahnya, Stella harus mengakui dalam hati bahwa Rara dan Raka tidak melebih-lebihkan. Rasanya hangat, pas, dan entah bagaimana, rasanya seperti dibuat dengan penuh perhatian.

Sembari mengunyah perlahan, pandangan Stella kembali jatuh pada lengan kanan Lingga yang kini diletakkan di atas meja penopang dagunya. Dari jarak sedekat ini, bekas luka sayatan itu terlihat makin jelas. Itu bukan luka karena tergores pagar atau jatuh dari motor. Polanya terlalu lurus, terlalu sengaja.

Tuntutan hidup sendirian.

Kalimat Lingga tadi berputar lagi di kepala Stella. Setahu Stella dari gosip angin lalu, Lingga memang tinggal di rumah ini sendirian karena orang tuanya bercerai dan sibuk dengan keluarga baru mereka masing-masing di luar kota. Tapi melihat rumah sesepi ini, tanpa ada foto keluarga satu pun di dinding, rasanya aura kesepian itu begitu nyata mencekik.

Apakah luka di lengan itu ada hubungannya dengan masa lalu Lingga yang kelam? Apakah cowok ini pernah terluka... atau melukai dirinya sendiri?

Rasa penasaran yang bercampur rasa empati membuat Stella refleks bertanya tanpa berpikir panjang. "Ling..."

Lingga menoleh, matanya yang hitam pekat menatap Stella datar. "Kenapa? Kurang garem?"

"Enggak, ini enak banget kok," potong Stella cepat. Dia menelan nasinya, lalu menunjuk pelan dengan dagunya ke arah lengan kanan cowok itu. "Itu... lengan lo kenapa, Ling? Bekas luka itu..."

Seketika itu juga, atmosfer di sekitar mereka seolah membeku.

Senyum tipis yang sempat terbit di wajah Lingga beberapa menit lalu lenyap tanpa bekas. Sorot matanya yang sempat melunak langsung mengeras, kembali memancarkan dinding pertahanan yang tebal dan dingin—ciri khas Lingga yang selama ini dikenal seantero kelas.

Lingga langsung menurunkan tangannya dari meja, menarik lengan kaosnya ke bawah, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menyembunyikan bekas luka itu sepenuhnya dari pandangan Stella.

"Bukan urusan lo," jawab Lingga. Suaranya datar, dingin, dan sarat akan penolakan. Tidak ada lagi nada santai seperti tadi.

Rara dan Raka yang sedang asyik berkomentar tentang tugas Seni Budaya mendadak terdiam. Mereka bisa merasakan ketegangan yang mendadak menyeruak di antara Stella dan Lingga. Raka berdeham canggung, sementara Rara menyenggol kaki Stella di bawah meja, memberi isyarat untuk tidak memperpanjang masalah.

Stella menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah sekaligus tertolak. Dia tahu dia telah melanggar batas privasi cowok itu. Lingga kembali menjadi teka-teki yang mengunci rapat-rapat pintunya, menolak siapa pun yang mencoba mengintip ke dalam dunianya yang sunyi.

"Maaf," cicit Stella pelan, hampir menyerupai bisikan.

Lingga tidak menyahut. Dia hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong ke luar, meninggalkan Stella yang melanjutkan makannya dengan rasa sesak yang aneh di dada. Nasi goreng yang semula terasa sangat nikmat, mendadak terasa hambar di tenggorokan Stella.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!