Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 31.
Cermin di kamar Gibran mungkin sudah bosan melihat wajahnya. Selama dua puluh menit terakhir, cowok itu tidak berhenti menyisir rambutnya.
Gaya undercut-nya kini tampak klimis sempurna berkat bauran pomade beraroma vanila maskulin. Gibran memundurkan langkah, memperhatikan pantulan dirinya dari kepala hingga kaki.
Seragam putih-abu-abunya tersetrika rapi. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memperlihatkan kaus dalam hitam yang membingkai lehernya dengan pas.
Sebagai kapten tim futsal SMA Pancasila, penampilan adalah harga diri.
Tapi hari ini, standarnya dia naikkan dua kali lipat. Gibran meraih botol parfum di atas meja, lalu menyemprotkannya ke pergelangan tangan, leher, dan dada.
Wangi amberwood yang hangat langsung memenuhi kamar.
Gibran tersenyum tipis. Sombong? Mungkin. Tapi hari ini dia punya alasan untuk percaya diri.
Di sudut kasur, sebuah buket bunga mawar putih berukuran besar sudah rapi terbungkus kertas wrapping hitam.
Gibran membelinya subuh tadi di pasar kembang. Bunga itu bukan cuma modal untuk menembak Stella, tapi juga simbol penebusan dosa. Gibran tahu dia bajingan selama dua tahun ini. Dia terlalu cuek, sering membentak Stella jika dia ada, sering membuang barang ketika Stella memberikannya dengan tulus, dan intinya gengsi mengakui Stella di depan umum.
"Hari ini semuanya berubah," gumam Gibran pada pantulan dirinya di cermin.
Rencananya sudah matang. Jam setengah tujuh pagi, dia akan berdiri di depan mading utama sekolah—tempat paling ramai yang pasti dilewati Stella. Dia akan memberikan bunga itu, meminta maaf atas sikap buruknya yang lalu, lalu meminta Stella menjadi pacarnya di depan semua orang. Setelah itu, dia akan membawa Stella ke lapangan futsal saat jam istirahat, memperkenalkannya kepada seluruh anggota tim sebagai 'Ibu Kapten'. Skenario itu terasa begitu nyata dan sempurna di kepalanya.
Gibran menyambar kunci motor dan buket bunga tersebut, lalu melangkah turun dengan siulan kecil. Ibunya bahkan sempat menggeleng-geleng melihat binar di mata anak laki-lakinya itu saat berpamitan.
Perjalanan menuju sekolah terasa lebih cepat dari biasanya. Adrenalin membuat Gibran memutar gas motor matic-nya sedikit lebih dalam.
Begitu sampai di parkiran SMA Pancasila, dia sengaja menunggu sampai area gerbang mulai padat.
Jam menunjukkan pukul 06.45 WIB. Waktu yang tepat.
Dengan dada membusung dan tangan kanan mendekap buket bunga besar, Gibran berjalan menuju mading utama yang terletak persis setelah koridor gerbang masuk.
Kehadirannya langsung menyedot perhatian. Beberapa siswi kelas sepuluh berbisik sambil menunjuk bunga di pelukannya.
Teman-teman satu tim futsalnya yang kebetulan sedang nongkrong di kantin kejujuran dekat koridor langsung bersiul heboh.
"Woi, Kapten! Mau melamar anak orang ya?" teriak joni, gelandang tim futsal.
Gibran hanya mengangkat dagu, membalas dengan seringai khasnya. Dia mengambil posisi di dekat mading, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor sambil terus memperhatikan gerbang sekolah.
Jantungnya mulai berdegup tidak karuan. Setiap kali ada siswi berambut panjang masuk, fokusnya menajam.
Lalu, sosok itu muncul.
Stella berjalan melewati gerbang. Gadis itu terlihat cantik seperti biasa, dengan rambut yang dikuncir kuda menyisakan beberapa helai di samping wajahnya. Gibran otomatis menegakkan tubuh. Dia merapikan kerah seragamnya dengan tangan kiri yang bebas, bersiap melangkah maju.
Namun, gerakan Gibran mendadak terkunci. Kakinya seperti tertanam ke lantai koridor.
Stella tidak berjalan sendirian. Di sebelah kanannya, ada Lingga. Murid anomali yang selama ini dikenal pendiam dan jarang bergaul dengan lingkaran pertemanan manapun di SMA Pancasila.
Dunia di sekitar Gibran mendadak kehilangan suaranya. Fokus matanya turun ke bawah, ke arah tangan Stella. Jari-jari lentik Stella tidak cuma bersentuhan dengan Lingga—mereka saling bertautan dengan erat. Sangat mesra.
Dan yang membuat dada Gibran seperti dihantam palu besar adalah dua gelang tali hitam dengan bandul magnet berbentuk belahan hati yang melingkar di pergelangan tangan mereka.
Jelas itu gelang couple.
Gibran melangkah maju satu kali secara refleks. Mulutnya terbuka, ingin memanggil nama Stella. Namun, suara itu tercekat di tenggorokan.
Stella berjalan mendekat ke arah koridor mading. Gibran berdiri tegak di sana, memegang buket bunga besar yang sangat mencolok, dengan wangi parfum yang sengaja dia semprot berlebih agar gadis itu menoleh. Jarak mereka mengikis. Tiga meter. Dua meter. Satu meter.
Gibran menahan napas, matanya menatap lurus ke bola mata Stella, bersiap menangkap keterkejutan atau rasa bersalah di sana.
Tapi tidak ada apa-apa.
Stella melewati Gibran begitu saja. Pandangan matanya lurus ke depan, sesekali beralih menatap Lingga sambil tersenyum kecil mendengarkan cowok itu berbicara. Tidak ada jeda langkah. Tidak ada lirikan mata yang melirik ke arah buket bunga. Stella memperlakukan Gibran seolah-olah cowok itu hanyalah udara kosong atau tiang koridor yang tidak bernyawa.
Aroma parfum vanila maskulin milik Gibran menguap begitu saja, kalah oleh angin pagi yang mendadak terasa sedingin es.
Di belakangnya, suara siulan anak-anak futsal mendadak berhenti. Koridor yang tadinya bising oleh tawa mendadak hening. Gibran bisa merasakan puluhan pasang mata kini beralih menatapnya, bukan lagi dengan pandangan kagum, melainkan dengan tatapan kasihan yang menghina.
Tangan Gibran yang memeluk buket bunga perlahan melemas. Jari-jarinya gemetar. Rasa percaya diri yang dia bangun di depan cermin rumahnya runtuh seketika, menyisakan puing-puing harga diri yang berserakan di lantai koridor.
Dia belum sempat menyatakan cinta. Dia belum sempat meminta maaf. Tapi permainan bahkan sudah berakhir sebelum dia sempat menendang bola pertama.
Hancurnya hati Gibran tidak dimulai dengan bentakan atau air mata kemarahan dari Stella. Hancurnya hati Gibran dimulai dari sini—dari sebuah tatapan kosong yang menganggapnya tidak pernah ada.
......................
...****************...
Tbc,