NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Sang Penguasa Utara

Kamarku di kediaman Pendelton terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.

Aku membaringkan tubuhku di atas kasur sutra, membiarkan kelelahan fisik dari tiga hari di dalam labirin akhirnya menguap. Meskipun tulang obsidianku tidak bisa hancur, otot-ototku tetaplah daging yang butuh istirahat.

Di sudut ruangan, Nox sedang melayang dengan posisi terbalik, membaca salah satu buku sejarah kekaisaran yang kuambil dari perpustakaan ayahku.

Aku memejamkan mata, lalu membukanya kembali.

Mata Kausalitas: Aktif.

Dunia di sekelilingku seketika berubah. Garis-garis energi sihir yang mengalir di balik dinding rumah ini terlihat jelas seperti pembuluh darah yang bersinar. Aku menoleh ke arah Nox. Aku ingin tahu, seberapa kuat sebenarnya 'hantu' yang selama ini menjadi rekan kerjaku ini.

Begitu pandanganku terkunci pada gadis berambut perak itu, sebuah layar status transparan muncul di atas kepalanya. Namun, tidak seperti layar milik Leon atau Cecilia yang rapi dan mudah dibaca, layar milik Nox tampak seperti kode komputer yang sedang error parah.

Teksnya berkedip-kedip liar dengan warna merah darah.

[Peringatan: Entitas Berada di Luar Parameter Sistem]

[Nama: Nox (Bukan Nama Asli)]

[Peran: 404 - Not Found]

[Ras: Fragmen Primordial Chaos]

[Level Ancaman: Bencana Kosmik / Skala Benua]

[Saran Sistem: JANGAN BERINTERAKSI. HINDARI KONTAK MATA. BERDOALAH.]

Aku mendengus pelan, nyaris tertawa. 'Saran Sistem' dari dunia ini benar-benar punya selera humor yang bagus. Menyuruhku berdoa setelah aku menjadikan entitas ini teman sekamarku? Terlambat.

Mendengar dengusanku, Nox menutup bukunya dan menoleh. Mata emasnya menyipit saat melihat cincin roda gigi bercahaya yang berputar di pupil mataku.

"Kau sedang mengintipku menggunakan mata curangmu itu, ya?" tuduh Nox, melayang mendekat hingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal dariku. "Apa yang kau lihat, Administrator Baru? Apakah aku terlihat cantik dalam bahasamu?"

"Kau terlihat seperti malware yang bisa menghancurkan benua, Nox," balasku santai, menonaktifkan mataku hingga kembali ke warna biru es normal. "Sistem dunia ini ketakutan setengah mati padamu."

Nox tertawa lepas, tawanya renyah namun menggetarkan kaca jendela kamarku. "Pujian yang sangat manis! Tentu saja mereka takut. Aku ada jauh sebelum penulis naskah bodoh dari duniamu itu menciptakan panggung ini. Kau beruntung aku lebih suka melihatmu mengacau daripada menghancurkan dunia ini sendiri."

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan panik di pintu memotong pembicaraan kami.

"T-Tuan Muda Arthur?" Suara Elara terdengar bergetar dari balik pintu. "A-Apakah Anda sudah bangun?"

"Masuklah, Elara," ucapku, bangkit duduk di tepi kasur.

Pintu terbuka. Elara melangkah masuk dengan wajah pucat pasi, tangannya meremas celemeknya dengan gugup. Ia bahkan tidak berani menatap langsung ke mataku.

"Tuan Muda... Anda harus segera ke Ruang Kerja Utama. Yang Mulia Duke... Tuan Besar telah kembali dari perbatasan utara."

Aku menghentikan gerakanku merapikan kerah kemeja.

Duke Gaius Pendelton. Ayah dari tubuh ini.

Dalam novel 'Crown of Ash', Gaius adalah perwujudan mutlak dari penguasa militer bertangan besi. Ia dijuluki 'Beruang Hitam dari Utara'. Ia tidak mengenal belas kasihan, sangat pragmatis, dan sangat membenci Arthur yang lemah. Faktanya, di novel asli, alasan mengapa Arthur sangat mudah dieksekusi oleh Pangeran Julian adalah karena Gaius sengaja lepas tangan, membuang anak kandungnya sendiri karena dianggap sebagai produk gagal.

"Kembali lebih awal dari jadwal, hm?" gumamku. Pasti berita tentang Leon yang hancur dan ujian Tartarus sudah sampai ke telinganya.

"Katakan padanya aku akan segera turun," perintahku.

Elara membungkuk hormat dan bergegas keluar seolah dikejar monster.

Aku menatap cermin, merapikan rambut putihku. Ini adalah ujian kelayakan. Jika aku ingin menggunakan kekayaan dan kekuatan militer keluarga Pendelton sebagai pijakanku, aku harus membuat Beruang Hitam itu tunduk dan mengakuiku.

Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan pintu mahoni ganda yang menjulang tinggi di sayap utama kediaman. Dua Ksatria Pendelton bersenjata kapak raksasa berjaga di sisinya. Begitu melihatku, mereka membuka pintu tanpa sepatah kata pun.

Aku melangkah masuk ke dalam Ruang Kerja Utama.

Ruangan itu didominasi warna gelap, dipenuhi rak buku, peta strategi perang raksasa, dan koleksi senjata monster. Di balik meja kerja kayu jati yang kokoh, duduk seorang pria paruh baya bertubuh masif. Rambutnya putih keabuan seperti milikku, namun dipotong pendek ala militer. Sebuah bekas luka cakaran besar melintang di sisi kiri wajahnya.

Itulah Gaius Pendelton. Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya membuat udara di ruangan ini terasa setebal lumpur.

Gaius tidak mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia baca. Ia membiarkanku berdiri di tengah ruangan selama dua menit penuh. Sebuah trik psikologis murahan untuk menunjukkan dominasi.

Aku tidak terpancing. Aku malah berjalan santai menuju salah satu kursi kulit di depan mejanya, menariknya mundur, lalu duduk dan menyilangkan kaki.

Gerakan kasual itu membuat pena di tangan Gaius terhenti. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Mata biru es miliknya—yang persis seperti milikku—menatapku tajam. Tatapan itu seolah mampu menguliti manusia hidup-hidup.

"Siapa yang menyuruhmu duduk, Bocah?" Suara Gaius berat dan bergemuruh, layaknya guntur di kejauhan.

"Saya rasa saya tidak membutuhkan izin untuk duduk di kursi rumah saya sendiri, Ayah," balasku tenang.

Aku memusatkan pikiranku. Mata Kausalitas: Aktif.

Cincin emas berputar di pupilku, menganalisis pria paling berbahaya di faksi oposisi ini.

[Nama: Gaius Pendelton]

[Peran: Penguasa Militer Utara / Duke Tertinggi]

[Kapasitas Mana: Kelas SS (Atribut Petir Hitam)]

[Status Pikiran: Curiga, Menguji, Siap Membunuh]

[Status Khusus: Keracunan 'Kutukan Es Abadi' di Jantung (Tingkat Kritis - Estimasi Sisa Umur: 3 Tahun)]

Mataku sedikit melebar dari balik ketenanganku. Kutukan Es Abadi?

Di dalam novel, Gaius memang diceritakan mati secara mendadak di pertengahan cerita, yang menyebabkan keluarga Pendelton hancur sepenuhnya. Penulis novel itu hanya menyebutnya 'serangan jantung'. Ternyata, 'serangan jantung' itu adalah efek dari racun kutukan tingkat tinggi yang membusukkan inti sihirnya secara perlahan.

"Menarik," bisikku pelan.

Gaius menyipitkan mata. Ia meletakkan penanya. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, ia melepaskan aura Petir Hitamnya. Gelombang tekanan sihir kelas SS meledak dari tubuhnya, menghantamku seperti godam raksasa. Kursi kulit yang kududuki langsung berderit keras. Karpet di bawah kakiku robek akibat tekanan statis.

Ini adalah Haki pembunuh. Jika ini Arthur yang asli, ia pasti sudah berlutut memuntahkan darah dan memohon ampun.

Namun aku hanya menatapnya bosan. Tulang Obsidianku menyerap tekanan fisik itu dengan mudah, sementara Mana Core gelapku diam-diam menetralisir aura sihirnya agar tidak merusak organ dalamku. Aku bahkan tidak berkedip.

"Apakah ini bentuk sapaan selamat datang untuk anakmu yang baru pulang dari ujian hidup dan mati?" tanyaku santai, mengambil sebuah apel merah dari keranjang buah di meja Gaius dan menggigitnya dengan suara kres yang nyaring.

Mata Gaius membelalak. Keterkejutan akhirnya menghancurkan topeng stoiknya. Ia menarik kembali auranya seketika.

"Laporan itu ternyata benar," gumam Gaius pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau mengalahkan murid unggulan Akademi Solaria, mematahkan pedang Mythril suci, dan membawa pulang inti Chimera A+ tanpa satu pun luka sihir di tubuhmu."

Gaius bangkit berdiri, menumpukan kedua tangannya yang besar di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Apa yang terjadi padamu, Arthur? Dari mana kau mendapatkan tubuh fisik seperti monster itu? Jika kau melakukan perjanjian dengan iblis, aku akan memenggalmu detik ini juga sebelum Ksatria Suci Kaisar datang meratakan rumah ini."

"Saya hanya rajin berolahraga dan minum susu, Ayah," balasku ringan.

Mendengar jawabanku yang kurang ajar, urat di pelipis Gaius menonjol. Namun, sebelum ia sempat meledak, aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatap langsung ke matanya dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan mendominasi daripada miliknya.

"Apa yang terjadi pada saya tidaklah penting," bisikku pelan. "Yang jauh lebih penting adalah... apa yang akan terjadi pada Anda, Duke Gaius. Sampai kapan Anda berencana menyembunyikan fakta bahwa Kutukan Es Abadi sedang membekukan jantung Anda?"

Udara di Ruang Kerja Utama mendadak membeku.

Gaius membatu. Wajahnya yang garang berubah menjadi pucat pasi. Rahasianya yang paling absolut—rahasia yang tidak diketahui oleh tabib terbaik kekaisaran sekalipun—baru saja diucapkan dengan santai oleh anak yang selama ini ia anggap sampah.

"Dari mana... dari mana kau tahu tentang itu?!" geram Gaius, suaranya kini dipenuhi kewaspadaan mematikan. Ia bersiap menyerangku kapan saja jika aku menunjukkan tanda-tanda pengkhianatan.

"Saya tahu banyak hal, Ayah. Lebih dari yang dunia ini izinkan," aku bersandar kembali ke kursiku. "Saya tahu Anda hanya punya waktu maksimal tiga tahun sebelum jantung Anda berhenti berdetak. Dan jika Anda mati, Pangeran Julian akan mencaplok seluruh wilayah utara kita."

Aku melemparkan sisa apel ke tempat sampah, lalu menatapnya dengan senyum bisnis yang mematikan.

"Saya bisa menyembuhkan Anda. Saya bisa menghilangkan kutukan itu tanpa sisa."

Gaius menelan ludah kasar. Tangan kanannya gemetar. "Omong kosong. Tabib Suci dari Kuil Cahaya saja angkat tangan. Elemen apa yang bisa mencairkan es absolut selain api naga kuno?"

"Elemen yang melahap segalanya. Kegelapan mutlak," balasku, membiarkan sedikit api hitam Vespera menari di ujung jari telunjukku.

Mata Gaius terbelalak melihat api hitam itu. Sebagai petarung kelas SS, ia bisa merasakan kengerian murni dari energi kelam tersebut.

"Tentu saja, tawaran penyembuhan ini tidak gratis, Duke Pendelton," ucapku formal, mengubah panggilan 'Ayah' menjadi gelar. "Saya akan membersihkan racun di jantung Anda. Sebagai gantinya, saya menginginkan tiga hal."

"Sebutkan," jawab Gaius cepat. Ia bukan pria yang bertele-tele. Jika ada peluang untuk selamat dan mempertahankan kekuasaannya, ia akan mengambilnya.

"Pertama, berikan saya akses penuh dan tak terbatas ke Perbendaharaan Utama Keluarga Pendelton, termasuk artefak terlarang. Kedua, serahkan Komando Pasukan Bayangan Pendelton—intelijen rahasia Anda—di bawah kendali saya secara langsung."

Gaius menggertakkan gigi. Itu adalah permintaan yang merampas separuh kekuasaannya. "Lalu yang ketiga?"

"Yang ketiga," aku tersenyum iblis. "Di 'Malam Puncak Bintang Surgawi' minggu depan, saat Kaisar meminta laporan kesetiaan faksi... Anda akan mendeklarasikan saya sebagai Pewaris Tunggal dan Penerus Mutlak Keluarga Pendelton di depan semua bangsawan dan keluarga kerajaan."

Gaius terdiam. Ia menatap lekat-lekat pemuda berambut putih di hadapannya ini. Ini bukan lagi Arthur si pengecut arogan yang ia kenal. Ini adalah seorang lalim, seorang perencana ulung yang memiliki kekuatan mengerikan dan mata yang bisa menembus rahasia terdalam manusia.

Sebuah senyum miring—senyum buas layaknya beruang yang menemukan mangsa sepadan—perlahan terbentuk di wajah Gaius. Ia tertawa pelan, lalu tertawa keras hingga bahunya berguncang.

"Hahahaha! Bagus! Bagus sekali, Anak Iblis!" Gaius menggebrak meja dengan penuh semangat. "Jika kau memang bisa menyembuhkanku, aku akan memberikan semua yang kau minta! Aku selalu membencimu karena kau lemah. Tapi hari ini... kau memiliki kelicikan seorang Raja."

Kesepakatan tercapai.

Sistem dunia ini mengira bahwa ayahku akan menjadi musuh yang membuangku. Namun hari ini, dengan Mata Kausalitas, aku baru saja mengubah Duke Terkuat di kekaisaran menjadi perisai pribadiku.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!