Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Tidak Bisa Istirahat
Matahari pagi menembus celah blinds jendela ruko, menyilaukan mata. Di atas sofa kulit tipis di ruang kerjanya, Fajar menggeliat resah. Badannya bergerak tak karuan layaknya cacing kepanasan, sampai lengannya tak sengaja menyenggol setumpuk buku tebal di ujung meja.
Bruk!
Suara jatuhnya buku itu sukses membuat Fajar terlonjak kaget dan membuka mata lebar-lebar.
Kepala Fajar berdenyut nyeri—sisa efek samping Kopi Akar kemarin sore rupanya masih betah bersarang di pelipisnya. "Lah, kenapa gue tidur di mari dah?" gumamnya serak sambil memijat pangkal hidung.
Perlahan, kepingan memori kemarin mulai merayap masuk dan menyatu di kepalanya. Bertemu Kepala Desa, menenggak Kopi Akar, ngamuk ke Pak Joni si Kepala Logistik, lalu... menelepon kantor pusat.
Wajah Fajar seketika memucat pasi. Matanya terbelalak horor.
"Waduh! Mati gue! Kemarin gue beneran ngomong bucin ngelantur gitu ke Ibu Direktur?!" jerit Fajar panik sambil menjambak rambutnya sendiri. "Gila, gila, gila! Muka gue nanti mau ditaruh di mana pas ketemu dia, woi?!"
Berusaha mencari pengalihan dari rasa malu yang mematikan, Fajar merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Niatnya, ia ingin bermain game sebentar sekadar menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, saat layar menyala, sebuah notifikasi riwayat panggilan terakhir langsung menyapanya tanpa ampun.
[Panggilan Keluar - Kantor Pusat: 10 Menit 42 Detik]
"Wah... ini beneran bukti nyata kebodohan gue kemarin nih," rintih Fajar lemas. "Hmm, gimana nih! Masa iya ngobrol sepuluh menit!"
Saking stresnya, Fajar langsung merosot dari sofa dan berguling-guling di lantai ruko yang dingin. Ia dilanda dilema luar biasa, menimbang-nimbang apakah ia harus mengirim pesan panjang minta maaf ke Kirana sekarang juga, atau pura-pura amnesia saja.
Setelah beberapa putaran guling-guling di lantai, Fajar akhirnya memaksakan diri untuk berhenti. Ia menampar pipinya pelan, mencoba mengubur rasa malunya hidup-hidup demi fokus pada pekerjaannya hari ini.
"Haa... sudahlah. Nanti aja ngurusnya kalau nyawa sama keberanian gue udah ngumpul seratus persen," putus Fajar pasrah. Ia bangkit berdiri dan menepuk debu di celananya. "Mending gue keluar cari angin pagi dulu biar otak gue waras."
Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, telepon kabel bergaya vintage di atas mejanya mendadak berdering memecah keheningan ruko.
Kriing... kriing!
"Duh, siapa sih ini pagi-pagi?!" gerutu Fajar kesal. Ia berbalik, menghampiri telepon itu dengan langkah gontai, dan mengangkat gagangnya kasar. "Halo, siapa ini?!" tanyanya sedikit ngegas karena mood-nya sedang kacau.
"Ini saya, Sinta. Dan kenapa suara Anda terdengar seperti orang marah, Pak Kepala Cabang? Ada yang salah dengan pagi Anda?" balas suara datar nan menusuk dari seberang sana.
Skakmat.
Fajar langsung berdiri tegak, seketika merubah nada suaranya seratus delapan puluh derajat menjadi sangat sopan. "E-eh... ahh, gak kok, Mbak Sinta! Gaada yang salah sama sekali. Ada apa nih Sekretaris Direktur tumben nelepon? Hehe..." tanyanya canggung, berharap Sinta tidak mengungkit kejadian memalukan semalam.
"Untung Anda sadar diri kepada siapa Anda bicara," sindir Sinta halus. "Saya menelepon untuk meneruskan pesan dari sekretariat desa di wilayah Anda. Kepala Desa meminta Anda untuk mengunjungi Balai Desa lagi pagi ini."
"Hah? Lagi?" Fajar mengernyitkan dahi. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Iya, lagi. Segera laksanakan."
"Ok, baiklah," jawab Fajar pasrah.
Fajar mengembalikan gagang telepon itu ke tempatnya. Ia menatap kosong ke arah pintu, lalu memutar tubuhnya dan mulai berjalan keluar dengan ekspresi sangat serius. Sangat serius karena ia sadar, waktu santainya untuk meratapi nasib baru saja dirampas paksa oleh masalah pekerjaan yang tak ada habisnya.
Fajar menghela napas panjang dan melangkah keluar dari ruko. Udara pagi pedalaman yang masih segar dan bersih setidaknya sedikit membantu menjernihkan kepalanya yang masih berdenyut. Tanpa membuang waktu, ia bergegas berjalan kaki menuju Balai Desa, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari panggilan mendadak Kepala Desa pagi ini.
Namun, setibanya di pelataran Balai Desa, langkah Fajar terhenti. Matanya membelalak heran. Tempat itu dipenuhi oleh kerumunan bapak-bapak dan pemuda desa yang sedang berkumpul.
"Loh, ada apa nih rame-rame begini? Ada hajatan kah? Atau jangan-jangan mereka mau demo gara-gara spanduk kemarin?" gumam Fajar panik pada dirinya sendiri.
Belum sempat ia memutar otak untuk mencari alasan, suara bariton yang berat namun ramah memecah keramaian.
"Wah, Bos Fajar dari kota sudah datang!" seru sang Kepala Desa yang muncul dari balik kerumunan dengan senyum lebar.
Fajar buru-buru memasang senyum profesionalnya, mendekat dan menjabat tangan pria paruh baya itu. "Selamat pagi, Bapak Kepala Desa. Ada apa ini ramai-ramai, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
Kepala Desa tertawa sambil menepuk pelan bahu Fajar. "Saya bawa rombongan Warga ke sini khusus buat kamu, Mas Fajar. Mereka semua tertarik dan mau beli produk alat-alat pertanian modern dari perusahaanmu."
Mendengar itu, Fajar mematung. "Hah? S-serius nih, Pak?"
"Loh, iya serius. Bapak gak ingat obrolan kita kemarin sore setelah kamu sanggup ngabisin Kopi Akar itu?" goda Kepala Desa sambil mengangkat sebelah alisnya.
Fajar tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hahaha... aduh, maaf, Pak. Sepertinya efek mabuk dari Kopi Akar kemarin terlalu dahsyat sampai ingatan saya agak samar-samar."
Kepala Desa dan beberapa warga ikut tertawa mendengarnya. "Ohh, baiklah kalau begitu, wajar saja. Pemuda kota memang biasanya kaget dengan jamu kami. Jadi gimana, Mas Fajar? Mau buat kesepakatan dan lihat barangnya sekarang? Atau nanti saja, saya dan warga bisa tunggu."
Otak bisnis Fajar langsung berputar cepat. Peluang emas tidak datang dua kali, apalagi ini adalah pesanan borongan yang bisa langsung memenuhi KPI pertamanya!
"Ya... tentu boleh sekarang aja, Pak! Pantang bagi kami membuat pelanggan menunggu," jawab Fajar penuh semangat. "Mari, silakan ikut saya ke gudang penyimpanan cabang kami."
Fajar pun memimpin rombongan warga desa itu berjalan kembali menuju ruko perusahaannya. Ia merasa seperti jenderal yang pulang membawa kemenangan. Setibanya di depan pintu besi rolling door gudang logistik yang menyatu dengan ruko, Fajar bermaksud membukanya lebar-lebar untuk memamerkan produk mereka.
Namun, saat tangannya menarik gagang pintu, benda itu tak bergeming.
Fajar mengernyit heran. Ia menariknya lebih kuat, tapi tetap saja terkunci rapat oleh gembok besi berukuran besar. Loh, kok jam segini gudang masih digembok? Bukannya tim logistik udah harus buka dari tadi? batin Fajar kesal.
"Ada apa, Mas Fajar? Kok belum dibuka?" tanya Kepala Desa yang berdiri tepat di belakangnya.
Fajar menoleh dengan senyum kaku. "Ah, gak ada apa-apa, Pak. Ini kebetulan terkunci aja. Sebentar, saya cari Kepala Logistik saya dulu untuk minta kuncinya."
"Silakan, silakan."
Tepat saat Fajar hendak berbalik mencari orang, Pak Joni—sang Kepala Logistik—justru berjalan santai menghampiri mereka dari arah warung kopi sebelah. Pria bertubuh gempal itu menyesap es teh plastiknya dengan wajah tanpa dosa.
"Halo... Mas Fajar. Kenapa? Pintunya gabisa dibuka, ya?" sapa Pak Joni dengan nada yang terdengar sangat dibuat-buat.
Fajar menatapnya tajam, berusaha menahan amarah di depan warga. "Iya, Pak Joni. Lu yang pegang kuncinya, kan? Mana kuncinya? Klien kita mau lihat barang sekarang."
Bukannya panik, Pak Joni malah mengangkat bahunya dan menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat menguji kesabaran.
"Waduh... gimana ya, Bos," ucap Pak Joni dengan nada mengejek. "Ups, kuncinya gak sengaja hilang tadi pas saya jalan-jalan pagi."
Rahang Fajar mengeras. Ia melangkah maju, memangkas jarak, dan mendesis pelan tepat di depan wajah pria arogan itu agar tak didengar warga. "Sialan lu, Jon. Lu sengaja nyabotase gue kan gara-gara urusan kemarin? Nanti gue balas, awas lu."
Pak Joni hanya tertawa tertahan, menatap balik mata Fajar dengan tatapan meremehkan. "Hahaha, balas gimana caranya? Ayo, pikirkan solusinya, Bos Muda. Ini warga dan klien loh udah nungguin. Jangan sampai mengecewakan nama baik perusahaan kita, ya? Hahaha."
Pak Joni melangkah mundur, membiarkan Fajar terjebak dalam situasi memalukan di hadapan Kepala Desa dan puluhan calon pembeli potensialnya.
Menghadapi senyum mengejek Pak Joni, Fajar sama sekali tidak kehabisan akal. Gue gak bakal kalah sama trik murahan pegawai gudang kayak gini, batinnya bertekad. Ia segera menoleh ke arah ketiga bawahannya yang sedari tadi bersiaga di belakangnya.
"Hei, kamu yang gondrong! Sini sebentar," panggil Fajar dengan nada tegas.
Pemuda berambut gondrong itu langsung berlari mendekat, menunjuk wajahnya sendiri dengan bingung. "Saya, Pak Bos?"
"Iya, emang di sini siapa lagi yang rambutnya gondrong selain kamu?" balas Fajar cepat.
"Siap! Mau ngapain kita, Bos?" tanyanya penuh semangat, seolah siap diajak tawuran.
Fajar menunjuk ke arah jendela samping di dekat pintu rolling door gudang yang mengarah langsung ke area dalam. "Dobrak jendela itu. Masuk ke dalam, dan buka slot pintu rolling door ini dari dalam. Sekarang."
Mata si gondrong seketika berbinar terang. "Siap laksanakan, Bos!"
Tanpa ragu sedikit pun, pemuda itu mengambil sebuah balok kayu bekas di dekat pot tanaman, memecahkan kaca jendela samping hingga hancur berantakan, lalu dengan gesit memanjat masuk ke dalam gudang.
Pak Joni melotot ngeri melihat aksi barbar tersebut. "Woi! Apa-apaan ini?! Itu aset perusahaan!" teriaknya panik.
Fajar sama sekali tidak menggubrisnya. Tak sampai satu menit, terdengar bunyi slot besi dibuka dari dalam.
KRAAAAK.
Pintu rolling door berderit keras dan terangkat ke atas. Si rambut gondrong berdiri di baliknya sambil nyengir lebar, mengelap tangannya yang berdebu.
Fajar tersenyum penuh kemenangan dan menoleh ke arah Kepala Desa. "Mari, Pak. Pintu rezeki sudah terbuka. Silakan lihat-lihat langsung kualitas produk kami," ucap Fajar seramah mungkin, meninggalkan Pak Joni yang kini pucat pasi karena menyadari ia harus mempertanggungjawabkan kerusakan jendela itu.
Di dalam gudang, negosiasi berjalan sangat lancar. Para warga tampak antusias melihat alat-alat pertanian modern serta beberapa mesin pompa air yang dijajakan. Kepala Desa, yang sudah terkesan dengan ketegasan dan nyali Fajar sejak kemarin, tanpa banyak basa-basi langsung menyetujui kesepakatan besar.
Pria paruh baya itu menandatangani surat pemesanan di atas tumpukan kardus, lalu menyerahkan amplop tebal berisi uang tunai sebagai tanda jadi atau bayar muka.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Kades. Barang akan segera kami distribusikan ke balai desa hari ini juga," ucap Fajar sambil menjabat erat tangan pria itu. Perasaannya campur aduk antara lega dan bangga luar biasa. Misi pertamanya di pedalaman sukses besar!
Saat warga mulai membubarkan diri dengan senyum puas, ponsel di saku jas Fajar bergetar singkat. Ia merogohnya dan melihat ada sebuah e-mail masuk. Fajar membukanya dengan senyum yang masih mengembang lebar, mengira itu adalah pujian atas laporan sementaranya.
Namun, senyum di bibir Fajar perlahan luntur. Wajahnya seketika memerah padam, menjalar hingga ke telinga, saat ia membaca isi pesan balasan dari sang Sekretaris Direksi.
Dari: Sinta (Sekretaris Direksi)
Subjek: Re: Laporan Sementara - Cabang Pemasaran Kaltim
"Laporan diterima. Oh ya, kalau mabuk lagi, tolong jangan bucin ke Bu Direktur. Ruangan beliau jadi panas dari kemarin."
Fajar mematung di tempatnya berdiri. Angin berembus pelan menyapu debu jalanan, seolah ikut menertawakan kemalangannya. Kemenangan besar dan euforia yang baru saja ia rasakan seketika menguap, digantikan oleh rasa malu yang rasanya menembus hingga ke ubun-ubun.
"Mati gue... ini mah beneran kedengeran sejagat kantor pusat," rintih Fajar lemas, perlahan merosot dan berjongkok di samping kardus logistik sambil menyembunyikan wajahnya di balik lutut.