Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Matahari perlahan bergeser ke tengah langit, memancarkan terik siang yang menyengat dan membuat permukaan jalan berbatu di Desa Kertajaya mengepulkan debu tipis setiap kali ada kendaraan melintas. Di bawah naungan atap asbes teras kos Bu Ratna, suasana terasa jauh lebih semarak dari biasanya.
Raka, Bayu, dan Dimas baru saja tiba setelah berjalan kaki dari pasar, membawa kantong plastik berisi mie instan kardusan kecil dan sebungkus kopi bubuk saset.
Di belakang mereka, Mira melangkah dengan anggun sambil mengibaskan sebelah tangannya ke udara, merajuk kecil karena debu jalanan menempel di ujung gaun ungunya.
"Sudah kubilang, manusia praktis, kita seharusnya naik kendaraan bermesin yang bisa terbang atau setidaknya meluncur cepat, bukan berjalan kaki di bawah terik matahari seperti rombongan orang yang baru kehilangan kendaraan!" gerutu Mira kesal, menghentakkan kaki kecilnya ke lantai semen teras kos.
Bayu melepas sandal jepitnya di depan pintu, lalu tertawa kecil meledek.
"Ampun, Mira. Di Kertajaya ini angkutan paling canggih ya motor bebek tua milik Pak RT atau ojek pangkalan di ujung gang. Kalau mau naik kendaraan terbang, Mira harus pesan karpet ajaib lewat aplikasi online dulu."
Mira mendelik tajam, memelototi Bayu dengan mata indahnya yang memancarkan kilat kekesalan.
"Jangan mengejekku, Bayu! Jika bukan karena keterbatasan dunia manusia ini, aku sudah menerbangkanmu ke atas genting masjid dusun sebelah sejak tadi!"
"Udah, Mir, jangan suka ngancem gitu. Nanti kalau Bayu beneran nyangkut di genting, kita yang repot harus minta tolong tukang galah buat menurunkan dia," lerai Raka sambil membuka kunci slot pintu kamar nomor empat dengan sebelah tangan.
Dimas masuk duluan ke dalam kamar, meletakkan belanjaan di atas meja, lalu langsung merebahkan diri sejenak di kasur busa tipis karena kelelahan mengangkat karung beras tadi pagi.
"Yang penting dompet kita hari ini nggak kosong melompong lagi. Upah dari Haji Marni lumayan buat nyambung hidup tiga hari ke depan."
Mira ikut melangkah masuk ke dalam kamar yang sempit itu. Matanya langsung mengitari ruangan kecil berukuran tiga kali tiga meter tersebut dengan pandangan penuh kritik.
"Bagaimana bisa kalian tinggal berdesakan di ruangan sekecil ini tanpa ada pelayan, tanpa tirai sutra, dan tanpa pendingin ruangan yang layak?"
"Namanya juga kos-kosan pekerja serabutan, Mir. Fasilitas utamanya ya atap yang nggak bocor sama kasur busa tipis ini," jawab Raka santai, meletakkan ranselnya di lantai. Ia menoleh ke arah Mira yang berdiri di dekat meja kecil.
"Ngomong-ngomong, tadi di pasar kamu kelihatan sewot banget pas Maya ngobrol sama aku. Kenapa, hm?"
Mendengar pertanyaan langsung dari Raka, tubuh Mira sedikit menegang. Kedua matanya mengerjap cepat.
Ia buru-buru membuang muka ke arah jendela, membetulkan letak rambut panjangnya dengan gerakan canggung lalu melipat tangan di dada dengan gaya sok tidak peduli.
"Si... siapa yang sewot?!" sanggah Mira dengan nadanya yang tinggi, berusaha menyembunyikan rasa terganggunya.
"Jangan Pede ya, manusia praktis! Aku hanya merasa terganggu dengan suara perempuan itu yang mirip burung merpati kurang bahan makanan! Bising sekali di telingaku!"
Bayu, yang baru saja duduk bersila di pojok ruangan, langsung menyahut dengan nada usil.
"Ah, masa cuma karena bising? Padahal tadi mukanya udah ditekuk mirip bungkus gorengan bekas minyak jelantah lho, Mir. Ngaku aja, kamu terganggu ya karena Maya bisa ngobrol banyak sama Raka?"
"Terganggu pada manusia?!" Mira berbalik badan, menunjuk wajah Bayu dengan jari telunjuknya yang lentik, napasnya memburu karena tersinggung luar biasa.
"Jangan sembarangan! Aku adalah bangsawan dari istana gaib! Untuk apa aku merasa terganggu hanya karena perempuan berambut kuncir kuda itu?!"
Dimas, yang sejak tadi tidur-tiduran dengan mata terpejam, membuka sebelah matanya dan berkomentar datar dengan suara malas, "Biasanya, orang yang menyangkal paling keras adalah orang yang paling merasa terusik."
"Dimas!" seru Mira semakin kesal, melotot tajam ke arah pemuda pendiam itu. "Kamu juga ikut-ikutan menyebalkan!"
Sebelum Mira sempat melancarkan protes yang lebih panjang kepada dua pemuda usil itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dari luar koridor.
Tok! Tok! Tok!
"Raka! Buka pintunya sekarang!" suara melengking penuh wibawa dan ancaman milik Bu Ratna langsung menggelegar dari luar, membuat suasana kamar seketika menjadi hening.
Bayu langsung berbisik panik, memegang dadanya sendiri.
"Wah... daster hijau lumut datang lagi. Padahal kita baru sepuluh menit sampai kos. Kali ini salah apa lagi dosa kita?"
Raka menghela napas panjang, lalu berjalan membukakan pintu kamar lebar-lebar.
Sosok Bu Ratna langsung berdiri di ambang pintu dengan daster hijaunya yang berkibar tertiup angin koridor. Tangannya berkacak pinggang, dan tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh isi kamar nomor empat sebelum akhirnya mendarat tepat di wajah Raka.
"Raka! Kalian bertiga dengar pengumuman penting tidak barusan dari toa musala?" tanya Bu Ratna dengan nada suara tinggi penuh tuntutan.
"Pengumuman apa ya, Bu? Kami baru saja datang dari pasar, jadi belum dengar apa-apa," jawab Raka sopan, berusaha meredakan emosi sang pemilik kos.
Bu Ratna mendengus kesal.
"Makanya, kalau jadi orang jangan suka keluyuran terus sampai siang! Sebentar sore, pengurus RT mau mengadakan kerja bakti membersihkan saluran air di sepanjang gang depan kos! Dan aturannya jelas: setiap kepala keluarga atau perwakilan kamar kos wajib mengirimkan minimal satu orang untuk ikut nyangkul lumpur got!"
Mendengar kata 'got' dan 'nyangkul lumpur', Bayu langsung lemas bersandar di dinding.
"Duh, Bu... Badan kita baru saja selesai dipakai jadi kuli panggul karung beras di toko Bu Haji Marni. Kalau disuruh nyemplung got sore nanti, bisa-bisa tulang punggung saya copot beneran."
"Alasan saja kamu, Bayu!" sergah Bu Ratna galak, melotot tajam ke arah Bayu.
"Pokoknya tidak ada penolakan! Perwakilan dari kamar nomor empat harus turun ke jalan sore nanti jam empat tepat! Kalau tidak datang, uang jaminan kebersihan kos kalian saya potong separuh!"
Mira, yang berdiri di sudut ruangan, memperhatikan pertengkaran kecil itu dengan sebelah alis terangkat.
Bagi seorang putri jin yang terbiasa melihat pelayan membungkuk hormat di istana, pemandangan seorang perempuan paruh baya berdaster hijau meneriaki tiga pemuda di depannya tampak sangat aneh dan menggelikan.
"Perempuan galak berdaun hijau itu benar-benar monster penguasa teritorial yang mengerikan," bisik Mira pelan kepada dirinya sendiri, menahan tawa kecil melihat ekspresi memelas Bayu di hadapan Bu Ratna.
"Baik, Bu! Tenang saja, nanti sore salah satu dari kami pasti turun ke got buat ikut kerja bakti," jawab Raka pasrah, mengangguk patuh demi menyelamatkan uang jaminan kebersihan mereka.
"Bagus! Jangan sampai mangkir!" ancam Bu Ratna sekali lagi sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan melangkah pergi menuruni tangga kos sambil mengomel tentang warga yang suka mangkir kerja bakti.
Brak!
Pintu kamar ditutup rapat kembali oleh Raka. Suara langkah sandal jepit Bu Ratna berangsur-angsur menghilang di ujung tangga.
Bayu langsung mengembuskan napas panjang, menjatuhkan kepalanya di atas lutut dengan dramatis.
"Sempurna... Habis jadi buruh angkut beras, sekarang sorenya resmi jadi pasukan pembersih selokan got desa. Hidup pas-pasan benar-benar ujian kesabaran tingkat dewa."
Dimas bangkit dari kasurnya, menepuk-nepuk celananya yang berdebu.
"Udah, nggak usah meratap. Siapa yang mau turun ke got sore nanti? Gue atau lu, Bay?"
"Lu aja, Dim. Pahala lu kan lebih banyak daripada gue," cengir Bayu tidak berdosa.
Raka tersenyum tipis, melirik ke arah Mira yang masih berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi mengejek.
"Kenapa, Mira? Mau ikutan jadi relawan pembersih got juga di luar?"
Mira mendengus pelan, mendongakkan dagunya tinggi-tinggi.
"Enak saja! Menjulurkan tangan ke dalam kubangan lumpur hitam yang bau itu adalah pekerjaan paling hina di muka bumi! Lebih baik aku tinggal di kamar ini dan tidur seharian daripada harus berurusan dengan kotoran got buatan manusia."
"Padahal seru lho, Mir. Nanti kalau ada bangkai tikus got lewat, bisa kita angkat bareng-bareng," goda Bayu sengaja memancing emosi sang putri jin.
Mira langsung bergidik ngeri, membelalakkan matanya jijik.
"Jangan sebut nama hewan menjijikkan itu di dekatku, Bayu! Kalau kamu berani membawanya ke dalam kamar ini, aku akan menyihir kasurmu menjadi tumpukan duri landak selama seminggu penuh!"
Tawa kecil Raka dan Dimas akhirnya pecah memenuhi ruangan sempit tersebut, memecah kepenatan siang hari yang terik. Di tengah segala keributan kecil, ancaman daster hijau Bu Ratna, dan dompet yang nyaris tipis, kamar nomor empat di kos Desa Kertajaya itu perlahan-lahan benar-benar terasa seperti rumah bagi mereka berempat termasuk bagi sang putri jin yang paling gengsian se-Kecamatan Kertajaya.